Reincarnationem : The War Kingdom

Reincarnationem : The War Kingdom
chapter 43 (Kekacawan)


__ADS_3

Malam panjang menemani Zeint di kala dirinya harus ikut serta dalam persiapan untuk acara besok.


Mulai dari pengukuran baju , tempat dan lain-lainnya ia harus ikut serta di dalamnya.


Silviava tak henti-hentinya mengurus persiapan Zeint dan putri Ellza secara bersamaan dengan kata-kata yang selalu ia ucapkan saat bertemu dengan Zeint "Tidak seharusnya kamu bertunangan denganku bukan sama tuan putri!"-Seperti itulah, yang membuat Zeint tak tau harus menanggapinya bagaimana.


Putri Ellza hanya menanggapi ucapan Silviava dengan senyuman saja, menganggap itu sekedar candaan semata.


Sedangka para petinggi kerajaan hanya sibuk dengan pengamanan acara esok hari ,mengingat masih ada pergerakan aneh yang di lakukan oleh bangsawan Grindale.


Sekitar hampir tengah malam Zeint akhirnya bisa kembali ke kamarnya, namun masalah masih ada yaitu putri Naga Maya yang sedari tadi menunggu kedatangannya.


"Papa !"-Sapa Maya saat Zeint baru saja masuk ke kamarnya.


"Maya kamu menungguku?"-Tanya Zeint sambil mendekati Maya yang sedang beranjak turun dari atas kasur.


Maya mengangguk pelan dan langsung memeluk Zeint dengan wajah di timbunkan ke dada Zeint.


"Ini seperti adegan anak yang sedang menunggu kepulangan ayahnya ya......!"-Bisik batin Zeint, karena merasa ini mirip seperti drama.


"Maya kamu sebaiknya kembali ke kamarmu karena aku ingin segera beristirahat karena besok ada acara pertunanganku dengan putri Ellza!"-Ucap Zeint mencoba menjelaskan keadaannya saat ini.


Wajah Maya yang tadinya tertimbun di dada Zeint langsung melepas cepat sambil memandang Zeint kaget.


"Tidak!!! papa akan menikah denganku!"-Teriak Maya Kesal dengan ucapan Zeint.


Menanggapi keegoisan seorang anak kecil bukan karekter Zeint ,namun sebagai orang dewasa Zeint mencoba untuk memahami maksud dari Maya tersebut.


"Iya iya aku mengerti jadi sekarang kamu kembalilah ke kamarmu ya Maya...!"-Ucap Zeint lembut sambil mengusap rambut antara kedua tanduk milik Maya.


"Hemmmzz!"


Maya kemudian pergi meninggalkan kamar Zeint dengan penuh rasa kesal, karena menganggap Zeint hanya berpura-pura saja.


Zeint hanya menatap penuh iba kepergian Maya tanpa bisa menjelaskan lebih banyak lagi kepadanya.


*****


Esokan hari pun telah tiba dimana jalanan di penuhi dengan hiasan bendera dan juga hiasan bunga.


Dari ambang gerbang pintu masuk kerajaan, berjejer para tentara yang berdiri sebagai pengawal hingga ke tengah kota, memisahkan kerumunan para rakyat kota Aquas yang berantusias menyaksikan acara pertunangan antara Zeint dan putri Ellza.


Raja Fartian dan raja Delltino menungangi kuda mereka keluar dari gerbang istana. Sedangkan Zeint dan putri Ellza menaiki sebuah kereta tanpa penutup di atasnya dengan dua kuda sebagai penariknya di temani belakang mereka para kesatria Mata Angin tanpa kehadiran Maya.


Mereka baru saja keluar dari gerbang istana untuk menuju ke khatedral, sambutan meriah di ucapkan para rakyat kerajaan dengan berbagai ungkapan gembira maupun pujian.


Zeint mengenakan kemeja putih dengan jas bermodel Tuxedo berwarna sama ,terlihat begitu cocok dengan rambut putih yang di ikat ekor kuda.


Putri Ellza memakai gaun pernikahan berjumbai, dengan beberapa corak biru langit yang sangat kontras dengan warna rambutnya.


Saat mereka tiba di depan Khatedral ,terdapat seseorang berperawakan paruh baya berdiri dengan senyuman yang tak lain adalah petinggi khatedral tersebut.


Zeint mengandeng tangan putri Ellza layaknya para pasangan pada umumnya, dan berjalan mengikuti para raja yang sudah berada di depannya.


Tiba-tibq seorang perajurit berlari menghadap raja Delltino dengan nafas terengah-engah.


"Ada apa?"-Tanya Raja Delltino kepada perajurit tersebut.


"Yang mulia tuan Vamilon meminta bantuan karena kota D'lus di serang oleh bangsawan Grindale sejak tadi malam dan juga ada sebuah gerbang aneh tiba-tiba muncul di dekat sini!"-Jawab perajurit itu yang masih terengah engah.


"Apa?"-Teriak raja Delltino kaget dengan apa yang baru saja ia dengar.


Zeint yang mendengar kota D'lus di serang, langsung datang menghampiri mereka agar bisa mendapatkan informasi tentang ke adaan kota tersebut.


"Bagaimana keadaan di kota D'lus?"-Sela Zeint dengan cepat.


"Kota D'lus sudah di ambang batasnya!"


"Apa?"


Zeint mulai merasa panik karena mengingat para temannya berada disana dan juga tuan Vamilon yang begitu berjasa terhadap Zeint saat ini.


"Zeint tenanglah dulu!"-Putri Ellza memegangi pundak Zeint agar bisa kembali tenang.


Huaaaa tolong!

__ADS_1


Belum sempat menenangkan Zeint suara teriakan dari arah utara mengagetkan putri Ellza dimana ia melihat disana ada sebuah Gundukan batu raksasa yang menyerupai patung manusia berjalan mendekati kerumunan orang.


"Semuanya segera mengungsi dari kota ini! cepat"-putri Ellza menarik paksa tangan Zeint agar menjauh.


Getaran dari langkah raksasa tersebut membuat Zeint kembali tersadar dari paniknya dan mulai menatap keadaan sekitar.


"Apa itu !"-Tanya Zeint menghentikan langkah kakinya yang mengikuti putri Ellza sambil menatap tajam kesebuah tumpukan natu setinggi 20 meter tersebut.


"Itu raksasa golem batu!"-Jawab putri Ellza cepat.


Situasi sangat kacaw dimana para orang-orang berlari tungang lungging menjauh. Sedangkan para raja langsung di bawa pergi oleh Bernald kembali kedalam kastil.


Dari tempat Zeint berada jarak golem tersebut sekitar 50 meter jauhnya namun jika golem itu berlari mungkin hanya tiga langkah saja sudah sampai di depan Zeint.


Ketiga kesatria Mata Angin berlari menghampiri golem tersebut dan langsung melancarkan serangan sihir agar menghambat pergerakan sang golem tersebut.


Wind Strom


Sebuah badai angin mengarah langsung kepada golem tersebut sesaat setelah Kesatria Angin Barat Romeo merapalkan mantra.


Golem tersebut terhenti sejenak, lalu mulai mengangkat tangannya yang sebesar pohon beringin tersebut dan menghempaskan sihir milik Romeo dalam sekejab.


Mendapati sihir milik Romeo tidak mempan, Silviava ikut merapalkan mantranya juga.


Tangan kanannya yang memegang tongkan di acungkan ke arah golem tersebut ,lalu dari ujung tongkat itu muncul bara api yang berkumpul hingga membentuk bulatan api raksasa.


Fire Ball


Api bulat tersebut melesat cepat langsung ke kepala golem tersebut, namun tetap percuma saja golem tersebut seakan tak merasa apa-apa dan melangkahkan kakinya kembali.


Dibawah bayangan telapak kaki golem tersebut terdapat beberapa orang yang terjatuh pingsan dan luka-luka,


Shadow clow


Kesatria Qier melompat maju dan dirinya langsung membelah menjadi enam orang yang sama persis seperti Qier membawa orang-orang yang hampir menjadi sasaran pijakan golem tersebut dengan secepat kilat.


Mendapati orang yang terluka putri Ellza berjalan mendekati Qier dengan segera.


Zeint yang tak bisa membiarkan putri Ellza kenapa-kenapa ,memilih untuk menemaninya dari pada menyuruh putri Ellza untuk mengungsi karena itu akan percuma.


Qier meletakkan para korban itu di dekat putri Ellza yang datang mendekat. paham akan niatan putri Ellza.


Sebuah gelembung air memutar di sekeliling pergelangan tangannya, dan cahaya biru perlahan memenuhi tubuh korban yang terluka tersebut.


Reaksi korban yang tadi merasa kesakitan mulai lebih tenang kembali berkat sihir penyembuh milik putri Ellza tersebut.


Brukkkk...


Hentakan hebat tiba-tiba terasa mengguncang tanah sekitar mereka, sepontam Zeint menerawang sekelilingnya.


Silviava dan Rome masih menghadapi golem tersebut dengan sihir mereka sedangkan Qier membantu mengevakuasi para rakyat kota Aquas agar tidak menimbulkan banyak korban lagi.


"Siall!!!"-Teriak Romeo sambil menghindari hempasan tangan sang golem itu sehingga pergelangan tangan sang golem terbentur ke dinding bangunan sekitar.


Groaarrrrr!!


Terdengar suara auman dari langit dimana disana ada seekor naga merah langsung menindih tubuh sang golem dengan badannya yang tak kalah besar.


"Maya kah!"-Seru Zeint yang ingat betul dengan perubahan naga milik Maya.


Si Golem yang tertindih tubuh naga Maya mencoba memberontak, tangannya terus di gerakkan hingga sebuah pukulan mengarah tepat pada perut samping naga merah itu.


Grrarrrrrrr


Maya berteriak keras lalu menggigit lengan milik golem tersebut hingga terlepas dari sendinya.


Maya mengepakkan sayapnya mencoba untuk terbang, namun tangan kiri golem tersebut dengan segera memegangi kaki Maya hingga tubuh Maya hanya melayang-layang saja. Itu sangat mirip seperti balon yang di pegangi seorang anak.


Mulut Maya mengeluarkan percikan api kemudian sebuah hembusan api membakar tubuh sang golem terus menerus.


Golem itu tetap saja memegangi kaki Maya tanpa perduli dengan hawa panas yang menyelimuti tubuhnya.


"Maya bawa dia terbang lalu jatuhkan dia dengan ekormu!"-Teriak Zeint keras sampai-sampai Silviava dan Romeo menoleh cepat ke arah Zeint.


Mendengar ucapan Zeint Maya membawa golem yang terbakar itu ke langit hingga setinggi mungkin, lalu dengan ekornya yang panjang Maya mengibaskannya tepat pada sendi tangan kiri sang golem hingga membuat genggaman si Golem tersebut terlepas dari kaki Maya dan terjun bebas menghantam beberapa bangunan sekitar.

__ADS_1


Benturan itu mirip seperti gemba bumi yang mana Zeint dan yang lainnya hampir kehilangan pijakan.


Ice Freze


Ucap Zeint segera namun tidak ada sihir yang terbentuk seperti yang ia inginkan.


"Kenapa aku tidak bisa menggunakan sihir es seperti waktu itu?"-Ucap batin Zeint sambil menatapi telapak tangannya.


Sang Golem kemudian mencoba bangkit kembali dari runtuhan bangunan yang menimpanya dengan tangan kiri memopa badannya bangkit.


Melihat itu Zeint berlari mendekati Silviava yang berdiri tak jauh darinya dengan segera mungkin.


"Cepat selimuti dia dengan sihir es!"-Ucap Zeint saat dekat dengan Silviava.


Romeo menatap tajam Zeint dan berjalan mendekat sambil langsung menarik kerah kemeja Zeint dengan nada marah!


"Woy **** sihir es tidak mempan padanya itu sudah aku lakukan tadi!"


"Romeo hentikan itu!"-Cegat Silviava sambil dengan cepat menahan tangan Romeo yang siap memukul Zeint.


"Tidak kali ini pasti akan mempan dengan syarat seluruh tubuhnya tertutup Es!"-Ucap Zeint lagi dengan keadaan masih di cengkeram oleh Romeo.


"Heahhh... !!"-Romeo tersulut emosi kembali.


"Hentikan Romeo...! Zeint apa itu akan benar benar menghentikannya ?"-Tanya Silviava kepada Zeint.


"Ya!"


"Baiklah akan aku lakukan! Romeo bantu aku cepat"-Ucap Silviava sambil melepas genggaman Romeo terhadap Zeint.


"Cih.... awas jika itu tidak mempan padanya!"-Ancam Romeo sembari berlalu mengikuti Silviava.


Ultrafreeze


Freezing ice


Golem yang sudah mulai beranjak duduk langsung membeku sesaat setelah kedua mantra gabungan dari Silviava dan Romeo selesai di rapalkan, tanpa bergerak sedikitpun.


"Maya pukul golem itu!"-Ucap Zeint kepada Maya yang masih melayang di sekitar golem tersebut.


Mendapati perintah dari Zeint Maya mendekat dan mengibaskan ekornya kepada golem yang membeku itu dengan keras hasilnya dalam hitungan detik golem tersebut hancur menjadi serpihan kecil kerikil.


"Hah kenapa bisa?"-Ucap Romeo kaget.


"Zeint bagaimana bisa hancur semudah itu? dia adalah golem batu loh!"-Tambah Silviava dengan nada penasaran.


"Itu gampang saja.... saat suatu benda dengan kepadatan tinggi di panaskan dan langsung didinginkan maka kepadatan benda tersebut menjadi rapuh jadinya seperti itu deh!"-Balas Zeint bangga.


"Wah dari mana kamu mempelajarinya Zeint?"-Tanya Silviava lagi sambil mendekatkan tubuhnya kepada Zeint.


"Yahh....ituu...!"-Zeint tergagap untuk menjawab pertanyaan tersebut dengan dua alasana.


yaitu pertama dia tidak mungkin bilang jika ia tau dari ilmu fisika ilmiah dari dunianya sebelumnya


kedua ia tidak bisa menjawabnya karena tubuh Silviava yang bergunung besar tersebut menenggelamkan lengan kananya disana.


"Mbak Silvi...!"-Suara putri Ellza dari belakang Zeint terdengar tiba-tiba, dengan nada suara kesal.


"Ada apa putri Ellza?"-Tanya Silviava tak merasa bersalah.


"Hentikan mesra-mesraannya dengan tunanganku! kalau ada waktu lebih baik kita mengurus para korban yang lainnya!"-Putri Ellza menarik lengan kiri Zeint secara paksa hingga terlepas dari Silviava.


"Ah maaf-maaf hihihi!"-Balas Silviava sembari tertawa kecil.


Maya kemudian merubah wujudnya menjadi manusia kembali dan berlari ke arah Zeint. Mirip seperti anak yang baru saja pulang dari sekolah saat orang tuanya datang.


Maya yang tak mengenakan sehelai kainpun menjadi tontonan mereka yang ada disana.


Putri Ellza menutup mata Zeint agar tidak melihat tubuh bugil Maya namun itu percuma karena Maya langsung memluk tubub Zeint dari depan.


"Papa aku pulang!"-Ucap Maya.


"Zeint apa maksudnya ini?"-Sela putri Ellza marah.


"itu....!"

__ADS_1


Bug..


Sebuah hantaman keras langsung dari putri Ellza mengarah ke belakang tulang tengkorak Zeint, sehingga membuatnya pingsan dalam sekejab.


__ADS_2