Rahim Sahabatku

Rahim Sahabatku
Bab. 45


__ADS_3

Nirma dan Ali menjadi sering bertemu sejak mereka terhubung di dalam bisnis yang sama. Ali sendiri masih belum sadar kalau wanita yang selama ini ia panggil Lisa itu adalah wanita yang menjadi sahabat terbaik istrinya dulu. Perubahan Nirma yang sekarang memang sungguh drastis.


Di luar negeri ia bisa bangkit menjadi wanita yang sukses. Wanita itu banyak melakukan operasi pada seluruh tubuhnya hingga kecantikannya benar-benar sempurna. Pola hidup dan pergaulan membuatnya tidak lagi seperti Nirma yang dulu. Kini wanita itu selalu mengutamakan kebahagiaan dirinya sendiri dibandingkan kebahagiaan orang lain.


Bahkan dia tidak mau menghubungi dan memberi kabar kepada Jenny karena dia tidak mau Jenny menyaingi kehebatannya dan kecantikannya. Namun sayangnya sampai detik ini Nirma tidak juga menemukan jodohnya.


Hal itu yang membuatnya memiliki pemikiran untuk menjadi orang ketiga di dalam hubungan Jenny dan Ali. Sejak pertama kali bertemu dengan Ali, Nirma sendiri memang sudah memiliki rasa. Namun wanita itu menepisnya jauh-jauh agar tidak merusak persahabatannya dengan Jenny.


Jika dulu Ia membuat masalah dengan Jenny maka ia tidak bisa hidup lagi karena segala hidupnya selalu bergantung kepada Jenny. Berbeda dengan hidupnya yang sekarang. Nirma bisa melakukan segalanya sendiri dengan uang yang ia miliki. Hal itu yang tiba-tiba saja membuat hatinya tergelitik untuk membuat Ali tergoda. Dengan begitu ia tahu siapa yang lebih baik. Dirinya atau Jenny.


"Nona Lisa, Anda benar-benar brilian. Saya sama sekali tidak kepikiran dengan ide seperti ini," puji Ali sambil membaca berkas-berkas yang kini ada di tangannya.


Sikap ramah Ali selama ini disalah artikan oleh Nirma. Wanita itu berpikir kalau Ali telah jatuh cinta padanya. Padahal yang sebenarnya terjadi tidak seperti itu. Ali bersikap ramah terhadap Nirma karena wanita itu adalah rekan bisnisnya. Dan bukan hanya Nirma saja yang mendapat perlakuan baik seperti itu dari Ali. Beberapa klien sebelumnya juga diperlakukan Ali layaknya seorang sahabat. Entah itu laki-laki atau perempuan.


"Tuan Ali, apakah nanti malam anda sibuk?" Nirma memulai aksinya untuk menggoda Ali. Wanita itu sudah tidak bisa menundanya lagi. Dia ingin Ali segera menjadi kekasihnya.


"Nanti malam?" tanya Ali sambil berpikir.


"Saya akan mengadakan pesta di salah satu cafe yang ada di kota ini. Apa anda bersedia untuk datang?" Nirma merasa sangat yakin kalau Ali tidak mungkin menolak tawarannya.


Ali tersenyum mendengarnya sambil mengangguk. Jelas saja pria itu tidak berani menolak karena wanita yang mengajaknya ini adalah rekan kerja sama yang selama beberapa bulan terakhir ini banyak memberinya keuntungan.

__ADS_1


"Baiklah. Saya akan datang."


Nirma tersenyum bahagia mendengarnya. Wanita itu memandang ke arah lain dengan tatapan penuh arti. "Aku akan membuatmu tergila-gila padaku. Setelah malam ini, Aku pastikan kau akan jatuh cinta padaku dan meninggalkan Jenny," gumam Nirma di dalam hati.


...***...


Setibanya di rumah Ali langsung berjalan menuju ke kamar. Pria itu menjinjing sebuah paper bag di tangannya. Ia tahu kalau di jam segini biasanya Putri dan istrinya sedang tidur siang. Ali sudah tidak sabar untuk mengganggu dua wanita itu dan mendengar rengekan manjanya.


Ali berdiri di depan pintu kamar Tasya sebelum membuka pintu itu secara perlahan. Sebisa mungkin ia tidak mengeluarkan suara sedikitpun agar Jenny dan Tasya tidak bangun sebelum ia membangunkannya.


Seperti apa yang dipikirkan Ali sebelumnya, di atas tempat tidur serba pink itu Tasya dan Jenny tidur sambil berpelukan. Tidur mereka terlihat sangat nyenyak sampai-sampai mereka berdua tidak sadar kalau Ali sudah ada di dalam kamar.


Pria itu duduk di tepian ranjang lalu dengan isengnya ia mengecup pipi Jenny tanpa permisi. Jenny langsung membuka matanya karena kaget. Namun wanita itu langsung tersenyum melihat suaminya di depan mata. Dengan cepat Jenny mengalungkan kedua tangannya di leher Ali lalu mengecup bibir pria itu dengan mesra.


"Kau sudah pulang?"


"Ya." Ali melirik ke arah Tasya yang masih tidur dengan lelap. "Bisakah kita keluar sebentar? Ada yang ingin aku bicarakan denganmu."


Jenny memandang ke arah Tasya lalu menyingkirkan tubuhnya secara perlahan. Wanita itu keluar meninggalkan kamar bersama dengan Ali. Sambil berjalan J Jenny mengernyitkan dahi melihat paper bag yang ada di tangan suaminya. "Apa ini?"


"Ini hadiah kecil untukmu." Ali segera memberikan paper bag itu kepada istrinya.

__ADS_1


Jenny segera membuka paper bag itu karena sudah tidak sabar. Wajahnya semakin berseri ketika melihat gaun berwarna hijau muda yang baru saja dibeli oleh suaminya. "Kita mau ke mana? Kenapa kau membelikanku gaun baru?"


"Nanti malam aku diundang untuk datang ke pesta salah satu klienku. Aku ingin membawamu ke sana."


Jenny merasa bahagia karena nanti malam Ali akan mengajaknya untuk ke pesta. "Tapi aku sudah janji dengan Tasya kalau nanti malam aku akan mengajaknya pergi ke rumah mama. Maafkan aku karena nanti malam tidak bisa pergi denganmu."


Ali terlihat kecewa mendengarnya karena pria itu tidak mau pergi ke pesta sendirian. "Kalau begitu aku akan menghubungi Nona Lisa dan mengatakan padanya kalau nanti malam aku tidak bisa datang."


"Jangan," tolak Jenny cepat. Jenny tahu kalau Lisa adalah wanita yang selama ini sudah memberikan keuntungan banyak bagi perusahaan mereka. Wanita itu tidak mau sampai menyinggung perasaan Lisa dan membuat kerja sama diantara Lisa dan suaminya menjadi renggang.


"Begini saja. Pestanya kan biasanya akan berlangsung lama. Kirimkan padaku alamatnya. Setelah mengantar Tasya ke rumah mama, aku akan segera berangkat ke lokasi pesta. Dengan begitu Tasya tidak akan marah dan kau juga tidak akan sendirian," ucap Jenny memberi solusi.


"Ide yang bagus," jawab Ali. Pria itu memeluk istrinya lalu mengecup pucuk kepalanya hingga berulang kali. "Ayo kita ke kamar. Temani aku istirahat."


Jenny mengangguk setuju. Wanita itu melebarkan kedua matanya ketika Ali tiba-tiba saja menggendongnya. "Jangan seperti ini. Malu jika dilihat Tasya," ucap Jenny dengan pipi yang sudah merah merona.


"Tasya masih tidur di kamar. Sudah lama aku tidak menggendongmu seperti ini. Ternyata kau sedikit kurusan," ucap Ali sambil melangkah menuju ke kamar pribadi mereka.


Jenny menyandarkan kepalanya di dada bidang Ali. Semakin lama menjalani pernikahan dengan Ali, Jenny merasa semakin bahagia. Bisa dibilang, mereka berdua selalu bisa menghadapi cobaan yang ingin menerjang kehidupan rumah tangga mereka.


"Aku ingin selalu seperti ini. Hidup bahagia bersama dengan suami dan putriku," batin Jenny sambil memejamkan mata.

__ADS_1


__ADS_2