Reincarnationem : The War Kingdom

Reincarnationem : The War Kingdom
chapter 19


__ADS_3

"Tidak...!!!!!"


Zeint berteriak dengan keras sehingga membuat dirinya terbangun dari alam mimpi.


Dengan segenap kekuatannya ia memalingkan wajah kesana sini mencoba bangkit dari tempatnya tertidur.


Suasana kini telah berubah, tak sama seperti terakhir kali ia membuka matanya.Kini hari sudah gelap dengan bintang-bintang di langit yang berhamburan.


"Apa aku pingsan lagi?"- Tanya Zeint sendiri sambil memegang kepalanya; mencoba mengingat kembali apa yang terjadi sebelum akhirnya ia pingsan.


"kalau tak salah aku mencoba menekan kekuatan Manaku habis itu....aku melihat mimpi tentang ingatan masalalu Zeint!"


Ia mengingat semua kejadian yang terjadi tersebut dengan jelas mulai dari awal hingga akhir.


Keringat dingin perlahan keluar dari balik kening Zeint saat kembali mengingat kejadian tersebut, Perasaan aneh terus bermunculan sampai-sampai membuat tubuh Zeint gemetar.


Zeint beranjak pergi dari sana sambil mengemas kembali barang-barangnya kedalam tas guna ingin kembali secepatnya ke Asrama mengingat hari ini telah larut malam.


Dengan langkah sedikit linglung ia berjalan perlahan, menyusuri hutan yang kini semakin gelap.


*******


Sesampainya di dekat asrama Zeint seperti biasa masuk lewat jendela kamarnya karena tak ingin ada keributan jika ia sampai lewat di pintu depan.


Zeint melompat ke atas pohon berjalan melewati dahan yang rindang hingga pada akhirnya sampai di balik jendela kamarnya.


Lentera dinyalakannya guna mengakhiri kegelapan di kamarnya tersebut.


Zeint langsung membaringkan badannya di atas kasur sambil menatap langit-langit.


"Ada yang aneh ....!"-Ucap Zeint saat baru menyadari perubahan pada dirinya.


Ia mengambil Cermin dari balik laci meja memastikan tak ada yang berubah namun itu tak seperti yang di harapkannya karena kini rambut Zeint berwarna putih keseluruhan. Walaupun begitu matanya tak lagi mengerikan seperti saat itu.


"Apa lagi ini?"


Zeint mengerurkan kening sambil terus memperhatikan bayangannya di cermin.


Rambut panjang berwarna putih dengan bola mata normal berwarna hitam terlihat layaknya manusia normal di dapatinya.


Di saat itu pula Zeint sadar jika Mana miliknya sudah tenang tak lagi mencoba keluar meskipun kini rambutnya memutih.


"Zeint terimakasih sudah membantuku....berkat bantuanmu akhirnya aku bisa mengendalikan kekuatan ini!"-Ucap Zeint bersyukur karena teringat saat dia kehilangan kesadaran ada Zeint yang membantunya.

__ADS_1


"Tapi jika terus putih begini gawat donk bisa-bisa imageku berubah derastis!"-tegas Zeint sambil memasang wajah sedikit kesal.


"Topeng!"


Ia mengambil topengnya dari dalam tas dan langsung memakainya kembali.


Sesaat setelah memakai topeng itu rambut Zeint mulai menghitam kembali ,butuh waktu 5 menit sehingga itu tertutup warna hitam sepenuhnya.


"Topeng ini hebat sekali....terimakasih kak Albert!"


Mana Zeint sekarang lebih mudah di gunakan dari pada sebelumnya. itu dapat dirasakan dengan cara mengatur waktu perubahan rambut miliknya.


Zeint meletakkan lagi topengnya saat rambutnya sudah menghitam dan mencoba mengeluarkan mana dan hasilnya mana itu lebih setabil.


Zeint berganti ke mode rambut putih dan melakukan hal yang sama dan hasilnya sungguh luar biasa hebat. Mana itu bisa dua kali lebih besar dari pada saat rambutnya hitam membuat Zeint memasang wajah takjub akan hal tersebut.


Walaupun bisa berganti ke mode rambut hitam ke putih dengan konstan tapi untuk kembali dari putih ke hitam masih perlu menggunakan topeng. Dan juga, waktu rambut hitam masih sama yaitu 1 jam sebelum berubah dengan sendirinya.


Zeint tak terlalu memikirkan hal tersebut yang jelas sekarang dirinya sudah mulai menguasai kekuatannya yang bisa menuntunnya mencari keberadaan Laura.


*********


Pagi hari menjelang Zeint pergi ke akademi seperti biasa dengan selalu di temani Lux dan Ardy dari Asramanya.


Saat melewati asrama perempuan Nerfa menunggu mereka dan langsung berjalan bersama ke Akademi.


Tak butuh waktu lama buat Zeint akrab dengan teman sekelasnya karena di kelas Zeint termasuk murid terpandai saat mengalahkan peringkat pertama gadis yang duduk di sebelahnya yaitu Miya de Vansol.


Miya putri bangsawan dari keluarga Vansol dimana keluarga Vansol sendiri terkenal akan ahli perdagangan yang membuat dia sangat ahli dalam masalah akademik terutama tentang perhitungan.


Zeint mengalahkannya karena di dunia ini tak ada yang namanya kuadrat,Aljabar dll. yang membuat Zeint bisa mengalahkan kepintaran Miya dengan memanfaatkan hal tersebut.


"kalau dia sampai hidup di duniaku yang dulu pasti dia akan sangat pintar!"-tegas Zeint dalam hati.


Miya tipe orang yang selalu berusaha dan ingin selalu menang tapi ia juga anak yang baik disaat ada yang bertanya pasti dia akan merespon dengan lembut.


"Zeint itu rumus apa lagi?"-Tanya Miya yang menunjuk coretan Zeint di atas kertas.


"Oh ini Aljabar begi cara menyelesaikan yang itu menggunakan ini.....!"-jelas Zeint.


Mereka berdua sudah akrab satu sama lain meski terkadang mereka bertengkar karena perbedaab pendapat.


Saat lonceng kota berbunyi Zeint keluar dari ruangan kelasnya dan menghampiri Nerfa dan yang lain di halaman untuk pergi makan bersama.

__ADS_1


Zeint sering membantu mereka saat ada misi dengan imbalan teraktir makan siang; yang membuat Nerfa,Lux,dan Ardy menjadi kelompok terkuat di tingkatannya.


"Baiklah ayo Zeint kita makan siang!"-ucap Nerfa yang sudah menunggu kedatangannya.


"Ok!"


Mereka kemudian berjalan keluar dari Akademi untuk segera menuju ke kedai langganan mereka di tengah kota.


Suasana Ramai kerap teejadi setiap hari namun untuk kali ini berbeda karena Zeint melihat banyak orang asing yang datang.


"Nerfa kenapa sekarang banyak orang asing kemari?"-Tanya Zeint penasaran.


"Oh iya sekarang ada GUILD TURNAMENT yang diakanan Tuan Vamilon setiap tahunnya jadi mungkin mereka datang untuk ikut berpartisupasi!"-jelas Nerfa.


"eh.....!"-Balas Zeint sambil memperhatikan orang-orang yang terlihat kuat itu.


"Dan lagi untuk tahun ini Tuan Vamilon menambah hadiahnya sebesar 50 koin emas (50 juta) loh!"-Tambah Lux.


"Apa?"- ucap Zeint kaget matanya kini di penuhi dengan uang.


"Kalau begitu kita daftar saja siapa tau menang!"-Tambah Zeint yang disambut gelak tawa mereka bertiga.


"Hahahaha itu mana mungkin Zeint soalnya para Murid akademi dilarang ikut berpartisipasi!"-Jelas Nerfa.


"Di tambah lagi itu di adakan untuk merekrut anggota Guild jadi bagi kita para siswa mana bisa!"-Sela Lux sambil terus memegang perutnya.


Wajah semangat Zeint kini berubah menjadi suram karena mendapati kenyataan tersebut.


Memang ia tak masalah jika tak punya uang untuk makan karena selalu ikut membantu Nerfa dan yang lain. Namun Zeint merasa tak enak sendiri jikalau terus menerus memopang kehidupnya kepada mereka.


Zeint berjalan dengan lemas menuju kedai makanannya. Langkahnya sangat tak enak untuk di pandang sampai-sampai membuat Nerfa merasa kasihan kepadanya.


"sudahlah semangat Zeint jangan memasang wajah suram begitu...topengmu sudah suram jangan di tambah suram lagi!"-Ucap Nerfa sambil melepas topeng Zeint.


"Nerfa ayolah kembalikan topengku!"-ucap Zeint meminta.


"Makanya kamu senyum donk nanti akan aku kembalikan!"-Tegas Nerfa yang terus memainkan topeng milik Zeint.


"Yayaya!"


Zeint memasang senyuman meski di kala itu ia paksakan sebisa mungkin. Nerfa merasakan keterpaksaan itu namun tetap mengembalikannya kepada Zeint. Yah itu wajar saja jika harapan di depan mata sudah terlihat namun tak bisa di raih karena ada beberapa halangan pastinya membuat kita frusrasi.


Zeint memakai kembali topengnya dan berjalan seperti biasa.

__ADS_1


Mereka paham akan perasaan Zeint yang frustasi namun mereka tidak tau akan sebuah rencana Zeint yang di sembunyikannya dari balik topeng itu.


"Hehehhe mana sudi aku melepas uang 50 juta itu heheheheh!"-Ucap batin Zeint.


__ADS_2