
Saat matahari berwarna jingga kekuningan di ufuk barat. Zeint meminta izin meninggalkan kediaman tuan Vamilon karena ada beberapa halyang harus ia selesaikan terlebih dahulu.
Lampu-lampu jalanan kota kini satu persatu memancarkan cahayanya mengiringi tiap langkah Zeint.
Banyak beban yang ia rasakan di kala itu, mulai dari dirinya yang tak bisa mengubah warna rambutnya, kenyataan tentang Nerfa dan yang lain ,hingga pada dirinya yang kini sudah menjadi kesatria pribadi tuan putri Ellza.
Meski ada hal baik di setiap hal itu namun tak bisa mengurangi kegundahan yang ia rasakan.
Zeint berhenti di depan Akademi Millita untuk sekedar memandang dan bersyukur karena sudah bisa belajar banyak hal dari sana.
Zeint membuka topeng iblis yang ia pakai sembari menaruhnya di depan dada.
"Terimakasih semua mungkin mulai besok aku tak akan lagi berada disini!"-Ucap Zeint.
Dari arah menuju Asrama siswa terlihat Nerfa, Ardy, dan Lux berjalan bersama menghampiri Zeint yang masih menatap Akademi itu.
"Kalian menungguku kah....!"-Tegas Zeint sambil berpaling menghadap mereka.
"Ya Zeint kami menunggumu!"-Nerfa membalas sapaan Zeint saat sudah tepat dihadapannya.
"Nerfa apa benar dia Zeint?"-Tanya Lux dengan keraguan.
"Ya itu sudah jelas Lux....yakan Zeint!"-Balas Nerfa yakin.
Untuk menghilangkan keraguan dari Lux Zeint mengambil topeng pemberian Albert dan langsung mengenakannya.
"Dengan ini mungkin kamu akan paham Lux!"-Tambah Zeint.
Ardy dan Lux menatap satu sama lain lalu mengangguk paham secara bersamaan.
"Untuk sekarang lebih baik kita cari tempat yang nyaman dahulu agar bisa berbicara dengan santai....di tambah lagi hari sudah mulai malam!"-Nerfa mengajukan usulannya yang di ikuti anggukan yang lain.
Nerfa membawa Zeint kesuatu tempat di sudut kota D'lus dimana tempat itu terlihat seperti taman dengan lampu-lampu warna-warni mengelilingi tempat tersebut.
Mereka semua duduk di kursi panjang di bawah pohon besar karena hanya disanalah yang mempunyai tempat duduk luas.
Atmosfer di sekitar mereka begitu sunyi tak ada yang ingin berniat memulai pembicaraan terlebih dahulu, mereka hanya memilih diam tanpa berkata apa-apa.
__ADS_1
"Huhhh kalian kenapa? kok pada diam begini? Biasanya kalau lagi kumpul seperti ini pada asik bahas ini itu tapi kenapa sekarang malah gini?"-Ucap Zeint sedikit kesal karena sudah tak tahan dengan suasana canggung itu.
Mereka bertiga menatap Zeint dengan serius setelah mendengar ucapa Zeint tersebut hingga membuat suasana mulai mencair.
"hahahahah maaf Zeint kamu benar juga!"-Balas Nerfa sambil memukul kepala Lux dan Ardy menggunakan ujung pedangnya yang masih tersarung.
Perlahan wajah mereka tak lagi terasa tegang berkat hal tersebut dan serasa lebih rileks dari pada sebelumnya.
"Yahh maaf Zeint kami tak menyangka saja kalau kamu adalah orang yang menyelamatkan kami dulu jadi ya beginilah! hahahhaha!"-Lux mulai membuka obrolan walau terdengar sedikit kikuk.
Nerfa mungkin sudah menjelaskan beberapa hal terlebih dahulu kepada mereka yang membuat mereka bingung dengan semua kebetulan tersebut.
"Hemmmzz Ya...mungkin itu adalah kenyataan walaupun aku juga tak percaya bahwa anak kecil yang aku selamatkan adalah kalian!"-Ucap Zeint mengiyakan hal tersebut.
"Jadi kak Zeint memang penyelamat kami ya!"-Sela Ardy dengan nada polosnya meski penampilannya yang tak sesuai.
"hah kak Zeint?"-Ucap Zeint,Nerfa,dan Lux bersamaan.
"Lah kan memang benar! jika dulu kami di panggil anak kecil berarti Zeint saat itu lebih tua dari pada kami kan!"-Tegas Ardy dengan pendapatnya.
Ketiganya menutup mata sembari mencerna ucapan Ardy tersebut dengan serius. Karena itu ada benarnya juga buat mereka.
Melihat reaksi Zeint yang seperti itu Nerfa dan yang lainnya mulai tertawa lepas.
-Penampilan Zeint memang masih terlihat muda namun hal itu di sebabkan oleh pengeristalan dirinya hingga membuat pertumbuhannya terhambat.-
Zeint memandangi mereka sambil tersenyum di balik topengnya karena Zeint mengira semua beban yang tadinya di fikirkan mereka mulai teralihkan sudah.
"Oh ya mulai besok aku akan pergi dari sini jadi kita makan-makan dulu saja sebagai bentuk perpisahan!"-Ucap Zeint sepontan.
"eh...."
Dalam sekejap mereka terhenti tertawa dan kembali lagi memasang wajah kaget tak percaya.
"ada yang salahkah?"-Tanya Zeint menganggap itu adalah hal sepele yang tak seharusnya di permasalahkan oleh teman-temannya.
"Maksudnya apa Zeint?"-Nerfa mulai memasang wajah marah.
__ADS_1
"Ya maksudnya aku akan pergi dari sini karena ada hal yang harus aku lakukan!"-Jelas Zeint gugup.
"Hal apa itu!"-Nerfa mulai berdiri dan langsung menempatkan wajahnya lurus di hadapan Zeint.
"Ya..itu....karena aku sudah berjanji kepada putri Ellza untuk menjadi kesatrianya!"-Ucap Zeint dengan keringat dingin yang mulai keluar dari balik keningnya.
"hah?kok bisa seperti itu Zeint jelaskan!"-Nerfa memegang kerah jubah Zeint dan menggoyang-goyangkannya secara cepat.
"baiklah...baiklah aku akan jelaskan!"
Zeint menjelaskan tentang dirinya yang ingin mencari adiknya yang kemungkinan berada di kerajaan Centaury. Namun sebelum itu ia juga harus mencari informasi lebih lanjut kepada sang raja kerajaan Aquas karena beliau juga mengetahui beberapa hal tentang keberadaan adiknya tersebut.
Dengan adanya tawaran dari putri Ellza itu bukanlah hal buruk jika di tetima malahan semakin membawanya kepada sang raja.
Mereka bertiga mendengarkan secara seksama penjelasan Zeint tanpa berpaling maupun bertanya.
"itu saja penjelasanku ....jadi ayo kita adakan pesta dulu masalah biaya biar aku yang tanggung!"-Ucap Zeint mengakhiri penjelasannya.
"Apakah kami boleh ikut kamu untuk memcari adikmu itu?"-Sela Nerfa dengan tatapan mata serius.
"hemmmzz maaf Nerfa itu tak harus kamu lakukan karena tugasmu sekarang menjadi pelindung kota ini jadi terimakasih atas tawaranmu itu!"-Balas Zeint menenangkan Nerfa.
"tapi...!"
Sebelum Nerfa sempat melanjutkan ucapannya dengan segera Zeint memotong.
"Lagian aku ingin kalian hidup bahagia disini sambil menjadi kesatria yang hebat bukankah itu keinginan kalian!"
Mereka bertiga tak menjawab dan hanya menunduk setelah mendengar ucapan Zeint tersebut.
"Sudahlah jika aku butuh bantuan kalian pasti aku akan minta tolong pada kalian jadi tunggu saja waktunya tiba ok!"-Zeint mencoba menyemangati mereka.
Mendengar itu mereka bertiga mulai terlihat lebih ceria.Zeint yang juga merasa lega karena sedikit mengurangi beban di pundaknya langsung menarik tangan Nerfa dan menarik mereka berjalan menuju ke kedai langganan agar bisa menikmati kebersamaannya yang hanya tinggal malam ini saja!.
Mungkin dari mereka bertiga masih ada kegelisahan yang tersimpan di balik hati terdalamnya masing-masing.
Namun mereka mencoba menerima keputusan Zeint sebagai bentuk permintaan dari seseorang yang telah menyelamatkan mereka.
__ADS_1
Dengan berpegangan hal tersebut malam itu menjadi malam yang menyenangkan buat mereka berempat dimana canda dan tawa mengiringi tempat tersrbut.