Rahim Sahabatku

Rahim Sahabatku
Bab. 28


__ADS_3

"Saat kita makan bersama di salah satu restoran waktu itu, Tuan?" jawab Nirma. "Ada Jenny dan orang tua Jenny juga."


Di sini Nirma merasa tidak dihargai oleh suami Jenny. Padahal jelas-jelas mereka sempat berbicara dan berkenalan saat itu. Akan tetapi nyatanya Ali sama sekali tidak mengenali Nirma.


"Padahal tanpa sepengetahuanmu kita pernah tidur bersama! Bisa-bisanya Jenny memiliki suami yang setia sepertimu." Nirma membatin kesal dalam hati. Wanita itu langsung memilih untuk memesan kebab kesukaannya.


"Kau membeli kebab juga?" tanya Ali.


Pertanyaan dari Ali seketika membuat Nirma terdiam. Wanita yang masih tidak percaya lantaran Ali mengajaknya berbicara itu pun mengedarkan pandangan ke sekitar. Namun kenyataannya tidak ada siapapun di sana selain mereka berdua.


"Anda berbicara padaku, Tuan?" tanya Nirma.


"Ya. Aku mengajakmu berbicara. Apakah Kau juga membeli kebab?" Ali mengulang pertanyaannya.


"Ya. Saya menyukai kebab belakangan ini. Biasanya saya memang selalu membeli kebab di sini. Apa yang Anda lakukan di sini? Apakah Jenny ada di sini?" Kedua mata Nirma bergerak liar mencari sosok Jenny. Namun Jenny memang tidak ada di sana.


"Jenny menginginkan kebab. Tapi dia tidak ada di sini. Aku melarangnya untuk ikut keluar. Hari sudah malam dan udara semakin dingin. Tidak baik untuk ibu hamil terkena angin malam seperti ini. Kau juga harus pulang ke rumah setelah mendapatkan kebab yang kau inginkan. Takutnya besok kau bisa saja sakit." Ali kali ini berbicara panjang lebar.


Membuat Nirma termenung sesaat. Wanita itu tidak percaya karena Ali memberikan perhatian kepadanya. "Apa seperti ini rasanya memiliki pacar?" batinnya dengan sedih.


"Siapa namamu tadi?" Rupanya Ali secara mengejutkan kembali bertanya tentang nama Nirma.


Lagi-lagi membuat Nirma kesal setengah mati lantaran mereka berdua sudah berbicara panjang lebar. Namun pada akhirnya Ali tetap saja tidak bisa mengingat namanya.


"Namaku Nirma, Tuan," jawab Nirma.


"Oh begitu. Aku akan berusaha untuk mengingatnya. Memang biasanya aku tidak pernah mengingat nama orang yang bagiku tidak terlalu penting. Oh berapa, Pak?" Ali mengalihkan perhatian saat penjual kebab itu memanggilnya bahwa pesanannya sudah selesai. Ali mengeluarkan sejumlah uang yang nominalnya jauh lebih besar dari harga lima kebab tersebut.


"Ini kembaliannya, Tuan."


"Tidak perlu, Pak. Itu untuk Bapak saja. Anggap saja saya sedang berbagi kebahagiaan karena istri saya sedang hamil. Mohon do'anya agar istri saya selalu sehat sampai dia melahirkan. Ngomong-ngomong setelah ini pulanglah. Hari sudah malam dan udara semakin dingin. Iya terima kasih." Ali juga meminta kepada penjual kebab itu agar segera pulang ke rumah karena udara semakin dingin.

__ADS_1


Kata-kata Ali ternyata bukan hanya ditujukan kepada Nirma. Setelah mendapatkan pesanannya, Ali segera pergi dari sana dan bahkan dia tidak berpamitan pada Nirmala.


Laki-laki itu pergi begitu saja lalu masuk ke dalam mobilnya. Tak lama kemudian mobil Ali pun pergi meninggalkan tempat itu. Menyisakan rasa kesal dan amarah di hati Nirma lantaran Ali Tidak pernah menghargainya.


"Bagaimana bisa dia melakukan itu padaku? Bisa-bisanya dia memberi perhatian seperti itu kemudian dia juga mengatakan hal itu kepada penjual kebab? Entah mengapa aku merasa itu seperti sebuah penghinaan!" Nirma membatin kesal.


"Nona, Anda tadi memesan apa?" Seorang penjual kebab bertanya kepada Nirma. Namun Nirma sudah kepalang kesal.


"Tidak jadi!" Nirma pun pergi dari tempat itu dengan rasa kesal yang tidak terkira.


...***...


"Lalu apa rencanamu selanjutnya, Jen?" tanya Nirma pada Jenny yang sedang mengaduk minuman dingin pesanannya.


Keduanya saat ini berada di sebuah restoran ternama. Di mana keduanya sedang menikmati makan siang bersama. Semenjak Nirma hamil Jenny memang sering mengajak Nirma untuk bersenang-senang. Keduanya makan siang di salah satu tempat yang belakang ini viral.


"Aku tidak memiliki ide untuk itu, Nirma. Semuanya seolah serba salah bagiku. Masalahnya aku tidak bisa terus-terusan berbohong juga. Jika seperti ini terus maka aku bisa ketahuan jika aku tidak hamil." Jenny mengutarakan ketakutannya ketika kebohongannya semakin lama seolah semakin tidak bisa disembunyikan lagi. Apa lagi sifat Ali yang semakin posesif semenjak berita kehamilan itu diketahuinya. Jenny sampai tidak berani ke salon atau berbelanja karena merasa bersalah.


"Aku juga tidak memiliki ide sama sekali. Belakangan ini pun aku menjadi sangat malas, Jenny. Sebentar lagi mungkin perutku juga semakin kelihatan. Kau tahu maksudku itu kan?" Nirma menjelaskan bagaimana ia menjalani hari-harinya belakangan ini. Kini Jenny menatap Nirma. "Aku juga tidak berani menjalani kehamilanku sendirian. Aku butuh teman. Setidaknya seseorang yang bisa membelaku ketika ada yang sampai salah paham terhadap kehamilanku ini."


"Benar juga. Kau juga harus menyembunyikan perutmu karena orang-orang yang menghuni di apartemen itu pasti menyadari bahwa kau sedang hamil. Untuk itulah kita harus memikirkan cara bagaimana menyembunyikannya dari orang-orang sekitar. Terlebih aku yang harus setiap hari bersama dengan Kak Ali." Jenny menghela napas berat. Wanita itu tidak memiliki ide apapun. Pikirannya buntu. Minta bantuan Rico juga percuma. Pria itu pasti hanya akan memarahinya.


Kring kring kring.


"Ponselmu berbunyi, Jen, " ucap Nirma.


"Kepalaku rasanya mau pecah, Nir! Aku tidak bisa berpikir jernih sekarang." Jenny mengeluh ketika ia membayangkan banyak masalah yang harus ia lalui hanya untuk meraih tujuannya. Yaitu mendapatkan seorang bayi.


"Ini suamiku menelpon. Kenapa dia menelponku jam segini?" tanya Jenny.


"Mana aku tahu? Angkat saja, Jen. Siapa tahu itu penting." Nirma memutar bola matanya kesal. Karena Jenny tidak segera menjawab telepon dari suaminya.

__ADS_1


"Halo?" Jenny akhirnya menjawab sambungan telepon dari Ali. Nirma kali ini diam dan memilih untuk menikmati makan siangnya.


"Ada apa? Mengapa aku harus mengemasi pakaianmu?" Jenny terkejut bukan main saat ia mendengarkan kabar dari Ali.


Sontak saja suara keras dari Jenny membuat perhatian Nirma teralihkan. Wanita hamil itu kini menatap Jenny penuh tanda tanya.


"Jadi Kak Ali memiliki pekerjaan di luar kota? Oh! Baiklah! Aku akan membereskan barang-barang yang ingin Kak Ali bawa setelah pulang nanti. Aku sekarang sedang bersama dengan Nirma makan siang!" Ekspresi Jenny kembali senang. Lantaran mendengar kabar bahwa Ali memiliki pekerjaan di luar kota.


Senyuman lebar tersemat di bibir Jenny membuat Nirma penuh kebingungan. Sebab sebelumnya Jenny sedang bimbang dan seolah dunia hampir berakhir saja. Sekarang tiba-tiba mendadak Jenny menjadi senang lantaran sebuah kabar dari sang suami.


"Baiklah! Aku juga mencintaimu." Jenny mengakhiri sambungan teleponnya.


"Kenapa kau terlihat senang? Padahal sebelumnya kau terlihat sangat kesal dan sedih. Mengapa tiba-tiba tersenyum lebar seperti itu?" Nirma segera melemparkan pertanyaan pada Jenny. Ia sangat penasaran lantaran perubahan mimik wajah Jenny sangat jelas tergambar di wajahnya.


"Tadi aku sangat takut sekali apabila Kak Ali berada di sampingku terus menerus. Aku takut karena bisa saja hamil bohongan ini menjadi ketahuan olehnya. Astaga, aku benar-benar dibuat gila hanya karena memikirkan hal itu, Nirma. Tapi sepertinya Tuhan sangat menyayangiku. Lihat saja sekarang. Tiba-tiba Kak Ali memberitahuku bahwa dia akan pergi keluar kota karena urusan pekerjaannya yang secara mendadak mendapatkan masalah. Itu artinya aku bisa selamat dari kecurigaannya," tutur Jenny.


Nirma yang mengerti tampak menganggukkan kepalanya berulang kali. Wanita itu mulai menyadari bahwa Jenny lagi-lagi selamat dari rasa ketakutannya yang besar itu. Mendadak Nirma merasa tidak nyaman.


"Kenapa Jenny selalu saja beruntung seperti ini? Padahal hampir dia saja ketahuan bila mereka berdua berada di tempat yang sama setiap hari. Karena sebagai ibu hamil pasti perutnya membesar. Dan Jenny tidak akan bisa mengelak untuk hal itu. ini seperti tidak adil bagiku," batin Nirma dalam hati.


...***...


"Kak Ali, aku sudah mengemas baju-bajumu. Memangnya Kak Ali akan pergi berapa lama?" Jenny menyambut kedatangan Ali dengan senang. Ia juga memberikan kecupan di bibir Ali.


"Hmm? Proyek yang besar itu tiba-tiba mendapatkan masalah. Karena papa takut perusahaan akan mengalami rugi besar, makanya aku harus pergi keluar kota. Aku tidak mungkin pulang pergi setiap hari. Itu pasti akan sangat melelahkan." Ali menjatuhkan bokongnya di sofa panjang. Ia mengusap wajahnya dengan kasar. "Masalah restoran sudah aku serahkan ke orang lain. Kau tidak perlu memikirkannya. Tetap tenang di rumah ini. Jaga anak kita!"


"Kalau Kak Ali pulang pergi itu pasti akan sangat melelahkan. Memang seharusnya Kak Ali menginap di sana saja. Kak Ali tenang saja. Aku pasti akan baik-baik saja ketika di rumah. Lagipula sahabatku bisa sering-sering datang mengunjungiku. Jadi, Kak Ali jangan khawatir!" terang Jenny.


Ali tersenyum. Ia mencolek dagu sang istri tercinta. "Benar. Aku tidak akan khawatir. Aku sudah menghubungi papa dan mama kalau kau akan menginap di sana selama aku berada di luar kota. Aku yakin papa dan mamaku pasti senang karena selama ini kalian semua saling menyayangi."


"Apa? Menginap di rumah papa dan mama?"

__ADS_1


__ADS_2