Rahim Sahabatku

Rahim Sahabatku
Bab. 29


__ADS_3

"Benar. Papa dan Mama pasti akan senang dengan kedatanganmu sayang. Ayo, kau juga harus berkemas, Sayang. Kau belum berkemas?" Ali mengamati keadaan sekitar. Rupanya memang hanya terdapat koper miliknya. Laki-laki itu menatap Jenny yang wajahnya tampak pucat. Sepertinya Jenny lagi-lagi berulah agar tidak di antar ke rumah mertuanya.


"Sayang, kau tidak apa-apa?" tanya Ali. Pria itu memeriksa dahi Jenny untuk memastikan kalau istrinya tidak demam.


Jenny tersentak kaget. Susah payah wanita itu tersenyum. Berulang kali Jenny menarik napas dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan. Wanita itu berusaha untuk menenangkan diri. Akan tetapi semua ini sangat mengejutkannya. Ia tidak siap untuk hal itu. Bahkan sampai membuatnya panas dingin.


"Aku akan berangkat besok pagi. Jadi aku bisa menemanimu malam ini. Katakan padaku. Kau ingin apa? Terus apa yang kau rasakan? Wajahmu pucat, Sayang. Kau bisa mengatakan sesuatu?" Ali panik ketika ia melihat Jenny tidak merespon semua pertanyaannya. Di tambah lagi kini Jenny tidak sendirian. Sudah ada bayi di dalam rahimnya. Pikir Ali!


"Kalau aku tinggal bersama papa dan mama, bagaimana denganku nantinya? Semua ini semakin rumit. Ya Tuhan. Bisa-bisa aku mati berdiri jika seperti ini terus." Jenny menggumam dalam hati. Ketakutannya kini semakin besar. Namun dia masih bisa menggunakan kehamilan palsunya sebagai senjata. Jenny yakin kali ini dia akan berhasil.


"Aku tiba-tiba saja merasa pusing," lirih Jenny dengan suara yang pelan.


"Ini yang membuatku khawatir. Kau tidak boleh di rumah sendiri!" Ali justru semakin bersemangat membawa istrinya pindah rumah agar selama di luar kota pria itu bisa merasa tenang.


"Tidak," celetuk Jenny sambil geleng-geleng kepala.


Padahal Jenny belum juga tenang perihal ia harus hidup bersama Ali selama masa kehamilan palsu itu. Sekarang malah ditambah dengan Jenny yang harus tinggal di rumah papa dan mama mertuanya.


"Kak, biarkan aku di rumah ini. Aku tidak akan melanggar aturan. Rumah ini bagiku sangat nyaman. Kak Ali ingat apa yang dikatakan oleh Dokter Rico? Ibu hamil harus merasa nyaman. Jangan sampai membuat ibu hamil stress karena tidak nyaman dengan lingkungannya." Jenny menghentikan kalimatnya. Ia ingin tahu bagaimana reaksi dari Ali. Laki-laki itu tampak merenung. Dengan cerdasnya Jenny mengelus perutnya yang rata.


"Sedangkan aku meski akrab dan senang bila berkumpul papa dan mama mertua, tetap saja, Kak. Aku merasa nyaman di tempat yang aku tinggali. Biarkan aku tetap di rumah, Kak Ali. Aku mohon," pinta Jenny. "Aku bisa tidur seharian di kamar ini. Aku bisa memakan makanan yang aku suka. Mertuaku tidak akan mengizinkan aku melakukan itu. Bagaimanapun juga, mertuaku sudah tua dan jalan pikirannya pasti tidak maju. Aku bukan sedang menghina mertuaku. Tetapi ... ini yang aku rasakan."


Hening menyapa. Ali tak juga memberikan jawaban pada Jenny. Sebenarnya ia juga mengingat apa yang dikatakan oleh Dokter Rico. Hanya saja, Ali merasa khawatir bila meninggalkan Jenny sendirian di rumah besar ini. Di tambah lagi kini mood Jenny terlihat buruk. Jika terus dipaksakan, Ali khawatir akan berdampak tidak baik bagi calon anak mereka.

__ADS_1


Meskipun ada tukang kebun, beberapa pelayan dan supir sekalipun. Hati Ali merasa tidak tenang. Apalagi sekarang Jenny sedang hamil. Pasti akan menjadi beban pikiran untuk dirinya.


"Sayang, kau ingat sedang hamil? Ini semua demi kebaikan calon anak kita. Kalau aku meninggalkanmu di rumah orangtuaku, setidaknya kau akan aman dan hidupmu terjamin. Karena aku yakin mama pasti lebih memahami apa yang kau rasakan. Sebab mama pernah berada di posisimu, Sayang." Ali membujuk Jenny dengan keras. "Jika kau tidak mau tinggal di rumah orang tuaku. Bagaimana kalau kau datang ke rumah orang tuamu saja? Bukankah itu jauh lebih baik?"


Jenny menghela napas berat. Jika sampai dia bertemu dengan orang tuanya sendir, maka tidak sampai 24 jam pasti kebohongannya akan ketahuan. Jenny yakin itu karena selama ini tidak ada satu hal pun yang bisa ia sembunyikan dari ibu kandungnya.


"Istriku sayang ... mau ya?" Ali belum menyerah untuk membujuk Jenny. Entah sampai kapan pria itu merayu istrinya seperti ini.


Selama ini Ali selalu memanjakan Jenny. Apapun yang Jenny inginkan, pasti Ali akan memberikannya. Bahkan apabila Jenny meminta bulan pun, kalau bisa Ali akan meraih bulan dan memberikannya pada Jenny. Akan tetapi, Ali merasa hanya kali ini saja ia tidak bisa mengabaikan keamanan Jenny.


"Kak Ali! Kak Ali tahu bagaimana aku bukan? Terkadang aku tidak bisa berdamai dengan lingkunganku. Kita sudah bersama-sama melalui banyak hal. Apa Kak Ali melupakan hal terpenting bagiku? Tolong, Kak Ali. Tolong Kakak mengerti aku!" Jenny mulai merengek. "Aku bahkan tinggal di apartemen saat masih gadis. Tidak satu rumah dengan orang tuaku. Itu kenapa? Karena aku suka dengan hidupku yang mandiri. Kak Ali ini kenapa sih!" Jenny semakin kesal sampai tidak tahu harus bicara apa lagi. Namun ekspresi wajah Ali justru membuat Jenny tidak tega untuk menentang pria itu.


"Sayang ... maafkan aku. Tapi untuk kali ini aku terpaksa memaksamu. Demi anak kita." Ali memegang perut Jenny lagi. Ternyata pria itu jauh lebih keras kepala daripada Jenny.


"Aku berjanji. Aku akan menjaga diriku dengan baik. Nirma juga pasti akan menjagaku, Kak. Dia merupakan temanku yang baik. Aku yakin dia bisa mengerti keadaanku," desak Jenny.


"Maaf, Sayang. Tidak bisa. Kau harus berkemas sekarang! Aku tidak bisa mempercayai siapapun selain orangtuaku dan mertuaku." Ali berjalan menuju ke lemari pakaian milik Jenny.


Laki-laki itu bahkan mengeluarkan sebuah koper. Lalu membuka lemari dan mulai mengemasi pakaian Jenny. Melihat perbuatan Ali, Jenny melotot. Wanita itu tidak mengira jika Ali kali ini tidak bisa diajak bernegosiasi.


"Kak! Kak Ali! Tolong, dengarkan aku! Aku tidak suka cara Kak Ali yang memaksaku!" bentak Jenny.


"Ya Tuhan! Selamatkan aku! Kumohon. Aku yakin mama mertuaku pasti bisa mengetahui kalau aku berbohong. Sebab mama mertuaku sudah pernah mengandung dan melahirkan Kak Ali. Ya Tuhan! Aku harus bagaimana?" Jenny membatin sambil menangis. Ia tidak bisa menahan air matanya untuk tidak berjatuhan.

__ADS_1


"Sayang, kenapa kau menangis?" tanya Ali.


Laki-laki itu berjalan mendekati Jenny. Akan tetapi, Jenny yang sudah kesal itu menepis tangan Ali dengan kasar. Wanita itu melanjutkan tangisannya. Sesekali ia terisak.


"Kak Ali jahat!" kata Jenny lirih.


"Sayang, maafkan aku. Bukan begitu maksudku. Aku hanya takut kau kenapa-napa. Maafkan aku, Sayang. Kemarilah." Ali terus membujuk Jenny agar tidak menangis lagi. Ia tidak tega melihat istri tercintanya menangis. Laki-laki itu membawa Jenny ke dalam pelukannya.


"Apakah berhasil? Akankah Kak Ali tidak memaksaku lagi? Benar. Kak Ali tidak akan membiarkan aku menangis atau bersedih. Syukurlah cara ini ampuh. Semoga saja Kak Ali membiarkan aku tetap tinggal di sini. Jangan sampai aku tinggal bersama orang lain. Siapapun itu kecuali Nirma. Ya Tuhan, ini menakutkan bila aku sampai ketahuan tidak hamil." Jenny membatin sambil memejamkan kedua matanya. Belakangan ini jantungnya sangat tidak aman.


"Iya, Sayang. Aku tidak akan memaksamu," kata Ali pada akhirnya.


"Yey! Aku selamat lagi!" Jenny bersorak dalam hati. Ia tersenyum tipis di dalam pelukan Ali.


"Biar orangtuaku saja yang datang ke sini. Kau akan tetap berada di rumah ini. Dan orangtuaku yang harus berkemas untuk ke sini. Supaya kau tetap nyaman tinggal di rumah ini," terang Ali.


Deg.


Sontak saja jantung Jenny seakan berhenti berdetak. Wanita itu perlahan mengalami sesak napas. Bahkan sampai Jenny terbatuk lantaran ia sulit bernapas.


"Kak Ali!"


"Sayang, kau kenapa?" Ali mulai panik lagi.

__ADS_1


__ADS_2