
"Nirma! Syukurlah kau sudah sadar!" Jenny bersorak girang saat Nirma sudah sadar. "Jangan bangun dulu. Aku akan memanggil Rico datang ke sini."
"Aku di mana, Jen?" tanya Nirma.
"Sekarang kau sedang berada di rumah sakit. Saat datang ke sini kau sudah pingsan. Aku cukup khawatir padamu. Tapi sekarang semuanya baik-baik saja. Kau tidak perlu khawatir." Jenny menatap Nirma dengan riang.
Membuat Nirma menautkan dua alisnya. Ketika Nirma ingin berbicara, tiba-tiba saja Rico sudah datang. Dari raut wajah Rico, ia juga senang lantaran Jenny akhirnya tersenyum lebar. Sejak suaminya mengatakan menginginkan anak, Jenny memang lebih banyak murung. Sebagai sahabat, Rico ikut bersedih akan hal itu.
"Selamat siang, Nirma. Kau sudah merasa lebih baik? Kau menghabiskan 1 botol infus. Apa selama beberapa waktu belakangan ini kau sama sekali tidak bisa makan nasi?" Rico mulai memberikan banyak pertanyaan untuk Nirma.
"Aku tidak bisa makan nasi. Sebenarnya aku jarang sekali makan buah. Tapi belakangan ini aku menyukainya. Itu seperti bukan diriku." Nirma mendadak murung.
"Selamat, Nirma. Kau hamil. Dan ini buku kehamilanmu. Setiap bulan datanglah ke sini untuk menemuiku. Kita harus melihat bagaimana perkembangannya," terang Rico.
Nirma menerima buku kehamilannya. Ekspresi Nirma masih kebingungan. Berbeda dengan Jenny yang terus tersenyum. Setelah membaca buku kehamilan itu, Nirma mengerti.
"Jadi, aku hamil? Sepertinya Jenny akan menjadi ibu!" Mimik wajah Nirma berubah. Wanita itu bersorak kegirangan. Jenny langsung memeluk Nirma.
"Benar, Nirma! Aku akan menjadi ibu!" Jenny benar-benar bahagia. Ia tidak sabar untuk memberitahu Ali.
"Oh benar." Jenny melepaskan pelukannya. "Aku butuh tespack untuk memberikan kejutan Kak Ali."
"Tapi aku tidak menggunakan tespack, Jen," ucap Nirma.
"Setelah pulang dari sini kalian bisa membelinya di apotik. Bisa cek sendiri. Baca aturan pakainya. Jika kau sudah merasa lebih baik, kau boleh pulang, Nirma." Rico menerangkan pada Nirma.
"Katakan padaku, kau ingin makan apa, Nir. Juga kita harus berbelanja kebutuhan ibu hamil. Aku nanti akan membeli susu untuk ibu hamil." Jenny bersemangat. Membuat Nirma tersenyum tipis.
Dokter Rico pada akhirnya bisa bernapas lega melihat Jenny kembali ceria seperti semula. Setidaknya pengorbanan wanita itu tidak sia-sia.
"Meskipun Nirma sudah hamil, tetapi aku belum bisa percaya dengan wanita itu 100%. Aku akan katakan dia baik ketika dia sudah menyerahkan anak itu kepada Jenny," gumam Rico di dalam hati.
***
"Apa ini tidak berlebihan, Jen?" tanya Nirma.
Jenny mengeluarkan barang belanjaannya. Ia tadi pergi ke supermarket sendiri. Sedangkan Nirma menunggu di apartemennya. Ia tidak menyangka kalau Jenny banyak membelikannya buah dan susu. Ditambah vitamin juga.
"Kau sudah menggunakan test packnya?" Jenny berbalas bertanya pada Nirma.
__ADS_1
Tampak Nirma menunjuk sesuatu di nakas. Jenny segera mengambilnya. Sebuah test pack berada di dalam plastik putih transparant. Seulas senyuman tersemat di bibir Jenny. Positif. Ini memang hal gila. Padahal dulu dia sangat membenci hal-hal yang berhubungan dengan bayi!
"Aku tidak sabar untuk memperlihatkannya pada Kak Ali," kata Jenny dalam hati.
"Jen? Kok senyum-senyum sendiri?" Nirma menggoyangkan tubuh Jenny.
Tentu saja Jenny segera sadar dari lamunannya. Wanita itu meraih tasnya. Kemudian memasukkan test pack itu ke dalam tas.
"Aku tidak sabar melihat reaksi Kak Ali, Nir." Jenny kemudian mengambil handphone-nya.
"Kau mau menghubungi suamimu?" tanya Nirma.
Pertanyaan Nirma tidak segera dijawab oleh Jenny. Sampai akhirnya handphone Nirma berbunyi. Nirma bergegas mengambilnya. Tampak kedua mata Nirma melebar setelah ia membaca satu pesan yang masuk.
"Jenny!" Nirma memekik nyaring. Membuat Jenny menutup kedua telinga dengan tangan.
"Bisakah kau jangan berteriak seperti itu? Kau membuat sakit telingaku. Jangan sampai telinga anakku juga sakit, Nir," kata Jenny.
"Apa-apaan kau?" Nirma melemparkan sebuah bantal pada Jenny. "Ah aku kesal padamu! Kau memberiku uang Rp. 25 juta, Jen! Apa kau berpikir aku wanita malam yang kau bayar untuk tidur bersama suamimu?"
Jenny berjingkat kaget. Ia tidak menyangka Nirma akan berpikir seperti itu. Bahkan kedua mata Nirma terlihat berkaca-kaca.
"Nir, bukan seperti itu. Anggap saja itu untuk menjamin hidupmu selama kau tidak bekerja. Kau sedang hamil. Jelas tidak mungkin kau bekerja. Kenapa kau berpikir aneh begitu?" Jenny berbicara dengan lembut.
"Mungkin Nirma juga mengalaminya. Aku tidak boleh terpancing dan ikut marah padanya." Jenny membatin.
"Sudah jangan berpikir macam-macam. Aku hanya tidak ingin kau dan anakku tidak terjamin. Sebab kau tidak bisa bekerja. Memangnya siapa yang ingin mempekerjakan orang hamil sepertimu?" Jenny berbicara dengan lembut. Akhirnya Nirma kembali tersenyum. Wanita itu tidak lagi bersedih. Sehingga membuat Jenny bernapas lega.
"Kalau begitu, kau tidak melupakan kebab pesananku bukan? Kau sudah berjanji untuk membelikannya." Nirma mengingatkan pesanannya.
Bahkan wanita itu mencari kebab yang ia inginkan di setiap kantong belanjaan Jenny. Senyuman lebarnya berubah lagi. Kini Nirma berwajah suram saat hampir semua kantong belanjaan Jenny sudah ia cek.
"Anu, Nir. Maaf, sepertinya aku lupa. Aku pesankan kebab sekarang ya," kata Jenny sambil melebarkan senyuman.
Nirma tidak menjawab. Ia menatap Jenny dengan tajam. Tatapannya lain dari biasanya. Membuat Jenny tersenyum canggung.
Jenny cepat-cepat mengambil ponselnya. Dia tidak mau wanita hamil di depannya sampai bad mood. Setelah selesai memesannya, Jenny kembali mengajak Nirma mengobrol. Dia harus mengulur waktu agar Nirma lupa dengan kebab.
"Apa yang kau rasakan, Nir? Ceritakan padaku. Apa dia sudah bergerak-gerak? Apa dia bermain di dalam sana?" Jenny sangat antusias hingga membuat Nirma menjadi merasa kasihan.
__ADS_1
"Dia masih sangat kecil. Belum berbentuk. Kenapa kau membayangkannya seolah-olah kehamilanku ini sudah 7 bulan." Nirma menyelipkan rambut Jenny di balik telinga.
Ekspresi wajah Jenny terlihat berubah. "Ini aneh. Aku dulu tidak pernah mau tahu soal anak kecil. Sekarang aku sangat antusias." Nada suaranya pun mulai serak.
"Hei, apa yang kau pikirkan? Penyesalan? Sudahlah. Yang lalu biarlah berlalu. Sekarang kita pandang masa depan dengan senyuman. Aku akan memberikanmu anak yang selama ini kau inginkan. Sini peluk." Nirma membuka kedua tangannya hingga membuat Jenny segera memeluk wanita itu dengan bahagia.
"Aku menyayangimu, Jen."
"Aku juga."
Untuk beberapa saat dia sahabat itu saling berpelukan. Hingga tiba-tiba saja mereka mendengar suara bel di pintu dan membuat Jenny kegirangan.
"Itu pasti kebab pesananku!" ujarnya penuh semangat.
Nirma duduk di sofa sembari menggeleng kepalanya. "Dia semakin aktif saja," gumamnya di dalam hati.
Jenny muncul dengan beberapa kantung kebab di tangannya. "Lihat! Aku membelikanmu kebab yang paling enak! Kita sering memesannya. Lihat! Aku pesan 3 kebab untukmu. Hanya untukmu," teriak Jenny.
Mata Nirma melebar. Pun juga senyuman wanita hamil itu kembali cerah. "Benarkah? Kau tidak boleh memintanya. Kau sudah membuatku menunggu lama, Jen."
"Iya, tenang saja. Eh? Ya ampun! Suamiku sudah mengirim pesan." Jenny membaca pesan dari Ali.
"Ya, ya. Bacalah. Aku tidak peduli dengan pesan suamimu. Aku hanya peduli pada pesanan kebabmu," ketus Nirma.
"Em, Nir. Aku pulang dulu ya. Kalau ada apa-apa kabari aku secepatnya. Aku bakalan datang. Suamiku sudah di rumah dan aku belum memasak sama sekali. Aku sudah pesan kebab untukmu. Jika kau masih ingin makan sesuatu, pesanlah makanan supaya kau tidak perlu repot-repot memasak. Sampai jumpa, Nir!" Jenny tergesa-gesa. Ia meninggalkan Nirma seorang diri di kamarnya.
Tak lama kemudian, Nirma turun dari ranjang. Ia berjalan ke arah balkon apartemennya. Wanita itu mengamati jalanan di luar apartemen. Pandangan Nirma beralih pada handphone yang ia genggam. Lantas ia kembali mengamati notifikasi dari m-banking miliknya.
"Sesuatu yang kau miliki tapi tidak aku miliki." Tangan Nirma berpindah mengusap perutnya. "Kali ini aku memiliki sesuatu yang sangat kau inginkan. Apakah dengan uang pemberianmu ini aku bisa menganggap bahwa kau sedang mengemis padaku? Tidak buruk juga mengandung anakmu."
Di sisi lain, Jenny baru saja memarkir mobilnya ke garasi. Wanita itu mendongak untuk melihat rumahnya. Senyumannya terbit saat ia mendapati Ali sedang berada di atas balkon.
"Padahal sudah pulang dari bekerja. Tapi, dia masih harus membawa banyak pekerjaan," gumam Jenny.
Wanita itu terus berjalan masuk ke dalam rumah. Ia tidak sabar untuk memberi tahu kejutan yang ada di dalam tasnya. Begitu ia berada di balkon. Jenny segera berlari dan memeluk tubuh suaminya dari belakang.
"Ah, Sayang! Kau mengagetkan aku!" Ali menarik tubuh Jenny. Kini keduanya saling berpandangan. "Ada apa ini? Kenapa kau tersenyum, hmm?"
Jenny tidak menjawab. Ia dengan cepat membuka tasnya dan mengeluarkan tespack milik Nirma. Dahi Ali mengerut. Namun, Ali dengan cepat paham tanda garis dua itu.
__ADS_1
"Kau hamil, Sayang?"
"Ya, Kak Ali! Aku hamil! Empat minggu!"