
Di tengah hutan belantara itu Zeint memakan makanan yang di berikan oleh sang pedagang dengan lahapnya sambil duduk bersila di dekat api unggun. Pedagang itu hanya menatap senang ke arah Zeint dan sesekali menyodorkan air minum kepada Zeint.
"kamu sedang apa di tengah hutan ini nak?" -Lelaki itu membuka percakapan.
"Saya ingin ke kerajaan Selleburk ?"
"eh.... sendiri?"
"ya...!"
Lelaki paruh baya itu menatap langit seakan sedang mencerna ucapan Zeint karena menurut lelaki tersebut dia terlalu muda untuk melakukan perjalanan sendiri saat usianya masih sekitar 16 tahun itu.
Setelah beberapa lama berfikir akhirnya pedagan tersebut mengambil secarik kertas dari balik tas yang ia bawa sedari tadi.
"ini nak!"
"apa itu?"
Pedagang tersebut menunjukkan sebuah peta daerah itu kepada Zeint yang baru saja menyelesaikan makannya.
Bentuk denah tersebut di bilang kuno dengan beberapa simbol terletak di berbagai tempat.
Zeint menatap peta tersebut dengan seksama ia mencoba memahami struktur yang ada tanpa berpaling.
Pedagang tersebut menjelaskan garis besar kepada Zeint bahwasannya dia berada di benua Emerlard dengan beberapa kerajaan yang tersebar di benua itu. Lokasi saat ini berada di hutan perbatasan antara kerajaan Centaury dengan kerajaan air Aquas. Pembagian daerah sekitar terlihat seperti roti kukus yang di bagi empat dengan pertengahan lingkaran hutan sebagai pemisah.
"ini wilayah apa?"-tanya Zeint yang merasa janggal dengan suatu daerah tanpa nama di bagian barat daya.
"ah... itu daerah tak terjamah!"
"maksudnya?"
Pedagang itu kembali menjelaskan bahwa di daerah itu tempat para monster dan iblis bersarang. Monter **** malam yang tadi sempat ia kalahkan termasuk penghuni derah tersebut yang berhasil masuk melewati pegunungan Nirwa .
"eh....!"
Dunia ini ada monster dan iblis berarti ini dunia fantasi seperti dalam komik dan manga dimana ada sebuah kekuatan yang pasti di miliki semua orang jadi....
"Paman bisa ajarkan saya sihir?"
"huh.... saya tidak tau banyak tentang sihir nak, Tapi kalau hanya sihir dasar mungkin saya bisa mengajarkannya"
"baiklah kumohon!"
Tanpa ragu pedagang tersebut mengajarkan cara dasar penggunaan sihir kepada Zeint yaitu konsentrasi energi kehidupan yang disebut MANA. Kalau Zeint bisa merasakan mana maka potensi belajar sihir akan terlihat begitu juga sebaliknya.
Agak memakan waktu akhirnya Zeint bisa merasakan mana di sekitarnya maupun pada dirinya sendiri. Mana itu terlihat seperti kabut tipis yang bergerak bagaikan hembusan angin bedanya mana tersebut memiliki beberapa warna contohnya yaitu mana milik pedagang itu berwarna hijau kekuningan sedangkan pada diri Zeint sendiri berwarna gelap keunguan serta ada sedikit bercak putih.
"Baiklah kita ke tahap kedua nak!"
__ADS_1
Di tahap kedua Zeint di suruh agar mengumpulkan mana miliknya di telapak tangan sehingga akan terbentuk gumpalan mana.Menurut pedagang itu ini langkah sulit yang mungkin butuh beberapa kali usaha namun itu tak berarti karena Zeint langsung bisa melakukannya.
"Wah kamu hebat nak...bisa sekali coba!"- dengan senyum senang pedagang tersebut memuji Zeint.
"selanjutnya bagaimana paman?"
"ini tahap yang sangat sulit nak.... tahap ini butuh konsentrasi dalam pembayangan. Semakin kuat kau membayangkan kekuatanmu maka sihir yang akan merespon akan kuat juga!"
Penjelasan yang tak mudah di pahami oleh Zeint dengan kerutan di keningnya Zeint berpaling wajah membelakangi Pedagang itu dan mulai mencoba.
"Nak rambutmu ke..na...pa....."
Brukkk...
Belum selesai berbicara tubuh pedagang tersebut ambruk. Zeint menatap tubuh Lelaki paruh baya itu kaget.
Saat Zeint mencoba menghampiri pedagang tersebut ia langsung teringat akan Albert yang menyuruhnya agar menjauh pada saat itu dan akhirnya Zeint berhenti melangkah.
"apa yang sebenarnya terjadi?"- ucap Zeint dalam bingung.
Bilah pedang yang ada di dekatnya tak sengaja ia senggol dengan kakinya sehingga kilap kilauan bilah tersebut menampakkan wajah Zeint saat ini.
Ia terperangah melihat penampakan dirinya di bilah pedang itu dimana mata kirinya berubah hitam dengan ujung rambut yang kini separuh memutih.
"apa ini?"
"itukah aku?"
Zeint tak bisa menerima keadaannya saat itu sehingga membuat dirinya jatuh terduduk karena syok.
plukk...
Topeng pemberian Albert terjatuh di dekat Zeint dan akhirnya ia kembali teringat ucapan kakaknya itu. Segera ia mengambil dan memakainya sepontan setelah itu mana milik pedagang itu berhenti memasuki tubuh Zeint.
"Tubuh ini sangat aneh!"-ucap Zeint sambil menatap telapak tangannya.
Malam terus berlanjut Zeint memindahkan tubuh lelaki paruh baya itu ke atas pendati dan tak lupa memakaikannya selimut, sedangkan Zeint pergi agak menjauh dari sana karena ingin melanjutkan latihannya tentang sihir.
*****
Matahari menyingsing dari ufuk timur, cahaya putih menyapa Zeint yang masih berlatih menggunakan sihir dari tempatnya.
Sekelebat cahaya biru kehitaman kini bisa terlihat dari tangan Zeint meskipun itu sebatas aliran listrik lemah karena hanya itu saja yang dapat ia bayangkan.
"huff....!"
Zeint membuang nafas panjang sambil mencemooh dirinya yang kurang mengerti tentang dunia fantasi.
"Andaikan aku lebih sering nonton film fantasi mungkin akan lebih mudah!".
__ADS_1
Suara langkah kaki mendekati Zeint yang sedang beristirahat di bawah pohon camar.
"Disini kamu nak!"
"iya paman ada apa?"
"maaf tadi malam saya pingsan...mungkin karena capek!"
"e....iya gak masalah!"
Zeint memalingkan wajahnya karena ia tau penyebab paman itu pingsan adalah Zeint.
Paman itu berjalan pergi setelah menyapanya. Ia menuju ke bangkai Monster **** Malam yang tergeletak tidak jauh dari tempat Zeint berlatih.
"Sedang apa paman?"
"lagi mengumpulkan material Nak!"
Pedagang itu memotong semua tanduk dan juga taring **** tersebut tanpa sisa lalu membawanya ke pendati.
"dagingnya bagaimana?"
"hahahaha itu tidak bisa dimakan Nak!"
"eh... sayang sekali..!"
Di dekat pendati Zeint duduk melamun memikirkan daging **** itu karena menurutnya sangat mubadzir kalau di tinggalkan disana begitu saja.
"Nih buat kamu Nak!"-ucap pedagang itu sambil melempar sebuah pakaian dan juga pedang.
"buat apa paman?"
"itu hadiah perpisahan dariku Nak terimalah...!. Tapi jika kamu masih ingin mengenakan pakaian wanita itu simpan saja sudah"-ucap pedagang itu sambil meledek kearah Zeint.
Wajah cemberut Zeint yang ada di balik topeng mungkin di ketahui pedagang tersebut karena ia masih menahan senyum dari wajahnya yang sudah tua itu.
Zeint pergi ke semak-semak di sekitarnya untuk berganti pakaia karena menurutnya itu lebih baik.
"Terimakasih paman!"
"Yup gak masalah....lagian itu lebih cocok denganmu!"
"anu...!"
"ada apa Nak?"
"adakah belati untukku? karena saya tidak terlalu mahir dalam berpedang!"
Pedagang itu mengangguk paham dan mengganti pedang tersebut dengan dua buah belati.
__ADS_1
Setelah itu Zeint dan pedagang tersebut berpisah karena mereka memiliki tujuan yang beebeda.