
Semenjak kejadian di sekolah tuan putri Ellza, Zeint sudah jarang bersama dengannya.
Putri Ellza seakan menjauh dari Zeint ya walaupun Zeint juga tak begitu mempermasalkannya karena menurutnya itu bukan kesalahannya.
Hal tersebut berlanjut sampai 2 hari tak ada tanda-tanda putri Ellza mau menemuinya begitupun dengan Zeint yang acuh tak acuh dengan hal itu.
"Hah sudah 5 hari disini tapi masih belum juga dapat informasi yang berguna....memang benar aku harus bisa menemui raja langsung tapi bagaimana caranya?"-Keluh Zeint dengan nafas panjang.
Suasana pagi itu sangat berbeda dari hari-hari sebelumnya dimana hari ini begitu banyak orang di dalam kastil tersebut.
Zeint yang merasa penasaran bertanya kepada salah satu pelayan yang kebetulan di lihatnya.
"Bibi Jea ada apa sekarang? tumben banyak orang di kastil?"-Tanya Zeint kepada pelayan yang sibuk menata tumpukan karung di dekat gudang makanan.
"oh kamu nak Zeint.... disini akan di adakan penjamuan jadi kami sedang sibuk mempersiapkannya!"-Balas bibi Jea sembari mengusap keringat di keningnya.
"Ehh penjamuan apa?"
"Masa kamu belum dengar tentang pertunangan tuan putri Ellza bukankah kamu yang paling dekat dengannya?"--Balas bibi Jea sedikit menaikkan alis.
Mendengar itu Zeint teringat akan ucapan Bernald disaat putri Ellza bertengkar dengan raja. Dia sempat membahas tentang hal ini.
"ohh iya aku lupa bibi Jea!"-Ucap Zeint sepontan.
"Jadi acaranya kapan ini bibi Jea?"
"Besok Zeint.... jadi kamu sekarang temui tuan putri takutnya beliau sedang gelisah soalnya sudah dua hari beliau mengurung diri di kamarnya!"-Tegas bibi Jea sambil berlalu meninggalkan Zeint disana.
"Hadehh bibi Jea mungkin bukan itu yang lagi di fikirkan tuan putri!"-Ucap Zeint saat bibi Jea sudah menghilang di balik sudut lorong.
Zeint merasa tak tau harus berbuat apa untuk sekarang karena yang ia tau mungkin tuan putri marah kepadanya bukan disebabkan gelisah sebab pertunangan.
"Bodo amatlah... biarkan saja dia seperti itu!"-Ucap Zeint sambil berjalan menyusuri koridor kastil.
Meskipun Zeint berkata seperti itu namun entah kenapa dirinya malah berdiri di depan pintu kamar putri Ellza sambil sesekali mencoba mengetuk pintu kamar putri Ellza walau tak ada jawaban.
"Ahh dasar ABG..... kalau emang tidak mau menikah bilang saja saat hari H-nya!"
Tak tahan dengan itu Zeint langsung membuka pintu kamar putri Ellza dan langsung masuk.
"Zeint siapa yang menyuruhmu masuk!"-Ucap putri Ellza saat melihat Zeint berdiri di ambang pintu dengan nada marah.
"Yaa putri....Maaf saja soalnya dari tadi tidak ada jawaban saya mengira anda kenapa-napa hhahhaha!"-Balas Zeint dengan alasan konyolnya.
__ADS_1
"Aku baik-baik saja .....sekarang kamu tinggalkan aku sendiri!"-Tegas putri Ellza yang masih duduk di atas kasurnya.
Zeint menatap sekeliling ruangan itu dimana ia melihat makanan yang masih tak disentuh juga beberapa buku yang berserakan di bawahnya.
Zeint membuka topengnya dan menaruhnya di balik jubahnya, Lalu berjalan mengambil buku-buku yang berserakan itu untuk kembali di tatanya tanpa menghiraukan perintah putri Ellza.
"Zeint apa kamu tidak mendengar perintahku!"-Putri Ellza kembali berteriak kecil kepada Zeint yang masih menata buku tersebut ke dalam rak.
"Sudahlah putri saya mohon maaf karena sudah membuat anda marah kapan hari itu!....Jika ada sesuatu hal yang bisa saya lakukan untuk bisa di maafkan saya bersedia melakukannya!"-Balas Zeint sembari berjalan mendekati putri Ellza.
"Apa maksudmu?"-Tanya putri Ellza dengan tatapan bingung.
Zeint mengambil nafas panjang lalu mengeluarkannya untuk menenangkan diri.
"Putri sekarang saya ingin berbicara sebagai Zeint teman anda bukan sebagai kesatria anda jadi anda boleh bercerita jika anda punya masalah!"-Ucap Zeint sembari duduk bersungkuh di dekat putri Ellza.
Putri Ellza menatap Zeint tanpa berbicara sepatah katapun dengan raut wajah yang kini penuh dengan kebingungan.
"Baiklah Zeint tapi sebelum itu bolehkah aku minta satu hal darimu?"-Ucap putri Ellza.
"Dengan senang hati putri!"
"Aku minta agar kamu bisa menerima keputusanku apapun itu nantinya bagaimana Zeint apa kamu sanggup?"
Dengan hati yang masih ragu karena syarat itu begitu ambigu Zeint mengangguk pelan dengan harapah hal itu dapat mengurangi kegelisahan sang majikannya.
Putri Ellza tersenyum simpul lalu menghela nafas panjang seakan ia baru saja memantapkan keputusannya untuk esok hari.
Zeint mengambil makanan di sampingnya lalu menyodorkannya kepada putri Ellza.
"Baiklah karena anda sudah baikan lebih baik anda makan dulu putri karena tidal baik jika harus menyiksa diri sendiri!"
"Huhhh aku tidak lapar Zeint!"-Tegas putri Ellza sedikit cemberut.
"yayaya saya mengerti tapi anda harus tetap makan agar tidak membuat orang lain khawatir!"-Zeint tak menghiraukan hal itu dan masih menyodorkan piring penuh makanan tersebut.
"Baiklah aku makan Zeint tapi dengan syarat kamu harus menyuapiku!"-Pinta putri Ellza manja.
"Ehh anda bukan anak kecil lagi loh!"-Zeint mencoba menolak karena merasa malu melakukan hal itu.
"Yasudah aku tidak akan makan \=/ !"
"Huuuaahhh ya ya ya baiklah putri....."-Ucap Zeint dengan nada lemas.
__ADS_1
"Wanita makhluk paling rumit dipahami ya ....itu kata-kata yang aku dengar dulu!"-Seru Zeint dalam hati sambil menyuapi majikannya.
*****
Zeint keluar dari kamar putri Ellza setelah selesai melakukan tugasnya. Ia kemudian berjalan ke halaman kerajaan untuk menemui Bernald yang mungkin sedang melatih para bawahannya disana.
"pagi tuan Bernald!"-Sapa Zeint sambil berjalan mendekati Bernald yang sibuk memimpin regunya latihan.
"Pagi juga tuan Zeint...mau ikut latihan juga?"-Balas Bernald sembari menyarungkan pedang besar di punggung.
"Tidak perlu karena saya sudah latihan setiap malam!"-Ucap Zeint yang kini menatap para bawahan Bernald.
"Ngomong-ngomong tuan Bernald tumben sekali banyak perajurit yang ikut berlatih?"-Tambah Zeint sambil mengalihkan pandangannya kesudut lain.
"Oh ya ini sudah biasa tuan Zeint karena sebentar lagi Empat Kesatria Mata Angin kerajaan akan segera kembali kemari!"-Jelas Bernald.
"Eh saya kira anda adalah kesatria kerajaan!"-Balas Zeint dengan nada kaget.
"Hahaha jangan bercanda tuan Zeint saya hanya bawahan putri Ellza bukan termasuk golongan mereka yang sangat kuat!"-Tawa Bernald merespon ucapan Zeint.
"Eh.....!"
Empat Kesatria Mata Angin adalah para Pemimpin pasukan kerajaan Aquas yang langsung di perintah langsung oleh raja Deltino.
Mereka adalah orang-orang terkuat di kerajaan tersebut yang pangkatnya lebih tinggi dari pada Bernald.
"Mereka sangat menakutkan tuan Zeint terlebih lagi putri Naga merah Angin timur, dia sangat tak bisa di ajak kompromi karena sifatnya yang begitu dingin!"-Tambah Bernald dengan nada serius.
"Wahhh itu sangat merepotkan !"-Komen Zeint.
"Ya seperti itulah di tambah dengan senjata Kapak iblis miliknya yang mempunyai jiwa menjadikan beliau sangat di takuti oleh seluruh penjuru negri ini!....jadi tuan Zeint jangan sampai anda membuat dia marah"-Pinta Bernald.
Zeint mengangguk faham dengan peringatan dari Bernald tersebut melihat ekpresi wajah Bernald yang mengatakan kejujuran.
Suara terompet terdengar sangat nyaring dari arah gerbang utama kastil. Para perajurit yang tadinya sibuk berlatih langsung berlari menuju ke arah gerbang dengan tergesa-gesa.
"Tuan Bernald ada apa ini?"-Tanya Zeint kebingungan dengan situasi saat itu.
"Yah... mereka sudah tiba!"-Ucap Bernald di ikuti keringat yang menetes melewati pipinya.
**Terimakasih atas segala dukungan para pembaca sekalian🤗.....Jika ada keritik dan saran bisa di ajukan di kolom komentar....! 😆
*Next chapter akan di jadikan 1 bab panjang silahkan tunggu Ya***..... 🥰
__ADS_1