
"Sebenarnya apa yang dia lakukan? Mengapa sampai harus seperti itu?" Rico menyambut ambulance di mana Nirma diangkat oleh tandu. Beberapa perawat wanita segera mendorong tandu dan membawanya ke IGD.
Sedangkan Jenny baru saja ikut turun dari mobil ambulance. Wanita itu menangis dengan berurai air mata. Niat hati Rico ingin memarahi Jenny pun urung. Sebab Jenny sudah berlinang air mata dan mata Rico melihat kedua tangan Jenny yang gemetar. Pria itu tidak tega untuk memarahi Jenny lebih jauh lagi.
"Tolong, Rico," pinta Jenny. "Selamatkan Nirma. Selamatkan anakku. Aku juga tidak tahu kenapa bisa sampai seperti ini. Beberapa bulan ini aku menjaganya dengan sangat hati-hati. Tolong Rico," lirih Jenny semakin menjadi hingga membuat Rico juga merasa kasihan.
Rico segera berlari mengikuti tandu yang membawa Nirma. Jenny menyusul Rico dan Nirma. Dalam hati Jenny terus menyalahkan diri. Melangkah saja dia sudah tidak sanggup. Jenny sempat menahan langkah kaki ketika ponsel yang ia bawa berdering. Melihat nama Rico di sana membuatnya tidak memiliki pilihan lain selain mengabaikan panggilan telepon suaminya. Jenny tidak mau sampai Rico tahu apa yang sebenarnya terjadi. Itu semua hanya akan membuat keadaan semakin kacau.
"Maafkan aku Kak Ali," lirih Jenny. Dia menghapus air matanya sembari menyalahkan dirinya sendiri lagi.
Mengapa ia bisa lengah? Bagaimana bisa dirinya tidur dengan nyenyak sedangkan Nirma kesakitan? Jenny sangat takut. Melihat darah di kedua paha dan kaki Nirma mengucur.
"Ya Tuhan! Bagaimana dengan bayi kami? Nirma, aku mohon bertahanlah. Aku tidak akan mampu berjuang sendiri tanpamu." Jenny membatin penuh sesal.
Wanita itu hendak mengikuti Rico di saat tandu yang membawa Nirma memasuki IGD. Rico menahan Jenny agar tidak ikut masuk ke dalam. Jenny memberontak. Ia ingin melihat keadaan Nirma. Dia tidak akan bisa tenang ketika harus menunggu tanpa melihat langsung.
"Jen! Tolong!" Rico terus menahan Jenny agar bersedia memahami keadaan yang genting. "Aku tidak pernah melarangmu jika tidak berbahaya!"
"Rico, please! Aku akan diam dan tidak mengganggumu bekerja! Aku hanya ingin melihat keadaan Nirma!" bentak Jenny. "Aku ibu anak itu!" tegas Jenny lagi berharap Rico luluh.
Rico menggelengkan kepalanya. "Tolong mengerti, Jen! Kalau kau terus seperti ini, kapan aku bisa menangani Nirma? Kita bisa saja terlambat menyelamatkan nyawanya. Ingat, Jen. Ada dua nyawa yang harus diperjuangkan di dalam sana. Jangan bertingkah seperti anak kecil yang tidak tahu apa-apa!" Rico juga geram.
"Tapi aku ingin melihat keadaan Nirma, Rico! Aku takut dia kenapa-napa!" sahut Jenny.
Rico mengatur napasnya. Dia tahu, kekerasan tidak akan berhasil untuk membuat Jenny mengurungkan niatnya. "Iya, Jen. Tenang ya! Kau juga akan melihatnya nanti. Tunggu di sini. Sebentar saja. Aku tidak akan lama!" Rico terus berusaha untuk menenangkan Jenny.
"Benar? Benar kau tidak akan lama?" Jenny menyipitkan kedua matanya. "Kau tidak sedang membohongiku kan?"
"Benar. Tunggu di sini." Rico berlalu. Ia meninggalkan Jenny seorang diri di ruang tunggu. Tepatnya berada di depan ruang IGD.
Ada kursi yang memang disediakan untuk menunggu. Wanita itu duduk di sana. Jenny terus berdo'a. Ia berharap Nirma tidak kenapa-napa dan kandungannya pun baik-baik saja. Wanita itu tampak menyugar rambutnya ke belakang. Ia sangat gelisah. Berulang kali Jenny memandang pintu yang menghalanginya dengan Nirma. Namun, perkataan Rico membuatnya untuk tidak menerobos masuk.
"Ya Tuhan! Tolong selamatkan Nirma dan bayiku," lirih Jenny.
Kedua kaki Jenny terasa lemas. Wanita itu memilih untuk tetap duduk di kursi tunggu yang disediakan. Sungguh, kedua kakinya bagai tidak bertulang. Bagaimana jika terjadi sesuatu dengan Nirma? Begitulah pikiran Jenny bekerja.
"Kandungan Nirma baru memasuki usia 7 bulan. Tapi mengapa harus ada kejadian ini? Ya Tuhan. Sejak awal aku tahu resikonya tetapi tetap saja melakukan ini semua. Tolong, selamatkan Nirma dan bayinya." Jenny membatin gelisah. Ia takut apabila harus kehilangan salah satunya. Baginya keduanya sangat penting dan berharga. Keduanya merupakan bagian dari hidup Jenny yang tidak bisa dipilih salah satunya.
Bagi Jenny, Nirma merupakan sahabat terbaiknya. Nirma mungkin selalu menegur Jenny ketika Jenny melakukan kesalahan. Akan tetapi, Nirma selalu memberikan kesempatan kedua untuk Jenny memperbaiki diri.
__ADS_1
Namun, bagaimana dengan calon bayi Jenny? Jantung Jenny mendadak berdebar kencang. Rupanya Jenny tidak siap apabila harus kehilangan bayi yang dikandung oleh Nirma.
"Jangan sampai aku bermimpi buruk. Ya Tuhan, tolong selamatkan mereka berdua. Aku tidak ingin kehilangan bayiku! Kak Ali begitu menginginkannya," gumm Jenny dalam hati.
Ceklek.
Jenny tersentak. Ketika pintu ruang IGD itu terbuka. Rico terlihat berjalan keluar dari tempat itu. Jenny berdiri dengan cepat. Wanita itu langsung mendekati Memegang tangan pria itu dengan tidak sabar.
"Rico, bagaimana keadaan Nirma? Apa dia baik-baik saja?" Jenny bertanya dengan hati yang tidak karuan. "Apa aku boleh menemuinya? Dia sudah sadar belum?"
Ia tersenyum tipis mencoba untuk tegar. Meskipun kenyataannya situasi saat ini sangat tegang. Namun, Rico hanya terdiam. Laki-laki itu seolah ragu untuk mengatakannya pada Jenny.
"Rico! Kenapa kau diam saja?" Jenny membentak Rico yang tetap saja bungkam. Melihat itu, Jenny berusaha untuk menerobos masuk ke dalam ruang IGD. Akan tetapi Rico malah menahan tubuh Jenny. Membuat Jenny membalikkan badannya.
"Katakan padaku, ada apa? Rico!" Jenny lagi-lagi berteriak. Air matanya mulai mengalir deras. "Jangan buat aku mati berdiri!"
Tak lama kemudian pintu ruang IGD itu kembali terbuka. Tampak Nirma berbaring lemas di atas ranjang kesakitan. Ranjang itu didorong keluar ruang dari IGD. Kali ini Nirma sudah sadarkan diri. Namun wanita itu tidak bisa fokus dengan keadaan sekitar. Kontraksi diperutnya sungguh luar biasa sakitnya.
"Nirma!" Jenny mendekat.
Tak mampu lagi menahan tangis, Jenny pun menangis melihat Nirma dalam keadaan sekarat. Bahkan untuk bernapas saja Nirma kesusahan. Wanita itu dibantu alat pernapasan yang dipasang di hidungnya.
Nirma mengatur napasnya yang sudah tidak normal lagi. Wanita itu berusaha terlihat baik-baik saja ketika melihat Jenny menangis begitu sedih.
"Jangan berbicara, Nirma. Katakan padaku. Apa kau baik-baik saja? Kau mau dibawa kemana? Rico, kau tidak ingin mengatakan apapun? Kenapa dengan Nirma? Apa yang terjadi?" Jenny memberondong Nirma maupun Rico dengan banyak pertanyaan.
"Bawa dia ke ruang operasi. Aku yang akan bertanggung jawab atas semuanya," perintah Rico.
"A-apa?" Jenny melongo. "Apa yang mau kau lakukan?"
Ranjang pesakitan Nirma didorong kembali. Jenny tidak ingin melepaskan genggaman tangan Nirma. Saat Jenny akan mengikuti Nirma, perut Jenny tiba-tiba ada yang memeluk. Rupanya itu Rico.
"Rico, lepas! Aku mau melihat Nirma!" Jenny memberontak. "Apa yang mau kau lakukan? Mau kau apakan anakku!"
"Kandungan Nirma bermasalah, Jen!" kata Rico.
Tubuh Jenny berhenti memberontak seketika. Ia kemudian menoleh kepada Rico. Tentu saja Rico melepaskan tangannya saat ia tahu Jenny berhenti memberontak. Kini kedua orang itu saling berpandangan.
"A-apa katamu?" tanya Jenny tidak percaya.
__ADS_1
"Sejak awal. Kandungan Nirma sedikit bermasalah. Bahkan ketika dia salah makan sedikit saja dia sampai di rawat di rumah sakit. Kau ingat saat itu? Sekarang, aku harus bertanya padamu. Jenny, maafkan aku. Aku harus menyelamatkan salah satu di antara mereka. Jika kau memilih Nirma, maka relakan bayi itu. Sebaliknya, kalau kau memilih bayi itu, aku tidak yakin bisa menyelamatkan Nirma," ungkap Rico. "Putuskan semuanya sekarang juga!"
Bruk
Tubuh Jenny terduduk di lantai keramik yang dingin. Jantungnya mendadak berhenti berdetak. Napasnya pun memburu. Dunia Jenny seolah runtuh. Memilih untuk menyelamatkan Nirma atau ia akan kehilangan bayinya? Bayi yang sangat diinginkan oleh suaminya, Ali. Pun juga mimpi terbesar Jenny.
"Jen? Kau tidak apa-apa? Kita tidak memiliki banyak waktu. Kau harus memilih. Maafkan aku, aku harus pergi. Aku harus bersiap untuk operasi Nirma. Kalau kau sudah selesai berpikir, segera susul aku di ruang operasi," ucap Rico.
Saat kaki Rico hendak melangkah, sebuah tangan menahan kakinya. Tentu saja Rico menunduk. Ia melihat Jenny yang saat ini tengah menatapnya kosong.
"Bawa aku ke sana. Aku … akan memutuskannya," lirih Jenny.
Dengan sigap, Rico menggendong Jenny ala bridal style. Laki-laki itu tahu kalau ini merupakan masalah terberat bagi Jenny. Harapan yang dijunjungnya tinggi kini dipertaruhkan. Rico berusaha untuk kuat. Ia tidak tega melihat Jenny dalam keadaan rapuh.
"Tunggu." Jenny meminta berhenti tepat ketika mereka berdua telah sampai di depan pintu ruang operasi. Rico mengikuti perintah Jenny. Ia menghentikan langkah kakinya. Rico menatap bingung pada Jenny. Tampak Jenny mengusap air matanya.
"Bukankah aku harus kuat? Nirma pasti juga sedih kalau melihat aku menangis," kata Jenny. Dia mengukir senyum dibibirnya untuk memperlihatkan kepada Nirma kalau semua baik-baik saja. Tidak ada masalah di sana.
Rico menuruti kata-kata Jenny. Kemudian setelah Jenny mengatakan ayo, Rico kembali melangkahkan kakinya. Di dalam ruang operasi, mata bengkak Jenny yang sipit bisa melihat Nirma tersenyum lemah padanya. Seperti Nirma sedang menantikan kehadirannya.
"Jen," panggil Nirma dengan lemah.
Sekuat tenaga Jenny tidak ingin menangis. Wanita itu mencoba untuk tersenyum pada Nirma membalas senyumannya. Rico membawa Jenny mendekat ke tempat Nirma yang sudah ditempeli oleh banyak peralatan medis. Tepat di samping Nirma, Rico menurunkan Jenny.
"Kau harus kuat, Nirma." Jenny mencium pipi Nirma. Bahkan Jenny juga memeluk Nirma. Meski tidak erat, tapi sungguh pemandangan itu cukup mengharukan.
"Dokter Rico, semua alat-alat sudah siap," ucap salah satu dokter pembantu.
Rico menganggukkan kepalanya. Ia kemudian beralih pada Jenny. "Jen, bagaimana keputusanmu? Kita tidak memiliki banyak waktu."
"Jen, kau tahu bila kau … sahabat terbaikku? Terima kasih sudah menemaniku. Sejak kita duduk di bangku sekolahan. Kau selalu menerimaku. Di saat semua teman-teman mengucilkanku. Aku bahagia memiliki dirimu, Jen." Nirma menarik napas panjang. Ia seolah bersusah payah hanya untuk mencari udara yang mengaliri organ pernapasannya.
"Ya, aku juga bahagia memiliki sahabat sepertimu, Nirma. Maka dari itu kau harus berjuang untukku! Kau harus kuat, Nirma." Jenny tersenyum. Ia mencoba tegar walaupun dalam hatinya sangat berat untuk mengambil keputusan itu.
"Jadi, izinkan aku membalas semua kebaikanmu. Selamatkan bayi kita, Jen. Kalau aku tidak ada, ada bayi kita yang akan menemanimu. Aku akan tetap ada bersamamu. Selamatkan dia, sahabatku." Di luar dugaan, Nirma meminta agar Jenny memilih bayinya. Memilih janin yang sudah Nirma pertahankan mati-matian.
Kata-kata Nirma membuat Jenny terdiam. Waktu terus berlalu. Rico mulai melirik jam yang melingkar di tangannya. Semua orang tidak sabar untuk menunggu keputusan Jenny.
"Jen?" Rico menekankan kembali bahwa waktu mulai mendesak.
__ADS_1
Jenny menghapus air matanya. Wanita itu tersenyum dan menarik napas dalam-dalam. Kemudian ia menghembuskannya perlahan.
"Rico, berusahalah yang terbaik. Selamatkan sahabatku, Nirma!"