
Kota ini begitu padat penduduk sampai-sampai seluruh jalan yang lurus sampai kastil kerajaan di penuhi dengan orang-orang yang menyambut kedatangan tuan putri Ellza.
Kini rombongan tuan putri Ellza sudah sampai di depan gerbang masuk kerajaan; dengan tembok besar sebagai pemisah dari ibu kota.
Zeint memandangi kastil yang ada di depannnya dengan decak kagum akan kemegahan tersebut. Kastil yang mungkin lebih besar dua kali lipat dari istana presiden di dunianya dulu.
Penjagaan di gerbang utama itu begitu ketat banyak perajurit bersenjata lengkap berdiri di setiap sisinya.
"tuan putri Ellza telah tiba buka gerbang utama!"-Teriak seseorang perajurit yang berada di depan gerbang.
Crakkk..
Gerbang raksasa itu terbuka sesaat suara itu terdengar. Rombongan putri kembali berjalan maju memasuki sisi lain gerbang tersebut.
Zeint tak dapat berkomentar apa-apa yang bisa ia lakukan hanya mengikuti rombongan tersebut yang kini telah berada di dalam halaman kastil.
Putri Ellza keluar dari dalam kereta yang langsung di sambut uluran tangan Bernald layaknya cerita-cerita putri pada umumnya.
"Putri mari kita langsung menemui baginda raja!"-Seru Bernald sopan.
"Ya tentu Bernald....Zeint kamu juga ikut kami!"-Perintah putri Ellza kepa Zeint yang masih tolah toleh.
"Siiapp tuan putri..!"-Balas Zeint drngan segera.
Putri Ellza berjalan di depan di ikuti oleh Bernald dan Zeint di belakangnya.
Ruangan yang sangat megah dengan Tiang ukiran berjejer lurus, Lantai berkeramik dengan karpet merah yang menutupinya terbentang hingga ujung.
Mereka berjalan menyusuri samping koridor kastil hingga terhenti di sebuah pintu dengan dua orang perajurit yang menjaga pintu tersebut.
"Tuan putri baginda raja telah menunggu kepulangan anda!"-Sapa seseorang perajurit itu sembari membukakan pintu.
Craakkkk.....
Ruangan tersebut berisikan orang-orang berpakaian rapi beserta perajurit bersenjata lengkap di bagian belakang berdiri berjejer hingga singgasana.
"Ellza kamu baik-baik saja!"
Terdengar sambutan seseorang dari sisi singgasana.
"Ya ayahanda aku pulang!"-Balas Ellza yang langsung bergegas menghampiri suara itu.
Zeint mencoba mengikuti putri Ellza namun ujung jubahnya di tarik oleh Bernald yang kini sudah duduk hormat.
Zeint paham dengan apa yang di lakukan Bernald jadi ia juga mengikuti apa yang di lakukan Bernald tersebut.
Raja memeluk putrinya tersebut dengan rasa bahagia bersamaan dengan wanita yang tadinya duduk disamping sang raja yang mungkin adalah sang ratu.
"ternyata beliaulah raja Deltino Derastos Aquas!"-Ucap Zeint dalam hati sambil sesekali melirik kepada sosok pemimpin di kerajaan ini.
Raja Deltino sudah lumayan tua dengan uban yang terlihat dari balik mahkota yang ia pakai, walau begitu badannya yang kekar dan juga karismatik sangat cocok dengan sifatnya yang tegas dalam memimpin.
Sedangkan Ratu Minercy terlihat masih awet muda dan begitu anggun, mata dan rambutnya sangat mirip dengan putri Ellza yang biru itu.
"Ayahanda aku ingin berbicara sesuatu hal penting!"-Sela putri Ellza sambil menatap tajam kepada sang ayah.
Mendengar itu sang raja menoleh ke seluruh ruangan lalu orang-orang yang tadinya berada disana satu persatu meninggalkan ruangan menyisakan Zeint dan Bernald.
Saat pintu ruangan tertutup sang Raja mulai bertanya.
"Ada apa Ellza?"
"Ayahanda saat kami hendak pulang ada segerombolan tentara bayaran menyerang kami!"-Ucap putri Ellza.
"Apa?"
"Siapa yang melakukan hal seperti itu anakku?"-Tanya Ratu yang langsung memegang tangan putrinya tersebut.
Putri Ellza menatap kearah Zeint kemudian kembali berbicara.
"Seperti dugaan ayahanda bangsawan Grindele yang menyerang kami!"
__ADS_1
"Ah... jadi memang benar rumor tentang pemberontakan yang ia pimpin ya.....!"-Sang raja terduduk sambil memegang dahinya.
"eh pemberontakan? apa ada hal seperti itu di kerajaan yang terlihat damai ini?"-Tanya Zeint dalam hati yang tak tau apa-apa.
"Kenapa bangsawan Grandele sampai seperti itu ayahanda?"-Tanya putri Ellza dengan penuh tanda tanya.
"ya...itu...!"
"Beliau tidak menyetujui pernikahanmu dengan putra mahkota kerajaan Selleburk putriku!"-Sela Ratu meneruskan ucapan raja.
"Ehhhh..... putri Ellza mau menikah baru tau aku!"-Bisik Zeint kepada Bernald yang masih menunduk.
"Ya acaranya pertunangan mereka akan di lakukan satu minggu lagi jadi sekarang diam dulu!"-Balas Bernald agak kesal.
"eeeeee!"
"Ayahanda aku sudah bilang aku tak mau di paksa menikah dengan orang yang tak aku cintai!"-Tegas putri Ellza dengan nada marah.
"Ellza yang ayah lakukan ini demi kebaikanmu juga!"-Ucap raja dengan nada sedikit membentak.
"itu bukan demi kebaikanku kan ayah!.... Ayah hanya memperlakukanku seperti barang yang hanya menunggu waktu sebelum rusak dan kini ayah hanya memanfaatkan keuntungan dariku saja kan iyakan!"-Balas putri Ellza sambil menceka air matanya.
"Ellza....!!!"-Bentak Raja.
"Raja!!!!!"-Sela Ratu yang langsung menghentikan tingkah raja.
"Ya aku tak ingin mendengar lagi ucapan ayah!!...aku benci!!"-Teriak putri Ellza sembari berlari pergi meninggalkan ruangan itu.
"Eeeehhh....apa ini?? Deramakah??? atau teater? kalau memang ada pertunjukan mending sambil makan cemilan enak..!"-Tanya Zeint dalam hati setelah melihat hal tersebut tanpa beranjak dari tempatnya.
Sang raja terlihat frustasi dengan apa yang baru saja terjadi. Ada rasa menyesal dan khawatir dari tatapan matanya yang kini hanya menatap ujung kakinya tersebut.
"Ehhh tuan Bernald apa yang harus kita lakukan?tuan putri nangis loh sedangkan raja galau gitu...!"-Bisik Zeint sambil menyenggol Bernald di sampingnya drngan nada menggoda.
"Ah... Saya paham....Zeint setelah ini kamu temui tuan putri di kamarnya sedangkan saya akan menemui raja!"-Tegas Bernald yang langsung berdiri meminta izin untuk Zeint meninggalkan ruangan.
Sang raja mengangkat tangannya yang menandakan persetujuan.
"Yahhh aku lupa bertanya memang dimana kamar putri Ellza ya? kalau disuruh mencari sendiri bodo amat...!"-Seru Zeint sembari melihat sekeliling.
Lorong yang panjang dengan berbagai pintu disampingnya membuat Zeint tak tahu harus memulai dari mana yang ia lakukan srkarang hanya berjalan pelan menyusuri lorong tersebut.
"Hey kamu yang memakai tudung!"-Panggil seseorang yang berlari menghampirinya.
Mereka para penjaga kastil ini yang mencegat Zeint karena menurut mereka Zeint terlihat seperti orang yang mencurigakan.
Tombak yang mereka pegang di acungkan tepat di hadapan Zeint.
Dengan sepontan Zeint mengangkat tangannya.
"Ehhh maaf ....saya adalah kesatria tuan putri Ellza jadi bisakah kalian menurunkan senjata kalian!"-Ucap Zeint menjelaskan.
Mereka menatap Zeint dari ujung kepala sampai kaki dengan seksama.
"Eh.. dia memakai baju kesatria milik tuan putri!"-Ucap salah satu penjaga itu kepada temannya.
"Mohon maaf tuan kami tidak tau!"-Ucap kedua orang tersebut dengan menunduk.
"Ya.. tak masalah kalau boleh tau dimana kamar tuan putri Ellza berada?"-Tanya Zeint kepada mereka.
"Biar kami antarkan!"-Ucap mereka segera.
Para penjaga itu mengantarkan Zeint ke sebuah pintu di ujung lorong kemudian pergi meninggalkan Zeint.
tok..tok.tokkk
"putri ini saya Zeint boleh saya masuk?"-Tanya Zeint sebelum masuk dalam ruangan.
"Ya masuk saja!"-Jawab putri Ellza dari dalam kamarnya.
Zeint masuk kedalam kamar putri Ellza dimana putri Ellza sekarang berdiri di samping jendela dekat dengan kasur mewah menghadap ke sisi balik jendela tersebut.
__ADS_1
"Apa yang harus aku lakukan ya Zeint!"-Sapa putri Ellza yang masih menghadap keluar jendela.
"Entahlah....!"-Balas Zeint sepontan dengan nada tidak mau tau.
"hahahah!"-putri Ellza tertawa ringan.
"Huffff maaf putri jika saya lancang!"-Ucap Zeint yang tak tahan dengan sikap putri Ellza.
Zeint mengangkat badan putri Ellza ke atas pangkuannya sama seperti gendonga tuan putri di film-film.
"Apa yang kamu lakukan Zeint!"-Ucap putri Ellza yang sedikit meronta.
"Diamlah putri jangan banyak bergerak nanti jatuh!"-Tegas Zeint yang kini berdiri di jendela.
"Tu..tunggu Zeintt.....!"-Ucap putri Ellza saat Zeint melompat keluar.
"Ahhhhhhhh!"
Zeint melompat menyusuri dinding kastil yang tinggi, melewati atap-atap curam hingga mereka berada di atas atap menara.
"Nah sekarang anda bisa membuka mata!"-Pinta Zeint kepada putri Ellza yang masih menutup mata di pangkuannya.
"inikan..."-Ucap putri Ellza sambil memperhatikan sekitarnya.
"Ya kita berada di atas kastil!"-Sela Zeint seraya menaruh putri Ellza duduk di atas dinding dekat atap yang mirip seperti tempat duduk itu.
"Kenapa kamu membawaku kesini?"-Tanya putri Ellza dengan nada curiga.
Zeint menunjuk ke arah timur dimana disana air terjun raksasa membentang luas memancarkan keindahannya.
"Wahhhh!"-Putri Ellza terkagum kagum.
"Saya tak tau apa yang sedang membuat anda gelisah tapi cobalah sekali-kali anda lepas mahkota di kepala anda tersebut dan nikmati suasana seperti ini!"-Ucap Zeint sembari membuka topengnya.
"memang kenapa?"-Tanya putri Ellza.
"Hahaha simpel saja saya melihat beban yang berat dari sana makanya saya meminta anda untuk melepasnya toh hidup ini adalah kebebasan!"
Putri Ellza mengikuti ucapa Zeint ia melepas mahkota kecil tersebut dan menaruhnya di sampingnya.
Semilir angin terhembus melewati mereka sembari membawa beberapa helaian rambut yang kini mengambang bebas.
Mata putri Ellza di pejamkannya sambil menghirup segarnya udara yang kini sangat nikmat.
"Sepertinya kamu benar Zeint!"-Ucap putri Ellza dengan senyuman yang benar-benar tulus.
Zeint yang melihat reaksi itu membalas senyuman putri Ellza.
"Saya lebih suka melihat anda dengan senyuman ini! senyuman tulus dari hati anda!"-Ucap Zeint.
Mendengar itu putri Ellza tersipu malu dan langsung memalingkan wajahnya.
"Apa ini?"-Ucap putri Ellza pelan.
"Ada apa putri?"-Tanya Zeint yang tak sengaja mendengarnya.
"Gakk ada apa-apa kok heheheh!"-Balas putri Ellza dengan rona merah di bagian pipinya.
"Oh...!"
"Zeint....!"
"Ya putri!"
"Apa kamu tidak takut terkena hukuman karena sudah lancang kepadaku?"-Putri Ellza menatap Zeint penuh senyuman.
"eehhh.... maaf maaf maaf....saya tak bermaksud seperti itu..."-Jelas Zeint gelagapan.
"Hahahahha" -Tawa putri Ellza puas dengan reaksi Zeint tersebut
Beberapa Charakter jika masih kurang bagus maaf ya.....
__ADS_1