Rahim Sahabatku

Rahim Sahabatku
Bab. 33


__ADS_3

"Syukurlah kita bisa melewati ini, Nirma." Jenny masuk ke dalam Villa. Wanita itu duduk di sofa panjang. Begitu pun juga dengan Nirma.


"Aku lelah sekali. Dokter Rico untung saja bersedia membawaku ke sini. Coba bayangkan kalau dia tidak mau. Padahal jadwal prakteknya baru saja selesai. Tapi, karenamu dia bersedia membawaku ke tempat ini," jelas Nirma. "Dia memang sahabat yang baik. Kau beruntung bisa mengenalnya. Mana ada di dunia ini orang yang mau direpotkan oleh sahabatnya sendiri. Tanpa bayaran lagi!"


Hening melenggang. Jenny tahu bahwa ia sudah banyak merepotkan Nirma dan Rico. Wanita itu semakin merasa bersalah. Lantas, Jenny memandang ke arah Nirma yang memejamkan kedua matanya. Tampak Nirma begitu kelelahan.


"Nir, istirahat di kamar yuk. Tidak baik tidur di sini," kata Jenny. Ia tidak mau sampai Nirma sakit. Di tambah lagi kini bibir wanita itu terlihat sangat pucat.


Nirma menggelengkan kepala. Ia menolak ajakan Jenny untuk pindah tempat. "Aku lelah, Jen. Tolong biarkan aku tetap di sini. Sebentar saja. Udaranya di sini sangat sejuk sekali. Sofanya juga empuk dan nyaman."


Wanita hamil itu justru mencari tempat yang baginya lebih nyaman. Yaitu, merebahkan diri di sofa panjang. Nirma Masih memejamkan kedua matanya. Ia merasakan tubuhnya terasa sakit akibat perjalanan jauh itu. Beruntungnya, Rico memahami kondisi Nirma sehingga ia bisa mengatur kecepatan mobilnya sebagaimana mestinya.


"Kasihan sekali, Nirma. Gara-gara aku dia menjadi seperti ini. Kupikir dulu memiliki anak kecil sangat merepotkan. Tapi, aku sadar setelah Kak Ali rupanya bermimpi untuk memiliki banyak anak. Rasanya duniaku hancur ketika mengetahuinya," gumam Jenny dalam hati. "Dasar bodoh! Kenapa aku sebodoh itu. Apa yang sudah merasuki pikiranku hingga aku mengangkat satu-satunya rahim yang aku miliki? Tapi, tidak bisa disesali lagi. Sekarang aku sudah menerima akibatnya. Aku tidak pernah merasakan ketenangan hidup lagi setelah memutuskan untuk memiliki anak."


Akhirnya Jenny membiarkan Nirma beristirahat. Wanita itu memilih untuk berkeliling tempat itu. Sesekali Jenny berpapasan dengan pelayan yang tinggal di rumah itu. Mereka sedang beres-beres. Sebagian lagi sedang sibuk di dapur untuk memasak makan malam.


"Aish, aku tidak tega melihat Nirma seperti itu. Wajahnya sangat pucat sekali. Apalagi dia juga tidak bisa ceria seperti dulu. Aku merasa menjadi wanita paling jahat," ucap Jenny sambil mengusap bantal hamilnya. "Apa hamil memang sesakit itu? Rasanya sebesar apapun uang yang aku beri kepada Nirma belum sebanding dengan pengorbanan yang diberikan Nirma kepadaku. Dia kehilangan keperawanannya. Dia kehilangan kebebasannya. Bahkan nanti dia juga kehilangan anak yang ia kandung karena anak itu akan menjadi milikku dan juga Kak Ali."


Jenny terus saja berjalan sambil bergumam sendiri.


"Kehamilan palsu ini, membuatku hampir putus asa. Tapi, aku harus kuat. Demi Kak Ali dan juga papa, mama." Jenny membatin sendu.


Jenny menghela napas. Ia sudah sampai sejauh ini. Wanita itu sangat berharap bahwa ia akan baik-baik saja sampai Nirma melahirkan. Begitupun dengan Nirma.

__ADS_1


Dari kejauhan, Nirma memandang ke arah Jenny dengan tatapan datar. Entah apa yang dipikirkan oleh Nirma, tapi wanita itu hanya terdiam. Kini Nirma memilih untuk memainkan ponselnya.


"Nir," panggil Jenny.


"Kau sudah makan belum?" tanya Jenny.


Nirma mendongakkan kepala. Wanita itu menunjukkan ekspresi wajah tidak suka. Mendadak Jenny menghentikan langkah kakinya. Senyumnya memudar ketika ia melihat Nirma yang memasang ekspresi aneh.


"Bagaimana aku bisa makan? Setiap kali aku ingin makan, aku tidak berselera. Hanya makanan tertentu saja yang bisa aku makan. Tapi tenang saja, aku tetap minum susu agar bayi ini sehat." Nirma menyentuh perutnya yang mulai terlihat membuncit.


Jenny berjalan cepat untuk mendekati Nirma. Wanita itu pun duduk di sofa di mana Nirma juga sedang duduk. Jenny menggenggam kedua tangan Nirma. Membuat Nirma mengerutkan keningnya.


"Maafkan aku, Nir. Karena kau harus mengandung anakku, kau mengalami hal seperti ini. Sungguh, aku sangat berterima kasih karena kau sudah bersedia mengandung anakku. Aku tidak tahu harus bagaimana lagi jika tidak ada kau di sampingku," papar Jenny.


"Anaknya?" Nirma membatin bimbang.


...***...


Malam kembali tiba. Jenny dan Nirma sudah ada di meja makan. Beberapa pelayan memasak aneka makanan yang menjadi makanan favorit Nirma. Tetapi ketika sudah di meja makan, justru ekspresi Nirma tidak sesuai dengan apa yang diharapkan oleh Jenny.


Nirma memandang makanan yang ada di hadapannya dengan wajah tidak bersemangat. Wanita itu tidak mau untuk memasukkan makanan lezat tersebut ke dalam mulutnya. Nirma justru meminta kebab favoritnya. Namun Jenny tidak mau mengabulkannya karena Nirma sudah terlalu sering memakan kebab dan itu tidak baik bagi kesehatan bayi yang ada di dalam kandungan Nirma.


"Bahkan ketika aku belum memakannya, aku sudah merasa mual dan ini membuatku ingin muntah."

__ADS_1


Nirma menjauhkan makanan yang ada di dekatnya agar aromanya tidak tercium dengan jelas. Jenny mengunyah makanan yang ada di dalam mulutnya sambil memandang Jenny dengan wajah frustasi. Wanita itu sudah kehabisan cara untuk membujuk Nirma agar mau makan. Dia meneguk air putih lalu mengatur napasnya.


"Sedikit saja. Setidaknya makanlah meskipun hanya dua sendok saja. Anak itu butuh makanan. Dia akan kurus jika kau tidak makan." Jenny lagi-lagi mendekatkan piring yang tadi sempat dijauhkan oleh Nirma.


"Tapi aku tidak mau memakan makanan seperti ini, Jen. Tolong jangan paksa aku! Semua makanan yang kau katakan lezat ini, hanya terasa pahit ketika sudah ada di dalam mulutku. Kau tidak akan bisa merasakannya. Kau tidak tahu bagaimana menderitanya aku ketika ingin makan. Perutku lapar tetapi mulutku menolak."


Jenny langsung terdiam mendengar perkataan Nirma. Semakin lama sifat wanita itu semakin berbeda. Tetapi Jenny tidak mau marah. Dia juga tidak mau menyalahkan Nirma. Dia tahu mungkin Nirma bersikap seperti ini karena bawaan bayi yang ada di dalam kandungannya. Setelah anak itu lahir, Jenny yakin kalau Nirma akan berubah menjadi Nirma yang dulu ia kenal.


"Maafkan aku." Jenny juga tidak berselera makan lagi. Wanita itu memandang makanan dihadapannya dan melamun.


"Apa yang baru saja aku katakan? Apa Jenny sakit hati? Kenapa mulutku tajam sekali sekarang!" gumam Nirma. Wanita itu merasa bersalah karena sudah membentak Jenny. Ia segera memegang tangan Jenny dan memandang wanita itu. "Maafkan aku. Tidak seharusnya aku memarahimu seperti tadi. Maaf ya."


Jenny mengangguk. "Aku menyesal Nir."


Nirma mematung. Dia tidak tahu sebenarnya apa yang sudah disesali Jenny. Apa jangan-jangan Jenny menyesal karena sudah berteman dengan Nirma dan mempercayakan anak itu di dalam rahimnya.


"Jen, jangan seperti ini. Jangan menangis."


Nirma semakin panik. Wanita itu segera mengusap pipi Jenny agar air mata yang menetes tidak sampai membasahi wajah cantik Jenny.


"Aku ingin waktu diputar kembali. Aku tidak akan mengangkat rahim ini, Nir. Aku akan belajar menyayangi anak-anak. Aku akan berusaha menjadi ibu yang baik."


"Ssstt." Nirma segera menarik Jenny dan memeluknya. "Jangan disesali. Yang terjadi biarlah terjadi. Jadikan semua itu sebagai pelajaran agar kau bisa menjadi pribadi yang lebih baik lagi. Karena masalah ini kau mulai membuka hati untuk anak kecil. Tidak lagi membencinya dan memandangnya sebagai monster yang menakutkan."

__ADS_1


Jenny menggangguk. Wanita itu tidak tahu harus bicara apa lagi. Ia berusaha untuk kembali menenangkan dirinya sendiri dan masih tetap berada di dalam pelukan Nirma.


"Ternyata setiap orang memiliki masalahnya masing-masing. Aku sudah berdosa karena selama ini selalu memandang Jenny sebagai wanita yang tidak pernah memiliki masalah," gumam Nirma di dalam hati.


__ADS_2