Rahim Sahabatku

Rahim Sahabatku
Bab. 48


__ADS_3

Ali sudah mengatur janji dengan Nirma di sebuah restoran yang terletak tidak jauh dari kompleks perumahannya. Tentu saja pria itu tidak datang sendirian. Dia tidak mau sampai Jenny salah paham. Sejak Ali tahu kalau wanita bernama Lisa itu memiliki niat terselubung selama mendekatinya, kini Ali datang sambil membawa sekretaris pribadinya. Pria itu tidak mau Jenny tidak tenang di rumah. Dia tahu pasti istrinya khawatir ketika mendapat kabar kalau hari ini Ali akan bertemu dengan Lisa secara langsung.


Nirma masuk ke dalam restoran sambil memasang wajah angkuhnya. Wanita itu sudah tahu apa yang akan dilakukan oleh Ali. Wanita itu juga sudah siap Jika saja Jenny tiba-tiba muncul di hadapannya. Dia melangkah ke depan. Bahkan ketika pelayan restoran menyapanya, Nirma terlihat tidak peduli lagi.


“Jika aku tidak bisa mendapatkan Kak Ali maka aku akan menghancurkan rumah tangga kalian,” gumam Nirma penuh dengan kemenangan. “Bagaimanapun juga hanya aku dan dokter Rico yang tahu kalau Jenny tidak memiliki rahim lagi. Ini akan menjadi kelemahan Jenny ketika ia berani menantangku,” batin Nirma sambil terus melangkah mendekati posisi Ali berada. Entah apa yang sudah merasuki pikiran Nirma sampai kini dia berubah menjadi wanita jahat seperti itu.


Meskipun Ali tahu kalau Lisa adalah wanita yang licik. Tetapi tetap saja pria itu beranjak dari kursi untuk menyambut kedatangan Lisa. Ia sempat-sempatnya menunduk hormat dan berperilaku profesional seperti yang biasa ia lakukan terhadap kliennya yang lain.


“Silahkan duduk,” sapa Ali. Setelah Nirma duduk di hadapannya, Ali menyodorkan berkas yang sudah ia susun rapi. Hari ini dia dan Lisa akan resmi memutuskan kerja sama mereka. Ali berharap setelah hari ini mereka tidak akan bertemu lagi. Dengan begitu rumah tangganya dengan Jenny akan baik-baik saja. Tidak ada orang ke tiga yang membuat Jenny mengkhawatirkannya.


“Nona, sepertinya kerja sama kita tidak bisa dilanjutkan lagi.” Ali menyodorkan berkas itu untuk ditandatangani oleh wanita yang ia kenal sebagai Lisa itu. “Saya juga sudah menyiapkan denda yang harus saya bayar.” Pria itu membuka koper yang berisi sejumlah uang. Ia merasa yakin kalau Lisa tidak akan menolak Karena kini Ali sudah melengkapi persyaratan yang memang seharusnya dipenuhi.


“Sepertinya istri anda sudah salah paham kepada saya.” Nirma masih berusaha untuk membela diri di depan Ali. “Apa dia menjadi posesif setelah usia pernikahan berlangsung cukup lama?”


“Maaf, Nona. Masalah di sini tidak ada hubungannya dengan istri saya. Jadi tolong jangan bawa-bawa istri saya.” Aku terlihat tidak suka ketika Nirma menyinggung Jenny yang jelas-jelas tidak ada di restoran tersebut.


“Jika memang dia tahu kalau suaminya sangat cinta padanya, kenapa dia harus takut ketika ada wanita lain yang berusaha untuk menggoda suaminya? Bukankah itu artinya dia tidak percaya diri?” Nirma tertawa meledek. Hal itu membuat Ali semakin kesal. “Dia memang tidak pernah percaya diri. Dia memiliki kekurangan yang tidak bisa diperbaiki lagi. Sekeras apapun usahanya. Sebesar apapun uang yang ia miliki, ia tidak bisa memperbaikinya!”


Ali semakin geram ketika Nirma terus saja mengusik Jenny. Pria itu beranjak dari kursi dan berencana untuk segera pergi agar dia tidak lagi mendengar ocehan yang keluar dari mulut Nirma.


“Sepertinya semua sudah jelas di sini. Jika masih ada pertanyaan, Anda bisa langsung bicara dengan sekretaris saya. Permisi.” Setelah berpamitan Ali segera pergi meninggalkan meja tersebut. Nirma tidak tinggal diam. Wanita itu cepat-cepat menggenggam tangan Ali.


Karena tidak mau disentuh Ali segera menghempaskan tangan Nirma dengan wajah menahan emosi. “Nona, tolong jaga sikap Anda.” Kali ini bahkan Ali bicara dengan nada yang begitu tegas. Untuk pertama kalinya Nirma melihat Ali marah. Namun walaupun begitu Nirma tetap saja tidak mau menyerah. Ia justru akan menghalalkan segala cara agar tetap bisa mendapatkan perhatian dari Ali.


“Saya mencintai anda,” ucap Nirma tanpa tahu malu. “Sejak dulu. Sejak pertama kali kita bertemu!”


“Saya sudah menikah. Maaf, Nona. Saya tidak mungkin bisa membalas perasaan Anda.”

__ADS_1


Ali terus saja berusaha untuk pergi namun Nirma terus saja mencari cara untuk menahannya. Sampai-sampai semua pengunjung restoran kini memandang ke arah mereka. Urat malu Nirma benar-benar sudah tidak ada. Wanita itu tidak peduli jika harus menurunkan harga dirinya.


“Tapi kita pernah tidur bersama. Bahkan saya pernah melahirkan anak anda. Sekarang berani sekali anda katakan kalau anda tidak mencintai saya!” ketus Nirma tidak terima.


Ali semakin tidak habis pikir dengan perkataan yang diucapkan oleh wanita yang kini ada di hadapannya. Jelas-jelas Ali tahu kalau tubuhnya ini tidak pernah bersentuhan dengan wanita lain selain istrinya sendiri. Dia juga bukan tipe pria pemabuk.


“Saya bisa melaporkan Anda ke kantor polisi dengan tuduhan pencemaran nama baik jika anda terus mengoceh tidak jelas seperti ini, Nona.” Ali berusaha mengancam berharap Nirma tidak lagi menghalanginya pergi.


“Tapi kita benar-benar pernah tidur bersama. Kali ini saya tidak berbohong.” Nirma mengatur napasnya sambil mengepal kuat tangannya. “Bahkan saya menyerahkan keperawanan saya kepada anda. Malam itu Anda sangat panas. Bahkan kita melakukannya hingga berulang kali. Sampai akhirnya saya hamil!”


Jika saja wanita yang bicara di depan Ali bukan seorang wanita, mungkin tangan pria itu sudah melayangkan tamparan yang begitu keras. Ali benar-benar sudah geram sekali saat ini.


“Oke, saya tahu anda tidak akan percaya dengan semua omong kosong saya ini. Tapi anda harus tahu satu hal kalau kita melakukan semua ini atas izin dari istri anda. Dia yang sudah mengatur semuanya!”


Ali mendengus kesal. “Saya sama sekali tidak mengerti dengan apa yang anda katakan.”


PLAKKKK


Sebuah tamparan keras mendarat di pipi Nirma. Namun tamparan itu tidak berasal dari tangan Ali. Jenny berdiri di sana dengan wajah memerah menahan emosi. Giginya menggertak. Rasanya sebuah tamparan saja tidak cukup untuk memberi peringatan kepada wanita yang kini berdiri di hadapannya.


“Sejak awal aku sudah yakin kalau kau adalah Nirma," teriak Jenny tanpa mau menurunkan nada bicaranya.


Nirma tersenyum memandang Jenny. Rasanya wanita itu semakin bahagia karena kini Ali dan Jenny sudah ada di hadapannya. Dia tidak perlu menyimpan rahasia itu lagi. Nirma akan ungkapkan semuanya di depan Ali agar rumah tangga mereka hancur.


“Jenny pernah melakukan operasi pengangkatan rahim. Seumur hidupnya dia tidak akan pernah bisa mengandung anak lagi. Operasi itu dilakukan sebelum ia menikah dengan Anda, Tuan Ali.”


Nirma merasa plong karena sudah menceritakan aib sahabatnya sendiri. Wanita itu sama sekali tidak peduli ketika melihat genangan air mata di wajah sahabatnya Jenny. Ia merasa sangat puas.

__ADS_1


Ali memandang ke arah Jenny. Pria itu memegang tangan istrinya dan mengusapnya dengan lembut. “Katakan padaku kalau semua ini tidak benar. Wanita ini gila. Dia rela melakukan segala cara untuk menghancurkan rumah tangga kita.”


Namun Jenny hanya diam saja dan mulai meneteskan satu persatu air matanya. Biasanya wanita itu paling berani. Hal itu membuat Ali semakin takut kalau apa yang dikatakan Nirma memang benar adanya.


“Sayang, bicaralah.Jangan diam saja seperti ini. Bukankah wanita ini hanya ingin menghancurkan rumah tangga kita. Kau harus mengatakan sesuatu.”Ali terus saja mengguncang tubuh Jenny berharap wanita itu memberi penjelasan yang bisa membuatnya kembali tenang.


“Dia tidak akan bisa bicara lagi. Dia tidak akan memiliki keberanian untuk membela dirinya sendiri karena semua yang saya katakan benar adanya,” sahut Nirma semakin menjadi. “Setelah kejadian malam itu Saya hamil. Sedangkan Jenny harus pura-pura hamil agar suami dan keluarga besarnya percaya dan bahagia menyambut kehamilan itu. Itulah yang membuat Jenny terlihat menutup-nutupi kehamilannya saat itu. Bahkan ia mengarang cerita bohong dan mengatakan kalau dia tidak mau tinggal di satu atap dengan anda. Kami tinggal di villa. Sebenarnya itu semua hanya untuk menutupi kebohongan saja. Saya harus mengalami pendarahan saat usia kandungan saya 7 bulan. Anak saya harus dilahirkan dengan cara di operasi. Sebagai seorang suami, Apa Anda tidak pernah sadar kalau di perut istri anda tidak pernah ada bekas luka operasi seperti wanita baru melahirkan. Anda memang pria yang terlalu naif sampai-sampai muda sekali dibohongi oleh istri anda.”


Nirma mengukir senyum menghina. Dia melirik Jenny yang membisu sebelum melipat kedua tangannya.


“Pada akhirnya kau memperlihatkan sifat aslimu, Nirma. Uang telah mengubahmu menjadi wanita yang jahat. Berulang kali aku menepis semua penilaian buruk tentangmu. Aku memandangmu sebagai seorang malaikat penolong. Tetapi kini kau justru berniat untuk menghancurkan rumah tanggaku. Di mana letak kesalahanku, Nirma? Di mana!" teriak Jenny dengan suara yang serak. Rasanya mau bernapas saja Jenny sudah kesulitan. “Selama ini aku terus membantumu. Ratusan juta uang aku kirimkan kepadamu tanpa merasa keberatan. Semua aku berikan kepadamu hanya agar kau bisa tersenyum bahagia. Tidak mengalami kesusahan seperti orang-orang di luar sana. Aku menganggapmu seperti saudara kandung. Tetapi apa yang sekarang aku dapatkan? Hatiku sakit, Nirma! Sakit sekali.” Jenny menunjukkan bagian dadanya yang terasa nyeri. Marah dan tangisan saja belum cukup. Rasanya wanita itu tidak tahu harus bagaimana agar bisa kembali tenang.


Mendengar perkataan Jenny membuat Ali semakin yakin kalau apa yang sudah dijelaskan oleh Nirma memang benar adanya. Kini pria itu tidak tahu harus berbuat apa lagi. Dia sangat-sangat kecewa dengan istrinya sendiri. Selama ini rumah tangganya di dasari dengan kebohongan. Bertahun-tahun lamanya Jenny merahasiakan masalah ini darinya Bertahun-tahun juga wanita itu berbohong padanya.


“Lalu Tasya anakku dan wanita ini?” tanya Ali kepada Jenny.


“Ya, Tasya anak kita,” jawab Nirma tanpa tahu malu.


“Aku sama sekali tidak menyangka kalau kau bisa sejahat ini padaku Nirma. Aku kecewa padamu. Kenapa kau tidak jujur saja sejak awal. Dengan begitu kau tidak perlu membuat cerita baru di dalam rumah tangga kita. Apa Kau pikir aku bahagia? Tidak! Aku sama sekali tidak bahagia. Karena tujuanku menikah denganmu untuk mencari kebahagiaan bukan untuk mencari anak. Memang aku akui saat pertama kali pernikahan aku sangat menginginkan anak. Tetapi Apa aku pernah memaksamu? Kalau saja sejak awal aku tahu kalau kau sudah tidak memiliki rahim lagi, aku tidak akan pernah membahas soal anak. Kita bisa mengadopsi anak di panti Asuhan. Dengan begitu Kau tidak perlu berbohong padaku. Tidak perlu ada rahasia besar yang harus kau tutupi dariku. Jenny, Apa kau sadar Kau bukan hanya membohongiku saja. Tetapi kau juga membohongi kedua orang tuamu dan juga kedua orang tuaku. Jika aku saja merasa kecewa, bagaimana dengan mereka jika mereka tahu kalau Tasya bukan anak kandungmu?”


Jenny benar-benar tidak tahu harus bicara apa lagi. Wanita itu segera pergi meninggalkan Nirma dan Ali yang masih berdiri di sana. Ketika Ali ingin mengejar Jenny tiba-tiba Nirma memegang tangan Ali. Wanita itu masih berusaha untuk menahan Ali agar berada di sisinya. “Anda orang pertama yang pernah tidur dengan saya. Anda adalah orang yang sudah merenggut keperawanan saya. Sekarang saya ingin minta pertanggungjawaban dari anda. Tinggalkan saja Jenny. Kita bisa hidup berbahagia bersama dengan Tasya. Aku ini ibu terkandung Tasya.”


Ali lagi lagi menghempas tangan Nirma dan menatap wanita itu dengan penuh kebencian. “Sampai kapanpun aku tidak akan mau menikah denganmu. Lebih baik aku mati daripada aku harus menikah dengan wanita licik sepertimu!" ketus Ali sebelum berlari mengejar Jenny.


Nirma menghapus air mata yang tiba-tiba saja menetes. Ternyata umpatan yang keluar dari mulut Ali berhasil menusuk hatinya hingga membuat air matanya menetes. Wanita itu juga segera meninggalkan restoran. Meskipun ia gagal mendapatkan Ali tetapi ia sudah berhasil untuk menghancurkan rumah tangga Jenny dan Ali.


"Aku tidak berhenti sampai di sini. Ini hanya permulaan, Jenny. Aku akan membuat hidupmu lebih menderita lagi!"

__ADS_1


__ADS_2