Reincarnationem : The War Kingdom

Reincarnationem : The War Kingdom
chapter 31


__ADS_3

Malam itu berubah menjadi sebuah malam penuh darah dimana pertama kalinya bagi Zeint saat di dunia ini melihat sebuah pembantaian.


"apa yang terjadi?"-Zeint membuka pintu kereta dengan segera saat suar ricuh berubah menjadi dentingan suara adu pedang.


Dor..


dor..


Suara keras yang tak asing di dengar oleh Zeint bergema di balik gelapnya hutan yang penuh dengan pepohonan itu.


Dua orang perajurit yang ada di depan Zeint seketika terkapar tak bernyawa dengan aliran darah yang ikut keluar dari balik badan tubuh tak bernyawa itu


"yang benar saja apa yang terjadi disini?"-Zeint kembali masuk dan menarik tangan putri Ellza yang nampak sudah ketakutan.


"ada apa ini Zeint kenapa ada suara pertarungan?"-Tanya putri Ellza saat sudah keluar dari kereta.


Dor..


Sebuah tembakan kembali terdengar dekat yang mengenai kuda kereta di belakang Zeint.


Bernald berlari dari kerumunan perajurit dan langsung sigap berdiri di depan putri Ellza.


"Ada apa ini Bernald?"-tanya putri Ellza yang terus memegang tangan Zeint.


"kemungkinan kita diserang para pemberontak putri di mohon anda jangan jauh-jauh dari kami!"-Bernald memasang kuda-kuda siaga dengan pedang besarnya yang di acungkan kedepan tubuhnya sembari menerawang sekeliling jikalau ada serangan tiba-tiba mengarah kepada sang tuan putri.


Dor...


Sebuah tembakan mengarah tepat ke arah putri Ellza dengan cepat Zeint mengibas belati miliknya hingga membelah peluru itu menjadi dua.


Tak habis dengan itu hujan anak panah yang mengarah kepada mereka bertiga terlihat di langit gelap tersebut.


khyaaat....


Bernald mingibaskan pedangnya dengan sekuat tenaga. Hasil gibasan pedang besar miliknya menjadi sebuah angin berbentuk sabit yang langsung menghamburkan anak panah yang mengarah kepada mereka.


"Kalau begini terus tak akan selesai.....tuan Bernald tolong lindungi tuan putri biarkan aku yang akan menghadapi musuh yang bersembunyi itu!"-Ucap Zeint yang langsung melompat ke pepohonan di dekatnya dan menghilang dari pandangan mereka.


"ya serahkan padaku!"-Balas Bernald saat Zeint sudah tak nampak lagi.


Zeint melompati setiap pohon di depannya guna mencari para musuh yang menggunakan senjata jarak jauh.


Di balik semak-semak terlihat seseorang yang memegang senapan sedang membidik kearah Bernald.


Zeint melompat langsung ke belakang orang tersebut lalu menancapkan belatinya tepat pada tengkuk leher musuh tersebut.


arkhh....


Darah segar bak air mancur keluar dari leher musuh itu sesaat belati milik Zeint di tarik.


"Aku pinjam dulu senjatamu karena kamu tak pantas memegang senjata seperti ini!"-Ucap Zeint sambil mengambil senapan model kuno tersebut beserta amunisi yang tersimpan di pinggul orang itu.


Zeint melepas topengnya dan memasukkan kembali dalam sihir estorage miliknya.


"Baiklah ini akan aku selesaikan dengan cepat!"-Tegas Zeint dengan nada marah.


Zeint langsung mengerahkan sihir percepatan listrik miliknya sambil berlari di kegelapan hutan tersebut.


Dor..


dorr..


srass..


dorr.....


Empat orang telah tumbang lagi di tangan Zeint yang dari mereka semua adalah pemegang senapan.


Tak ada lagi suara tembakan yang menandakan seluruh orang yang menggunakan senapan telah berhasil di habisi olehnya.


Zeint kembali berlari semakin menjauh mencari para pemanah yang mungkin masih ada di belakang.


Di sebuah tempat tinggi Zeint melihat sekelebat bayangan seseorang yang mungkin para pemanah musuh, dengan segera ia melompat ke atas pohon dan memastikannya.


"hemm ku temukan kalian!"-Ucap Zeint yang kini langsung membidik salah satu di antara mereka.


Dor...Satu orang tumbang yang membuat formasi para pemanah itu mulai kacau.


Melihat ada kesempatan Zeint menerjang masuk ke tengah-tengah gerombolan itu tanpa ada rasa takut sekalipun.

__ADS_1


Bruukkk..


"Siapa kamu?"-Tanya seseorang dari mereka sambil mengacungkan anak panahnya ke arah Zeint dengan sedikit gemetar.


"Aku? entahlah siapa juga yang peduli? yang jelas aku disini untuk membereskan kalian karena kalian telah menyerang majikanku!"-Ucap Zeint sambil membuang senapan di tangan kanannya dan mengganti dengan belati.


"Mati kau!"-Ucap orang itu sambil melepas anak panahnya.


srass sraa...srasss


Anak panah yang di arahkan kepada Zeint dengan mudah di hentikannya sehingga menjadi tumpukan panah patah di tananh.


"14 anak panah ya berarti ada satu orang yang tak membidikku!"-Seru Zeint di ikuti pandangannya kepada salah satu orang yang berada di samping pohon.


"Sekarang giliranku!"-Tambah Zeint sambil memasang kuda-kuda menyerang.


Lightning up ditambah Lightning knife


Dengan kecepatan kilat Zeint menebas seluruh orang yang mengelilinginya itu dan menyisakan satu orang saja yang tadi tidak memanahnya.


"Baiklah aku punya pertanyaan untukmu jika kau tak menjawab dengan jujur aku akan menghabisimu!"-Zeint berjalan dengan tenang meskipun seluruh tubuhnya kini bersimbah darah.


"baaaaa...baikk tu...an!"-Dengan nada bicara gelagapan ia menjawab sambil menahan rasa takut dari dirinya.


"siapa dalang semua ini?"-Tanya Zeint sambil mengarahkan pisaunya tepat di leher orang itu.


"khiii...saaaya dipakksa tuan oleehh bangsawann Grindele ...diiiia mengancam membbunuh kelluargakku jika takk mematuhinya!"-Balas orang tersebut dengan keringat dingin yanh terus muncul dari balik keninggnya.


Zeint menatap tajam kedalam mata orang tersebut yang membuat orang itu untuk memastikan kebenarannya.


Mata Zeint yang menyala kuning seperti emas menambah rasa takut orang tersebut sehingga tak sadar dia kencing di celana.


"bau kencing ehhhh kamu kencing ya!"-Tanya Zeint sambil menutup hidungnya.


"Maaaffff tututuannnnn!"-balas orang itu dengan bersujud.


"Baiklah akan kubiarkan kau pergi dan jangan sampai kamu berurusan lagi dengan bangsawan itu paham!"-Perintah Zeint.


"baaaabaik tuan!"


"Dan ini buatmu!"-Zeint melempar beberapa koin emas miliknya kepada orang tersebut karena menurut pengamatannya dia sangat membutuhkan itu, entah sebagai penompang hidup ataupun pergi meninggalkan rumahnya untuk menjauh dari bangsawan yang ia maksud tadi.


Saat dirinya tiba di tempat putri Ellza terlihat disana Bernald sedang di kepung musuh dengan beberapa luka di bagian lengan dan juga kakinya. Sedangkan putri Ellza terlihat tak sanggup lagi berdiri.


dor..


dorr..


Zeint dari belakang menembak dua musuh yang menghadang Bernald yang membuat musuh mulai panik.


Fire ball


Seseorang yang memegang tongkat sihir membalas serangan Zeint namun dengan belati miliknya ia lemparkan sehingga menancap tepat di bagian dada.


Bernald ikut menyerang para musuh yang tersisa hingga meninggalkan satu orang yang terlihat begitu besar yang tak lain pemimpin mereka.


"hahaha kalian boleh juga karena berhasil mengalahkan anak buahku!"-Ucap orang berbadan besar dengan palu raksasa sebagai senjatanya.


"Ya itu tak akan aku biarkan kalian menyakiti tuan putri!"-Balas Bernald dengan gagah meski banyak luka yang di dapatnya.


Suasana masih ricuh suara hentakan pedang dan teriakan masih terdengar di setiap sisi menandakan tak ada akhir sebelum salah satu dari mereka mati.


Bernald maju dengan pedang besar miliknya menyerang langsung ke pemimpin musuh itu tapi dengan luka yang ada dengan mudah di hindari oleh pemimpin musuh tersebut.


"hahahaha apa ini seperti anak kecil saja!"-Ucap pemimpin musuh itu dengan nada meremehkan Bernald.


Zeint hanya diam melihat hal tersebut karena tak baik baginya jika ikut andil disaat Kesatria Bernald sedang melawan musuhnya.


Ayunan palu mendarat langsung ke bagian punggung Bernald hingga membuat Bernald jatuh tersungkur hingga menimpa tanah.


"Bernald!!!!"-Teriak putri Ellza dengan nada lemas.


Cairan kental kemerahan keluar dari mulut Bernald.


"Saya baik-baik saja putri anda jangan menggunakan sihir lagi karena itu sangat berbahaya bagi tubuh anda!"-Balas Bernald sambil mencoba bangkit.


"baiklah lebih baik aku akhiri ini saja tuan kesatria!"-Ucap pemimpin musuh itu sembari memutar palunya di atas kepala.


hyaattt...

__ADS_1


Palu itu langsung di arahkan tepat ke kepala Bernald namun dengan cepat Bernald berguling kesamping untuk menghindar.


Palu itu menghantam tanah dan membuat sebuah retakan besar.


Bernald bangkit dan langsung mengibaskan pedangnya secara cepat sampai-sampai pemimpin musuh itu tak dapat menghindar.


Srassss...


Arrkkkhhhhhhh...


Dengan pedang besarnya itu Bernald berhasil memotong tangan musuh tersebut hingga membuat dia jatuh terduduk...


Mengetahui pemimpin mereka berhasil dikalahkan oleh Bernald para bawahan yang tersisa lari terbirit-birit meninggalkan medan pertempuran.


hyaaaa.a.....a..


Teriakan kemenangan di lantunkan oleh pasukan tuan putri yang menandakan kemenangan buat mereka.


"Baiklah biar aku yang akan mengintrogasi dia!"-Ucap Zeint sambil berjalan maju kehadapan pemimpin musuh itu.


"Siapa yang menyuruhmu!"-Tanya Zeint.


"cuihh.. aku tak akan menjawab!"-Balas pemimpin itu sambil meludah ke arah Zeint.


Srassss...


Arrkhhhh..


Dengan sekejap pergelangan tangan kiri pemimpin musuh itu di tebas oleh Zeint.


"Baiklah akan aku tanya lagi siapa yang menyuruhmu!"


"Tak akan aku jawab bocah....bocah sepertimu lebih baik tidur saja!"-Balas pemimpin itu sambil menahan sakit di kedua tangannya.


Srasssss...


Arkhhhh..


Lagi-lagi Zeint memotong tangan kiri pemimpin tersebut sampai sikut.


"akkhhh baiklah akan aku jawab....!"-Teriak pemimpin itu.


Zeint menyarungkan belatinya kembali sambil menunggu penjelasan dari musuh tersebut.


"aku di perintahkan bangsawan dari kerajaan Selkeburk dia menyuruh kami untuk membunuh putri Ellza!"-Ucap dia dengan cepat.


"apa kerajaan Selleburk!"-Sela putri Ellza sok mendengar hal tersebut.


Zeint menatap tajam ke arah mata pemimpin musuh tersebut.


"Tak kusangka Selleburk akan seperti ini bukankah mereka sekutu kita!"-Tambah Bernald yang memapa putri Ellza mendekati Zeint.


"Ya mereka memang sekutu kita tapi kenapa?"-balas putri Ellza kepada Bernald.


Dor......


Sebuah lubang di bagian tengah kening pemimpin musuh itu muncul setelah suara tembakan tersebut yang mana tembakan itu di lancarkan oleh Zeint.


"apa yang kamu lakukan??"-Dengan nada marah Bernald membentak perbuatan Zeint.


Zeint berpaling menghadap pada Bernald dan juga putri Ellza.


"Dia berbohong!"-Ucap Zeint singkat.


Melihat raut wajah Zeint yang penuh noda darah dan juga tatapannya yang hampa membuat Bernald dan putri Ellza kaget sampai membuat mereka terdiam.


Zeint berjalan pergi meninggalkan mereka berdua setelah itu tanpa berbicara maupun meminta izin seperti biasa.


"Putri sepertinya anda membawa seorang monster!"-Ucap Bernald saat Zeint berlalu pergi.


"apa maksudmu?"-Tanya tuan putri Ellza memastikan.


"Anda melihatkan saat dia membunuh musuh barusan?"


"ya aku melihatnya dengan jelas!"


"Tatapan itu bukan tatapan anak seumurannya dia seakan terlihat terbiasa dengan hal seperti itu sampai-sampai hanya dengan melihat saja dia tau kebohongan seseorang!"-Tegas Bernald dengan rasa khawatir.


"benarkah Bernald?"

__ADS_1


"Ya.... tapi dia juga terlihat sangat sedih jadi tuan putri anda harus bisa menjadi penunjukknya karena kalau di ibaratkan sebuah pedang dia adalah pedang bermata dua!"-Tambah Bernald.


__ADS_2