Rahim Sahabatku

Rahim Sahabatku
Bab. 38


__ADS_3

"Em, begini. Aku dan Nirma bersahabat lama. Terus em." Jenny berbicara terbata-bata. Sungguh debaran jantungnya membuat Jenny tidak bisa berpikir. Bahkan otaknya pun sama sekali tidak bisa bekerja. "Kenapa Kak Ali harus ada di sini. Sekarang aku harus bagaimana? Apa yang harus aku katakan? Bagaimana caranya aku bersembunyi lagi?" batin Jenny dengan wajah yang gugup.


Nirma mengerti dengan apa yang dipikirkan oleh Jenny sekarang. Wanita itu berinisiatif untuk menolong sahabatnya.


"Em, Tuan Ali. Maaf. Sebenarnya suami saya bekerja di luar kota. Terus saya bilang untuk mengantarkan saya ke sini. Soalnya seingat saya Jenny ingin tinggal di sini. Saya pikir ini menjadi momen yang sangat manis lantaran kami berdua bisa menikmati momen kehamilan ini bersama-sama." Nirma mengambil alih keadaan. Membuat Jenny bernapas lega. "Apa anda keberatan jika saya menumpang gratis di vila ini?" tanya Nirma lagi sambil tersenyum.


"Oh tidak. Saya sama sekali tidak keberatan." Ali melangkah maju ke depan. Lagi-lagi pria itu tidak terlalu peduli dan tidak mau memandang wajah Nirma lebih dari 10 detik. "Aku senang karena istri dan calon anakku memiliki teman."


Lalu Jenny melirik pada perutnya yang rupanya sedang menggunakan bantal hamil. Wanita itu sangat lega lantaran selalu menggunakan bantal hamil itu setiap hari. Mungkin ini memang kebetulan dirinya bisa selamat.


"Jantungku benar-benar tidak tenang sekarang. Bagaimana kalau Kak Ali memegang perutku. Kenapa juga dia harus muncul secara tiba-tiba?" batin Jenny sambil berusaha mengukir senyum terpaksa agar Ali tidak curiga.


"Sayang, kenapa kau terlihat pucat seperti ini? Apa kau baik-baik saja?" Ali mengernyitkan dahinya melihat Jenny yang seperti orang ketakutan.


"Aku baik-baik saja. Aku hanya terlalu bahagia hingga sampai pucat seperti ini. Oh iya, aku sedang membuat kue. Apa Kak Ali bisa menungguku sebentar? Kue ini tidak bisa ditinggal."


"Baiklah," jawab Ali sambil tersenyum.


Mungkin memang detik ini Jenny bisa lolos. Akan tetapi bagaimana ke depannya? Bagaimana kalau dirinya lupa menggunakan bantal hamil itu dan Ali datang ke rumah? Beruntungnya Nirma selalu mengingatkannya tentang bantal hamil itu.

__ADS_1


Nirma memang selalu saja bawel ketika Jenny lupa untuk menggunakannya. Terlebih menggunakan bantal hamil itu terasa panas di perut Jenny. Namun, bila menilik dari kejadian ini, kemungkinan Jenny tidak akan ceroboh lagi.


Entah seperti apa nasibnya Jika ia tidak menggunakan bantal itu. Bisa saja Ali sangat marah dan merasa dicurangi. Lebih parahnya lagi, pernikahan mereka bisa hancur.


"Apa aku boleh duduk di sini?" tanya Ali sambil menarik kursi yang ada di meja makan. "Kau tidak bilang kalau temanmu ini sudah menikah. Jika tahu seperti ini, aku akan membayar orang untuk menjaga kalian berdua. Bagaimanapun juga, sesama wanita hamil akan sama-sama merasa kesulitan bukan? Kalian tidak akan bisa saling menolong jika salah satu dari kalian mengalami kesulitan."


"Kehamilan kami usianya hampir sama. Jadi, kami rasa kami berdua bisa mengatasinya dengan mudah." Nirma lagi-lagi berusaha untuk mencairkan suasana dan memberi waktu kepada Jenny untuk berpikir.


"Benar. Aku sudah memutuskannya jauh-jauh hari. Kupikir menghabiskan waktu bersama orang yang sama-sama sedang mengandung bayi adalah ide yang bagus. Kami bisa saling bertukar pikiran untuk menjaga bayi kami berdua. Jadi seperti saat kita ingin membeli ini bubur ayam. Maka kita akan berjalan bersama-sama di taman yang ada di kompleks ini." Jenny menjelaskan kesehariannya di villa.


Namun, Ali tampak termenung. Akan tetapi tak lama kemudian kepalanya mengangguk berulang kali. Laki-laki itu tak juga langsung menjawab penjelasan dari Nirma maupun Jenny. Sesaat bibir Ali tersenyum membuat Jenny tidak sabar untuk mengetahui apa yang ada di pikiran suaminya


"Aku pikir itu juga ide yang bagus. Kalian berdua bisa sama-sama saling mengingatkan. Apabila salah satu di antara kalian melupakan vitamin atau pemeriksaan setiap bulannya. Aku tidak akan protes kali ini. Kalau begitu di mana kamarmu sayang?" Ali mengedarkan pandangan matanya. "Aku harus tahu dimana istriku tidur selama ini."


Ali memilih untuk menunggu istrinya daripada harus berangkat ke kamar sendirian. Setelah Jenny selesai memasak kue tersebut, Ali segera memegang tangan Jenny dan mengajak wanita itu pergi meninggalkan dapur.


Sambil berjalan Jenny memandang ke arah Nirma. Dia meminta sahabatnya untuk istirahat karena memang selama Ali di vila, wanita itu tidak akan memiliki waktu untuk bersama dengan Nirma lagi.


"Kak Ali sudah membuat kejutan yang tidak pernah terkira sebelumnya. Apa Kak Ali sudah merencanakan ini?" tanya Jenny.

__ADS_1


"Sebenarnya tidak. Akan tetapi kami memang memiliki hari libur yang sedikit lebih lama dari hari lainnya. Jadi aku memutuskan untuk kemari tanpa mengatakannya padamu. Apakah kau makan dengan baik di sini?" Ali mengedarkan pandangan di sekelilingnya.


Laki-laki itu tersenyum ketika menyadari bahwa suasana di sana sangat sejuk. Ia semakin yakin kalau Jenny hidup dengan baik di villa.


"Tentu saja aku makan dengan baik. Aku dan Nirma membuat cake. Belakangan ini aku suka memasak sesuatu yang baru. Beruntung sekali aku selalu sehat. Sedangkan Nirma karena keadaannya terkadang suka lemas jadi dia lebih banyak tidur," terang Jenny.


"Oh jadi bawaan bayi memang berbeda-beda Ya? Seperti apa yang dikatakan oleh Dokter Rico waktu itu. Kalau begitu aku harap kau selalu sehat sayang. Supaya aku bisa bekerja dengan tenang." Ali tiba-tiba saja berjongkok di depan Jenny.


Laki-laki itu menempelkan kepalanya di perut Jenny. Kelakuan Ali yang seperti ini, seringkali membuat Jenny selalu berdebar-debar. Jelas tidak mungkin Ali bisa mendengar jantung calon bayi.


"Kenapa dia tidak bergerak ya? Apa dia tidak rindu kepada calon Papanya?" tanya Ali bingung.


"Mungkin saja dia sedang tidur. Bukankah ini sedang siang hari?" Jenny mencoba untuk memberikan alasan. "Dia juga masih kecil kak."


Wanita itu menggigit bibir bawahnya karena takut. Ia benar-benar tahu akan hal itu. Sebab Ia juga berulang kali sudah merasakan gerakan bayi dalam perut Nirma. Meskipun gerakan bayi itu tidak begitu terasa, akan tetapi Jenny masih bisa merasakan getarannya.


Untuk itulah mengapa Jenny memilih untuk menjauhkan diri dari mama mertuanya maupun orang tuanya. Bisa jadi mereka juga menanyakan hal yang sama. Hal itu akan menyulitkan Jenny untuk menyembunyikan kebohongannya untuk waktu lebih lama.


Apalagi Mama Jenny maupun Mama Ali sudah pernah melahirkan. Jenny tahu bahwa tentunya mereka berdua sangat paham bagaimana rasanya hamil dan melahirkan.

__ADS_1


"Ya Tuhan. Semoga saja Kak Ali tidak curiga. Maafkan aku yang memiliki banyak kebohongan, Kak Ali. Akan tetapi ini merupakan jalan satu-satunya yang harus aku tempuh untuk mempertahankan rumah tangga kita." Jenny membatin sambil terus berharap bahwa suaminya tidak curiga akan kehamilan palsu itu.


Lantas bagaimana reaksi Ali ketika ia tidak bisa merasakan getaran bayi yang dikandung oleh istrinya?


__ADS_2