
Zeint berjalan pelan dari ruangan tempat ia terbaring sambil di bantu sang kakak. kondisinya memang sudah membaik tapi tidak dengan otot-otot badannya yang kaku. ini adalah efek samping akibat tubuhnya yang mengeristal selama 10 tahun.
Di lorong yang bernuansa barat itu Zeint terhenti melangkah disaat pantulan cermin memperlihatkan penampilannya saat ini.
dia tercengang saat mendapati bayangan seseorang disana.
rambut panjang lurus berwarna hitam pekat, wajah bulat putih pucat dengan mata sayu berwana coklat cerah, tubuh kurus kerempeng memakai pakaian wanita ada di pandangannya.
"apa-apaan ini?"-Zeint berteriak histeris akan penampilannya itu tapi yang lebih mengejutkan baginya ialah pakaian wanita yang sedang ia kenakan memang sangat cocok saat dilihat tapi Zeint tak mau menerimanya dan buru-buru meraba dada dan selangkangnya memastikan bahwa dia sekarang tetap seorang laki-laki.
"syukurlah masih ada!"- zeint menghela nafas pelan.
Sang kakak hanya tersenyum memperhatikan tingkah laku adiknya itu dengan senyuman senang.
"kamu sangat manis Zeint!"
ucapan menyindir sang kakak Albert membuat dia sedikit kesal namun tak di ucapkannya dan hanya melepas helaan nafas panjang.
"Maaf Zeint bajuku tidak ada yang cocok buatmu dan hanya baju putriku saja yang pas untukmu.... tapi jujur kamu manis sekali Zeint seperti anak perempuanku"
[manis dengkulmu.... ini harga diri tahu]
hujatan kepada sang kakak tidak di ucapkannya secara langsung namun dengan palingan wajah kesal. Albert tak menanggapi itu dan hanya melanjujtkan senyuman menjengkelkan miliknya.
"kakak memiliki seorang putri?"-tanya Zeint.
"iya aku sudah memiliki putri seusiamu saat ini!"
"dimana dia sekarang?"
"mereka ada di ibu kota ini hanya bekas rumahku yang dulu jadi tidak ada orang yang menempati!"
Albert melanjutkan langkahnya di ikuti oleh Zeint dari samping mereka menuruni anak tangga yang nampak kotor namun masih bagus untuk di pandang.
Mereka berdua duduk di sebuah meja panjang dengan beberapa roti dan daging di atas meja yang sudah disediakan oleh Albert sebelumnya.
Rasa lapar tak terelakkan lagi dari diri Zeint yang memang tak pernah merasakan makanan selama 10 tahun. Makanan di meja habis dalam sekejap tak satupun remah roti maupun daging yang tersisa disana Albert tersenyum riang sambil menyodorkan jatahnya kepada sang adik.
"makanlah zeint..."
Tanpa ragu Zeint mengambilnya dan melahap daging di piring itu dalam sekejap. kemudian meminum air di sampingnya sampai habis.
"ada air lagi kak?"
"ulurkan gelasmu zeint!"
__ADS_1
Ia mengikuti perintah sang kakak tanpa bertanya dan Albert memejamkan mata sambil menaruh jarinya di atas gelas yang di pegang oleh Zeint.
"Air keluarlah!"
sela-sela jari Albert mengeluarkan air seperti sulap. Zeint sangat terpukau dengan apa yang baru saja ia lihat seakan ada trik dari baliknya.
"wah hebat....trik apa ini kak?"
"eh ini bukan trik tapi sihir!"
"wah hebat!"
Wajah takjub sang adik menenangkan hati Albert tanpa sadar senyumannya semakin lebar.
Namun
Sihir Albert tiba-tiba terhisap ke arah Zeint yang tak tahu apa-apa dan langsung merasakan pusing di kepalanya.
Zeint kaget dengan keadaan Albert dan berusaha menghampirinya namun dengan cepat Albert menodongkan tangan bertanda agar Zeint tidak mendekatinya.
Albert berusaha menatap sang Adik betapa terkejutnya dia saat sebelah mata Zeint berubah hitam pekat pupil mata zeint berwarna kuning keemasan ujung rambutnya perlahan memutih dan terus menjalar ke atas.
Zeint tak sadar akan apa yang terjadi pada dirinya sendiri dan hanya bisa melihat khawatir ke arah Albert.
Suara deru hentakan terdengar tak lama setelah itu. beberapa derapan langkah segerombolan orang kini memenuhi ruangan tersebut. Mereka mengelilingi Albert dan Zeint dengan pedang dan tombak yang di arahkan kepada mereka.
"Hay Monster segera menyerahlah biarkan kami membawamu!"
salah seorang diantara mereka yang terlihat begitu gagah terlihat berjalan melewati orang-orang itu perawakannya yang sangar menunjjukkan pangkat yang tinggi.
Albert berusaha berjalan mendekati orang yang berbicara tersebut dengan langkahnya yang linglung.
"Kesatria tolong biarkan dia pergi aku mohon!"
Tatapan merendahkan tersorot dari balik helm yang ia kenakan sambil menatap acuh tak acuh ke arah Albert.
"pengbianat sepertimu apakah pantas berbicar?"
Albert menundukkan kepalanya setelah itu sambil terus memohon dan bersujut Zeint menatap sang kakak dari jauh rasa kesal dan tak mengerti terlukis jelas di wajab Zeint tanpa bisa berbuat apa-apa.
Albert memegang kaki sang Kesatria tersebut sambil tetap memohon agar Zeint bisa di biarkan pergi. karena kesal akan itu kesatria menarik pedang yang di pinggulnya dan menebas punggung Albert.
Warna merah darah keluar dari bekas sayatan pedang milik kesatria itu yang membuat Albert terserungkup ke tanah dan tak bergerak lagi.
Zeint menatap kejadian itu seolah tak percaya dengan apa yang barusan terjadi ia spontan berlari menghampiri sang kakak yang bersimbah darah itu dengan air mata. berulang kali ia mengguncangkan badan Albert namun tak kunjung juga ada respon darinya. Para kesatria yang ada disana hanya memandang jijik ke arahnya tanpa melakukan apa-apa dan hanya menonton itu.
__ADS_1
"Kenpa?"
"kenapa ini terjadi lagi?"
"padahal baru saja aku mengetahui bahwa aku memiliki seorang kakak yang baik tapi kenapa ini terjadi"
Zeint marah besar dengan keadaan itu, aura kegelapan perlahan keluar dari balik tubuhnya membuat dirinya hilang kendali, fikirannya kosong, rambutnya kini hampir berwarna putih pekat matanya mengeluarkan air mata darah.
Para kesatria yang mengelilinginya kini perlahan mundur satu langkah kegelisahan tersirat dari tingkah mereka semua karena merasa dalam bahaya besar.
Melihat reaksi para prajuritnya sang kesatria mencoba menarik tubuh Zeint yang di hadapannya itu, namun saat Zeint melihat ke arahnya tubuh sang kesatria itu tertutup es lalu hancur seketika.
para prajurit yang menyaksikan itu kemudian bergerak bersamaan mengarahkan senjata mereka ke tubuh Zeint sambil berlari tapi itu sia-sia mereka lakukan karena sebelum sempat mendekatinya, Zeint mengibaskan tangan kanannya ke udara dan seluruh bangunan tersebut di penuhi es. semua yang ada di dalam terkecuali Zeint dan Albert membeku.
Zeint terus menangis tanpa sadar apa yang telah ia lakukan,
Tangan Albert menyentuh lembut pipi Zeint yang baru saja berhasil membuka mata.
"Zeint tenanglah........ ini semua sudah takdir.......
uhukkk..hukk..."
"kakak!"...
Albert kembali meneruskan perkataannya dengan terbata-bata.
"dengar Zeint.... aku sudah menemukanmu ....sekarang.... giliran kamu untuk... menemukan adik kita...... Laura....."
"jangn berbicar lagi kak kita harus merawat lukamu..."
"tidak zeint.....biarkan kakak pergi karena tugasku sudah.. selesai... khukk..khukkk...!"
Tangan Albert bergerak menelusuri sela baju yang ia kenakan dan mengeluarkan sebuah topeng bergaris ungu dari balik bajunya tersebut.
Dengan lemah Albert memasangkan topeng itu ke wajah Zeint dan tiba-tiba warna rambut zeint perlahan menghitam kembali.
"sudah kudu...ga...! kristal yang menyelimuti tubuhmu itu... adalah pengekang ...kekuatanmu..."
"Zeint menjauh dari...sini... pergilah ke kerajaan Selleburk dan........
suara Albert terhenti dan mulai menutup matanya.
"kakak...!"
"kakak..!! bangun....!"
__ADS_1
Zeint menyadari bahwa kakaknya kini telah tiada namun masih enggan untuk beranjak pergi. Ia masih memeluk tubuh tak bernyawa itu sambil menangis suara gema tangisannya mengiyang keseluruh sudut ruangan seperti teriakan kesedihan.