
"Ini seperti mimpi." Ali terus memandangi hasil USG tersebut.
Senyum terus menghiasi bibirnya. Bahkan saat ini malam telah beranjak larut. Nyatanya Ali masih saja menggumam dan menikmati momen indah tersebut. Dari kejauhan, Jenny mengawasi Ali yang masih setia melihat hasil USG tersebut.
"Kalau seandainya waktu terus berlalu. Aku tidak mungkin seperti ini. Masalahnya kapan saja kebohongan ini bisa kapan saja terbongkar. Lalu, aku harus bagaimana?" Jenny membatin penuh rasa takut. Kebahagiaan Ali justru membuat rasa gelisah yang begitu besar di hati Jenny.
"Sayang, kenapa kau terus berdiri di sana?" Ali menegur Jenny yang berdiri di ambang pintu. "Tidak baik bagi ibu hamil berada terlalu lama. Cepat sini. Kita pandangi foto anak kita bersama-sama."
Ali menarik tangan Jenny agar tidak berdiri di ambang pintu. Akhirnya mau tak mau Jenny mengukir senyuman tipis. Kini keduanya sudah duduk di tepian ranjang. Mereka sama-sama melihat foto hasil USG yang di dalamnya terlihat foto janin yang berbentuk seperti kacang.
"Kak Ali sejak tadi terus melihat hasil USG itu. Aku senang bisa melihat senyuman di wajah Kak Ali. Apa Kak Ali sebahagia itu?" Jenny bertanya dengan hati-hati. "Apa hanya anak ini yang bisa buat Kak Ali sebahagia itu?"
"Tentu! Ini seperti keajaiban. Kau tahu, Sayang. Di luar sana ada banyak pejuang garis 2. Bahkan ada yang 10 tahun pernikahan baru memiliki momongan. Sedangkan kita begitu mudahnya mendapatkan itu semua. Hanya selang satu tahun pernikahan kita sudah mendapatkannya." Ali berbicara sambil mengusap perut Jenny. Senyumannya semakin lebar.
Jenny semakin miris pada dirinya sendiri yang tidak memiliki rahim. Sungguh berulang kali ia merasa mendapatkan serangan bertubi-tubi. Terlebih, ekspresi Ali yang sangat jelas bahwa ia bahagia dengan hasil USG kandungan Nirma. Satu hal yang tidak akan pernah Jenny rasakan prosesnya.
"Tapi, Kak. Ini sudah malam. Ayo, kita tidur." Jenny memilih untuk mengakhiri momen tersebut. Wanita itu bergerak naik ke ranjang empuknya. Membuat Ali mengikuti gerakannya. Pria itu bahkan sempat-sempatnya mengecup foto hasil USG sebelum meletakkannya di atas nakas.
"Sayang." Ali merapatkan tubuhnya di samping Jenny yang merebah.
Laki-laki itu tiba-tiba menaruh tangannya di perut Jenny. Tentu saja Jenny terperanjat kaget. Wanita itu membeku sejenak. Tidak bergerak bahkan satu centi sekalipun.
"Aku tidak sabar ingin merasakan dia bergerak di dalam sini," kata Ali. Meskipun sudah berbaring sempat-sempatnya pria itu duduk lagi lalu mencium perut Jenny dengan penuh cinta. "Aku akan mengajaknya mengobrol tiap malam agar ia mengenal ayahnya sebelum lahir," timpal Ali lagi.
Deg.
__ADS_1
Jantung Jenny bagai dihantam batu besar. Lagi-lagi untuk ke sekian kalinya ia merasakan dosa lantaran berbohong pada Ali. Sebuah kebohongan yang pada akhirnya melahirkan kebohongan lainnya. Jenny mulai lelah.
"Aku harus bersabar menunggu sampai berusia minimal 4 bulan kan? Untung aku banyak bertanya pada Dokter Rico. Dia sepertinya orang baik. Hmm. Aku mendapatkan banyak ilmu darinya. Kau tidak salah memilihnya menjadi dokter pribadimu. Sayang, tidak adakah yang kau inginkan belakangan ini?" Ali beralih menatap Jenny. Wanita itu mengurai senyuman tipis di bibirnya.
Meskipun Ali tahu kehamilan Jenny masih sangat baru, tetapi selama ini Ali sudah banyak membaca artikel. Dari artikel yang ia baca, biasanya wanita hamil banyak sekali keinginannya. Dimulai dari mood-nya yang suka naik turun. Tetapi tidak dengan Jenny yang tidak memperlihatkan tanda-tanda apapun. Ali justru ingin sekali direpotkan oleh istrinya yang sedang hamil ini. Dia sama sekali tidak keberatan karena pria itu sangat mencintai istrinya.
"Nirma biasanya menginginkan makanan. Kalau begitu, aku pura-pura minta sesuatu saja. Sepertinya aku harus banyak bertanya apa yang diinginkan oleh Nirma. Supaya aku bisa benar-benar terlihat seperti orang yang hamil," gumam Jenny dalam hati. "Tapi selama hamil Nirma sering menangis dan terlihat sedikit manja. Apa aku harus seperti itu juga?"
"Sayang, kenapa kau jadi melamun? atau jangan-jangan selama ini kau menginginkan sesuatu tetapi kau menyembunyikannya dariku?" tebak Ali asal saja.
"Sebenarnya aku ingin sesuatu. Tapi, ini sudah malam, Kak. Kakak juga besok bekerja bukan?" Jenny berusaha memberi alasan. Agar Ali dapat memakluminya.
"Katakan padaku, Sayang. Kita harus mencarinya. Daripada anak kita sedih! Ya ampun apa ini definisi istri yang terlalu baik? Astaga! Bisa-bisanya? Padahal aku sangat menantikannya, Sayang." Ali tampak bersemangat. Laki-laki itu memposisikan dirinya dalam keadaan duduk sambil menggenggam tangan Jenny. Padahal dia baru saja berbaring.
"Cepat katakan, Sayang. Aku akan berangkat sekarang juga." Ali dengan cepat turun dari ranjang. Ia segera berjalan menuju ke lemari pakaiannya. Seulas senyuman terbit di bibir Jenny.
"Dia sangat bersemangat sekali," kata Jenny dalam hati.
"Katakan saja, Sayang. Kau tidak usah ikut. Biar aku saja yang pergi membelinya." Ali sudah bersiap. Ia hanya berdiam menunggu Jenny mengatakan keinginannya.
"Tapi, aku ingin ikut!" Jenny hendak turun dari ranjangnya.
"Jangan! Biar aku saja. Kau diam saja di rumah. Katakan padaku, apa yang kau inginkan. Aku akan berangkat sekarang." Ali terus memaksa Jenny.
Akhirnya Jenny memilih untuk tetap di rumah. Ia hanya menyebutkan makanan yang sering Nirma pesan online. Sehingga tak lama kemudian, Ali pun berangkat untuk membeli kebab. Meski malam-malam Ali tetap pergi untuk membeli kebab, laki-laki itu dengan senang hati melakukannya. Bahkan tidak lupa mencium perut Jenny lalu berpamitan kepada calon anaknya yang ia pikir sudah ada di dalam rahim istrinya.
__ADS_1
Jenny beranjak dari tempat tidur lalu berjalan ke balkon. Dari sana dia bisa melihat suaminya melajukan mobil dengan kecepatan tinggi.
"Dia sangat bersemangat sekali. Aku semakin berdosa dibuatnya," gumam Jenny di dalam hati.
Tidak butuh waktu lama bagi Ali untuk tiba di tempat jual kebab. Karena terlalu antusias, Ali tidak mau hanya memesan satu saja.
"Pak, tolong ya beli kebab 5! Berikan yang paling enak di sini," pesan Ali.
Nirma yang baru saja turun dari taksi segera berjalan mendekati pedagang kebab yang juga di datangi oleh Ali. Wanita itu mengelus-elus pinggangnya yang mulai terasa pegal sebelum memesan.
"Pak, saya pesan kebab 2 ya." Nirma memandang ke samping. Wanita itu syok bukan main melihat Ali berdiri di sampingnya. Dia memperhatikan keadaan sekitar untuk mencari keberadaan Jenny. Namun wanita itu tidak terlihat batang hidungnya.
"Eh? Tuan Ali?" ucap Nirma penuh basa-basi. Seulas senyum
Mendengar namanya disebut Ali menoleh. "Anda siapa?"
"Saya Nirma. Sahabat Jenny! Anda mengingat saya." Nirma mengingatkan Ali namanya. Wanita itu terlihat sangat antusias dan bahagia.
"Saya sama sekali tidak mengingat nama Anda, Nona. Maaf sekali. Tapi, di mana kita pernah bertemu?" tanya Ali dengan bingung.
Deg.
Nirma mengepalkan kedua tangannya. Ia tidak menyangka Ali bahkan tidak mengingatnya sama sekali. Padahal baru kemarin mereka bertemu dan makan malam di restoran bersama.
"Si*l! Dia bahkan tidak mengingat namaku?" Nirma membatin marah.
__ADS_1