
Di dalam goa sembari menunggu hujan reda Zeint dan 3 prajurit kesatria tersebut berbincang-bincang tentang kerajaan Aquas yang mana akan ia datangi.
Mereka bicara akan kehebatan sang raja dan juga makmurnya kerajaan mereka terutama di daerah Kota Perdagangan Aquas yaitu kota D'lus.
Disana di pimpin oleh bangsawan yang bernama Vamilon Da Lamieer ia sangat ramah,baik dan tegas yang membuat ia sangat di cintai para rakyatnya.
Mereka bertiga juga di selamatkan oleh beliau saat sedang di kejar para monster di hutan ini meskipun tiga anak lainnya meninggal karena serangan para Monster tersebut. Dan pada akhirnya mereka bertiga dikirim ke Akademi Kesatria untuk belajar menjadi perajurit serta belajar menggunakan sihir.
"Sekolah kah......hemmm"-Ucap Zeint sambil menompa dagunya di atas tangan.
"ada apa Zeint?"-tanya Nerfa.
"tidak ada apa-apa aku cuma sempat berfikir bisakah orang luar sepertiku sekolah juga soalnya aku belum tau banyak tentang dunia ini!"
Mendengar itu mereka bertiga saling menatap satu sama lain dan kemudian kembali melihat ke arah Zeint.
"Bagaimana kalau kamu ikut dengan kami ke Akademi?"-Nerfa memberi tawaran.
"eh bolehkah itu?"-Zeint meyakinkan.
"ya.... asalkan nanti kita menemui Tuan Vamilon!"
"hemmmzz"
"Tak usah risau beliau orangnya sangat baik lagian nanti kita akan satu sekolah!"
"baiklah kalau begitu!"-Zeint mengangguk setuju.
Hujan kini sudah mulai reda dan kami mulai bergegas meninggalkan tempat itu agar bisa segera menuju ke kota perdagangan D'lus.
Bercak air hujan menggenang di sepanjang perjalanan, udara kini terasa lebih dingin dari pada sebelumnya dengan sesekali hembusan angin yang datang menggelitik tubuh mereka berempat.
*****
Kira satu jam perjalanan Zeint mulai dapat melihat sebuah tembok raksasa yang membentang luas dengan sungai di samping tembok itu mengikuti panjangnya.
"kita hampir sampai Zeint!"-ucap Nerfa sambil menunjuk sebuah gerbang raksasa di sebelah jembatan.
__ADS_1
Zeint menatap takjub pemandangan yang berbeda itu dengan seksama, mulai dari bentuk arsitektur,keunikan dan juga keramamaian orang-orang yang sedang mengantri masuk.
"kita perlu mengantri kah?"-tanya Zeint memastikan.
"tak perlu Zeint karena kamu bersama kami!"-ucap lux
Zeint mengikuti Nerfa dari belakang menyusuri keramaian orang-orang dan juga kereta kuda yang bertumpu di jembatan tersebut dengan santai.
Zeint mengira mereka sudah mengantri disini sedari tadi itu dapat dilihat dengan beberapa orang yang mulai menggigil serta pakaian yang basah kuyup.
Dekat dengan gerbang ada 2 prajurit dengan tobak di tangan menyapa Nerfa. Mereka adalah kenalan mereka bertiga sehingga Zeint bisa langsung memasuki gerbang itu tanpa mengantri seperti orang-orang di sekitarnya.
"Tunggu, Nerfa siapa dia?"-tanya salah satu prajurit itu sambil menghentikan kami.
"Zeint lepas topengmu!"- pinta Nerfa.
Zeint membuka topengnya seperti yang Nerfa pinta.
Sesaat setelah menunjukkan wajahnya Ardy langsung menarik Zeint masuk.
Sekilas Zeint sempat melihat ekspresi kaget di wajah para penjaga tersebut namun tak dihiraukannya dan lebih memilih mengikuti Nerfa yang kini berada agak jauh dari dirinya.
Kota D'lus ini sungguh luar biasa di setiap jalan banyak orang-orang yang berjualan mulai dari makanan,buah,pakaian dan hal lain yang tak pernah dilihat Zeint sebelumnya.
Gaya arsitektur bangunannya mirip seperti era pertengahan dengan tatanan bangunan yang sangat rapi.
Ia ingin sejenak berhenti melihat-lihat namun karena sungkan pada Nerfa dan yang lain jadi ia urungkan niatnya.
"waw itu elf kah?"-tanya Zeint sambil menunjuk seseorang yang memiliki tubuh tinggi dengan telinga runcing panjang.
"Iya betul!"
"kalau itu disebut apa?"-Zeint kembali menunjuk seseorang yang berperawakan pendek namun otot-ototnya sangat kekar dengan janggut yang lebat.
"itu ras Dwarf dan yang di sebelahnya lagi demi-human!"-jelas Nerfa.
Zeint menatap tepat di ujung telunjuk yang di tunjuk oleh Nerfa di dekat para dwarf yang mana disana terdapat manusia tapi memiliki ciri khas binatang seperti telinga kucing dan memiliki ekor. Ia sangat terkesan di dunia tempat ia berada saat ini dengan banyaknya hal baru yang sebelumnya tak pernah ia temui.
__ADS_1
Nerfa dan yang lainnya masuk di sebuah gang melewati celah bangunan dan terus berjalan menjauh dari pasar tersebut.
Agak jauh mereka berjalan akhirnya berhenti di sebuah gerbang dengan beberapa orang prajurit yang memakai armor berdiri dengan sigap sambil memegang tombak.
"Zeint kita akan menemui Tuan Vamilon jadi lepas dulu topengmu!"-ucap Nerfa.
Zeint menuruti permintaannya meski ia agak risau dikala nantinya ia berubah menjadi sosok yang aneh itu lagi dan membuat masalah kepada mereka bertiga yang baru saja ia temui.
Nerfa menyapa penjaga tersebut dan kemudian mereka membukakan gerbang untuk mempersilahkan kami semua masuk kedalam.
Mereka melewati halaman yang luas dengan taman yang penuh dengan bunga sebagai penyambut tamu.
Tak selesai dengan itu Gedung yang besar dan juga mewah terpampang di ujung taman yang menandakan bahwa ini adalah kediaman seorang pemimpin pikir Zeint.
Di depan kediaman itu ada seorang yang berdiri sigap; ia tak terlihat seperti prajurit melainkan seperti bodyguard sambil menuangkan minuman kepada seorang lagi yang ada disana.
Saat jarak kami tak jauh dari dua meter suara lembut menyapa kami semua menandakan ia mengetahui kedatangan kami.
"Tumben sekali kalian datang kesini? ada masalah apa?"-Sapa orang yang duduk itu sambil menaruh cangkirnya kembali di atas meja.
Nerfa dan yang lain memberi hormat sebelum menjawab sapaan orang tersebut dengan gagah.
"Tuan Vamilon tidak ada masalah apa-apa....kedatangan kami hanya ingin meminta izin saja!"-Ucap Nerfa sambil agak menundukkan pandangannya.
Melihat sikap Nerfa yang begitu sopan membuat Zeint memandangi orang yang dinamakan Vamilon itu dengan seksama.
Walaupun ia masih muda sekitar usia 25 tahun Wajah yang begitu rupawan dengan tatapan mata yang sangat berwibawa terlihat jelas oleh Zeint, posisi duduk yang anggun dengan tutur kata lembut itu sangatlah cocok baginya.
"izin apa nak Nerfa?"
"saya membawa seseorang yang ingin bersekolah di akademi kesatria karena ada beberapa faktor jadi saya menawarkannya hal tersebut Tuan..."
Tuan Vamilon itu melihat ke arah Zeint lalu kembali melihat Nerfa.
"hemmzz baiklah kalau begitu saya izinkan tapi sebelum itu saya mau berbicara empat mata saja dengan anak itu!"
Sungguh pilihan yang sangat rasional ia seakan-akan memberi persetujuan baik namun sebelum itu ia ingin memastikan beberapa hal terlebih dahulu sebelum benar-benar mengizinkan Zeint bersekolah di akademi di negrinya itu karena melihat ada orang luar yang ingin memasuki negrinya.
__ADS_1