
Jenny benar-benar panik. Karena tidak mau sampai ketahuan, wanita itu tiba-tiba saja pingsan. Dokter Rico segera menahan tubuh Jenny. Dari ekspresi wajah Jenny saja ia sudah tahu kalau sahabatnya itu hanya pura-pura saja. Namun, Dokter Rico setuju dengan ide Jenny kali ini. Dengan begitu ia tidak perlu susah-susah memikirkan kalimat yang cocok untuk menjawab pertanyaan Ali.
"Jenny," ucap Ali panik. Pria itu segera merebut Jenny dan memeluknya. "Dok, apa yang terjadi?" Perhatian Ali tertuju pada perut Jenny yang sudah rata. Debaran jantung pria itu menjadi tidak karuan. "Di mana anakku? Apa yang sebenarnya terjadi, Dok?"
"Tuan, tenanglah. Sekarang sebaiknya kita bawa Nona Jenny ke dalam ruangan. Dia butuh istirahat yang cukup untuk mengembalikan staminanya. Nanti akan saya jelaskan semuanya." Rico bersikap tenang. Tentu saja dia juga tidak mau sampai membuat Ali curiga.
"Baiklah," jawab Ali setuju. Pria itu segera mengangkat tubuh istrinya dan mengikuti dokter Rico dari belakang. Sambil berjalan Dokter Rico kembali memikirkan kalimat yang cocok untuk menjelaskan semuanya kepada Ali. "Jenny, kau benar-benar menjengkelkan. Bisa-bisanya kau lepas tangan dengan cara pura-pura pingsan seperti ini," umpat Rico di dalam hati. Bahkan pria itu sendiri tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi dan apa yang dibicarakan oleh Jenny dan Nirma di ruangan bayi tadi.
Setibanya di ruangan yang sudah ditentukan oleh Rico, Ali segera meletakkan Jenny di atas kasur yang ada di ruangan itu. Dia segera memegang tangan istrinya dan mengusapnya secara perlahan. Meskipun kini dia terus saja memikirkan bayi yang dikandung oleh Jenny, namun tetap saja keselamatan Jenny juga membuatnya merasa khawatir.
"Sayang, bangun. Sebenarnya apa yang terjadi?Kenapa wajahmu pucat sekali dan apa ini?" Ali melihat pipi istrinya yang basah. Pria itu bisa menebak kalau istrinya baru saja menangis. Pikirannya semakin tidak karuan. Ali merasa sangat ketakutan sekarang.
"Tuan, sebaiknya kita bicara di luar karena Nona Jenny butuh istirahat."
__ADS_1
Ali sebenarnya berat untuk meninggalkan Jenny sendirian. Namun pria itu juga ingin mendengar penjelasan dari dokter secara langsung. Hingga akhirnya dengan berat hati Ali meninggalkan Jenny. "Aku akan kembali lagi," ucap Ali sebelum mengecup punggung tangan Jenny. Pria itu pergi mengikuti Dokter Rico dari belakang.
Setelah tiba di depan ruangan, Dokter Rico memandang Ali dengan ekspresi yang begitu serius. "Nona Jenny mengalami pendarahan hingga akhirnya kami harus melakukan tindakan operasi. Ketika Nona Jenny baru saja sadarkan diri, dia langsung kebingungan dan memutuskan untuk pergi meninggalkan rumah sakit ini. Dia seperti orang yang ketakutan hingga membuat kami semua kebingungan. Tapi Anda tidak perlu khawatir karena anak yang ada di dalam kandungan Nona Jenny berhasil kami selamatkan. Namun karena usia kandungannya masih 7 bulan bayi itu harus diletakkan di dalam inkubator. Baru saja saya ingin menghubungi anda tetapi anda sudah tiba di sini. Sepertinya ikatan batin antara anda dan anak anda sangat kuat." Dokter Rico merasa bangga kepada dirinya sendiri karena bisa merangkai kalimat semanis itu di depan Ali. Dilengkapi dengan ekspresi wajah yang meyakinkan, dokter itu yakin kalau Ali tidak akan mungkin curiga.
"Anakku sudah lahir?" tanya Ali dengan wajah tidak percaya.
"Apa Anda ingin melihatnya, Tuan? Mari saya antar," ajak dokter Rico dengan senyuman. Pria itu berharap penjelasan singkatnya ini tidak lagi membuat Ali curiga dan banyak tanya.
"Ya. Aku ingin melihat anakku sekarang juga," ucap Ali dengan penuh antusias.
"Ke mana dia akan membawa suamiku? Apa dia akan membawa Kak Ali untuk bertemu dengan bayi itu? Bagaimana kalau Nirma belum pergi?" gumam Jenny khawatir. Sebenarnya ia ingin turun untuk memeriksanya secara langsung, namun Jenny takut ketahuan lagi.
Seorang perawat masuk ke dalam ruangan tempat Jenny dirawat. Di tangan perawat Itu ada botol infus dan beberapa alat medis lainnya. Ternyata ia masuk ke dalam ruangan itu atas perintah dokter Rico. Mereka harus menyihir Jenny seolah-olah dia adalah pasien di rumah sakit itu agar Ali dan yang lainnya tidak curiga.
__ADS_1
"Apa yang ingin kau lakukan? Aku tidak sakit. Kenapa kau membawa botol infus itu kepadaku?" tanya Jenny dengan penuh rasa takut. Wanita itu tidak bisa membayangkan jika sampai jarum infus tersebut menancap di punggung tangannya.
"Nyonya, semua ini atas perintah Dokter Rico. Infus ini juga hanya sekedar vitamin saja.Sama sekali tidak memberikan efek samping yang buruk terhadap kesehatan anda."
Jenny menghela napas berat. Akhirnya wanita itu pasrah ketika suster yang datang ingin menancapkan jarum impus di punggung tangannya. "Pengorbananku benar-benar berat. Aku ingin lihat sebenarnya kebahagiaan seperti apa yang nantinya akan aku dapatkan?" gumam Jenny di dalam hati.
...***...
Nirma menghapus satu persatu air mata yang masih menetes membasahi wajah. Kini wanita itu sudah ada di dalam taksi yang akan membawanya menuju ke bandara. Uang yang diberikan Jenny akan ia jadikan modal untuk membuka suatu usaha di luar kota nanti. Nirma bertekad keras untuk menjadi orang yang sukses agar kedepannya ia tidak perlu meminta bantuan Jenny lagi.
"Kini aku bisa pergi dengan tenang karena aku sudah tidak memiliki hutang budi lagi padamu. Kedepannya jika kita bertemu lagi, aku tidak perlu merasa segan dan tidak perlu lagi harus berterima kasih kepadamu. Walaupun begitu, kau tetap sahabat terbaikku. Aku harap kau bisa menjaga satu-satunya Putri yang pernah aku lahirkan karena kedepannya Aku tidak tahu cepat atau lambat aku bertemu dengan jodohku," gumam Nirma di dalam hati.
Wanita itu tersenyum sambil menikmati pemandangan kota yang kini ia lewati bersama taksi yang ia tumpangi. Nirma tidak tahu kapan lagi ia bisa berada di kota itu. Karena kali ini Nirma benar-benar bertekad. Dia tidak akan kembali ke kota itu sebelum menjadi orang yang sukses dan terkenal.
__ADS_1
"Mungkin hari ini Nirma bukan siapa-siapa di mata mereka. Tetapi kedepannya nama Nirma tidak akan pernah hilang dari ingatan mereka semua. Aku akan menjadi wanita yang dikagumi oleh semua orang!" gumam Nirma di dalam hati. Nirma melirik ponselnya. Bibirnya tersenyum melihat foto Jenny di sana.