Rahim Sahabatku

Rahim Sahabatku
Bab. 49


__ADS_3

Jenny tidak langsung pulang ke rumah. Wanita itu pulang ke rumah orang tuanya. Dia tidak mau sampai orang tua kandungnya mengetahui rahasia Ini dari Nirma lagi seperti yang sudah terjadi terhadap Ali. Sambil menangis wanita itu melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Hatinya benar-benar sakit hingga membuatnya bernapas saja terasa sulit.


"Bodoh! Aku benar-benar bodoh. Bisa-bisanya aku percaya kepada Nirma. Bisa-bisanya dulu aku sesayang itu padanya. Andai saja aku tahu kalau hari ini akan datang. Aku tidak akan pernah mau mengenalnya. Bahkan sejak di sekolah dulu. Sekarang aku tahu Kak Ali pasti sangat kecewa padaku. Apa lagi yang harus aku perbuat untuk mempertahankan rumah tanggaku yang dilandasi atas kebohongan ini?"


Jenny terus saja menyalahkan dirinya sendiri. Berulang kali wanita itu hampir saja menabrak pengendara sepeda motor karena tidak konsentrasi menyetir mobilnya. Jenny benar-benar frustasi saat itu. Ini merupakan hari terburuk yang pernah ia alami selama pernikahannya dengan Ali. Terjangan ombak yang harus ia hadapi kali ini benar-benar sungguh luar biasa. Jenny merasa tidak yakin kalau ia bisa mempertahankan rumah tangganya dengan Ali.


"Tasya. Apa Nirma juga akan mengambil Tasya? Tapi aku sudah terlanjur menyayanginya. Bagaimana kalau Tasya kecewa padaku? Bagaimana kalau Tasya lebih memilih Nirma daripada aku?"


Jenny menghapus air matanya lagi. Wanita itu berusaha mengatur napasnya agar kembali tenang. Sekuat mungkin ia lupakan semua yang terjadi meskipun sangat berat.


Setelah menempuh perjalanan hampir 15 menit akhirnya Jenny tiba di rumah orang tua kandungnya. Wanita itu segera turun dari mobil dan berlari masuk ke dalam rumah. Kedatangannya langsung disambut oleh sang ibu. Wanita itu terlihat panik ketika melihat putrinya muncul dengan penuh derai air mata.


"Mama, maafkan aku," ucap Jenny. Wanita itu langsung memeluk ibu kandungnya dan menangis tersedu-sedu. "Maafkan Jenny, Ma."


Ayah kandung Jenny yang melihat hal itu segera mendekat. Pria itu juga merasa khawatir melihat putrinya menangis tanpa sebab.


"Jenny, apa yang terjadi? Kenapa kau menangis dan di mana Ali dan juga Tasya? Apa mereka baik-baik saja?" tanya sang Ibu khawatir. Dia mengusap punggung Jenny berusaha menenangkan putrinya tersebut


"Jenny benar-benar bodoh. Jenny gak pantas hidup, Ma!" lirih Jenny dengan wajah yang menyedihkan.


"Sayang, jangan menyalahkan dirimu sendiri seperti itu. Cepat ceritakan kepada Mama apa yang sebenarnya terjadi." Wanita paruh baya itu segera menghapus air mata yang menetes di wajah Jenny. Dia sama sekali tidak tega melihat putrinya menangis tersedu-sedu.


"Tasya bukan anak Jenny, Ma." Jenny sengaja menahan kalimatnya karena wanita itu tidak tahu harus menjelaskannya dari mana dulu.


"Jenny, Apa maksudmu?" tanya sang ayah. "Tasya adalah anak kandungmu. Kau yang melahirkannya dan kau juga yang mengandungnya. Bagaimana bisa sekarang kau katakan kalau Tasya bukan anak kandungmu?" Ternyata pria paruh baya itu mulai terpancing emosi mendengar penjelasan Putri kandungnya.


"Saat masih gadis dulu secara diam-diam Jenny melakukan operasi pengangkatan rahim. Waktu itu Jenny benar-benar bodoh, Ma. Jenny tidak pernah memikirkan masa depan Jenny. Maafkan Jenny, Ma. Sekarang Jenny menyesal."


Sang Ibu seperti mendapat serangan jantung. Saat itu dadanya terasa begitu perih dan panas. Ini merupakan kabar buruk yang begitu menyakitkan. Rasanya dia berharap kalau semua ini hanya sebuah mimpi buruk yang akan hilang ketika bangun.

__ADS_1


"Jenny, kenapa kau bisa mengambil keputusan seperti itu. Lalu bagaimana ceritanya hingga kau bisa mendapatkan Tasya?" Meskipun dadanya terasa sakit, tetapi wanita paruh baya itu berusaha untuk mendengarkan penjelasan lengkap dari Putri kandungnya.


"Dia anak Nirma dan juga Kak Ali, Ma. Apa mama ingat dengan Nirma?"


"Wanita yang kau bilang sahabat terbaikmu itu?" sahut wanita paruh baya itu kurang yakin.


"Ya, Ma. Tapi sekarang dia bukan sahabat Jenny lagi. Waktu itu Jenny membiarkan Nirma untuk berhubungan badan dengan Kak Ali agar bisa mendapatkan Tasya. Ketika Nirma mengandung Tasya, di saat itu juga Jenny mulai melakukan kebohongan. Jenny pura-pura hamil agar semua orang percaya kalau Jenny sudah mengandung Tasya. Bahkan rencana tinggal di Vila juga salah satu rencana Jenny agar semua orang tidak curiga, Ma."


"Jenny, kau itu benar-benar mengecewakan papa. Kau itu putri yang Papa didik dengan penuh kasih sayang dan diajarkan sopan santun sejak kecil. Papa menyekolakanmu tinggi-tinggi agar kau bisa menjadi wanita yang cerdas. Tapi bisa-bisanya kau memiliki pemikiran pendek seperti ini. Istri mana yang rela suaminya tidur dengan wanita lain hanya demi mendapatkan anak. Jika kau memiliki masalah seharusnya kau ceritakan dulu kepada Mama dan Papa. Jangan langsung mengambil keputusan sendiri seperti itu. Sekarang usia Tasya sudah 10 tahun. Tetapi pada akhirnya rahasiamu terbongkar bukan? Sepandai-pandainya tupai melompat pasti akan terjatuh juga. Selama 11 tahun kau rahasiakan masalah ini dari mama dan papa. Apa kau sama sekali tidak menganggap kami sebagai orang tuamu?" Pria paruh baya itu ingin marah, tetapi dia juga kasihan melihat putrinya.


"Sudah, Pa. Cukup! Jangan menyalakan Jenny lagi!" teriak Ibu kandungnya. "Jenny, lalu bagaimana dengan Ali? Apa dia sudah mengetahui semua ini?"


Jenny mengangguk sambil menangis tersedu-sedu. "Jenny dan Nirma sudah melakukan kesepakatan kalau kami akan merahasiakan masalah ini sampai mati. Tetapi tiba-tiba saja Nirma muncul kembali dan berencana untuk merebut Kak Ali dari Jenny. Karena Kak Ali tidak tergoda dengannya akhirnya ia membocorkan rahasia ini untuk merusak rumah tangga Jenny dan juga Kak Ali. Sekarang Jenny tidak tahu Ma harus berbuat apa. Jenny harus bagaimana sekarang? Kak Ali pasti sangat kecewa dengan Jenny."


Kini sepasang suami istri itu tidak tahu harus bicara apa. Kejadian yang dialami Putri mereka benar-benar di luar dugaan. Wanita itu memeluk Jenny dan berusaha untuk menenangkan putrinya. Dia tahu kalau putrinya salah. Tetapi dia sangat menyayangi putrinya. Dia tidak mungkin terus-terusan menyalahkan Jenny dan membuat wanita itu frustasi.


"Sebaiknya malam ini kau tidur di sini dulu. Biar mama dan papa yang bicara dengan Ali. Mama akan minta Ali untuk datang ke rumah ini dan menyelesaikan masalah ini baik-baik," ucap sang ibu.


Jenny sudah tidak bisa berpikir jernih lagi. Wanita itu hanya diam saja ketika ibu kandungnya membawanya ke kamar tidur.


"Jenny ... ini semua salah mama. Andai saja dulu mama melarangmu untuk menetap di apartemen, mungkin kejadian seperti ini tidak akan pernah ada," gumam wanita paruh baya itu di dalam hati.


...***...


Nirma telah tiba di kediaman Jenny dan Ali. Wanita itu sengaja datang ke sana karena ingin mengambil Tasya dan mengakui dirinya sendiri sebagai ibu kandung Tasya. Melihat mobil Ali ada di rumah itu membuat Nirma semakin bahagia. Wanita itu segera turun dari mobil dan berjalan menuju ke arah pintu.


Belum juga sempat mengetuk pintu tiba-tiba pintu itu terbuka lebar. Tasya berdiri di sana sambil memegang boneka favoritnya. Dia terlihat bingung ketika melihat Nirma berdiri di hadapannya.


"Maaf, Tante siapa? Apa Tante teman Mama?" tanya Tasya dengan wajah polosnya.

__ADS_1


"Tasya ... Ini Mama," ucap Nirma tanpa tahu malu.


"Mama Tasya hanya Mama Jenny," sangkal Tasya tidak terima.


"Tidak, sayang. Mama kamu adalah mama Nirma. Mama yang sudah mengandung dan melahirkanmu. Mama Jenny hanya mama angkatmu saja." Nirma berusaha memberi penjelasan berharap Tasya percaya dan mau ikut dengannya.


"Tidak! Mama Tasya hanya Mama Jenny," teriak Tasya hingga menarik perhatian Ali yang saat itu ada di dalam rumah. Pria itu segera keluar untuk memeriksa keadaan di depan sana. Betapa kagetnya dia ketika melihat Nirma ada di rumahnya.


"Sekarang apa lagi yang kau inginkan? Apa belum cukup dengan menghancurkan hati Jenny di restoran tadi?" teriak Ali dengan emosi tertahan. Dia takut jika marah-marah di depan Tasya, hanya akan membuat Tasya trauma.


"Aku ingin mengambil putriku. Aku yang sudah mengandung dan melahirkannya. Aku berhak atas diri Tasya!" ketus Nirma penuh keyakinan.


"Apa kau lupa kalau aku adalah Ayah kandungnya? Aku yang lebih berhak untuk merawat Tasya. Jadi pergilah dari rumah ini sebelum aku mengusirmu lebih kejam lagi."


"Papa ... Tante ini siapa? Tasya takut." Tasya langsung memeluk Ali dan menyembunyikan wajahnya.


"Oke, aku akan pergi. Tapi ingat! Aku tidak menyerah sampai di sini saja. Aku akan datang lagi dan membawa Tasya pergi." Nirma segera pergi meninggalkan Ali dan Tasya yang masih berdiri di depan pintu. Setelah Nirma pergi Ali berjongkok dan mengusap air mata yang menetes di wajah Tasya.


"Anak cantik papa kenapa menangis?"


"Tante itu jahat. Tasya tidak mau bertemu dengan tante itu lagi," jawab Tasya sambil menangis.


"Ya, Papa janji tidak akan mempertemukanmu dengan tante jahat itu lagi. Sekarang Papa minta Tasya tersenyum ya."


"Tasya mau bertemu dengan Mama. Sekarang Mama ada di mana Pa? Tasya khawatir. Kenapa Mama tidak pulang-pulang?"


Ali terdiam untuk pertanyaan Tasya yang kali ini. Pria itu tidak memiliki jawabannya. Dia sendiri juga tidak tahu ke mana tadi Jenny pergi. Bahkan sampai detik ini nomor telepon Jenny juga tidak bisa dihubungi.


"Jenny, sebenarnya kau ada di mana. Apakah kau tidak tahu kalau saat ini aku sangat mengkhawatirkanmu?" gumam Ali di dalam hati. "Tasya, Tasya papa antar ke rumah nenek dan kakek ya? Papa mau cari mama."

__ADS_1


Tasya mengangguk. Anak kecil itu kembali masuk ke dalam rumah untuk mengambil barang-barangnya.


__ADS_2