Rahim Sahabatku

Rahim Sahabatku
Bab. 13


__ADS_3

Jenny Semakin tidak tenang ketika dia tahu kalau sahabatnya itu menunggu di sebuah halte bis. Sekarang sudah sangat malam. Tidak sepantasnya seorang wanita menunggu bis di tempat sunyi seperti itu. Belum tentu juga ada bis yang lewat. Berulang kali Jenny meminta supir yang ada di depan untuk mengajukan mobilnya lebih cepat lagi agar ia bisa segera bertemu dengan Nirma. Namun memang saat itu jalanan sangat padat hingga membuat Jenny lama di jalan.


"Semoga saja di Nirma masih menungguku di tempat itu." Jenny berusaha untuk menghubungi nomor Nirma yang tadi menghubunginya. Namun panggilan telepon itu tidak dapat tersambung lagi. Kini Jenny benar-benar khawatir. Rasanya ingin sekali dia terbang agar bisa segera tiba di posisi Nirma berada.


"Apa tidak bisa lebih cepat lagi?" protes Jenny untuk yang kesekian kalinya.


"Kita harus melewati jalan pintas agar bisa segera tiba di lokasi tersebut, Nona. Tetapi jalan pintas sangat sunyi. Apa anda bersedia Nona?" tanya Sopir itu menawarkan.


Jenny diam sejenak. Wanita itu merasa sangat takut jika harus lewat jalanan yang sunyi meskipun hanya itu cara yang bisa mereka lakukan agar bisa cepat sampai. Akhir-akhir ini memang maraknya kasus kejahatan hingga membuat Jenny memutuskan untuk tidak melewati jalan pintas.


"Ya sudah.Kita lewati jalan utama saja. Tidak perlu melalui jalan pintas. Ini juga sudah sangat malam. Bagaimana kalau ada orang yang berniat jahat terhadap kita di sana?"

__ADS_1


Supir itu merasa lega sekarang. "Baik, Nona," jawab Supir itu. Setidaknya ia sudah merasa jauh lebih tenang karena majikannya tidak akan lagi memaksanya untuk menlajukan mobil dengan cepat.


Setelah menempuh perjalanan hampir setengah jam akhirnya Jenny tiba di tempat Nirma berada. Wanita itu segera turun dari mobil ketika melihat Nirma duduk sendirian di sebuah halte bus sambil memeluk tubuhnya sendiri. Wanita itu kedinginan. Jenny bisa melihat jelas dari bibir Nirma yang pucat.


"Nirma!" teriak Jenny dari kejauhan.


Nirma mengangkat kepalanya dan segera beranjak dari kursi batu yang ia duduki. Wanita itu segera berjalan menghampiri Jenny sambil tersenyum. Hampir saja ia terjatuh Jika saja Jenny tidak menangkap tubuhnya dengan cepat.


"Apa yang terjadi? Kenapa kau ada di sini? Tadinya aku pikir kau nginap di hotel. Ini sudah sangat malam. Tidak sepantasnya wanita sepertimu sendirian di tempat seperti ini."


"Oke. Sekarang ikut denganku. Kita akan pulang ke rumahku."

__ADS_1


"Jangan Jenny. Aku tidak mau ke rumahmu. Aku segan dengan suamimu," tolak Nirma yang pada akhirnya juga bersuara.


"Tapi aku tidak bisa membiarkanmu sendirian di tempat seperti ini." Jenny diam sejenak untuk berpikir. Wanita itu kembali ingat dengan apartemennya yang masih belum dijual. "Aku akan mengantarkanmu ke apartemen."


"Apa apartemen itu masih atas namamu?" tanya Nirma dengan serius.


"Ya. Kau bisa tinggal di sana." Jenny menarik tangan Nirma dan membawanya menuju ke mobil. "Kau harus menceritakan semuanya padaku. Jangan ada lagi yang ditutup-tutupi. Kondisimu yang sekarang sudah menjawab kalau kau tidak baik-baik saja."


Nirma tersenyum mendengar perkataan Jenny. Dia merasa bahagia karena bisa bertemu dengan sahabat seperti Jenny. "Bahkan kebaikanmu yang dulu saja belum sempat untuk aku balas. Sekarang kau lagi-lagi menolongku. Semoga saja keberuntungan selalu menghampirimu," gumam Nirma di dalam hati.


Jenny memandang wajah Nirma yang masih berdiri tanpa mau masuk ke dalam mobil. "Tunggu apa lagi? Cepat masuk ke dalam!" ketus Jenny kesal.

__ADS_1


Tiba-tiba saja Nirma memeluk Jenny. "Terima kasih Jenny. Terima kasih."


Jenny memejamkan mata lalu mengusap punggung Nirma. "Aku senang bisa membantumu."


__ADS_2