
Pagi itu terjadi keramaian di dekat gerbang istana dimana para perajurit kerajaan berjejer membentuk barisan di sisi jalan menanti akan kehadiran para panglima kesatria mata angin.
Suara sambutan yang meriah terdengar hingga setiap sudut kastil ,orang-orang yang tadinya sibuk mengurus persiapan acara bergegas ikut dalam barisan tersebut.
"Wahh..... heboh sekali!"-Ucap Zeint yang juga ikut dalam barisan tersebut.
Dari balik gerbang terlihat beberapa orang menaiki kuda tempur berjalan masuk bersama dengan beberapa perajurit berarmor lengkap di belakangnya.
Suara derap langkah kuda membuat hawa disekitar berubah. Zeint melirik perajurit yang ada dengan seksama.
Mereka teelihat sangat gembira namun ada aura ketakutan juga yang terpancar keluar dari tubuh mereka.
"Para Kesatria Mata Angin telah tiba beri hormat.!!!"-Ucap Bernald keras yang di ikuti dengan tarikan pedang seluruh perajurit ke atas.
Zeint melirik ke arah para kesatria Mata Angin tersebut dimana yang paling depan ada seorang gadis berambut merah dengan tanduk di kepalanya sedang tidur sambil mengendarai kuda.
Di belakangnya lagi seseorang pemuda tampan berambut hitam berponi menyamping kiri sibuk dengan buku tebal di tangannya yang baru saja turun dari kuda, bersamaan dengan mbak-mbak seksi di sampingnya yang tak dihiraukan.
Mbak seksi tersebut berambut coklat panjang sebahu memegang tongkat di salah satu tangannya dengan sebilah pedang di pinggul.
Dan yang paling terakhir turun ialah pemuda berpakaian serba hitam dengan selendang panjang melingkar di leher yang menutupi sebagian wajahnya dengan senjata dua bilah pedang bersarung di belakang punggung.
"Siapa gadis kecil itu?"-Tanya Zeint kepada Bernald yang masih dengan posisi hormat.
"Beliau adalah pemimpin mereka putri Maya Pendragon atau yang lebih di kenal dengan Putri Naga Merah"-Jelas Bernald.
"Eeeeeeeee!"-Seru Zeint kaget mendengar hal tersebut namun ia memilih diam karena mereka sedang berjalan melewatinya.
"Putri ayo kita segera menghadap ke baginda raja!"-Ucap kesatria yang berpakaian serba hitam tersebut sambil menggendongnya turun putri naga dari kuda.
Putri naga tetap tidur walaupun dirinya sudah di gendong oleh kesatria berpakaian serba hitam tersebut, dia mirip seperti anak kecil yang di pangku oleh sang ayah untuk di pindahkan ke ranjangnya.
Disaat putri naga melewati Zeint ia sempat membuka mata menatap Zeint lalu kembali menutupnya lagi seakan-akan ia mengetahui sesuatu tentang Zeint.
Para kesatria itu pun masuk kedalam kastil singgasana untuk menemui sang raja. Sedangkan gerombolan lainnya bubar dan kembali ke tempat mereka masing-masing.
"Tuan Bernald mereka terlihat sangat kuat ya!"-Ucap Zeint kepada Bernald.
"Ya tentu saja!"
Bernald kemudian menjelaskan kepada Zeint secara singkat tentang mereka berempat di mulai dari pemuda pemegang kitab sihir Alcanus Kesatria Angin Barat yang bernama Romeo Thivandra. Dia ahli dalam sihir tak ada yang bisa melebihinya dalam hal sihir.Namun karena sifatnya yang cepat marah dia selalu bersikap seenaknya sendiri.
Yang kedua ialah kesatria Angin Selatan Nyonya Silviava Gerrindale. Dia ahli dalam seni berpedang dan juga seni sihir. Memiliki sifat ke ibuan dan suka sama anak gadis kecil.
Yang ketiga Kesatria Angin Utara Qier , Dia ahli dalam aliran pedang ganda dan juga seorang assasin. Memiliki sifat tak banyak bicara.
Yang terakhir Kesatria Angin Timur sang Putri Naga Maya Pendragon, Dia Sangat kuat karena memang keturunan klan naga timur di tambah dengan senjata kapak iblis membuat dia tak terkalahkan walaupun berhadapan dengan ketiga kesatria lainnya.
"Ingat tuan Zeint jangan sampai anda membuat mereka tersinggung karena itu sangat berbahaya!"-Tegas Bernald kembali.
"Ok saya paham.... terimakasih atas informasinya tuan Bernald!"-Balas Zeint yang kemudian berlari ke sudut tembok kastil.
Zeint pergi ke goa di bawah air terjun raksasa tepat belakang kastil kerajaan dimana tempat itu tak sengaja di temukannya saat memandangi pemandangan air terjun dari atas menara kastil.
Tempat itu menjadi tempat favorit Zeint berlatih karena tak ada seorangpun yang akan mengganggunya.
"Baiklah mari kita buat sesuatu dulu!"-Ucap Zeint sambil mengeluarkan lima senapan dari balik sihir estorage miliknya.
Ia menyalakn api sebagai penerangan dan langsung mengetes seluruh senapan yang ia ambil di waktu penyerangan putri Ellza di hutan.
Dor....
Dorr...
"Hemmzz senapan disini tidak begitu meyakinkan....memang ledakannya sangat besar namun jaraknya serangangannya cuma efektif 15 meter....pantas saja di waktu itu para pemanah di temoatkan di bagian belakang!"-Ucap Zeint sambil menimang-nimang senapan tersebut.
"Baiklah kita coba bongkar dulu siapa tau nanti aku bisa membuat senjataku sendiri!"
Zeint melepas setiap bagian bagian senapan hingga tersisa kerangkanya saja. Dia memperhatikan setiap bagiannya dengan seksama sembari mengingat kembali ingatan Yu.
"Dengan ini mungkin aku bisa membuatan senapan jarak jauh seniper tapi kayaknya lebih baik membuat senjata semi otomatis saja soalnya mengingat disini tidak mungkin ada scope tapi sepertinya disini ada teleskop mungkin itu bisa digunakan!"
Zeint berfikir sejenak dengan apa yang hendak ia akan buat mengingat bahan dan peralatannya yang sangat minim tersebut.
"Baiklah kita buat saja senapan lawas M70 , kaliber 7,62 springfield, panjang laras 660 MM, yah itu saja pasti bisa aku buat!"-Tegas Zeint yang mulai membuatnya.
*****
Saat hari sudah menjelang sore Zeint berhasil membuat senjatanya beserta 15 peluru sebagai uji coba.
"Untuk percobaannya besok saja lagian aku masih butuh teleskop!"-Seru Zeint sambil memasukkan senaoan tersebut kedalam sihir estorage miliknya.
Zeint melompat menyusuri bebatuan lalu memanjat dinding tembok kastil untuk segera kembali ke kamarnya.
Malam itu ada sebuah jamuan makan malam bersama para kesatria mata angin yang di hadiri oleh sang raja beserta keluarga besar kerajaan.
Zeint tak begitu perduli dengan jamuan tersebut dan memilih berdiam di atas menara dekat dengan kamar putri Ellza sambil memakan beberapa roti yang sempat ia minta kepada bibi Jea.
Malam semakin larut dan lampu kamar putri Ellza baru saja dimatikan pertanda jika dia akan segera beristirahat.
Mendapati itu Zeit bergegas kembali ke ruangannya yang berada tepat di bawah kamar putri Ellza.
Trangg.....
Terdengar suara kaca pecah dari kamar putri Ellza yang membuat Zeint mengurungkan niatnya beristirahat dan langsung berlari ke ruangan putri Ellza.
"Apa yang kalian lakukan kepada tuan Putri....!"-Teriak Zeint saat mendapati dua orang bertudung sedang memegang erat putri Ellza dengan salah satu orang lagi sedang mengarahkan sebuah batu keristal putih tepat di atas kening putri Ellza.
Melihat Zeint mereka hendak melompat dari jendela yang pecah tersebut.
Namun dengan segera Zeint melemparkan belatinya dan berhasil menancap tepat di dada orang yang memegang batu keristal tersebut hingga membuatnya tewas seketika.
Zeint berniat mengejar mereka namun tak bisa ia lakukan karena kondisi putri Ellza tersebut.
Tubuh putri Ellza memancarkan sebuah aura aneh dimana Mana yang dia miliki terus menerus keluar dari tubuhnya.
__ADS_1
Disaat itu datang Bernald dengan tergesa-gesa mendobrak masuk pintu kamar putri Ellza.
Brukkkk
"Zeint kenapa putri Ellza?"-Tanya Bernald dengan nafas terengah-engah sambil memandangi putri Ellza yang tak sadarkan diri.
"Tadi ada orang mencurigakan berhasil masuk dan membuat putri seperti ini!"-Jelas Zeint sambil menunjuk ke salah satu orang yang berhasil ia bunuh.
Bernald berjalan ke mayar tersebut lalu memungut batu seukuran telapak tangan anak kecil itu dengan raut wajah kaget.
"Gawat !"-Ucap Bernald yang langsung menghancurkan batu keristal tersebut dengan ganggang pedangnya.
"Kenapa Bernald ?"-Tanya Zeint penasaran.
"itu adalah batu keristal zero dimana kristal itu mampu mengeluarkan secara paksa Mana seseorang!"-Jelas Bernald sembari memegang tangan putri Ellza dengan erat.
"Putri Ellza memiliki kelainan dimana Mana miliknya tumbuh melebihi ukuran manusia normal yang membuat beliau tidak di perbolehkan menggunakan sihir sebab akan berdampak pada kematian!"-Tambah Bernald yang kini meneteskan air mata.
"Kematian karena kelebihan mana katamu?"-Ucap Zeint kaget.
"Andaikan ada cara agar bisa mengambil Mana yang berlebihan ini mungkin putri Ellza akan hidup bahagia!"-Bernald kembali menangis.
Cetarrrrrrrrrrr
Duarrrrghhhh....
Suara petir bersamaan dengan suara dentingan adu pedang kemudian terdengar oleh Zeint dan Bernald.
Zeint segera menuju jendela untuk memastikan disana ia mendapati api berkobar di berbagai tempat beserta para perajurit yang kini sedang bertarung.
"Apa maksudnya ini...... Penyerangan?"-Ucap Zeint kaget dengan situasi tersebut.
"Ya kita diserang oleh pasukan milik bangsawan Grindele dan juga pasukan tak dikenal!"-Sela Bernald dengan nada berat.
Zeint menghadap kepada Bernald yang masih memegang erat tangan putri Ellza.
"Tuan Bernald izinkan saya menjaga tuan putri sementara itu anda pimpin pasukan anda untuk menghentikan para pemberontak tersebut!"
Bernald memalingkan wajah ke arah Zeint. Raut wajahnya kini mengatakan tak tau harus berbuat apa.
"Kumohon!"-Tambah Zeint meyakinkan.
"Baiklah kuserahkan tuan putri padamu Zeint!"-Balas Bernald menyetujui permintaan Zeint dan berlalu pergi meninggalkan mereka.
Saat Bernald sudah tak lagi ada disana Zeint membuka topengnya dan mulai berfikir keras karena ia ingat bahwa tubuhnya memiliki keanehan menyerap mana seseorang.
"Jika waktu itu aku berusaha menutupnya maka akan aku lakukan sebaliknya!"-Ucap Zeint sembari memfokuskan fikirannya seperti saat pertama kali berlatih.
Wajah Zeint terlihat tak karuan kedua alisnya hampir saling bersentuhan, di ikuti dengan embun peluh di bagian keningnya.
Zeint melihat dua kotak Mana di dalam dirinya. Ia mencoba meraih sekuat tenaga salah satu kotak tersebut menggunakan setiap inci tangannya.
Swasss....
Kotak itu berhasil di bukanya alhasil segumpal asap hitam dengan cepat menerjang keluar.
Ia perhatikan noda merah tersebut sambil menahan rasa nyeri di sekujur tubuh sesaat setelah ia membuka mata.
"Darah.... mungkin ini efek sampinya tapi biarlah..!"
Zeint menatap cermin di sudut kamar putri Ellza dengan penerangan cahaya samar dari luar jendela.
"Sepertinya aku berhasil!"-Zeint menatapi pantulan bayangannya yang kini memiliki mata hitam dengan pupil kuning keemasan.
Mana yang terus keluar dari tubuh putri Ellza dengan cepat terserap oleh Zeint Seperti halnya penyedot debu.
Cahaya yang tadinya menyelimuti putri Ellza kini mulai meredup bersamaan dengan wajah putri Ellza yang kembali tenang.
Perlahan mata putri Ellza terbuka menatap bingung sekelilingnya yang langsung berteriak kaget melihat seseorang berada di sampingnya.
"Siapa kamu?"-Putri Ellza bergerak menjauh dari sosok tak di kenalinya itu.
"Sepertinya anda sudah membaik putri!"-Seru Zeint yang masih diam tak bergerak.
Wajah putri berkedut sambil mencoba memperhatikan sosok itu.
"Zeint kenapa denganmu?"-Ucap putri Ellza dengan rasa khawatir.
Mendapati dirinya dapat di kenali oleh putri Ellza, Zeint pun merasa sedikit lega.
"Ini alasan saya sering memakai topeng tuan putri karena saya tidak mau menunjjukkan sisi menjijikkanku ini kepada anda!"
Grrarrarr....
Suara auman nyaring tiba-tiba terdengar di ikuti dengan hawa panas kobaran api dari halaman depan kastil.
"Apa lagi ini?"-Zeint terpaku melihat seekor naga raksasa menghamburkan nafas berselimut api ke seluruh penjuru tempat.
"Maya!"-Seru putri Ellza sambil menggigit selimut.
"Anda segera berlindung aku akan kesana!"-Ucap Zeint yang langsung melompat keluar meninggalkan putri Ellza disana.
Zeint berdiri di atas puncak menara menerawang jauh sekitar naga tersebut memastikan situasi dan kondisi.
Terlihat dari atas 3 kesatria yang tadi di lihatnya sedang bertarung melawan sang naga dengan serius.
Kestria angin barat membuka buku sihirnya sambil mengarahkan tangan ke badan sang naga.
Dari sana muncul sebuah angin yang berubah menjadi tornado menerjang ke arah sang naga namun tidak berdampak apa-apa
Kesatria angin selatan Silviava juga merapalkan mantranya, dari tongkatnya muncul kobaran bara api besar berbentuk bulat menerjang ke tengah tornado milik kesatria barat sehingga terlihat seperti tornado api.
Graarrrrr...
Naga tersebut menggeliatkan tubuhnya dengan wajah yang terlihat marah.
__ADS_1
Dari rahang sang naga terlihat percikan api lewat sela-sela taringnya mulai berkumpul lalu sebuah semburan api mengarah langsung kepada 3 kesatria tersebut.
Dengan sigap kesatria angin utara Qier menarik temannya lalu menghilang seketika dari amukan nafas naga tersebut.
Naga itu menggepakkan sayapnya beberapa kali hingga membuat tubuhnya terangkat melayang lalu berlalu pergi menuju ke area perkotaan.
"Gawat!"-Seru Zeint yang langsung berlari di atas pagar tembok istana secepat mungkin.
Zeint mengeluarkan senapan rakitannya dari sihir estorage mengisi magazine dengan lima butir peluru sambil terus berlari menyusuri dinding tersebut.
Sang Naga masih terbang mengitari perkotaan itu sambil menyemburkan api dari mulutnya ke arah bangunan yang ada disana.
Kericuhan terjadi lagi suara teriakan menggema di seluruh penjuru tempat bersamaan dengan kobaran api yang melahap sekitarnya.
Zeint Melompat ke gerbang utama dan terus berlari mengejar naga itu dengan cepat. Ia kemudian memanjat bangunan tinggi di muka kota dan langsung memasang ancang-ancang menembak.
ckrekk..
"Nona naga maaf jika anda menjadi bahan percobaan!"
Jarak mereka sekitar 150 meter Zeint mengarahkan mulut senapan ke bagian lengan sayap sang naga, ia membidik hingga posisinya tepat di ujung penanda.
"Dorrr....!"
Peluru pertamanya melenceng jauh dari sasaran melewati bagian atasnya.
"Sial memang butuh Scope!"-Keluh Zeint yang kembali mencari posisi yang lebih dekat.
Zeint melompat ke bangunan di depannya begitupun seterusnya ia lakukan berulang kali hingga jarak Zeint dan sang naga hanya sisa 80 meter saja.
krekkk..
Selongsong peluru kosong keluar dan di ganti dengan peluru kedua.
Zeint kembali membidik tempat yang sama seperti sebelumnya.
Dorrrr....
Plingg..
Peluru kedua terkena di bagian bawah lengan sang naga namun terpental mengingat sisiknya yang begitu tebal.
"Hah percuma dia keras sekali!"-Ucap Zeint yang menyerah untuk menembak.
Sebuah cahaya meluncur ke atas langit setelah itu gemuruh hujan mulai terdengar. Zeint menatap ke asal cahaya tersebut dan disana ada 2 kesatria mata angin sedang melancarkan sihir hujan untuk meredam api di sekeliling kota.
"Nice !"-Ucap Zeint kembali fokus kepada sang naga.
Zeint teringat akan pedagang yang ia temui di hutan yang tiba-tiba pingsan saat berada dekat dengan dirinya.
"Nah itu bisa di coba!"-Zeint kembali berlari mendekati sang naga dengan cepat.
Kedatangan Zeint dirasakan oleh sang naga hingga dirinya berpaling melancarkan semburan ke arah Zeint.
"Gawat... Es!"-
Sebuah dinding es muncul di hadapan Zeint sehingga menghalau semburan api milik sang naga.
"Ehhhh... ternyata aku masih bisa menggunakan sihir es.!"-Ucap Zeint yang kembali berlari mendekat.
Ice lancer
Sebongkah es runcing muncul di sisi Zeint yang langsung di arahkan kepada sang naga.
Gbbruukkk... Naga tersebut jatuh kehilangan keseimbangan karena Zeint mengarahkan es tersebut ke bagian sayap lalu mencairkannya dan di bekukannya lagi hingga menyelimuti sebagian sayapnya.
Sang naga menatap Zeint marah ia menyemburkan nafas api lagi meski tubuhnya kini terjatuh di atas puing-puing bangunan roboh.
Shiled ice
Zeint membuat perisai di tangan kanannya sambil menerobos masuk melewati semburan api tersebut.
Sesaat naga itu terhenti Zeint melompat ke bagian sayap sang naga dan berlari hingga sampai di bagian punggung dan lehernya.
"Groaarrrraaa..."-Teriak naga itu yang mulai meronta-ronta.
"Baik nona naga seberapa lama anda bisa bertahan?"-Ucap Zeint sombong sambil berpegangan erat.
Sang naga mulai tak terkendali tubuhnya menggeliat hebat yang membuat Zeint terpental hingga jatuh.
Sedangkan naga itu mulai menggepakkan sayapnya lagi dan melesat lurus keatas hingga hilang dari pandangan Zeint yang terhalang hujan.
Zeint mencoba bangkit dari tempatnya terjatuh berguman kesal sambil menatap langit gelap dengan hujan.
"ah ternyata keras kepala juga dia!"
Sebuah titik hitam di langit-langit munjul yang mana titik itu semakin membesar.
"apa itu?"-Zeint memicingkan kedua matanya.
"Ehhhh itu orang tonggg!!"
Zeint bergegas menangkap jatuhnya orang tersebut agar tidak langsung menghantam tanah.
Buggg...
Zeint melihat orang yang berhasil di tangkapnya ,seorang gadis berambut merah panjang dengan dua buah tanduk di kepalanya berada di pangkuannya tanpa busana dengan keadaan pingsan.
"Wahhh jika ketahuan begini saat di duniaku dulu pasti bakalan berabe nih!"-Ucap Zeint.
"Adaww!!"-Teriak Zeint saat telapak tangannya di gigit oleh gadis tersebut.
"Tunngggguuuuuuu bukannya dia kesatria angin Timur ??"-Zeint kaget setengah mati saat ia sadar jika gadis tersebut tak lain adalah pemimpin pasukan kesatria kerajaan.
Dengan wajah bingung Zeint menoleh kesana kemari tak tau apa yang harus ia lakukan.
__ADS_1
Dari balik derasnya hujan ia melihat 3 bayangan hitam mendekat ke arahnya, dengan segera Zeint meletakkan gadis tersebut dan langsung pergi menghilang meninggalkan dia disana.