
Nirma mengukir senyum manis dibibirnya ketika melihat tamu undangan yang terus saja berdatangan di lokasi pesta yang sudah ia tentukan. Semua tamu undangan yang datang berasal dari kalangan atas. Kabanyakan dari mereka adalah rekan bisnis yang pernah bekerja sama dengan Nirma. Mereka semua terlihat menikmati pesta mewah yang diselenggarakan oleh Nirma. Berulang kali mereka memuji kekayaan yang kini dimiliki oleh Nirma.
Dari tamu undangan yang hadir, hanya Ali yang sejak tadi ditunggu-tunggu kedatangannya oleh Nirma. Wanita itu merasa khawatir kalau malam ini Ali tidak jadi datang. Ia sudah berdandan secantik mungkin dan menggunakan pakaian seksi mungkin untuk menggoda Ali di lokasi pesta nanti. Wanita itu tidak mau sampai rencananya gagal. Dia tidak mau menunda lagi untuk menjalin hubungan dengan Ali.
Setelah menunggu hampir 30 menit akhirnya Ali memperlihatkan batang hidungnya.
"Tuan Ali, akhirnya anda datang juga," sambut Nirma dengan senyuman manis dibibirnya.
Ali hanya mengangguk saja. Ternyata pria itu sengaja datang sedikit terlambat agar tidak lama setelah tiba di lokasi pesta, dia bisa bertemu dengan istrinya.
Tanpa menunggu lagi Nirma segera menyambut kedatangan Ali. Dengan beraninya wanita itu merangkul lengan suami sahabatnya sendiri dan membawanya ke keramaian.
Ali saat itu sudah mulai merasa risih. Dia terus saja mencari cara agar bisa terlepas dari rangkulan Nirma. Namun memang Nirma tidak memberikan kesempatan sedikitpun untuk Ali kabur. Wanita itu justru bersikap lebih manja lagi seolah-olah mereka adalah sepasang kekasih.
"Nona Lisa, Saya mau ke toilet," ucap Ali. Hanya itu salah satu-satunya cara yang ia pikirkan agar bisa terlepas dari rangkulan wanita yang ia kenal dengan nama Lisa tersebut.
"Baiklah," ucap Nirma sambil tersenyum. Wanita itu langsung melepas lengan Ali dan membiarkan Ali pergi menuju ke toilet.
Saat Ali pergi Nirma memanggil pelayan yang sudah sejak tadi ia ajak kerja sama. Wanita itu memberikan kode agar pelayan suruhannya itu segera memberikan minuman tersebut kepada Ali.
Ali yang saat itu ingin ke toilet tiba-tiba berhenti ketika seorang pelayan pria menawarkannya minuman. Karena memang sejak tiba tadi Ali belum meneguk air sedikitpun, pria itu segera memilih salah satu minuman yang ada di nampan dan meneguknya beberapa teguk. Setelah itu Ali melanjutkan langkah kakinya menuju ke toilet.
Suara musik memecah suasana pesta hingga membuat semua tamu undangan merasa sangat senang. Mereka terus saja memuji-muji Nirma bahkan melihat kagum terhadap Nirma. Nirma semakin besar kepala malam itu. Dia merasa kalau dirinya yang paling cantik di lokasi pesta tersebut.
"Ternyata seperti ini rasanya menjadi orang kaya. Pantas saja dulu Jenny selalu saja bicara tanpa berpikir dulu. Jika ingin sesuatu ia tidak perlu melirik isi dompetnya. Tetapi sekarang aku sudah bisa merasakan semua itu. Bahkan aku jauh lebih baik daripada Jenny. Tidak lama lagi satu-satunya pria yang ia cintai juga akan jatuh ke tanganku," gumam Nirma di dalam hati. "Aku benar-benar akan merasakan kehidupan yang selama ini dirasakan oleh Jenny."
Ali keluar dari toilet. Pria itu masih belum merasakan sesuatu yang aneh di dalam tubuhnya. Minuman yang tadi ia minum telah diberi obat. Semua itu sengaja dilakukan oleh Nirma agar ia bisa menjebak Ali dan tidur dengannya untuk yang kedua kalinya.
Ketika Nirma berjalan menghampiri Ali, tiba-tiba saja Jenny muncul di lokasi pesta tersebut. Dengan menggunakan gaun hijau muda pemberian Ali, kini Jenny menjadi pusat perhatian semua orang. Wanita itu memang terlihat bersinar. Cantiknya yang alami membuat beberapa wanita yang ada di lokasi pesta berdecak kagum.
Ali tersenyum ketika melihat istrinya telah tiba di lokasi pesta. Ketika Nirma ingin mengajaknya bicara justru kini pria itu mengabaikannya begitu saja dan lebih memilih untuk menyambut istrinya.
"Sayang, akhirnya kau datang. Aku sudah sangat merindukanmu." Ali segera merangkul pinggang Jenny dan membawanya untuk bertemu dengan Nirma.
__ADS_1
"Maafkan aku. Tadinya aku pikir aku sudah terlambat. Tasya terus saja menghalangiku pergi," jawab Jenny sembari merangkul lengan suaminya dengan mesra.
Nirma membatu di kursi yang kini ia duduki. Rasanya untuk berlari sudah tidak mungkin lagi. Wanita itu terdiam dan memandang Jenny tanpa berkedip lagi.
"Sial! Ternyata Kak Ali masih sebucin dulu. Dia bahkan tidak rela meninggalkan istrinya sendirian di rumah. Sekarang aku harus bagaimana? Jenny pasti mengenaliku!" umpat Nirma di dalam hati. "Tapi tidak. Aku hanya perlu memasang ekspresi tidak kenal. Dengan begitu, Jenny tidak akan bisa mengenaliku."
"Sayang ... Perkenalkan. Ini Nona Lisa. Rekan bisnis yang selama ini aku ceritakan padamu," ucap Ali sambil memperkenalkan Nirma.
Jenny mengukir senyuman sembari mengulurkan tangannya. Sejenak wanita itu tertegun melihat wajah Nirma. "Kenapa wajahnya sangat mirip dengan Nirma. Apa ini hanya perasaanku saja. Sudah 10 tahun aku tidak bertemu dengannya. Sekarang bagaimana keadaannya di sana?" gumam Jenny sambil melamun.
Nirma segera menyambut uluran tangan Jenny lalu memperkenalkan dirinya sebagai Lisa. Setelah itu wanita itu lebih banyak memalingkan wajahnya agar Jenny tidak bisa mengenalinya.
"Silakan nikmati pestanya. Saya harus bergabung dengan tamu yang lain," ucap Nirma. Wanita itu memperlihatkan sikapnya yang sopan agar Jenny tidak curiga.
Ali membawa Jenny untuk mengambil minuman dan makanan yang sudah disiapkan. Namun obat yang diberikan oleh Nirma sudah mulai bekerja di dalam tubuhnya. Pria itu menggenggam tangan Jenny dengan keringat yang berkucur deras.
"Kak Ali kenapa?" tanya Jenny khawatir. "Apa Kak Ali tidak enak badan?"
Ali menarik Jenny lalu memeluknya. Pria itu melekatkan bibirnya di telinga sang istri. "Sayang ... Aku membutuhkanmu. Sangat-sangat membutuhkanmu. Aku sudah tidak tahan lagi," rintih Ali kesakitan hingga membuat Jenny tertegun mendengarnya. Wanita itu memegang pipi suaminya lalu mengusapnya dengan lembut. Dari sorot mata Ali saja Jenny sudah bisa tahu kalau kini suaminya sangat tersiksa.
Dari kejauhan Nirma memandang kepergian Jenny dan Ali dengan wajah menggeram. "Aku boleh gagal kali ini. Tapi lain kali aku pastikan akan berhasil untuk memiliki Ali," gumam Nirma di dalam hati.
...***...
Jenny membasahi sekujur tubuhnya di bawah pancuran shower. Wanita itu masih tidak habis pikir sebenarnya siapa yang ingin menjebak suaminya. Dari perlakuan Ali tadi malam Jenny sudah tahu kalau ada seorang wanita licik yang ingin tidur dengan suaminya. Hal ini pertama kalinya terjadi. Sekarang Jenny semakin waspada. Dia tidak mau sampai suaminya direbut oleh pelakor.
"Kali ini aku tidak bisa diam saja. Aku harus segera mencari informasi. Jika aku berhasil menemukan siapa wanita yang sudah berniat untuk menjebak suamiku, Aku pastikan dia akan mendapatkan pelajaran yang setimpal!" umpat Jenny mulai kesal.
Wanita itu mematikan kran showernya ketika sudah selesai mandi. Ia keluar dengan handuk kimono sambil mengeringkan rambutnya dengan handuk juga.
Di atas tempat tidur Ali masih tidur dengan lelap. Jenny sengaja tidak membangunkannya meskipun sudah pukul 09.00 pagi. Wanita itu ingin suaminya istirahat saja hari ini. Dia sudah mengatur semuanya agar pekerjaan Ali tidak mendapat masalah.
Jenny duduk di atas sofa dan mengambil ponselnya. Ia menghubungi nomor seseorang yang ia kenali. "Tumben sekali anda menghubungi saya sepagi ini , Nona. Apa ada yang bisa saya bantu?" sahut seorang wanita dari dalam telepon.
__ADS_1
"Ya. Aku sangat membutuhkan bantuanmu. Kebetulan tadi malam suamiku datang ke pesta yang acaranya itu ada di cafe milikmu. Namun terjadi sesuatu di sana. Seseorang ingin menjebak suamiku. Apakah kau bisa membantuku untuk menyelidikinya. Aku yakin wanita jahat ini pasti bekerja sama dengan salah satu pelayan yang bekerja di cafe. Dia tidak mungkin mengotori tangannya sendiri untuk melakukan pekerjaan hina ini."
"Sebelumnya maafkan kesalahan yang sudah diperbuat oleh karyawan saya, Nona. Tentu saja saya akan membantu anda. Setelah saya tahu siapa yang melakukan semua ini saya pasti akan segera menghubungi anda. Anda tenang saja."
"Terima kasih," ucap Jenny sambil tersenyum bahagia. Wanita itu segera mengakhiri panggilan telepon mereka ketika Ali mulai menggerakkan tubuhnya secara perlahan.
"Selamat pagi suamiku," sapa Jenny dengan senyum yang manis.
Ali membuka kedua matanya lalu membalas senyuman sang istri. Pria itu menepuk sisi ranjang yang masih kosong dan meminta Jenny untuk kembali berbaring di sana.
Jenny menggeleng kepalanya. "Tidak. Aku baru saja selesai mandi. Tolong Kak Ali jangan mengerjaiku lagi," rengek Jenny sambil memasang wajah manjanya.
"Istriku yang cantik ... kemarilah. Aku janji hanya akan memelukmu saja," bujuk Ali agar Jenny mau berbaring lagi.
"Baiklah. Tapi jangan lebih dari itu ya. Kak Ali sudah melakukannya berulang kali tadi malam. Tubuhku terasa sangat lelah pagi ini." Wanita itu segera naik ke atas tempat tidur dan berbaring. Ali segera memeluknya dari belakang lalu mengecupnya berulang kali. "Terima kasih. Kau memang istri yang sempurna."
"Lain kali lebih waspada lagi agar Kak Ali tidak mudah dijebak oleh wanita yang ingin menghancurkan rumah tangga kita. Apa jadinya tadi malam jika aku tidak datang. Wanita itu pasti sudah merencanakan semuanya." Jenny masih saja merasa kesal setiap kali dia membayangkan suaminya di jebak tadi malam.
"Ya, Sayang. Maafkan aku. Lain kali aku akan lebih waspada. Terkadang aku sendiri heran kenapa mereka menginginkanku? Bukankah aku ini sudah berumur dan tidak terlalu tampan. Ditambah lagi aku memiliki istri yang galak. Berani sekali mereka mengincar cintaku. Apa mereka tidak tahu kalau cintaku ini hanya milik Jenny seorang?"
Jenny tertawa mendengar perkataan Ali. "Hanya aku yang boleh memeluk Kak Ali. Hanya aku yang boleh menyentuh Kak Ali. Tidak boleh ada wanita lain yang boleh melakukannya," kata Jenny sambil memajukan bibirnya.
"Ya, sayang. Sampai detik ini aku masih menjaga kesetiaan cintaku. Aku berani bersumpah di hadapanmu kalau hanya kau satu-satunya wanita yang pernah aku sentuh," ucap Ali dengan penuh percaya diri.
Jenny tiba-tiba saja termenung. Wanita itu kembali mengingat kejadian ketika Nirma harus tidur bersama dengan Ali malam itu. Setiap kali ia mengingat kejadian tersebut, Jenny merasa hatinya seperti diiris-iris sebuah belati. Rasanya sungguh perih. Hingga akhirnya membuat Jenny selalu saja berusaha untuk menghilangkan ingatannya akan hal itu.
"Oh iya. Bukankah sekarang sudah siang? Kenapa kau tidak membangunkanku, sayang?" Ali segera duduk di atas tempat tidur dengan wajah panik. "Aku ada janji dengan klienku hari ini."
"Aku sudah menghubungi sekretaris Kak Ali dan mengatakan padanya untuk mengatur ulang jadwal Kak Ali. Hari ini aku ingin Kak Ali di rumah saja menemaniku. Kak Ali harus memijat tubuhku yang lelah ini."
Ali mengernyitkan dahi sebelum tersenyum. Tanpa rasa beban sedikitpun pria itu mulai memijat tubuh istrinya dengan lembut. "Maafkan aku sayang. Bahkan tadi malam aku tidak ingat sepenuhnya. Sepertinya obat itu diberikan dalam dosis yang tinggi."
Jenny hanya tersenyum saja. Namun di dalam hati wanita itu sudah mempersiapkan hukuman yang pantas untuk wanita yang sudah berniat untuk menjebak suaminya.
__ADS_1
"Sampai aku menemukannya. Aku akan mencabik-cabik wajahnya!" batin Jenny geram.