Rahim Sahabatku

Rahim Sahabatku
Bab. 9


__ADS_3

Jenny baru saja selesai membersihkan make up di wajahnya. Di belakang Jenny ada Ali yang sibuk dengan layar laptopnya. Meskipun malam ini adalah malam pertama mereka, tetapi Ali sudah disibukkan dengan pekerjaan yang menumpuk. Jenny sendiri memutuskan untuk tidak menganggu karena dia menghargai Ali sebagai suaminya. Dia tidak mau karena kehadirannya, Ali jadi merasa tidak nyaman.


Setelah membuang kapas ke tong sampah, Jenny beranjak dari kursi lalu berjalan ke arah kamar mandi. Ali melirik ke arah Jenny sebelum tersenyum. Pria itu segera menutup layar laptopnya. Dia akan menunggu istrinya di atas tempat tidur.


"Dia benar-benar wanita yang sempurna. Jenny tidak ada marah sedikitpun ketika aku sibuk bekerja di malam pertama kami."


Sebelum berjalan ke tempat tidur Ali mengambil sesuatu di dalam laci. Pria itu tersenyum melihat kotak perhiasan yang sudah ia siapkan jauh-jauh hari. Dia mengambil kotak perhiasan itu lalu membukanya. Ali ingin memeriksa isi di dalamnya, meskipun dia tahu apa yang ada di dalam kotak tersebut.


"Hadiah ini sangat pantas untuk wanita seperti Jenny." Ali segera menutup kotak perhiasan itu lalu membawanya ke tempat tidur. Dia meletakkannya di dekat bantal yang akan ditiduri Jenny sebelum memandang ke arah pintu kamar mandi.


"Jenny pasti senang," ucapnya lagi dengan penuh percaya diri.


Di dalam kamar mandi, Jenny sudah selesai mandi karena memang dia tidak memutuskan untuk berendam. Namun ia belum juga keluar dari kamar mandi. Wanita itu masih berdiri di depan cermin sambil memandang wajahnya sendiri. Tiba-tiba saja ucapan semua tamu undangan membuat beban di dalam pikirannya. Hampir 85% tamu undangan mengucapkan doa agar mereka berdua segera diberikan anak.


"Kenapa setiap kali ada tamu undangan yang mendoakan kami agar segera memiliki anak ekspresi ke Ali terlihat anak sangat senang? Apa sekarang dia sudah menyukai anak-anak? Jika memang itu benar, aku harus bagaimana? Aku sudah tidak bisa hamil lagi. Aku tidak memiliki rahim lagi," gumam Jenny di dalam hati.


"Apa aku ceritakan saja yang sebenarnya terjadi? Tapi bagaimana jika Kak Ali tidak siap untuk menerimanya? Ditambah lagi pernikahan kami masih seumur jagung. Dia bisa saja berpisah denganku dan mencari wanita lain yang lebih sempurna. Tapi bagaimana denganku? Aku tidak siap untuk berpisah dari Kak Ali."

__ADS_1


Detik ini Jenny telah menyesali semua perbuatannya. Andai saja waktu itu ia lebih mendengarkan nasehat dari Rico mungkin malam seperti ini tidak akan pernah terjadi. Tapi walaupun begitu hingga sekarang Jenny juga belum siap untuk memiliki anak. Bahkan ia tidak pernah suka dengan anak kecil. Rasa bencinya terhadap anak kecil terutama bayi masih saja melekat di dalam dirinya. Meskipun ia masih memiliki rahim dan bisa hamil, tetapi dia tidak akan siap untuk menjadi seorang ibu.


Karena terlalu lama berada di dalam kamar mandi akhirnya Ali memutuskan untuk menjemput Jenny. Pria itu mengetuk-ngetuk pintu kamar mandi hingga membuat Jenny kaget.


"Sebentar Kak!" teriak Jenny dari dalam kamar mandi. Wanita itu kembali merapikan penampilannya. Rambutnya yang setengah kering membuatnya terlihat sangat cantik. Malam itu Jenny memakai gaun tidur tipis berbahan Lace warna hitam. Wanita itu memang terlihat sangat seksi. Bisa dipastikan kalau Ali pasti akan tergoda ketika melihat penampilannya.


Jenny membuka pintu kamar mandi secara perlahan. Dia mengukir senyum manis ketika memandang suaminya.


Ali tertegun melihat penampilan istrinya yang begitu seksi. Selama ini Jenny tidak pernah memakai pakaian terbuka ketika bertemu dengannya. Ali merasa sangat kagum melihat kulit putih dan bersih milik Jenny.


"Kau terlihat sangat cantik," puji Ali.


"Apa selama ini aku tidak cantik?" Wajah Jenny merona malu. Wanita itu malu ketika mendengar pujian dari suaminya.


Ali tidak mau menjawab lagi. Hasratnya telah bangkit. Rasanya ia sudah tidak sabar untuk menyentuh dan memiliki istrinya. Ali melangkah maju lalu menarik pinggang Jenny secara lembut. Tanpa permisi pria itu mendaratkan bibirnya di bibir Jenny.


Jenny memejamkan mata ketika bibir Ali mendarat dibibirnya. Meskipun ada rasa takut, tetapi wanita itu berusaha untuk melakukan yang terbaik di malam pertamanya dengan Ali.

__ADS_1


Ali menggendong tubuh Jenny dan membawanya ke tempat tidur. Pria itu tidak ingat lagi dengan hadiah yang sudah ia siapkan untuk Jenny. Ali bahkan tidak mau melepas kecupannya. Ia terus saja mencium bibir atas dan bibir bawah Jenny secara bergantian.


Jenny meletakkan tangannya di atas seprei. Tanpa sengaja tangan wanita itu menyentuh kotak perhiasan yang tadi diletakkan Ali. Jenny memandang ke atas lalu ia mengeryitkan dahi ketika melihat hadiah tersebut.


"Apa ini kak?"


Ali menahan gerakannya. Pria itu juga ikut memandang ke arah kotak sebelum menjauh dari tubuh Jenny.


"Aku hampir saja lupa." Ali mengambil kotak perhiasan itu lalu memberikannya kepada Jenny. Jenny yang sudah penasaran segera duduk di atas tempat tidur. Wanita itu menerima hadiah dari suaminya dengan senyum mengembang di bibir.


"Aku buka ya." Jenny segera membuka kotak perhiasan tersebut. Kedua matanya melebar melihat perhiasan yang tersusun rapi di dalamnya. Ada kalung, gelang dan anting-anting. Modelnya sangat cocok ketika digunakan segala acara.


"Ini untukku?" tanya Jenny tidak percaya. Dia tahu kalau harga perhiasan itu pasti sangat mahal.


"Ya." Ali merebut kotak perhiasan itu dari tangan Jenny lalu meletakkannya di atas nakas. "Bisakah kita lanjutkan yang tadi? Aku sudah tidak tahan."


Jenny memalingkan wajahnya yang lagi-lagi memerah seperti tomat. Ali segera mengganti lampu kamar dengan lampu tidur sebelum kembali mencumbu istrinya sendiri.

__ADS_1


__ADS_2