Reincarnationem : The War Kingdom

Reincarnationem : The War Kingdom
Chapter 01


__ADS_3

Siang hari yang cerah itu berubah menjadi gelap gulita karena asap dan debu yang berhamburan memenuhi langit yang tadinya sangat terang.


Suara ledakan dan beberapa bunyi bising dari senapan juga ikut terdengar dari kejauhan menandakan adanya sebuah pertikaian yang terjadi.


Di sudut perbatasan negara terlihat beberapa orang berpakaian tentara yang berlari dengan senapan di tangannya.


Salah satu orang yang juga ikut berlari terus memegang lengan kirinya dengan raut wajah menahan sakit karena luka tembak yang ia terima. Tak lama suara ledakan datang silih berganti dengan suara senapan berat mengikuti suara dari ledakan itu.


siyuttt...........


"TIARAPPPPP!" suara dari seseorang di antaranya menandakan ada sesuatu yang sedang datang, tanpa harus menganalisa pernyataan itu semuanya langsung melompat kesudut mereka masing-masing sambil memegang erat kepala yang tertutup helm itu.


DuUuArrrR....


bunyi nyaring terdengar dari belakang mereka di ikuti dengan hempasan angin yang begitu dasyat menerjang segala hal yang ada di sampingnya.


Tanah yang berhamburan itu seakan seperti hujan yang turun dengan derasnya tanpa mau tau hal ini adalah sesuatu yang mengerikan.


Bau bubuk mesiu yang bercampur dengan debu membuat orang-orang tersebut tak bisa menahan batuk sepontan itu.


"kenapa masih ada perang di zaman ini?"


ucap salah satu tentara yang memegangi luka ditangannya dengan nada marah sekaligus memancarkan kegundahan dalam hatinya.


Air mata mulai menampakkan diri di pelupuk matanya meski langsung tersapu oleh lengan yang masih dalam kondisi tiarap.


"Jangan mengeluh Terry ini adalah kewajiban kita menjaga dan membela negara kita!" suara tegas seseorang yang mencoba membantu orang tersebut berdiri.


"tapi ini aneh kapten Yu, bukankah ada Perserikatan bangsa yang melarang kita untuk saling berperang, terus kenapa negara D melancarkan serangan?" dengan nada risau Terry mengutarakan pendapatnya itu kepada sang kapten.


Memang terasa aneh walau sudah ada undang-undang yang telah di sepakati namun kenapa masih menyulut perang yang akan berakibat di musuhi oleh semua negara yang telah menyepakati korfensi ini.


Apa negara D memang sangat menginginkan permusuhan karena kecanggihan teknologi yang di miliki itu sehingga tak mau membiarkan perrserikatan bangsa-bangsa memerintah?.


Pemikiran naif itukah yang membuat idealisme mereka sangat angkuh?.


"Kalian semua dengar kita adalah tentara!, sebagai pelindung dan tombak kita harus bisa menjaga perdamaian negri kita walaupun nyawa kita taruhannya"-kapten Yu memcoba memotivasi para bawahannya yang telah kehilangan kepercayaan diri mereka.


"kapten Yu kita mau kemana?" tanya seseorang yang berada di sampingnya.


"ada sebuah desa pelosok yang tak jauh dari sini kita harus segera mengungsikan warga sipil agar tidak terjadi korban!" tegas kapten Yu sambil menunjuk ke sebuah truk yang kebetulan berada di dekat mereka.


Para bawahannya mengikuti setiap perintah dari kapten Yu tanpa menolak komando yang ia berikan .


"Popon kendarai truk itu dan langsung melaju ke arah jam 2, yang lainnya bantu terry mengobati lukanya, paham!"


"hai.... dimengerti!"

__ADS_1


Truk itu melaju menunggalkan medan peperangan yang masih berkecamuk, suara ledakan masih terdengar walaupun sudah satu kilometer jauhnya.


Suasana tegang masih mereka semua rasakan dalam hening tanpa kata mereka hanya bisa menggerakkan bibir menyusun sebuah kalimat-kalimat doa yang mereka percaya.


Melihat itu semua kapten Yu kemudian membusungkan dada dan berbicara dengan lantangnya.


"ingatlah kalian semua.... darah masih terasa hangat dalam tubuh kita, rasa takut dan risau tak bisa di pungkiri lagi!.


Tapi ingat kita adalah kebenaran jangan sampai kalian lupakan itu!"


Mendengar ucapan dari kaptennya itu mereka semua kembali memancarkan cahaya harapan yang berulang kali sirna dari diri mereka masing-masing karena medan perang yang tak pernah mereka temui di zaman modern ini.


"Kapten Yu!"-sang pengemudi berteriak memanggil.


"ada apa ?"


"ada asap dari arah tujuan kita?"


"apa?"


kapten Yu mulai menyipitkan mata dan mengambil teropong yang menggelantung dari salah satu leher bawahannya.


Kapten Yu mengeraskan genggaman tangannya, menandakan kemarahan yang memuncak dari dalam dirinya.


"Siallllllll!"


teropong tersebut di lempar kebawah menghantam dek truk dan terhempas ke sisi kiri truk itu.


suara lirih dari bawahannya terdengar samar-samar tanpa sempat terdengar oleh kapten Yu sendiri.


Wajah yang begitu kesal dan mata yang menunjukkan penyesalan sangat terlihat jelas oleh para bawahan Kapten Yu.


syuttttttt....


Duarrrr.....


Ledakan bom hampir mengenai sisi kiri truk mereka hanya tinggal beberapa meter saja sampai bom tersebut mengenai mereka semua.


Walaupun begitu truk tersebut hampir terguling karena tekanan ledakan yang di timbulkan oleh jet tersebut.


"pesawat tipe pengintai melewati kita dan menuju ke arah jam 2,!"-Terry mengkonfirmasi keberadaan pesawat musuh kepada kapten Yu.


"Situasi?"


"bahaya pesawat tersebut memutar balik! tak ada tempat bersembunyi" suara Terry terdengar sangat ketakutan namun di tahan dengan segenap keberanian yang telah ia usahakan.


"huff........"

__ADS_1


Kapten Yu mencari cara agar terhindar dari bom yang akan di lancarkan kembali oleh pesawat tersebut. Meski hanya tipe pengintai namun pesawat itu tetap di lengkapi dengan 2 rudal bom dan juga machinegun kaliber 9mm di setiap sisinya.


Mata kapten Yu menerawang ke seluruh sudut yang tak menguntungkan itu. dimana posisi mereka tidak bisa bersembunyi sama sekali karena berada di tengah lapang tandus dengan ilalang coklat yang tingginya kurang lebih 1 meter saja.


"Bahaya banting setir ke arah 20° rudal bom musuh di luncurkan!" teriakan dari Terry yang masih tetap siaga mengawasi pergwrakan pesawat tersebut.


"semuanya berpegangan yang kuat!"-kapten Yu memerintahkan.


syutttttt....


doar.......


rudal bom berhasil di hindari namun langsung di ikuti dengan tembakan mesin machinegun dari belakang kami.


"POPON MENGHINDAR!"


sebisa mungkin Popon menghindari tembakan machinegun tersebut.


posisi kita sangat mirip seperti tikus yang di kejar oleh kucing yang sedang lapar tanpa memberi kami celah sedikitpun untuk lari menghindar.


pesawat tersebut melewati kami lagi dan bersiap untuk serangan berikutnya.


"Kesempatan kalian semua segera melompat dan sembunyi di sisi rumput itu!"-kapten Yu memerintah dan langsung mengambil kendali setir mobil tanpa menghiraukan pendapat dari bawahannya saat itu.


semua bawahannya yang ada di dek belakang mengikuti perintah sang komandan dan langsung melompat kererumputan di samping truk itu.


"Popon kau harus cepat lompat!" tegas kapten Yu yang sudah berganti menyetir dengan Popon.


"tidak saya akan mengikuti kapten!"-dengan senyum tulus yang ia lontarkan kepada sang kapten.


"kau berani melawanku?"


"tidak kapten !, hanya saya tau niat kapten!"


Kapten Yu tersenyum karena mengetahui ada lagi orang bodoh yang berniat mengorbankan nyawanya di medan perang kecuali dirinya itu.


"Popon lihat pesawat musuh dengan scope senapannmu dari balik pintu mobil!"


"baik!"


Tanpa keraguan bawahannya mengituti perintahnya dan langsung berdiri di ambang pintu mobil yang masih melaju.


namun kapten Yu langsung menerjang badan si popon hingga terjatuh keluar dari mobil.


"Popon! maaf kamu tidak bisa menanggung beban ini karena ini kesalahanku sebagai kapten!"


suara tembakan machinegun terdengar dari depan mobil, sepontan dia membanting setir mengelak dari tembakan tersebut.

__ADS_1


kapten Yu berfikir jika tidak menghindar mereka akan mencurigai bahwa mobil tersebut tak berawak dan menembak membabi buta sekitar mereka .dan mencari target yang kabur tersebut.


Pesawat itu kembali mengejar truk yang di kendarai oleh kapten Yu. suara tembakan yang kini terdengar dari arah belakang mobil sama sekali tidak bisa di hindari olehnya sehingga truk yang di kendarai kapten Yu tersebut meledak.


__ADS_2