
Nirma merasa lapar namun dia tidak berselera untuk memasak. Wanita itu melangkah ke kulkas untuk mencari makanan di dalam sana. Wajahnya terlihat tidak bersemangat melihat buah-buahan yang ada di dalam kulkas.
"Kenapa tiba-tiba aku ingin makan di restoran?" Nirma memandang ke arah tas branded miliknya yang berada di atas meja. Dia kembali ingat dengan kartu yang tadi malam diberikan Jenny. "Aku bisa gunakan kartu itu untuk membayar makan malam ku. Aku ingin makan malam di sebuah restoran paling mahal yang ada di kota ini."
Nirma segera masuk ke dalam kamar untuk ganti pakaian. Rasanya wanita itu sudah tidak sabar untuk menikmati segala hidangan yang ada di restoran mewah. Belum pernah sebelumnya dia memakan masakan dari chef ternama.
Di sisi lain, Jenny baru saja keluar dari toilet. Wanita itu terlihat bahagia karena dia baru saja bertemu dengan istri Rico. Mereka sempat mengobrol masalah kehamilan Nirma. Jenny merasa bahagia karena istri Rico memberinya semangat tadi.
"Kau habis dari mana, Sayang? Kenapa ke toilet lama sekali?" tanya Ali.
Plak!
"Aduh! Papa, kenapa memukulku?" Ali meringis kesakitan saat sang papa memukul lengannya.
"Jangan keterlaluan, Ali. Tidak sopan bertanya seperti itu pada seorang wanita. Mungkin saja Jenny bertemu dengan teman lamanya. Sehingga yang namanya wanita pasti lebih suka menggosip dengan teman lamanya. Jangan keterlaluan bertanya seperti itu tidak sopan!" Seorang laki-laki berusia paruh baya menegur putranya.
Laki-laki yang duduk di samping Ali itu mengerucutkan bibirnya. Dia adalah Surya. Papa mertua dari Jenny atau lebih tepatnya papa kandung Ali. Dia sangat menyayangi Jenny karena tidak memiliki anak perempuan. Surya memperlakukan Jenny layaknya anak kandung.
"Surya, jangan kelewatan pada anakmu. Aku yakin kalau Ali pasti khawatir karena Jenny tidak segera kembali ke sini. Maklum saja anak perempuanku ini sedang hamil. Pasti suaminya khawatir," sahut Raydan papa Jenny.
"Maafkan aku, Raydan. Habisnya menantuku ini memang menantu kesayangan." Surya mengusap kepala Jenny dengan lembut. Seulah senyuman terbit di bibir laki-laki itu.
"Mau bagaimana lagi? Jenny memang kesayanganku. Apalagi sebentar lagi dia akan memberiku cucu!" Papa Ali itu berseru. Sepertinya ia sangat bersemangat ketika mendapatkan berita bahwa sang menantu telah hamil. Terbukti dari senyuman lebar di bibir Surya.
"Papa juga. Papa mertua kesayangan Jenny!" Jenny memeluk Surya dengan erat.
Kemudian Surya mengejek Ali dan Raydan. Tak lama kemudian terdengar gelak tawa di antara dua orang wanita berusia paruh baya keduanya duduk berdampingan. Mereka berdua saling berpandangan. Sepertinya mereka menyukai momen di mana suami mereka berdua saling mengejek satu sama lain.
"Jeng Ratna, tolong suaminya dikondisikan. Jangan sampai mengejek Raydan. Bisa-bisa Raydan akan merajuk setelah pulang dari sini." Santi terkekeh geli ketika mengatakannya. Ia tidak bisa menahan gelak tawanya. Saat ia mengejek suaminya sendiri. Mama Jenny itu melirik Raydan yang cemberut.
__ADS_1
"Mama jangan begitu! Papa Raydan juga papa kesayangan Jenny!" Jenny tidak terima dengan apa yang dikatakan oleh Santi. Tampak Jenny berdiri dan memeluk Raydan.
"Aku senang ketika Ali membawa Jenny pertama kali ke rumah. Betapa bahagianya kami ketika menemukan fakta bahwa calon istri anak laki-lakiku sangat cantik. Sekarang setelah menikah dan kalian akan memiliki bayi itu semakin membuatku bahagia! Ah Bagaimana aku mengatakannya ya! Yang jelas aku sangat bahagia!" Ratna juga mengulas senyum bahagia. Ia seperti bangga karena telah memiliki menantu seperti Jenny.
"Apakah itu artinya Mama juga memujiku karena berhasil mendapatkan istri yang cantik?" Tiba-tiba Ali menyela.
Semakin membuat heboh meja mereka. Padahal saat ini mereka sedang berada disalah satu restoran mewah yang ada di kota tersebut. Semua orang terlihat hening menikmati malam. Akan tetapi kebersamaan mereka nyatanya jauh lebih menggembirakan dari apapun.
"Kau memang pintar dalam memilih istri, Ali. Mama tidak akan protes kali ini!" Ratna menimpali dengan bahagia.
"Sayang, apa kau mendengar hal itu? Tidak ada yang protes ketika aku membawamu pulang dan mengatakan bawa aku akan menikahimu. Kenyataannya mereka benar-benar menganggapmu seperti anaknya sendiri. Bahkan sepertinya mereka jauh menyayangimu dibanding anak kandungnya sendiri. Anaknya ini selalu saja menjadi bahan lelucon. Hanya karena sebelumnya aku tidak pernah membawa pulang wanita. Sepertinya itu memang cukup mengejutkan ya?" Pernyataan dari Ali kembali mencairkan suasana.
Mereka seperti sedang bernostalgia saat Ali dan Jenny akan menikah. Jenny bersemu merah. Ia mendapatkan kebahagiaan yang teramat sangat. Ali yang melihat istrinya tersipu malu itu tidak dapat menahan rasa gemasnya. Laki-laki itu mencolek dagu istrinya. Bahkan di depan 2 pasang suami istri yang lebih senior dibandingkan dia.
"Aduh! Bisa-bisanya mereka seperti itu, Ma?" Raydan mengeluh lagi.
Ia menggelengkan kepalanya berulang kali. Meski protes, nyatanya Raydan juga tersenyum. Ia sangat puas bisa melihat anak perempuan hidup berbahagia bersama laki-laki yang mencintainya dengan tulus.
"Kak Ali sangat bahagia dengan kehamilan palsu ini. Ya Tuhan ... maafkan aku. Aku benar-benar telah melakukan kesalahan besar yang membuatku harus membayar mahal. Yaitu, merelakan suamiku berhubungan dengan wanita lain meski hanya satu kali. Semoga saja, kehamilan Nirma tidak bermasalah. Juga semoga saja aku dan Nirma bisa berbahagia dengan jalan masing-masing." Jenny membatin pilu penuh sesal.
Jenny merasa tidak nyaman. Kala semua keluarganya terus membicarakan kehamilannya. Wanita itu hanya menanggapi sesekali. Jenny bukan tidak menghargai keluarganya.
Akan tetapi, Jenny tidak nyaman karena ia terlalu banyak berbohong. Kedua mata Jenny mengedar ke setiap sudut restoran itu. Hingga tanpa sengaja matanya melihat Nirma sedang memesan makanan.
"Em, Pa, Ma. Sebentar ya. Jenny sepertinya melihat teman lama Jenny. Dia ada di restoran ini. Sebentar saja, kasihan dia makan sendiri," pamit Jenny.
"Hah? Teman menantuku ada di sini? Mana? Ajak saja, Jen! Kasihan dia makan sendiri. Biasanya mama malu kalau harus makan sendiri. Rasanya tidak nyaman," kata Ratna.
"Benar, Nak. Ajak saja. Tidak masalah. Lagipula masih ada tempat duduk di sini. Biar rame. Kasihan kalau dia sendiri," timpal Santi.
__ADS_1
"Papa juga tidak masalah. Karena dia teman menantu papa," sahut Raydan.
Jenny melebarkan senyuman. Matanya menatap Ali seolah meminta izin. Melihat sang istri sedang menatapnya dengan pandangan mata yang seperti memohon, Ali menganggukkan kepalanya.
"Terima kasih." Jenny pergi menuju ke meja Nirma. Seorang wanita yang sedang bermain dengan handphone itu.
"Nirma!" panggil Jenny.
"Si*l! Jenny dan suaminya ternyata ada di restoran ini juga? Seharusnya aku tidak datang ke tempat ini." Nirma membatin bingung saat ia melihat Jenny memanggil namanya.
"Ikut aku!"
"Jen, kenapa kau menarik tanganku?" Nirma terkejut ketika Jenny langsung menarik tangannya. Wanita itu tidak ingin berdiri dari sana.
"Nirma, jangan protes. Ayo ikut denganku!" Jenny memasang ekspresi memelas. Ekspresi itulah yang membuat Nirma selalu tidak tega mengabaikan permintaan Jenny.
"Baiklah." Nirma pasrah. Ia mengikuti kemana kaki Jenny melangkah.
Sampai akhirnya Nirma tersadar kalau Jenny mengajaknya untuk makan malam bersama keluarga besar Jenny. Bahkan di sana ada suami Jenny, Ali. Laki-laki yang pernah menghabiskan satu malam dengannya. Namun, Ali terlalu sibuk dengan keluarganya.
"Apa ini teman menantuku?" tanya Ratna.
"Benar, Ma. Nirma, perkenalkan ini Mama mertuaku. Mama Ratna." Jenny memperkenalkan semua orang yang ada di sana.
"Ayo, duduklah. Bersikaplah biasa saja. Mereka semua baik kok." Jenny memaksa Nirma untuk duduk di sana.
Mau tak mau Nirma pun duduk. Ia memperkenalkan diri. Gadis itu kini berada di tengah-tengah keluarga Jenny.
"Menantuku ini memang berhati baik. Maka dari itu, Nirma. Tuhan memberikan titipan di perutnya. Semoga kau segera menyusul Jenny ya! Menikah dengan laki-laki baik dan kemudian mengandung buah hati kalian." Ratna mengusap perut Jenny penuh kasih sayang. Bahkan Ratna mencium pipi Jenny. Menandakan bahwa sebagai mertua dia sangat menyayangi Jenny.
__ADS_1
"Jen, hal baik apa yang pernah kau lakukan? Mengapa kau mendapatkan kasih sayang yang begitu besar bahkan dari mertuamu sekalipun? Nyonya Ratna, bagaimana perasaanmu apabila kau mengetahui bahwa putramu sudah menghamiliku? Juga bagaimana reaksi kalian semua setelah mengetahui bahwa Jenny tidak bisa hamil? Ah, aku tidak boleh iri. Memang Jenny sejak dulu adaah orang baik. Dia pantas mendapatkan ini semua." Nirma membatin bimbang. Wanita itu hanya tersenyum ketika semua orang sedang berebut rasa sayang dari Jenny.