Rahim Sahabatku

Rahim Sahabatku
Bab. 19


__ADS_3

Ceklek.


Jenny membuka pintu kamarnya. Tampak Nirma sudah mengenakan pakaiannya. Wanita itu sebelumnya sudah menghubungi Jenny dan mengatakan agar temannya itu masuk ke dalam kamar.


"Jangan khawatirkan aku. Urus suamimu. Aku akan pergi dengan memesan taxi. Sampai jumpa. Kita bertemu siang hari di apartemen." Nirma berbisik di telinga Jenny.


Tentu Jenny mengulas senyuman tipis dan membiarkan Nirma berlalu dari kamarnya. Matanya melihat dengan jelas bagaimana Ali meninggalkan jejak di leher Nirma. Sakit. Hati Jenny kembali didera perih.


Bukankah itu menandakan betapa ganasnya permainan suaminya bersama sahabatnya? Jenny memejamkan kedua mata. Ia berusaha menetralkan berbagai perasaan yang berkecamuk di dalam dada.


Jenny memandangi suaminya yang berbaring tidak berdaya di atas ranjang. Hatinya pilu meratapi tubuh sang suami tercinta telah terbagi. Akan tetapi, penyesalan memang tiada berguna.


Tangan Jenny gemetar saat ia hendak menyentuh tubuh suaminya. Namun, itu tidak lama. Nyatanya Jenny tidak kuasa membayangkan percintaan suaminya bersama Nirma. Hingga akhirnya wanita itu memutuskan untuk tidak menyentuh suaminya dulu.


"Ya Tuhan, ini menyakitkan. Tubuh suamiku telah terbagi dengan sahabatku. Kak Ali, maafkan aku. Aku begitu bodoh." Jenny membatin sendu. Namun untuk mundur juga tidak mungkin karena semua sudah terjadi!


Wanita itu seketika berdiri. Pun juga tangannya menghapus air matanya. Buru-buru Jenny memungut pakaian suaminya dan segera membawanya ke ruang cuci. Sesampainya di sana Jenny bergegas mencucinya meskipun jam masih menunjukkan pukul tiga pagi. Kegiatan itu setidaknya bisa membuatnya sedikit tenang. Dia harus membersihkan semuanya. Termasuk bekas percintaan mereka.


Meskipun bersama sahabatnya sendiri, tetap saja hati kecil Jenny merasakan pergolakan yang luar biasa. Seolah alam bawah sadarnya menolak pakaian suaminya bersentuhan dengan tubuh wanita lain.


"Supaya hatiku tenang, aku harus menjauh dari Kak Ali. Hanya untuk hari ini saja. Aku tidak ingin mencium aroma percintaan Nirma dan Kak Ali. Ya Tuhan, bolehkah aku cemburu? Aku tetaplah wanita biasa. Yang memiliki rasa sakit hati ketika melihat suamiku bercinta dengan wanita lain. Ini sungguh menyakitkan." Jenny berbicara dalam hati.


Selesai mencuci baju, Jenny menjemurnya dan kemudian ia bergegas mengerjakan pekerjaan rumah. Setidaknya ia ingin menyibukkan diri agar Ali tidak mendekati dirinya. Tidak peduli sekarang masih jam berapa dan dia belum ada tidur semalaman.


...***...


Matahari kembali tinggi. Jenny tersadar ketika tangan kekar suaminya menyentuh wajahnya dengan lembut. Wanita itu cepat-cepat duduk. Dia melirik sarapan yang sudah tertata rapi di meja lalu tersenyum.


Jenny sebenarnya hanya tertidur selama beberapa detik saja setelah menyajikan makanan lezat itu di sana.

__ADS_1


"Kak Ali. Kak Ali sudah bangun?"


Kini mereka harus sarapan bersama, barulah Jenny bisa tersenyum. Bau harum maskulin suaminya begitu memabukkan dan menguar di hidungnya. Aroma percintaan itu jelas saja hilang setelah Ali membersihkan diri.


"Sebenarnya aku sedikit kecewa karena aku tidak melihatmu saat aku membuka mata. Tapi karena kau menjadi istri yang baik aku tidak akan protes," kata Ali. "Apa kau kelelahan sampai ketiduran di meja makan?"


"Aish, sekian lama hidup bersama suamiku ternyata baru kali ini suamiku menyadari bahwa istrinya sudah menjadi istri terbaik. Bukankah seharusnya sebagai istri yang baik aku harus mendapatkan hadiah?" goda Jenny. "Aku tidak tidur. Aku hanya malu membayangkan kelakuan Kak Ali tadi malam." Lagi-lagi senyum palsu ia ukir dengan begitu indah.


Ali terkekeh mendengar penuturan dari Jenny. "Ngomong-ngomong soal hadiah, sepertinya aku harus memberikanmu hadiah. Semalam kau benar-benar memabukkan, Sayang. Terima kasih." Ali mendekati telinga Jenny. "Aku sangat puas!"


Deg.


Senyum di bibir Jenny mendadak suram. Ia tidak menyangka bahwa Ali akan membahas masalah ranjang semalam saat mereka sarapan pagi. Apa dia kalah dengan Nirma? Apa servis Nirma lebih memuaskan Ali?


Cepat-cepat Jenny menyingkirkan pikiran jahat itu. Meskipun hati Jenny sakit, sekuat tenaga Jenny mengukir senyuman secerah sinar mentari.


"Kupikir semalam aku sedikit keras. Sebaiknya kamu beristirahat di rumah, Sayang," tolak Ali. "Bibirmu juga terlihat pucat. Aku tidak mau istrimu yang baik ini sakit."


"Kak, aku sudah memiliki janji. Tidak baik ingkar janji. Pasti Nirma akan sedih karena sahabatnya yang menggemaskan ini tidak menepati janji." Jenny memasang wajah memelasnya. Dia harus membawa Nirma bertemu Rico.


Ekspresi Jenny membuat Ali menjadi iba. Laki-laki penuh kasih sayang itu rupanya tidak bisa menolak keinginan istrinya.


"Baiklah. Tapi kalau ada apa-apa kau harus memberikan kabar ya!" titah Ali.


"Tentu!"


Jenny bersemangat ketika Ali sudah memberikan izin. Seusai sarapan, Ali pun berpamitan untuk berangkat bekerja. Seperti biasa Jenny akan mengantarnya sampai ke teras.


"Jika kau lelah, jangan lupa untuk membeli vitamin. Sepertinya vitaminmu sudah hampir habis. Jangan lupa mampir ke apotek, Sayang. Aku pergi dulu." Ali menepuk lengan sang istri setelah Jenny mencium tangannya.

__ADS_1


Jenny menunggu mobil Ali sampai menghilang. Wanita itu bergegas masuk ke dalam rumah agar dapat bersiap. Ia akan pergi ke apartemen untuk menemui Nirma. Namun, sebelum ia berangkat, Jenny mengganti sprei kasur miliknya. Kemudian mengemas sprei dan bedcovernya ke dalam plastik hitam yang besar.


"Aku akan membawanya ke tukang londri. Besok sesudah kering aku akan membuangnya," gumam Jenny. Tentu saja dia tidak mau memakai seprei bekas percintaan tadi malam


...***...


Jenny mengendarai mobilnya menuju ke tempat Nirma. Wanita itu ingin menjemput Nirma untuk ke tempat Rico bersama-sama. Sebelum berangkat juga Jenny sudah menghubungi Rico.


Setibanya di parkiran apartemen, Jenny tidak langsung turun seperti biasanya. Wanita itu masih menyiapkan diri untuk mengobrol dengan Nirma nanti. "Aku tahu, meskipun sekarang hatiku sakit. Tetapi Nirma lebih menderita karena dia baru saja kehilangan keperawanannya. Aku harus tegar. Aku tidak boleh terlihat sedih."


Jenny turun dari mobil lalu berjalan masuk ke dalam gedung apartemen.


"Nirma, kau tidak apa-apa?" Tiba-tiba saja Jenny datang dan masuk ke dalam kamar apartemen Nirma. Nirma yang masih berdiri diri di ambang pintu hanya diam saja. Wanita itu memandang punggung Jenny untuk beberapa saat.


"Kenapa nggak ketuk pintu dulu? Aku tidak apa-apa. Jangan khawatir. Kau datang begitu cepat. Aku baru selesai mandi. Setelah ini kita menemui Dokter Rico bukan?" Nirma bertanya sambil mengeringkan rambutnya.


"Iya. Nir, aku minta maaf ya. Gara-gara aku, kau jadi kehilangan mahkota yang sudah kau jaga selama ini."


Deg.


Jenny tiba-tiba membahas tentang kejadian semalam. Nirma menggigit bibir bawahnya. Wanita itu tidak menyangka Jenny akan meminta maaf perihal kesuciannya yang memang sudah hilang sejak lama.


"Sudahlah. Jangan dibahas." Nirma menolak untuk membahas hal itu. Wanita itu merasa tidak nyaman. Tangan Nirma bergerak mengeringkan rambutnya lagi.


"Benar, hal tersulit sudah kita lalui. Semoga saja ke depannya kita bisa melewatinya dengan baik," kata Jenny lagi.


"Jenny, seandainya kau tahu bahwa sesungguhnya aku sudah tidak perawan. Tapi biarlah. Aku tidak peduli." Nirma membatin. Wanita itu mencoba untuk menepis pikiran-pikiran yang berkelebatan di kepalanya.


Berbeda dengan Nirma.Justru Jenny takut apabila Nirma tidak segera hamil. Bukankah itu artinya suaminya akan kembali berhubungan dengan sahabatnya lagi?

__ADS_1


__ADS_2