Rahim Sahabatku

Rahim Sahabatku
Bab. 14


__ADS_3

Jenny menghidupkan kompor di dapur. Wanita itu ingin membuat cokelat panas untuk dirinya dan juga Nirma. Sambil menunggu cokelat meleleh, wanita itu memandang sedih ke arah Nirma. Sahabatnya itu kini terlihat tidak seceria dulu lagi.


Jenny sudah sangat penasaran ingin mengetahui apa yang di alami Nirma selama setahun belakangan ini. Namun dia juga tidak mau memaksa Nirma. Jenny berusaha untuk menenangkan Nirma terlebih dahulu.


"Jenny, apa kau tidak pulang? Ini sudah malam." Nirma memandang ke arah Jenny. Wanita itu beranjak dari kursi lalu berjalan mendekati Jenny. Ia ingin membantu sahabatnya di dapur.


"Duduk saja. Kenapa kau harus ke sini? Aku bisa melakukannya sendiri," tolak Jenny ketika Nirma ingin menuang cokelat panas yang sudah jadi ke dalam gelas.


"Dulu kau selalu memintaku untuk melakukan pekerjaan seperti ini. Kenapa sekarang kau buat sendiri? Aku masih ingat bagaimana cara membuat coklat panas yang lezat," protes Nirma.


"Aku tuh bukan gak mau menerima bantuanmu. Tapi, sesekali aku juga ingin kau mencicipi cokelat panas buatanku. Aku sudah menikah. Kedepannya jika Kak Ali memintaku untuk membuat coklat panas, aku sudah bisa membuatnya."


Jenny meletakkan coklat panas buatannya di atas meja makan. Wanita itu menarik kursi lalu duduk di sana. Nirma mengambil kue yang sudah disediakan di piring dan membawanya ke meja makan. Sebenarnya wanita itu tidak berselera untuk memasukkan apapun ke dalam mulutnya. Tapi dia tidak mau sampai mengecewakan Jenny.


"Aku ditipu oleh seseorang," ucap Nirma secara tiba-tiba hingga membuat Jenny menahan gerakannya ketika ingin menyeruput coklat panas buatannya.

__ADS_1


Nirma memandang ke depan dengan tatapan nanar. "Tadinya aku pikir dia orang baik dan mau membantuku menemukan perusahaan tempatku bekerja. Tetapi ternyata tidak. Dia mengambil semua uang dan barang-barang yang aku miliki hingga akhirnya aku tidak memiliki apapun. Bahkan ponsel juga tidak ada. Aku sempat kepikiran untuk menghubungimu dan meminta tolong. Tetapi di waktu yang bersamaan aku tahu kalau kau menikah dengan Ali. Aku tidak mau membuatmu kesusahan di hari pernikahanmu. Jadi aku putuskan untuk bertahan di sana. Karena semua dokumen hilang aku jadi gagal wawancara dan ditolak untuk bekerja di perusahaan itu. Aku melakukan segala pekerjaan agar bisa mendapatkan uang. Sayangnya di sana untuk mencari pekerjaan dengan gaji yang besar sangatlah sulit. Uang yang aku dapat hanya cukup untuk membeli makan saja. Hingga suatu ketika aku bertemu dengan seorang wanita. Tadinya aku pikir dia baik seperti dirimu. Tetapi nyatanya tidak. Dia justru menjebakku. Dia menjualku kepada seorang pria di sebuah hotel. Aku -"


Nirma menahan kalimatnya. Sepertinya dia tidak sanggup untuk melanjutkan ceritanya sampai selesai. Suara wanita itu sudah serak dan kedua matanya telah dipenuhi dengan linangan air mata. Jenny segera memegang tangan Nirma dan mengusapnya dengan lembut. Dia tahu kalau sahabatnya pasti sangat sedih saat ini.


"Tapi sekarang kau sudah baik-baik saja. Aku tidak akan membiarkanmu menderita lagi."


Nirma mengangguk lalu memandang Jenny. Dia berusaha untuk mengukir senyum manis di bibirnya agar Jenny tidak khawatir lagi. "Meskipun kami sangat dekat, tapi aku tidak mau mengatakan yang sebenarnya terjadi kalau aku sudah tidak perawan lagi. Bagaimanapun itu akan menjadi rahasiaku sampai mati. Aku tidak mau ada orang lain yang mengetahuinya," gumam Nirma di dalam hati. Wanita itu juga mencoba menyeruput cokelat panas buatan Jenny.


"Bagaimana? Apa rasanya enak. Aku yakin rasanya jauh lebih enak daripada coklat panas buatanmu," ucap Jenny dengan penuh percaya diri.


Jenny tertawa geli mendengar perkataan Nirma. "Kau selalu bisa untuk memujiku sampai-sampai aku terbang melayang. Tolong jangan dijatuhkan lagi karena itu rasanya sangat sakit."


"Tidak akan," jawab Nirma. Wanita itu menurunkan gelasnya lalu memandang Jenny dengan serius.


"Aku tahu kau merindukanku, tapi kau tidak perlu memandangku sampai seperti itu," ucap Jenny sambil tersenyum.

__ADS_1


"Aku berangkat ke kota ini karena meminjam uang seseorang. Aku berjanji padanya ketika sudah tiba di kota ini aku akan segera membayarnya. Apa kau mau meminjamkan uang lagi. Aku tahu aku tidak akan sanggup untuk membayar semua kebaikanmu selama ini. Tetapi kali ini aku tidak memiliki siapa-siapa lagi. Ibu kandungku jatuh sakit beberapa bulan yang lalu. Beliau sudah tidak ada di dunia ini lagi. Kami berasal dari keluarga susah. Tidak ada sedikitpun harta warisan yang ia Sisakan untukku."


"Kau tidak perlu merasa segan. Aku akan selalu membantumu sebisaku. Kalau boleh aku tahu, berapa uang yang aku butuhkan?" Jenny merasa percaya diri kalau dia bisa membantu Nirma kali ini.


"Satu Miliar," ucap Nirma berat.


"Satu Milyar?" tanya Jenny lagi untuk kembali memastikan. Rasanya sulit untuk percaya jika ongkos pesawat dari luar negeri ke kota tempat mereka tinggal mencapai satu miliar.


"Aku tahu kau pasti berpikir kalau tidak ada ongkos pesawat yang harganya mencapai satu miliar. Uang itu digunakan untuk menebusku dari wanita yang berusaha untuk menjualku. Jika tanpa uang segitu, aku tidak akan bisa pulang ke sini. Aku rela bekerja seumur hidupku menjadi pembantumu untuk menebus hutang-hutang ku." Nirma terlihat sangat frustasi hingga membuat Jenny tidak tega melihatnya.


"Jangan bicara seperti itu. Tapi sekarang semua pengeluaranku diketahui oleh Kak Ali. Dia pasti akan curiga ketika tahu aku mengeluarkan uang sebanyak itu dalam waktu satu malam. Beberapa hari lagi adalah jadwalku belanja. Kak Ali tidak akan marah jika aku menghabiskan uang sampai satu miliar. Apa kau bisa bersabar?"


Nirma mengangguk. "Terima kasih Jenny. Jika kau butuh bantuanku, katakan saja. Selain uang aku pasti bisa untuk membantumu."


Jenny hanya tersenyum saja. Wanita itu memandang ke arah lain dan mulai memikirkan perkataan Nirma barusan. "Aku tahu ini ide yang buruk. Tapi aku rasa Nirma adalah wanita yang cocok untuk mengandung anak kami," gumam Jenny di dalam hati.

__ADS_1


__ADS_2