
Di Cafe, Nirma dan Dokter Rico sudah duduk di kursi yang ada. Mereka berdua tidak saling bicara karena sibuk dengan ponselnya masing-masing. Hingga tidak lama kemudian, Jenny muncul dengan senyum ceria dibibirnya.
"Nirma, bagaimana tidurmu? Apa kau merasa segar pagi ini?" Jenny segera memeluk Nirma untuk beberapa detik.
"Ya, minuman colagen yang kau berikan membuat aku menjadi cantik dalam semalam," sahut Nirma asal saja. Hal itu membuat Jenny terkekeh geli mendengarnya.
"Hai calon pengantin. Terima kasih sudah menyempatkan waktumu di sela waktu sibukmu ini!"
Jenny tetap memasang wajah ceria meskipun hatinya kini sudah tidak karuan. Rico tahu kalau Jenny bersikap seperti ini karena ingin menutupi semua hal menyakitkan yang dia rasakan.
"Setelah berhasil, segera temui aku. Aku akan memeriksanya dan memberi vitamin agar benih itu berhasil menjadi janin." Dokter Rico bahkan gak sanggup memandang wajah Jenny secara langsung. Berulang kali ia mengumpat sahabatnya itu sebagai wanita bodoh dan tolol.
"Baiklah. Itu sangat mudah. Aku memiliki ide baru. Aku akan membuat rumah menjadi sebuah surga yang indah. Semua pekerja aku suruh pergi hanya untuk malam ini saja. Aku tidak mau ada yang mengetahui rencana kita." Jenny terus yang bicara. Sedangkan Dokter Rico dan Nirma masih membisu sambil memandangnya.
"Saat Kak Ali pulang, aku akan memaksanya makan malam. Aku akan memasak makanan kesukaannya. Dia harus memiliki tenaga agar-"
"STOP!" ketus Dokter Rico. "Bukan itu yang ingin ku dengar!"
Jenny membisu. Lagi-lagi dia memaksa bibirnya tersenyum. "Kau kenapa?"
"Aku yang seharusnya bertanya. Kau ini kenapa? Bukankah bisa di hotel saja tidak perlu di rumah? Untuk apa menyiapkan makan malam romantis? Jenny, kita butuh benih bukan kesenangan!"
BRUKKK
Jenny marah. Dokter Rico dan Nirma tidak kaget karena mereka tahu bagaimana keras kepalanya Jenny.
"Nirma masih perawan. Aku harus menghargainya. Aku tidak mau saudaraku menyerahkan keperawanannya seperti sedang wanita murahan pada umumnya. Aku ingin dia tenang dan nyaman!"
__ADS_1
Nirma mengigit bibir bawahnya. Setiap kali Jenny menyinggung soal keperawanan, entah kenapa wanita itu menjadi ketakutan.
"Jenny, sudahlah. Dokter Rico benar. Kau tidak perlu berlebihan seperti ini." Akhirnya Nirma angkat bicara.
"Terserah kau saja! Dia suamimu!" Dokter Rico yang kesal segera beranjak dan pergi. Ini bukan karena rasa cinta dihatinya masih ada. Tetapi dia tidak tega melihat Jenny sakit. Dokter Rico tahu kalau Jenny pasti berjuang keras untuk menyiapkan semua ini.
Jenny menghela napas memandang punggung Dokter Rico. "Dia masih menyebalkan seperti dulu. Tidak berubah sedikitpun!" umpat Jenny.
"Sudahlah. Sudah ...." Nirma mengusap lembut tangan Jenny. "Sebenarnya jika aku diposisi Dokter Rico aku juga akan bersikap seperti itu. Dia pasti sangat menyayangi Jenny sampai tidak mau Jenny sakit hati," batin Nirma.
...***...
Tanpa disadari, malam pun kian beranjak. Jenny maupun Nirma tidak sabar menantikan kedatangan sang dewi malam. Yang mana, mungkin akan menjadi malam menyakitkan untuk Jenny.
"Tidak ada wanita yang merelakan suaminya untuk wanita lain. Akan tetapi, apakah aku memiliki pilihan?" Jenny membatin sedih. Ia melirik pada Nirma yang sepertinya gugup. Jenny lalu memeluk Nirma.
"Terima kasih, Jen. Semoga saja suamimu tidak sadar. Aku hanya gugup sedikit," sahut Nirma.
"Aku paham, Nirma. Aku sangat mengerti bila ini yang pertama untukmu. Kita akan bersama-sama melewatinya." Jenny menggenggam tangan Nirma. Kedua sahabat itu saling melemparkan senyuman.
Jenny gelisah duduk di tempatnya. Semua lampu yang ada di rumah ini sudah dimatikan. Wanita itu berdebar menunggu kedatangan suaminya. Hingga tak lama kemudian, terdengar suara deru mobil. Jenny mengatur degupan jantungnya. Sampai di mana Ali membuka pintu.
"Tidak dikunci? Astaga. Apakah dia terlalu terburu-buru?" Ali berbicara sendiri saat ia menemukan pintu rumahnya tidak dikunci.
Ketika Ali akan menyalakan senter dari handphone, secara mengejutkan ada satu lampu yang dikendalikan dari remot. Itu merupakan lampu hias kesukaan istrinya berbentuk bunga. Ali mendekat. Saat itulah ia menemukan ada tanda anak panah.
Ali pun mengikuti tanda tersebut. Perlahan tapi pasti Ali menemukan lilin-lilin yang menyala dalam jarak sedikit jauh. Ali tersenyum. Ia terus mengikuti tanda yang diberikan. Laki-laki itu berjalan memasuki dapur. Di sanalah ia menemukan istrinya tersenyum dalam cahaya remang dari lilin.
__ADS_1
"Selamat datang, Suamiku." Jenny menyambut kedatangan Ali dengan senyuman menawan. Sanita itu bahkan sudah berhias dengan make up yang elegan. Cukup menyejukkan mata dan hati Ali.
"Dasar!" Ali melebarkan senyuman. Ia kemudian berjalan mendekati meja makan yang sudah disiapkan oleh Jenny. Laki-laki itu lalu duduk berhadapan dengan Jenny.
"Berapa lama kamu menyiapkannya? Aku rasa ini bukan hari ulang tahun atau hari anniv pernikahan kita," kata Ali.
"Aku membuat steak. Ada minuman yang kau suka. Cukup mahal. Kak Ali harus mengganti uangku. Aku hanya ingin berterima kasih kepada suamiku atas cinta dan kasih sayangnya. Aku mendapatkan banyak cinta, sedangkan aku tidak bisa memberikan apapun." Jenny mengambil sebuah botol anggur dari brand ternama.
Ia mulai menuang wine ke dalam gelas yang sebelumnya sudah terisi separuh. Tentu Ali tidak protes. Jenny begitu mengerti bagaimana kebiasaan Ali.
"Bahkan untuk bayi sekalipun, aku tidak mampu." Jenny membatin sendu.
"Aku selalu memberimu uang. Tapi, aku juga harus mengganti sesuatu yang dibeli dengan uangku?" Ali terkekeh.
"Mari bersulang." Jenny menyodorkan gelasnya.
Pun sama halnya dengan Ali. Ia membawa gelasnya untuk bersulang dengan Jenny. Setelah berbunyi ting. Barulah keduanya meminum wine dalam gelas tersebut sampai habis tak bersisa. Melihat gelas Ali yang kosong, Jenny bernapas lega.
"Em? Kenapa kepalaku pusing?" Ali menggelengkan kepalanya berulang kali. Pandangan matanya perlahan memburam. Jenny semakin tak sabar menunggu Ali tidak sadarkan diri.
"Kak, sepertinya Kakak terlalu lelah. Jenny bawa ke kamar ya? Nanti kalau Kak Ali pingsan di sini malah Jenny tidak bisa membawa ke kamar. Ayo." Jenny mendesak agar Ali bersedia segera pindah ke kamar.
Awalnya Ali ingin menolak. Tapi, laki-laki itu akhirnya bersedia setelah ia merasakan rasa pusing yang teramat sangat. Jenny memapah Ali menuju ke kamar. Sedikit bersusah payah. Namun akhirnya Ali berhasil berbaring di ranjang.
Jenny menatap sendu ke arah suaminya yang terbaring di ranjang. Sebelum obatnya benar-benar bekerja, buru-buru Jenny berjalan pergi keluar dari kamar. Ia langsung memanggil Nirma untuk bergegas masuk ke dalam kamarnya.
"Masuklah!" Jenny mendorong tubuh Nirma. Kemudian ia mengunci pintu kamarnya dari luar. Dada Jenny bergerak naik turun. Wanita itu bersandar pada daun pintu. Kedua matanya berkaca-kaca mengingat di dalam kamar tersebut terdapat sahabat dan suami tercintanya.
__ADS_1
Tubuh Jenny terjatuh di lantai. Wanita itu menangis terisak dalam kebisuan. Nestapa menyelimuti hati. Perlahan-lahan tanpa sadar Jenny bagai bunga yang remuk. Wanita itu terlihat indah, tapi nyatanya nasib Jenny begitu menyakitkan.