
Waktu terus berputar dan kini sudah satu minggu dimulainya pembelajaran Zeint di Akademi.
Banyak hal yang di dapat dari sana; mulai dari informasi sistem dunia ini ,Sihir ,adat dan budaya juga yang lainnya.
Dalam seminggu ini juga Zeint sering kali menemui bangsawan Vamilon untuk sebatas berbincang ataupun mencari informasi tenteng keluarganya.
Tragedi yang menimpa keluarga Selle sangat di rahasiakan tapi menurut Vamilon itu ada sangkut pautnya dengan kerajaan Centaury karena Albert sendiri yang mengatakannya kepada Vamilon.
Zeint memang memiliki ingatan Yu namun tak bisa di pungkiri ia juga memiliki ingatan Zeint saat sebelum Yu datang walaupun ingatan tentang Zeint kini samar-samar saja.
Aneh rasanya langsung memiliki sebuah ikatan yang tak tau asal muasalnya namun jauh di lubuk hatinya Ia merasa bahwa itu benar apa adanya.
****
Sore hari.
Jauh di dalam hutan seperti biasa Zeint melatih kemampuan fisik dan sihirnya agar bisa melindungi diri disaat ada bahaya karena di dunia ini menggunakan sistem rimba dimana yang terkuatlah yang akan memimpin.
Peraturan hanya di terapkan saat berada di wilayah kekuasaan seseorang saja lepas dari itu hanya kekuatan saja yang akan menjadi perisai.
Bagi Zeint yang memiliki ingatan seorang tentara ia bisa memahami beberapa hal menyangkut teknik dan siasat saat berada di tempat yang berbahaya.
Zeint menghentikan latihannya dan duduk di bawah pohon rindang sambil meminum air yang ia bawa.
"Membunuh atau dibunuh kah...!"-Ucap Zeint dengan nada lesu.
"Aku ingin hidup tanpa ada kekerasan tapi itu sangat mustahil dilakukan disini....Tapi lebih baik aku menjadi orang kuat agar bisa melindungi orang-orang sehingga tak akan terjadi pertumpahan darah!"
Zeint memanglah seorang tentara tapi ia juga manusia biasa yang tak sanggup melihat seseorang merenggut nyawa seseorang dengan mudahnya.
Bekas luka di hati karena tragedi pembantaian yang ia saksikan masih teringat jelas di ingatannya.
Walaupun kini ia sudah berada di dunia yang berbeda.
"teman-teman.....!"-Ucap zeint pilu.
Zeint kembali berdiri kali ini ia melepas topengnya karena menurut buku yang ia baca hal janggal yang terjadi pada tubuhnya di sebabkan Mana yang secara liar menyebar sehingga wadah dalam dirinya tak sanggup menahan dan membuat fisik miliknya mengalami perubahan.
Ini adalah latihan sangat beresiko sudah 2 kali Zeint mencobanya dan 2 kali itu Zeint langsung terkapar tak bisa bergerak selama 1 jam dengan rasa sakit setengah mati.
Matanya ia pejamkan dalam-dalam ,fikirnya berkonsentrasi terhadap bagian tubuhnya sembari memantau segala aliran Mana yang kini sudah mulai menyebar.
Zeint melihat sebuah kotak yang kini telah di penuhi dengan mana berwarna hitam dan mulai perlahan-lahan keluar dari tempatnya.
Zeint terus mencoba menahan agar itu tidak keluar dari wadahnya namun itu percuma, semakin ia ingin menahan maka semakin kuat juga mana hitam itu memberontak.
Kini Zeint berada dalam posisi konsentrasi penuh sampai-sampai ia tak menyadari perubahan dari tubuhnya.
"Aku pasti akan menjinakkanmu wahai kekuatanku!"
Zeint yang terus mendorong aliran mana kedalam kotak merasa tak sanggup lagi. Mana hitam itu semakin menggila seakan-akan membuat tubuh Zeint akan meledak jika di lepaskan.
Pertarungan antara Zeint dengan Mana miliknya terus berlangsung, tubuhnya sudah mencapai batas namun tekad Zeint terus saja mendorongnya.
Rasa sakit dirasakan oleh Zeint. Mana itu mencoba memakan dirinya seperti latihan sebelumnya tapi kali ini berbeda rasa sakit itu dua kali lipat dari biasanya jika itu sampai di lepas kemungkinan Zeint akan mengalami keadan lebih parah.
Konsentrasi Zeint kini sudah sedikit terganggu fikirannya mulai kacau di tambah dengan rasa sakit di seluruh tubuh membuat Ia linglung.
"MANA SUDI AKU MENYERAH.....jika aku menyerah sekarang kapan lagi?!"-teriak Zeint di fikirannya.
Zeint terbatuk darah, tapi tetap terus mencoba menahan Mana tersebut sekuat tenaga. Rasa sakit seakan-akan membuat dirinya akan hancur disaat itu juga dan pada akhirnya Zeint kehilangan kesadaran.
__ADS_1
Dalam mimpi.
"dimana aku sekarang?"-Tanya Zeint saat mendapati dirinya berad di tempat yang penuh dengan kegelapan.
Ia tak dapat melihat apa-apa kecuali gelap.
[Zeint jangan menyerah]
Suara itu di dengar oleh Zeint meskipun tak ada seorang pun disana.
"siapa kamu?"-tanya zeint sambil melongoh kesana kemari mencari asal suara tersebut.
[Aku adalah kamu Zeint....]
"maksudny apa?"-Zeint semakin bingung.
[Jangan menyerah...]
"Apa?"
Suara itu semakin terasa menjauh dan semakin jauh sampai akhirnya tak lagi terdengar oleh Zeint.
"woy kamu dimana!"
Tak lama kemudian ada sebuah titik putih muncul di dalam kegelapan tersebut.
Zeint menghampiri titik cahaya itu dan melihat apa yang ada disana.
Itu adalah sebuah kotak kecil yang sama seperti kotak Mana yang menampung Mana hitam miliknya.
"Apa ini?"-Ucap Zeint sambil menyentuhnya.
Perlahan-lahan ingatan Zeint tentang kehidupan sebelumnya mengalir masuk kedalam fikiran Zeint.
"Ah perasaan hangat apa ini?"
Ingatan tentang Albert, dan juga seorang gadis yang bermain-main di sebuah ruangan gelap dengan hanya satu jendela terlihat oleh Zeint.
"ini kan....!"
Ia melihat dirinya berada di dalam sebuah Sel penjara tapi dirinya sangat berbeda dari sebelumnya.
Rambut berwarna putih pendek dengan bola mata hitam bercampur kuning di bagian tengah duduk di samping Sel sambil melihat kedua orang tersebut bermain di sekitarnya dan sesekali mereka menghampiri dengan senyuman.
"Kak Albert kenapa Kak Zeint disembunyikan disini bukannya dia kakakku?"-ucap gadis kecil beruaia 5 tahun itu dengan heran.
"Ya dia adalah adikku juga kakamu Laura!"-jelas Albert yang terlihat masih muda.
"ayo kak kita keluarkan kak Zeint dari sini!"-ucap gadis itu dengan polos.
"maaf Laura untuk sekarang kakak belum bisa melepaskan Zeint dari sini karena Ayah kita sangat menentang ini!"-Albert menjelaskan kepada gadis itu dengan sabar mencoba membuat gadis itu memahaminya.
Tak puas dengan jawaban Albert gadis itu berlari ke arah Zeint di samping sel.
"Kak Zeint mau keluar kan?"-tanya gadis itu dengan penuh harapan.
"Laura....!"-Albert mencoba menghentikan keegoisan Laura.
"biarlah Kak Albert biar aku saja yang menjelaskan ke laura!"-ucap Zeint.
Tangan Zeint di keluarkan sehingga dapat memegang kepala sang gadis kecil tersebut.
__ADS_1
"Laura Aku tidak mempersalahkan ini kok....mungkin ini yang terbaik bagi aku maupun keluarga kita.....jadi Laura jangan khawatir ya...!"-Jelas Zeint dengan lembut.
"tapi....!"
"Tidak apa Laura asalkan Laura dan Kak Albert masih bisa mengunjungiku itu sudah cukup buatku...!"
Suasana tiba-tiba berubah kobaran api terlihat kesana kemari Zeint yang berada di dalam sel Penjara kini sudah ada di luar ruangan.
Disana terlihat monster dan juga tentara saling beetarung. Mayat bergelimpangan dimana-mana dengan darah yang kini seperti genangan air.
Zeint berlari tak menghiraukan pertarungan maupun kobaran api yang terus menyebar, yang ia lakukan hanya berlari sekuat tenaga sampai ia masuk kedalam sebuah ruangan besar dengan Api di setiap sisinya.
Ia kebingungan mencari sesuatu namun saat mendapi tak ada apa-apa disana Zeint kembali berlari keluar rumah tersebut.
Saat tiba di tengah halama ia melihat pemandangan yang sangat tragis dimana para monster dan tentara terus membunuh semua orang yang ada di hadapan mereka.
Kini matanya tertuju kepada sesosok gadis yang menangis di samping Mayat yang tak lain adalah orang tua Zeint tanpa melihat keadaan di sekelilingnya.
Gadis itu terus menangis dan di hampiri oleh seekor monster yang berperawakan seperti manusia serigala (Werewolf). manusia serigala tersebut menatap gadis tersebut lalu kemudian tangannya di angkat ke udara dan langsung mencakar punggung gadis tersebut.
"LAURA......!"-Zeint berteriak sambil menerjang ke arah monster tersebut.
Monster Werewolf tersebut memalingkan pandangan ke Zeint yang berlari namun ia langsung terjatuh sesaat setelah tombak Es menancap di dadanya.
Zeint memeluk tubuh adiknya tersebut dengan erat sambil terus mencoba menghentikan pendarahan adiknya itu.
Wajah Laura semakin memutih pucat detak jantungnya melemah namun ia masih bernafas menandakan masih ada kehidupan yang tersisa.
Melihat hal tersebut Zeint masih memiliki sebuah harapan agar bisa menolong adiknya itu dengan cara mentranfer Mana miliknya kepada sang adik meski akan beresiko merenggut nyawanya sendiri.
"Laura kakak pasti akan menyelamatkanmu pasti!"-Ucap Zeint yang masih terus memeluk tubuh gadis kecil itu.
Zeint meletakkan tangan kanannya di atas dada Laura sedangkan tangan kirinya memegang dada miliknya.
Cahaya keluar dari balik tangan Zeint yang langsung memenuhi setiap tubuh Laura.
Perlahan-lahan luka di punggung laura menutup wajahnya kembali membaik walaupun masih tak membuka mata.
Sedangkan Zeint berubah pucat matanya terlihat sayu karena Mana dalam tubuhnya kini sudah hampir habis.
Zeint mencoba mengecek kembali keadan Laura ternyata usahanya tak sia-sia Laura kini tertidur dan Zeint memilih membiarkannya terlebih dahulu.
"Syukurlah tidak sampai harus mengorbankan hidupku!"-ucap Zeint lega dengan sedikit terbatuk.
Deg.....
Sesuatu terjadi dalam diri Zeint ia merasakan ada sesuatu yang kini mencoba keluar.
"Arkh......!"
"Tubuhku sakit semua rasanya jantung ini mau meledak Arkh.....!" -Teriak Zeint kesakitan.
Zeint berjalan terhuyung-huyung sambil terus berteriak kesakitan.
"kenapa....!"
Perlahan tanah pijakannya berubah menjadi lapisan es. Es tersebut terus meluap hingga sekeliling Zeint di penuhi dengan warna putih es.
Kaki Zeint tak bisa bergerak ada sesuatu yang mencegatnya.
Ia melihat ke arah kakinya dan disana di dapati kakinya tertutup es dan terus menjalar hingga seluruh tubuh Zeint tertutup olehnya.
__ADS_1