
"Bagaimana? Apa kau sudah merasa jauh lebih baik?" Ali kembali menutup minyak oles yang ia gunakan untuk memijat kaki Jenny. Pria itu merasa bahagia bisa memijat istrinya seperti sekarang. "Jika masih terasa pegal, katakan saja. Biar aku pijatin lagi. Tapi jangan bagian pinggang karena wanita hamil tidak boleh pinggangnya dipijat."
Jenny menggeleng pelan. "Sudah jauh lebih baik. Terima kasih, suamiku." Jenny memandang ke arah jendela lalu melamun. "Kak Ali tahu banyak informasi tentang wanita hamil. Dia bener-bener bahagia ketika mengetahui aku hamil hingga mencari informasi sedetail itu," batin Jenny.
"Kau terlihat kurusan. Bukankah seharusnya wanita hamil itu berat badannya bertambah?" Ali memegang lengan istrinya dan membandingkannya dengan lengan miliknya. "Harus ada lemak di sini. Kenapa yang aku pegang hanya tulang saja!"
"Benarkah?" Jenny memegang pipinya dengan kedua tangan. "Justru sekarang aku merasa sedikit gemuk. Aku harus perawatan lagi setelah anak ini lahir." Lagi-lagi jeni berusaha untuk mengalihkan pembicaraan.
Ali memandang wajah Jenny dengan begitu serius hingga membuat Jenny salah tingkah. "Kenapa Kak Ali memandangku seperti itu? Apa aku terlihat aneh sejak hamil?"
"Kau terlihat semakin cantik. Wajahmu semakin berseri," puji Ali. "Aku ke dapur dulu untuk membersihkan tangan."
Ali segera beranjak dan berjalan menuju ke arah dapur. Sedangkan Jenny tetap berada di sofa itu. Dia mengambil remote lalu menyetel siaran televisi favoritnya sambil menunggu Ali datang kembali.
Di dapur tanpa sengaja Aku bertemu dengan Nirma. Wanita itu terlihat kesulitan ketika ingin mengambil mie instan yang ada di laci atas. Ali yang kebetulan juga ada di dapur, segera membantu Nirma untuk mengambilkannya.
"Lain kali minta bantuan orang lain untuk melakukannya jika kau tidak bisa menggapainya ucap Ali sembari memberikan mie instan yang baru saja ia ambil.
"Terima kasih," ucap Nirma sembari menerima mie instan tersebut.
Tanpa banyak bicara lagi, Ali segera mencuci tangannya lalu membuat susu ibu hamil yang memang sudah tertata rapi di dapur sana. Nirma melirik ke arah Ali sekilas sebelum mulai memasak mie instan tersebut. Tadinya Nirma ingin minta bantuan Jenny untuk melakukannya. Tetapi kini Ali selalu saja ada di sisi Jenny hingga membuat Nirma tidak leluasa meminta tolong pada Jenny. Sedangkan para pekerja di rumah itu juga sudah pada istirahat.
"Auh," rintih Nirma sembari melangkah mundur. Ternyata tanpa sengaja wanita itu menyentuh bagian panci yang ia gunakan untuk memasak mie instan. Ali juga masih ada di dapur itu segera mendekati Nirma.
"Ada apa?" tanya Ali. Pria itu segera mematikan kompor ketika melihat mie instan buatan Nirma sudah matang.
"Tidak apa-apa. Tadi tanpa sengaja tanganku menyentuh panci itu," Nirma menunjuk ke arah panci yang menjadi wadahnya memasak. "Di mana Jenny? Kenapa Anda meninggalkannya sendirian?"
__ADS_1
"Oh ya kalau aku boleh tahu di mana suamimu bekerja? Siapa tahu kami saling kenal dan bergerak di bisnis yang sama."
Sudah sejak kemarin Ali ingin menanyakan masalah ini tetapi dia belum memiliki kesempatan. Sejak Jenny dan Nirma bersahabat, Ali selalu ingin tahu kehidupan orang-orang yang ada di dekat istrinya. Dia juga tidak mau sampai istrinya salah pergaulan.
"Suamiku?" Nirma terlihat kebingungan untuk menjawab pertanyaan Ali. wanita itu mengalihkan pandangannya sembari berpikir.
"Ya. Suami anda, Nona."
"Sebenarnya suamiku ini hanya orang biasa. tidak mungkin dia kenal dengan Anda, Tuan. Saya merasa malu untuk menceritakan pekerjaan suami saya. Saya merasa tidak nyaman untuk menceritakannya kepada anda." Nirma menahan kalimatnya sejenak. "Maafkan saya Tuan Jika Anda kecewa mendengar jawaban saya."
"Oh tidak, sebenarnya saya yang ingin minta maaf karena terlalu ikut campur dengan masalah pribadi anda. Bukankah pekerjaan suami Anda adalah privasi keluarga anda. Tidak seharusnya saya bertanya seperti itu. Maafkan saya."
Ali mengambil susu yang sudah ia buat. Susu itu sudah hangat dan siap untuk diminum oleh Jenny. Tanpa banyak mengeluarkan kata lagi pria itu segera meninggalkan dapur menuju ke tempat istrinya berada.
Setelah Ali pergi, Nirma kembali bernapas lega. "Hampir saja. Jika Tuan Ali terus-terusan berada di villa ini. Bukan hanya Jenny saja yang terkena serangan jantung, tetapi aku juga. Karena kapan saja pria itu bisa menanyakan hal-hal yang di luar dugaanku," batin Nirma. Wanita itu kembali mengurus mie instan yang ia masak karena perutnya sudah sangat lapar.
"ini minum alim memberikan segelas susu yang sudah ia buat kepada Jenny. "segera habiskan selagi hangat ucap Ali lagi.
"baik bos jawab Jenny sambil tersenyum manis wanita itu menerima susu yang diberikan oleh Ali lalu menunggunya secara perlahan. sejak Ali ada di villa Jenny harus meminum susu hamil milik Nirma. ini semua ia lakukan untuk melengkapi kebohongannya.
"Tadinya aku berpikir kalau Kak Ali tersesat di villa ini karena Kak Ali terlalu lama berada di dapur." Jenny meletakkan gelas yang sudah kosong di atas meja wanita itu menjadikan lengan suaminya sebagai bantal lalu bersandar dengan begitu manja. dia peluk tubuh suaminya lalu menghirup aroma tubuh pria itu sambil memejamkan mata. "Terima kasih karena sudah mau menikahiku. Terima kasih karena sudah mau menjadi pria yang menerimaku apa adanya."
Ali tersenyum mendengar pujian yang keluar dari bibir istrinya. Pria itu mengusap rambut Jenny dengan mesra sambil menonton televisi yang ada di depannya.
"Jika seperti ini, rasanya aku tidak mau pergi bekerja lagi. Aku ingin kau selalu ada disisiku."
Jenny mengernyitkan dahinya mendengar perkataan Ali. Wanita itu segera melepas pelukannya. "Jangan seperti itu. Bukankah pekerjaan juga sangat penting? Kak Ali tidak ingat bagaimana susahnya ketika kita merintis waktu menikah dulu? Jangan sampai usaha yang pernah kita lakukan berakhir dengan sia-sia."
__ADS_1
"Jika aku hitung-hitung kembali, uang yang kita miliki sudah cukup memenuhi kebutuhan kita meskipun aku tidak bekerja selama 1 tahun. Uang bisa dicari, tetapi kebersamaan tidak. Aku ingin setiap harinya berada di sisimu dan merawatmu seperti ini. Melihat pertumbuhan janin kita dari bulan ke bulan." Wajah Ali semakin serius hingga membuat Jenny semakin panik.
"Ya, aku tahu kalau uang tabungan kita sudah cukup banyak. Bahkan dana darurat yang kita persiapkan sudah cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup kita selama 3 tahun meskipun kita tidak bekerja. Sebenarnya ada satu hal yang ingin aku katakan kepada Kak Ali. Tetapi aku takut ke Ali tersinggung." Jenny menunduk dan memasang wajah bersalah.
"Ada apa, Sayang? Cepat katakan padaku. Jangan membuatku tidak tenang seperti ini."
"Aku tahu setelah mendengar ini Kak Ali akan berpikiran buruk kepadaku." Jenny mengangkat wajahnya lalu memandang Ali. Tidak lupa wanita itu memegang kedua tangan suaminya. "Saat masih gadis dulu aku sempat membaca sebuah artikel kalau seorang istri membenci suaminya ketika dia sedang hamil. Padahal si istri ini sangat cinta kepada suaminya. Aku sempat tidak mempercayainya bahkan berpikir kalau si istri ini mengada-ngada saja. Sebenarnya apa yang sudah membuat ibu hamil bisa membenci seseorang hingga seperti itu? Tetapi sekarang justru aku mengalaminya. Selama hamil Aku membenci Kak Ali. Bahkan tidak mau sering-sering dekat dengan Kak Ali. Tetapi selama ini aku berusaha untuk menyembunyikannya agar Kak Ali tidak tersinggung. Maafkan Aku." Jenny memasang wajah memelas agar Ali tidak memarahinya. Apalagi sampai menyalahkannya.
Ali diam sejenak dengan ekspresi yang tidak terbaca. Hal itu membuat debaran jantung Jenny semakin tidak karuan. Dia takut jika sampai Ali curiga dan membuat kebohongan yang sudah ia susun rapi terbongkar.
Namun beberapa detik setelahnya Ali justru terkekeh geli seolah-olah ada yang lucu di sana. Pria itu menarik Jenny lalu mengusap punggungnya dengan lembut. "Sudah kuduga kalau ada yang salah dari kehamilanmu ini!"
Deg.
Jenny mematung seperti batu. Wanita itu bahkan tidak memiliki kekuatan lagi untuk menjauhkan tubuhnya dari pelukan Ali.
"Sejak Kau hamil kau memang bukan lagi Jenny yang aku kenal. Kau terlihat jauh berbeda dan seolah-olah seperti menghindar dariku. Ternyata inilah jawabannya. Apa kau tahu sayang, bahkan kemarin aku sempat berpikir kalau kau sudah tidak cinta lagi padaku hingga tidak mau berduaan denganku. Tetapi sekarang aku sudah merasa lega setelah mendengar alasannya langsung dari bibirmu. Aku tidak akan marah. Aku akan berusaha untuk memakluminya demi anak kita. Jika sudah seperti ini, aku akan merasa tenang ketika meninggalkanmu. Jika kau memang merasa tidak nyaman ketika aku ada di sisimu, Aku akan pergi. Besok aku akan meninggalkan villa ini dan kembali melanjutkan pekerjaanku. Kita bisa video call setiap harinya untuk melepas rindu."
Wajah Jenny terlihat berseri mendengar perkataan Ali. Ia tidak menyangka kalau kalimat yang baru saja ia katakan bisa melindunginya. "Kak Ali seriusan nggak' marah?" tanya Jenny untuk kembali memastikan.
"Untuk apa aku marah? Jika aku marah kepadamu, itu sama saja aku marah kepada anak yang ada di dalam kandunganmu. Mama pernah bilang kalau setiap wanita hamil memiliki keunikannya masing-masing. Bahkan Mama sempat cerita kalau ada wanita hamil yang sama sekali tidak bisa menghirup aroma tubuh suaminya. Sejak mendengar perkataan Mama, Aku berusaha menguatkan diri untuk menerima kemungkinan yang terjadi ketika kau hamil."
Jenny langsung memeluk Ali dengan begitu erat. "Terima kasih Kak Ali. Selama berpisah ini aku pasti akan sangat merindukan Kak Ali. Aku harap Kak Ali bisa menjaga diri dan menjaga hati agar tidak tergoda oleh wanita lain."
"Aku akan selalu menjadi suami yang setia. Aku tidak akan pernah mengkhianati pernikahan kita."
Jenny memejamkan mata sambil tersenyum bahagia. "Jika boleh jujur aku tidak mau jauh-jauh darimu. Bahkan setiap detiknya Aku ingin berada di pelukanmu seperti ini. Tetapi mau bagaimana lagi? Kehamilan bohongan ini tidak boleh sampai terungkap. Aku harus rela tersiksa karena merindu daripada harus melihatmu kecewa karena tidak memiliki keturunan," gumam Jenny di dalam hati.
__ADS_1