
Asap yang terlihat dari langit sangat menggetarkan perasaan Zeint.
Cahaya merah ke kuningan itu seakan memakan segala sesuatu yang berada di hadapannya.
"Arah itu tak salah lagi disana kota D'lus!"-Seru Zeint yang masih di pegang erat oleh tangan Naga Maya di tengah dadanya.
"Maya turun di dekat bangunan berpagar itu!"-Ucap Zeint sambil menunjuk ke rumah milik tuan Vamilon yang masih di ingatnya.
Maya menurunkan ketinggiannya, berputar tiga kali sebelum mendarat di salah satu lokasi dekat dengan kumpulan orang-orang yang sedang menahan serangan musuh.
Maya meletakkan Zeint di atas tanah dan kemudian tubuh naganya bercahaya silau.
Maya sudah kembali ke bentuk manusianya dengan masih memakai pakaian berarmor tipis miliknya tadi.
Zeint ingin bertanya kenapa Maya langsung mengenakan pakaian saat berubah kembali ke bentuk manusianya, mengingat sudah dua kali Maya berubah tanpa mengenakan sehelai kain pun, namun itu di tahannya dan segera berlari kembali ke arah seseorang yang tampak tak asing lagi buatnya.
"tuan Vamilon anda baik-baik saja?"-Ucap Zeint saat mendekati orang yang tak lain adalah tuan Vamilon.
Vamilon yang mengenakan pakaian tempur berwarna perunggu, sedang berdiri tegak memerintah para pasukannya di dekat gerbang.
Vamilon yang mendapat sapaan itu langsung memalingkan wajahnya.
"Zeint bagaimana kamu berada disini?.. dan juga ada kesatria Angin Timur putri Naga bersamamu?"-Vamilon memperhatikan Maya yang berjalan mendekati mereka.
"Itu nanti saja ! bagaimana keadaannya sekarang!"-Tanya Zeint langsung kepada titik masalah utamanya.
Vamilon memalingkan wajahnya lagi menghadap ke sisi dekat gerbang yang ramai akan suara decitan aduan pedang dan juga suara teriakan orang-orang yang ada disana.
"Yah... kami bisa bertahan dan banyak mengalahkan musuh namun situasi tetap menekan kami. Para pasukan bangsawan Grindale sangat banyak melebihi pasukan kami!"-
Nada bicaranya yang sedikit marah menandakan ketegangan yang masih menghantuinya.
Zeint paham betul dengan tanggung jawab sebagai pemimpin jadi ia hanya bisa menggertakkan bibirnya saja.
"Bagaimana dengan teman-temanku? apa mereka baik-baik saja?"-Tanya Zeint begitu khawatir dengan keadaan Nerfa dan yang lainnya.
Reaksi tuan Vamilon tercengang sebentar, lalu mulai menggenggam erat kembali pedang yang masih bersarung di pinggul sampingnya.
"Zeint maaf!"
Mendengar ucapan tuan Vamilon itu menimbulkan pukulan telak di hati Zeint. Mulut Zeint yang tertutup topeng menganga tak percaya.
Badannya terhuyung ke belakang satu langkah sebelum dirinya menabrak Maya di belakang.
"Apa aku terlambat? dimana mereka? dimana jasad mereka?"
"Zeint tenanglah mereka tidak mati! mereka hanya menghilang bersama beberapa siswa lainya jadi tenangkan dirimu!"-Tuan Vamilon memcoba menjelaskan apa maksud dari ucapannya yang tadi.
Zeint kembali menatap Vamilon, ia berfikir mungkin dia ingin menenangkan Zeint, namun fikiran Zeint yang sekarang hanya butuh kepastian bukan dugaan.
"Maya.....!"-Kata-kata yang terdengar sangat pilu itu di ucapkan Zeint sambil melepas topengnya . Mata yang menyala akan kemarahan di utarakannya seraya mengambil belati di belakang pinggulnya.
Maya yang mengerti akan maksud Zeint, ikut mengeluarkan "Boses" si kapak iblis miliknya sambil mengangguk pelan.
__ADS_1
"Zeint.....!"-Ucap tuan Vamilon seraya mengangkat alisnya tinggi dengan penuh ke khawatiran.
Zeint melangkah maju menuju tumpukan orang-orang yang sedang bertarung itu dengan langkah berat. Seberat perasaannya yang saat ini ia rasakan.
Emosi yang tak setabil di hati Zeint perlahan semakin mengoyak dirinya. Walaupun saat itu Zeint tidak menyadari akan apa yang akan terjadi selanjutnya.
Para pasukan musuh yang melihat Zeint datang, langsung berteriak keras, sambil mengangkat tinggi pedang dan perisainya ke udara.
"Serang!"
Tiga orang berlari ke arah Zeint dengan senjata pedang dan juga memegang perisai hitam bulat di salah satu tangannya.
Zeint tak memasang kuda-kuda dan hanya berjalan mendekat. Sedangkan ketiga perajurit itu sudah menghunuskan pedang mereka bersiap mengibas tubuh Zeint.
Hiyattttt....
Teriak musuh saat sudah dekat dengan jangkauan pedangnya dan tanpa ragu menebas ke arah Zeint.
Srusss....
Saat mereka yakin bahwa pedang mereka mengenai Zeint, tiba-tiba bentuk yang ada di hadapan mereka berubah menjadi bayangan sehingga mereka hanya menebas angin saja tanpa sedikitpun mengenai tubuh Zeint.
Sedangkan Zeint, tetap berjalan melewati mereka seakan seperti tidak ada apa-apa.
Wajah bingung sekaligus marah terpancar jelas di wajah ketiga musuh itu. Mereka kembali melancarkan serangan tapi itu sudah sia-sia.
Darah segar bak air mancur tiba-tiba keluar dari belakang leher mereka bertiga dan dalam sekejab tewas seketika.
Suara aneh dalam diri Zeint tiba-tiba memasuki fikiran Zeint.
"Bunuh mereka Zeint...ayo tumpahkan lebih banyak darah lagi!"
Satu orang perajurit musuh kembali menghampiri Zeint, namun naas mereka mati sebelum menghunuskan pedangnya.
"Bunuh!"-Ucap Zeint.
"Ya itu benar... mereka sudah merebut teman-temanmu!"
Enam musuh memegang tombak kembali mengepung Zeint sehingga membuatnya terhenti di tengah kerumunan.
"Balaskan!"-Ucap Zeint lagi sembari menatap tajam ke arah orang-orang yang sedang mengepungnya itu.
Zeint memejamkan matanya sebentar ,lalu membukanya lagi dengan menambah suatu tekanan kehadapan mereka semua.
Aura membunuh terpancar keluar dari tubuh Zeint, Keringat dingin mulai muncul di sudut wajah musuh itu sehingga membuat ekspresi ragu untuk menyerang Zeint saat itu.
Pancaran ketakutan dari mata mereka sangat terlihat jelas saat mereka mulai menyudutkan pandangan ke arah mata Zeint yang tadinya putih mulai tertutup noda hitam.
"Iblis!"-Seru seseorang di depan Zeint yang mulai gemetaran.
Orang itu mulai mundur beberapa langkah dan hendak berlari namun tiba-tiba kakinya membeku tak dapat bergerak.
"Di...dia bukan manusia...la...larii!"
__ADS_1
Kelima musuh yang lainnya juga mulai ketakutan dan berlari tunggang lungging meninggalkan Zeint. Usaha mereka sia-sia karena nasib yang sama seperti musuh pertama menimpa mereka.
Zeint mengangkat tangannya tinggi dan keenam pasukan musuh itu dalam sekejab mata terbungkus lapisan es.
Tangan Zeint kemudian di rapatkan keras bersamaan dengan tingkah Zeint. Musuh yang berada dalam lapisan Es tersebut hancur sehingga membuat warna es yang putih kebiruan berubah menjadi warna merah darah.
"Ha..ha..ha..ha!"-Zeint mulai tertawa terbahak-bahak, senyumannya sangat mengerikan di tambah dengan matanya yang hitam bertitik kuning itu membuatnya tak terlihat seperti manusia lagi.
Zeint kini masuk di mode luar kendali, fikirannya sudah terjerumus dalam ke gelapan hati. Ia kemudian berlari ke arah musuh yang lain dan mulai membantai setiap musuh yang berada di depannya.
Ha..ha.ha.hahha
Dengan belatinya satu persatu musuh di bunuh.
Rambutnya yang putih berubah menjadi merah karena noda darah yang seakan menjadi air hujan baginya.
Sedangkan putri Naga juga melakukan hal yang sama. Tubuhnya yang mungil dengan kapak besar lebih besar dari tubuhnya kini mulai mengibas habis para musuh.
Mungkin sudah berapa ratus musuh yang mereka habisi, namun karena banyaknya musuh yang terus berdatangan malah terlihat seperti mainan bagi mereka berdua.
Di sisi lain Arthur dengan para bawahannya mulai mundur dari pertarungan tersebut. Melihat situasi dimana kini bukan lagi bernama pertempuran.
"Tuanku bisakah kita menganggap ini sebagai pertempuran?"-Ucap Arthur kepada tuan Vamilon yang masih memandangi Zeint dan putri Naga menari di medan pertempuran.
Pandangan mata tuan Vamilon terlihat berat tapi tetap memperhatikan ke adaan di depannya.
"Entahlah.... ini terlalu berat sebelah jika di artikan, namun yang jelas pemandangan ini lebih kepada pembantaian...Prmbantaian oleh dua orang anak!"-Ucap tuan Vamilon.
Tumpukan mayat para perajurit kini semakin menggunung. Kedua orang tersebut masih terlihat asik membunuh tanpa perduli berapa orang yang telah mereka habisi.
Tuutttt..tuuuuttt...
Suara tiupan terompet terdengar dari arah barisan belakang musuh, dimana di ikuti derap langkah pasukan yang melawan Zeint dan putri Naga lari meninggalkan medan pertempuran.
Zeint mengikuti mereka dari belakang seakan dirinya belum merasa puas dengan apa yang ia lakukan.
Maya yang berada tak jauh dari Zeint melompat ke arahnya dan mulai menghadang Zeint.
Zeint menatap Maya dengan tajam senyuman yang tak enak di pandang masih terus terukir di wajah Zeint.
Srus...
Dalam sekejap mata Zeint sudah berada tepat di hadapan putri Naga dan menghunuskan belatinya tepat ke leher Maya.
Respon Maya yang sudah tinggi dengan segera menahan belati yang terarah kepadanya.
"Papa!"-Ucap Maya sembari menahan serangan Zeint.
Sekisaran dua detik menahannya tubuh Maya terdorong ke belakang. Dan dengan kekuatannya Maya mendorong jauh kapak miliknya sehingga Zeint terpental ke belakang kembali.
"Papa!"-Ucap Maya lagi.
Reaksi Zeint tetap tak mengubrisnya dan malah mulai bersiap menyerang Maya untuk kedua kalinya.
__ADS_1
Bersambung...