
Lengkingan suara teriakan terdengar dari arah timur, dimana disana tempat para perajurit tuan Vamilon berada.
"Serang!!! Lindungi putri Naga!"
Derapan langkah kaki yang berjumlah ratusan orang berlari dengan cepat dan langsung mengelilingi Zeint dan juga piramida tempat putri Naga Maya berada.
Zeint tersenyum dengan senangnya mendapati segerombolan perajurit yang berdatangan tersebut.
"Zeint sadarlah ini sudah berakhir!"-Tuan Vamilon berucap lantang kepada Zeint yang masih berdiri di atas balok es setinggi 3 meter itu.
Pandangan Zeint teralihkan kepada asal suara itu, namun hanya membalas dengan senyuman saja dan malah menjilati bilah belati di tangannya.
Respon Zeint yang seakan menganggapnya juga musuh membuat tuan Vamilon menarik pedang yang tersarung di pinggul kirinya dengan tegas.
Wajah yang penuh dengan ketegangan sangat terlihat jelas ,dimana ia harus berulang kali menahan ludah yang terus keluar.
Krekkk...kreeekkk..
Suara retakan bersama dengan getaran kecil terjadi di kala itu. semua orang yang berada di sana mulai mencari-cari sumber getaran tersebut yang mana itu terasa dari piramida es tempat Maya terperangkap.
Pranggg.....
Piramida es itu hancur berkeping-keping di ikuti oleh sesosok naga merah yang langsung menerjang keluar dari sana.
Grooaaarrr..
Naga tersebut terbang melesat ke arah Zeint lalu dengan tangannya meremas tubuh Zeint dengan keras dan membawanya terbang menuju langit malam.
Zeint yang tak bisa menghindar meronta-ronta dari genggaman keras tangan sang naga Maya itu sebisa mungkin. Namun fisik yang tak mendukung hanya bisa berteriak kesakitan saja.
Mendapati hal itu tuan Vamilon menyarungkan pedangnya kembali, lalu mulai berbalik menghadap pasukan di belakangnya.
"Kirim utusan kepada baginda raja agar bisa segera menuju kemari! dan juga segera menyingkir dari sini karena firasatku mengatakan bahwa akan terjadi hal yang berbahaya!"
Memahami perintah sang atasan para perajurit tersebut kembali menuju ke kediaman tuan Vamilon. Sedangkan beberapa orang menunggangi kuda dan langsung melaju cepat ke arah timur.
"Kumohon sadarlah Zeint...!"-Ucap batin Vamilon sembari menatap naga yang terbang semakin tinggi itu.
Maya terbang dengan ketinggian sekitar 1000 kaki dari permukaan tanah. Ia membawa tubuh Zeint tersebut agar dapat mengurangi banyaknya korban lagi.
Graaaaarrrr...
__ADS_1
Raungan kesakitan dari Maya terdengar keras dimana di akibatkan oleh pergelangan tangannya yang perlahan membeku sehingga sepontan Maya melepaskan genggamannya.
Zeint terjun bebas dari atas langit dengan cepat. Maya yang tak ingin melepas Zeint memutar badan naganya mengejar Zeint.
Namun saat hampir membentur permukaan tanah Zeint mengacungkan tangan kanannya ke arah permukaan dan cling Zeint menghilang begitu saja.
Maya kebingungan dengan apa yang terjadi, kepalanya clingak-clinguk menatap dataran gelap itu dengan seksama namun tak menemukan keberadaan Zeint sama sekali.
Sebuah es runcing sepanjang 1 meter muncul dari dalam tanah melesat cepat ke arah Maya yang sedang melayang di langit.
Serangan yang tiba-tiba itu tak di rasakan Maya, pada akhirnya mengenai sayap Maya hingga membuat ia hilang ke seimbangan lalu terjatuh.
BUMM...
Pendaratan yang tak setabil membuat tubuh Maya terjerembab menyosor permukaan tanah di hutan perbatasan.
Zeint muncul dengan 3 bilah tombak es dari arah samping tubuh Maya. Jarak yang hanya kurang lebih 20 meter membuat Maya harus segera bangkit agar dapat menghalau serangan yang akan mengarah kepadanya.
Sesuai dengan dugaan itu, 3 buah tombak es itu melesat cepat ke arah Maya.
Agar dapat menghalau serangan itu Maya menyemburkan api dari mulutnya sehingga membuat 3 bilah tombak es tersebut meleleh sebelum mengenai Maya.
Sudah hukum alam jika es dapat dengan mudah di cairkan oleh api yang membuat serangan Zeint terasa percuma saja.
Maya yang mengetahui lokasi Zeint mengibaskan ekornya yang panjang tepat ke tubuh Zeint, yang membuat Zeint terpental menabrak beberapa pepohan sebelum terhenti.
"Arkhhm..."
Mulut Zeint sekali lagi mengeluarkan cairan merah. Badan yang menyandar di pohon itu mencoba bangkit kembali. Tumpuan pada kakinya terasa sangat berat yang membuat beberapa kali terjatuh sampai pada akhirnya bisa berdiri tegak.
Maya menghampiri Zeint dan memandang tubuh penuh luka itu dengan seksama.
Keheningan terjadi beberapa saat, tak ada yang bergerak mereka hanya menatap satu sama lain dengan seksama.
Huaaaaaaaaaaaaaaaa
Zeint berteriak keras melengking ke seluruh penjuru arah sehingga membuat Maya terheran-heran.
Serpihan es muncul di atas Zeint, berkumpul semakin banyak hingga terbentuk sebuah pedang es raksasa melayang di atas Zeint.
Maya yang merasa akan adanya bahaya kembali bersiap. Dari dalam mulutnya mulai terpancar warna merah api menyala sambil berderu keras memandangi Zeint.
__ADS_1
Pedang Es raksasa tersebut mulai meluncur ke arah Maya yang langsung disambut sebuah semburan api bersekala besar dari mulutnya namun.
Pedang es tersebut menghilang sebelum menyentuh semburan apinya dan tiba-tiba muncul tepat di atas Maya dalam sekejab.
Maya mencoba menghindar akan tetapi karena serangan di lancarkan pada sudut butanya akhirnya dengan mudah tertancap di punggung Maya.
Graaaarrrr!!!
Auman kesakitan kembali terdengar.
Zeint tersenyum puas sembari mengelap mulutnya yang bernoda darah itu menggunakan punggung tangannya.
Satu bilah pedang es raksasa kembali lagi muncul di atas Zeint yang mana tanpa basa basi melaju cepat ke arah perut Maya.
Crangg....
Kapak iblis Maya 'Boses' tiba-tiba muncul menghancurkan pedang es milik Zeint dalam sekejab.
Zeint menatap geram ke arah Maya dan sekali lagi membuat bilah pedang es baru.
Kini bukan hanya satu pedang saja melainkan dua bilah pedang es yang sama persis melayang di atas tubuhnya.
Kedua orang itu bersiap menghadapi satu sama lain namun tiba-tiba sebuah cahaya putih di langit malam muncul secara tiba-tiba.
Pris**on Seal Serenity**
Lingkaran sihir cahaya putih mengambang di langit atas mereka berdua, sambil mengeluarkan butiran butiran putih yang berjatuhan mirip seperti salju musim dingin.
Wajah Zeint terkena butiran tersebut namun entah mengapa setiap butiran itu membuat pandangannya semakin dan semakin berat.
Rasa kantuk tak tertahankan di dapati mereka berdua sebelum pada akhirnya mulai jatuh terkapar di atas tanah.
Maya menyusut kembali hingga menampakkan lagi wujud gadis kecilnya itu beserta luka di bagian atas pinggul yang perlahan mengeluarkan darah.
"Segera tangani mereka!"-Perintah seseorang dari balik gelapnya hutan, yang tak lain adalah kesatria Angin Selatan Silviava Gerrindale.
Bersamaan dengan itu derap langkah kaki terdengar, terlihat beberapa orang memegang obor menghampiri Maya dan Zeint yang tertidur.
"Cih pada akhirnya kita juga yang harus turun tangan....!"-Seru kesatria Angin Barat Romeo Thivandra dengan nada kesal.
"Sudahlah jangan bahas hal itu Romeo ini juga kewajiban kita!"-Balas Silviava menenangkan.
__ADS_1
"Ternyata ada yang bisa membuat putri Maya harus menggunakan mode Fighter Dragon ya...! di tambah lagi sampai bisa melukainya. Sebenarnya dia itu siapa.?"-Sela Qier yang tiba-tiba muncul di dekat Silviava.
"Ya aku juga penasaran... di tambah dengan Tekanan Mana aneh yang tadi sempat aku rasakan membuat aku tak bisa berhenti memikirkannya!"-Balas Silviava yang kemudian menghampiri tandu tempat Maya dan Zeint di bawa.