Rahim Sahabatku

Rahim Sahabatku
Bab. 26


__ADS_3

"Sayang! Aku pulang!" teriak Ali.


Laki-laki itu pulang ke rumah setelah bekerja. Ia mencari kemana sang istri pergi. Dahinya mengerut saat ia tidak menemukan sang istri menyambutnya pulang. Ali berjalan menuju ke dapur. Di sana juga tidak terdapat Jenny.


"Ya ampun. Kemana dia pergi? Jenny?" Ali terus mencari Jenny ke segala penjuru. Rasa khawatir mulai muncul di hatinya.


"Kak Ali? Kak Ali sudah pulang?" Jenny tiba-tiba muncul dari lantai atas. Wanita itu mengenakan dress yang cantik. Membuat Ali tidak bisa mengalihkan pandangan mata darinya. Ada seulas senyum di bibir Ali. Pria itu melangkah mendekati tangga.


"Sayang, kau dari mana saja? Aku mencarimu di mana-mana," ujar Ali.


"Karena aku tahu kalau Kak Ali akan pulang cepat, jadi aku ingin bersiap-siap. Bukankah kita sudah memiliki janji untuk ke dokter kandungan? Ngomong-ngomong kata dokter kandunganku, aku harus pergi ke tempatnya setiap ingin pergi memeriksa kandungan. Bahkan sampai aku melahirkan nanti. Apa kau ada masalah tentang itu, Kak?" Jenny bertanya dengan hati-hati. Ia melirik ekspresi Ali.


"Kenapa harus begitu?" tanya Ali. Padahal Ali sudah mengatur janji dengan Dokter kandungan pilihannya.


"Soalnya dokter bilang, ketika wanita sedang hamil, terkadang mereka memiliki masalah dengan kesehatan atau kandungannya. Hal itu biasanya dilakukan karena para dokter itu sendiri yang paling paham bagaimana keadaan pasiennya," terang Jenny. "Intinya jika sudah sekali periksa sebaiknya jangan pindah-pindah. Bukankah riwayat kesehatanku sudah tersimpan rapi di data dokter kandungan yang selama ini aku temui?" Jenny berusaha mencari alasan. Dia tahu kalau sudah pasti suaminya akan mengajaknya ke dokter kandungan terbaik yang ada di kota itu. Maka dari itu Jenny sudah mempersiapkan semua alasan ini.


"Oh!" Ali menganggukkan kepala. "Sepertinya aku paham. Untuk menghindari masalah ketika ibu hamil akan melahirkan. Kalau begitu, ayo kita ke dokter kandunganmu. Tetapi sebelumnya aku ingin menghubungi Dokter kandungan yang aku pilih. Semoga saja dia tidak mempermasalahkannya."


Ali mengambil ponselnya lalu menghubungi nomor Dokter tersebut. Jenny kembali bernapas lega karena rencananya berhasil. Sesekali wanita itu melirik Ali sampai akhirnya Ali selesai menelepon.


"Kak Ali gak mandi?" Jenny mengambil tas kerja Ali. "Biar aku yang bawa."


"Jangan." Ali merebut tas itu lagi. "Tunggu di sini. Jangan naik ke atas lagi karena wanita hamil tidak boleh naik turun tangga. Aku akan mandi sebentar. "


Ali tampak sangat antusias. Ia naik ke atas untuk menaruh tas kerjanya di kamar. Pria itu juga ingin mandi dan ganti pakaian.


Di bawah, Jenny duduk di ruangan keluarga. Wanita itu menghidupkan televisi. Sesekali dia memandang ke tangga untuk melihat kemunculan Ali.


"Sebaiknya aku telepon Rico untuk memastikan kalau dia sudah mempersiapkan semuanya." Jenny menahan jarinya menekan nomor Rico. Dia takut Rico marah lagi karena terlalu sering di ganggu. "Aku percayakan saja semuanya sama Rico." Jenny memasukkan ponselnya lagi ke dalam tas. Dari arah tangan dia melihat Rico muncul dengan rambut yang masih setengah kering. Pria itu turun dengan setelan kaos hitam dan celana pendek warna cokelat.

__ADS_1


"Suamiku memang tampan," puji Jenny. "Nanti jika anakku laki-laki, dia pasti akan setampan ayahnya."


"Ayo kita berangkat," ajak Ali. Pria itu mengulurkan tangannya. Jenny mengangguk cepat. Tanpa pikir panjang wanita itu merangkul lengan Ali. Dia bergelayut manja. Setelah itu mereka berdua menuju ke tempat Rico.


...***...


Sepanjang perjalanan, Jenny terus mengamati ekspresi wajah Ali. Laki-laki itu terus mengukir senyuman. Dia benar-benar sangat bahagia sampai-sampai rasa bahagianya tidak bisa diungkapkan lagi.


"Tuhan, sepertinya dia sangat bahagia." Jenny membatin dalam hati. "Semoga saja tidak ada halangan sampai anak itu lahir."


Sesampainya di rumah sakit, Jenny mengajak Ali untuk menuju ke ruangan Rico. Entah berapa lama Jenny dan Ali mengantri giliran. Kini keduanya pun bisa masuk ke dalam ruangan Rico.


Rico dan Jenny saling memandang satu sama lain. Tidak mau Ali curiga, Jenny memilih untuk segera menunduk. Dia tidak mau suaminya tahu kalau selama ini dirinya dan Rico menjalin hubungan yang sangat akrab. Bahkan sering bertemu.


"Dokternya laki-laki?" Ali bertanya dengan ekspresi bimbang. Sangat jauh dari Apa yang dipikirkan oleh Ali. Dia tidak mau sampai istrinya disentuh oleh pria lain selain dirinya. Meskipun pria itu seorang dokter.


Jika rencananya kali ini sampai gagal dan Ali memaksa untuk membawanya bertemu dengan dokter kandungan yang perempuan maka habislah sudah.


"Nyonya Jenny, silahkan masuk. Sepertinya Anda pasien saya yang paling rajin ya. Apakah ini suami Anda?" Rico menyapa Jenny dan Ali dengan sopan. Bahkan ia melebarkan senyumannya.


"Benar, Dokter Rico. Ini suami saya. Yang waktu itu Anda katakan dia tidak perhatian karena membiarkan istri hamilnya ini pergi sendirian. Sekarang saya mengajaknya ke sini supaya Anda tahu kalau suami saya sangat mencintai saya!" Jenny bertingkah ramah. Ia seolah memahami batasannya sendiri.


Mendengar kata-kata Jenny, rasa kesal di dalam hati Ali lenyap seketika. Pujian Jenny terhadapnya mengalahkan segalanya. Ali pun mengulurkan tangannya.


"Saya Ali. Oh, Dokter Rico? Salam kenal." Ali melihat name tag yang ada di jas putih milik Rico. Menanggapi Ali yang menyebutkan namanya membuat Rico tersenyum. Ia menyambut uluran tangan dari suami sahabatnya itu.


"Salam kenal, Tuan Ali. Maafkan saya karena sempat berpikir bahwa Anda tidak perhatian pada istri Anda yang hamil. Saya ikut senang karena Anda bisa ikut ke sini untuk mengetahui keadaan calon bayi Anda. Bagaimana kalau kita mulai sekarang?" Rico mulai memberikan isyarat pada Jenny untuk merebahkan diri di ranjang yang ada di ruangan itu.


Jenny menurut. Dengan cepat Rico menutup sebagian tubuh Jenny dengan selimut putih. Kemudian Jenny mulai mengangkat ujung dressnya. Rico tampak mengoleskan gel di perut Jenny.

__ADS_1


Ali terus mengawasi keduanya dengan seksama. Kemudian Dokter Rico memanggilnya agar mendekat ke tempat Jenny.


"Apa tidak apa jika saya mendekat seperti ini, Dok?" Dengan polosnya Ali bertanya pada Rico.


"Tidak masalah. Justru Anda harus melihatnya. Lihat, ini calon bayi Anda," ucap Rico.


Ali melihat pada layar yang ditunjuk oleh Rico. Senyumannya melebar. "Belum kelihatan ya? Hanya gundukan kecil?"


"Benar. Tapi setidaknya Anda mengetahui keadaannya sehat, bukankah itu sebuah anugerah?"


"Benar! Itu seperti sebuah keajaiban!" Ali terlihat sangat bahagia. Ia tidak bisa menyembunyikan rasa harunya. Bahkan di depan Rico, Ali mendaratkan kecupan di kening Jenny.


"Terima kasih, Sayang. Lihat, itu anak kita!" ucapnya dengan penuh rasa bangga.


Nyesss. Entah mengapa hati Jenny bagai ditikam belati. Kata-kata Ali, terlalu menyesakkan baginya. Mungkin, Ali sudah lama menantikan hadirnya seorang bayi. Jenny tersenyum tipis melihat reaksi Ali.


"Tuhan, semoga saja semuanya lancar sampai Nirma melahirkan. Bolehkan aku memaksa untuk yang satu ini?" gumam Jenny.


Rico memandang Jenny dengan cara mencuri-curi. Pria itu tahu kalau kini Jenny juga masih belum merasa tenang meskipun suaminya sudah melihatnya langsung.


Setelah selesai, Jenny dan Ali kembali duduk di kursi. Rasanya Jenny ingin sekali segera keluar dari ruangan itu. Namun, Ali belum mau di ajak keluar. Banyak sekali pertanyaan yang ingin dia tanyakan.


"Dok, berapa lama saya baru bisa melihat anak saya bergerak? Setidaknya dia tumbuh dengan sempurna. Apa ada makanan khusus yang membuat tumbuh kembangnya lebih cepat?"


"Tidak ada hal khusus, Tuan. Tetapi sebaiknya di trimester pertama, anda harus menjaga Nona Jenny dengan sebaik mungkin. Kandungannya sangat kecil dan sudah pasti sangat beresiko."


"Tenang, Dok. Saya sudah lama menanti anak ini. Saya akan menjaganya dengan sangat baik. Bahkan jika di larang untuk menyentuh istri saya, saya juga tidak akan keberatan," ucap Ali dengan serius.


"Ya. Seperti itu maksud saya." Ali tertawa kecil untuk mencairkan suasana. Berbeda dengan Jenny yang kini kembali memikirkan rencana selanjutnya. "Sepertinya aku harus mencari cara agar bisa pisah rumah dari Kak Ali. Dengan begitu dia tidak akan sadar kalau aku hamil," gumam Jenny di dalam hati.

__ADS_1


__ADS_2