
"Kak Ali, selamat pagi." Jenny memeluk suaminya yang baru saja terbangun. Sikap Jenny tentu mengundang Ali untuk membalas pelukan sang istri. Tangan kekar Ali melingkar di perut Jenny. Keduanya menikmati momen itu selama beberapa waktu.
"Selamat pagi juga, Honey. Aish, aku akan merindukan harummu," kata Ali.
"Sesuai pesan Kak Ali kemarin. Aku membangunkan Kakak jam 4 pagi. Tapi, aku belum membuat sarapan. Karena ini masih pagi," sahut Jenny.
"Hmm. Seandainya aku tidak memiliki pekerjaan di luar kota, mungkin nanti malam kita bisa pergi bersama. Sepertinya sudah lama kita tidak bersenang-senang di luar rumah." Ali mencium pipi Jenny.
Membuat pipi Jenny bersemu jingga. Wanita itu tersenyum lembut. Sungguh suasana pagi yang menyenangkan. Jenny merubah posisinya. Ia kini menghadap Ali. Posisi keduanya saling berhadapan. Tampak Jenny memainkan jari telunjuknya di dagu Ali.
"Hanya satu hari saja. Kak Ali juga masih lebih banyak di sini. Lagipula Kak Ali harus profesional. Tidak boleh bersikap sembarangan atau rejekinya bisa digeser orang lain. Bukankah itu untuk masa depan kita?" Jenny mendaratkan kecupan singkat di kening Ali.
"Benar. Untuk masa depan anak-anak kita ke depannya," ucap Ali.
Deg.
Tubuh Jenny membeku. Senyumannya menjadi senyuman kaku. Jantungnya bagai ditikam belati oleh Ali. Laki-laki itu ternyata mengharapkan anak jauh dari bayangan Jenny sebelumnya.
"Iya, benar. Maka dari itu, Kak Ali tidak boleh mengeluh. Selama Kak Ali pergi, hari ini aku juga akan sibuk dengan Nirma. Tentunya menghabiskan uang Kak Ali. Kak Ali tidak boleh marah karena itu sudah kewajiban kakak." Jenny memeluk tubuh Ali. Ia mencoba untuk meredam segala perasaan yang bergejolak di hatinya.
"Maafkan aku, Kak Ali. Namun, aku akan mencoba yang terbaik agar impian Kak Ali untuk memiliki anak menjadi kenyataan," batin Jenny dalam hati.
"Baiklah. Aku harus mandi dulu." Ali akhirnya turun dari ranjang. Laki-laki itu berjalan menuju ke kamar mandi. Jenny mengawasi punggung Ali yang perlahan menghilang dari balik pintu.
Sesaat Jenny termenung di sana. Wanita itu memiliki banyak rahasia yang tidak diketahui oleh suaminya. Termasuk rahasia tentang wanita tanpa rahim.
...***...
Selepas kepergian Ali Jenny segera melajukan mobilnya menuju ke apartemen Nirma. Mereka berdua sudah menunggu datangnya hari ini sejak dua minggu yang lalu. Selama satu bulan lebih, Jenny belum menghubungi Nirma. Karena Jenny menginap di rumah mertuanya.
"Aku bahkan sama sekali tidak meneleponnya," gumam Jenny. "Apa dia marah padaku? semoga saja tidak. Aku juga tidak bisa menghubungi Rico karena dia baru saja menikah dan masih dalam suasana bulan madu."
Jenny mengendarai mobilnya selama 45 menit perjalanan dari rumahnya menuju ke apartemen miliknya yang ditempati Nirma. Jenny tidak sabar untuk menemui Nirma dan menanyakan apa yang terjadi selama ia tidak menjenguk Nirma.
"Nir, ini aku Jenny." Jenny mencoba untuk mencari Nirma. Bahkan Jenny menelpon Nirma.
Selang 20 menit kemudian, nyatanya Nirma tidak menjawab panggilan teleponnya. Jenny mendadak gelisah. Ia takut terjadi sesuatu pada Nirma.
"Nirma kemana ya?" tanya Jenny.
__ADS_1
Masih dengan keadaan yang sama. Jenny terus menghubungi Nirma. Seolah wanita itu tidak mengenal rasa lelah lantaran Nirma belum menjawabnya.
"Apa terjadi sesuatu padanya?" Jenny mulai panik.
Pikiran buruk mulai berkelebatan di kepalanya. Sampai akhirnya teleponnya diangkat oleh seseorang. Kedua mata Jenny melebar seketika. Hatinya bimbang bukan main.
"Nirma! Kamu di mana?" Jenny berteriak dengan panik. Wanita itu tidak dapat menyembunyikan kekhawatirannya pada Nirma.
"Nirma, kau tidak apa-apa? Tolong buka pintunya!" Jenny memohon agar Nirma membukakan pintu apartemennya.
Akan tetapi Jenny dibuat kewalahan. Nirma tiba-tiba mematikan sambil teleponnya. Membuat Jenny mengumpat penuh amarah. Namun selang beberapa waktu pintu apartemen Nirma terbuka.
Tak lama kemudian tampak Nirma muncul dari balik pintu dengan wajah yang pucat. Tentu saja Jenny menjadi panik seketika. Terlebih Jenny takut jika terjadi sesuatu dengan perut Nirma.
"Apa kau baik-baik saja? Kenapa wajahmu pucat? Ya Tuhan! Kita harus segera ke rumah sakit!" Jenny langsung masuk ke dalam apartemen Nirmala.
Sedangkan Nirma sendiri memilih duduk di sebuah sofa. Tubuhnya terasa lemas. Ia tak mampu untuk mengimbangi Jenny yang sudah hilir mudik di apartemennya.
"Kenapa kau tidak memberiku kabar? Seharusnya kau menelponku supaya aku tahu keadaanmu!" Jenny membentak Nirma.
Wanita itu mengambil jaket milik Nirma. Kemudian Jenny memakaikan jaket di tubuh Nirma. Sedangkan Nirma hanya diam dan patuh pada Jenny.
"Aku takut mengganggu waktumu bersama dengan keluarga suamimu, Jenny. Sebenarnya dua hari lalu aku ingin memberikan kabar. Namun aku berpikir bahwa tidak seharusnya mengganggumu," terang Nirma.
"Apa yang kau katakan? Kau sahabatku! kita sudah sepakat untuk hal itu. Seharusnya kau menghubungiku. Kalau begini, kau sudah mengecewakan aku Nirma," ungkap Jenny.
"Maafkan aku, Jen. Aku tahu aku telah salah. Tubuhku lemas karena selama seminggu ini aku hanya minum susu. Rasanya sangat malas makan nasi. Terus aku ingin makan kebab." Nirma merengek pada Jenny. Membuat dahi Jenny mengernyit.
Wanita itu merasa aneh sebab tidak biasanya Nirma menjadi sedikit manja. Namun, walau begitu Jenny tidak ambil pusing. Ia memapah tubuh Nirma dan membawanya keluar dari apartemen. Mereka berdua harus segera ke tempat Dokter Rico.
"Kita akan beli kebab setelah pulang dari rumah sakit milik Rico." Jenny mencoba menenangkan pikiran Nirma yang berantakan.
Saat Nirma sudah masuk ke dalam mobil, wanita itu tidak lagi bersuara. Tampak Nirma memposisikan kepalanya bersandar pada sandaran kursi penumpang. Jenny menghela napas lega. Setidaknya Nirma tidak akan merengek lagi.
Dengan tenang Jenny melajukan mobilnya membelah jalanan yang berdebu. Sesekali matanya melirik Nirma yang terlelap di belakang. Jenny mengawasi dengan seksama keadaan Nirma yang wajahnya pucat pasi.
"Bagaimana bisa dia mengandung anakku dengan tubuhnya yang kurus itu? Sepertinya aku harus lebih memperhatikan Nirma ke depannya. Setidaknya tubuhnya sehat supaya dia bisa mengandung anakku dengan baik." Jenny bermonolog seorang diri.
Kemudian Jenny fokus pada jalanan beraspal. Tanpa sadar mobil Jenny memasuki area parkir rumah sakit di mana Rico bekerja. Jenny pun keluar dari mobil dan memanggil beberapa perawat agar membawakan tandu untuk Nirma.
__ADS_1
"Tolong, panggilkan Dokter Rico. Ini pasiennya." Jenny memberikan penjelasan kepada perawat bahwa Nirma merupakan pasien Rico. Satu perawat pun pergi mencari Dokter Rico.
Lewat 10 menit, Dokter Rico memasuki ruang UGD di mana Nirma dirawat. Laki-laki itu langsung memerintahkan agar Nirma dibawa ke ruangannya. Pasalnya Nirma bukanlah pasien yang sembarangan.
"Rico, dia pingsan!" seru Jenny.
"Jen, tenanglah. Dia tidak apa-apa. Aku yang menanganinya. Jangan panik, oke?" Rico menenangkan Jenny.
Akan tetapi ia tetap melanjutkan pemeriksaannya terhadap Nirma. Seulas senyuman terbit di bibir Rico. Membuat Jenny menatapnya bingung.
"Selamat, Jen. Pengorbananmu berhasil. Nirma hamil. Usia kandungannya 4 minggu."
...***...
Di bandara, Ali duduk sambil memandang sebuah keluarga kecil yang ada dihadapannya. Mereka adalah sepasang suami istri dengan anak laki-laki berusia sekitar 1 tahun. Anak laki-laki itu baru saja belajar berjalan hingga membuatnya terlihat sangat menggemaskan.
Pikiran Ali melayang. Dia justru membayangkan kalau Keluarga kecil itu adalah dia dan Jenny. Lalu anak kecil itu putra mereka. Mereka sedang merencanakan liburan keluar negeri.
"Aku harap secepatnya aku dan Jenny memiliki anak. Aku sangat menginginkan anak. Hanya saja ... aku tidak mau membuat Jenny kecewa. Dia istri yang baik. Aku tidak mau dia sampai tersinggung dan menderita. Selama ini aku tahu dia sudah cukup stres dengan segala aturan yang harus ia lewati demi mendapatkan anak," batin Ali. Lagi-lagi pria itu mencari kesibukan lain sembari menunggu jadwal keberangkatan.
Tiba-tiba anak kecil tadi berjalan menghampiri Ali. Meskipun mereka tidak saling kenal, tetapi anak kecil itu sudah terlihat akrab terhadap Ali.
"Hei, Boy. Apa kau mau permen?" Ali mengeluarkan permen lalu memberikannya kepada anak laki-laki tersebut. Seorang wanita berusia sekitar 35 tahun menghampiri Ali lalu menggendong anak laki-laki tersebut.
"Anda sendirian, Tuan?"
Ali mengangguk. "Ya." Dia memandang anak kecil itu lagi. Jika dilihat dari usia ibunya, Ali menebak kalau anak kecil itu pasti anak ketiga atau ke dua ibu tersebut.
"Dia anak yang menggemaskan dan pintar," puji Ali.
"Kami harus menunggu penantian 10 tahun baru berhasil mendapatkannya. Dia anak yang spesial," jawab wanita itu dengan senyum bahagia di bibirnya.
"10 tahun?" Ali sempat tercengang. Dia tidak menyangka kalau penantian untuk bisa mendapatkan anak bisa selama itu. 10 tahun bukan waktu yang sebentar.
"Ya. Bagaimana dengan anda? Apa anda sudah menikah dan memiliki anak? Kelihatannya anda sangat menyayangi anak kecil."
"Saya dan istri saya masih berusaha untuk mendapatkannya. Pernikahan kami sudah satu tahun."
Wanita itu tersenyum. "Semoga istri anda segera hamil. Jika nanti dia hamil, turuti saja apa kemauannya. Bisa jadi itu permintaan anak di dalam perutnya." Wanita itu memandang suaminya. "Saya permisi, Tuan." Ali hanya menjawab dengan anggukan saja. Pria itu kembali ingat dengan istrinya.
__ADS_1
"Jangankan hamil. Bahkan ketika dia tidak hamil saja aku sudah menuruti semua permintaannya. Apapun itu!" gumam Ali di dalam hati.