Reincarnationem : The War Kingdom

Reincarnationem : The War Kingdom
chapter 15


__ADS_3

Bersama dengan Nerfa dan yang lain Zeint menyusuri kota perdagangan itu dengan gelak tawa juga guyonan.


Di pertengahan kota tersebut terlihat tempat luas yang hanya ada sebuah air mancur di tengahnya dengan bangunan-bangunan yang ikut mengelilingi tempat itu menyiratkan bahwa sannya disana adalah alun-alun kota.


Orang-orang berlalu lalang disekitar tempat tersebut ada juga yang hanya sebatas lewat dan ada juga pasangan yang sedang bermesraan. Zeint menatap ke arah orang pacaran tersebut namun segera ia berpaling karena merasa itu sangat sulot bagi dia untuk menerima hal tersebut. Yu meninggal di medan perang saat masih menyandang gelar jomblo elit karena tunangan yang dicintainya meninggal sebelum acara pernikahannya tiba.


Krukkkkk....


Perut Zeint berbunyi nyaring cukup jelas sampai-sampai ketiga orang lainnya menatap ke arah Zeint serentak.


"hemmzz sebaiknya kita mampir ke kedai dahulu sebelum pulang ke asrama!"-Nerfa memberi usulan sambil memegang dagunya.


Zeint merasa malu akan hal itu dimana perutnya yang tidak bisa berkompromi disaat seperti ini. Mungkin jika topeng yang ia kenakan di lepas maka akan terlihat wajahnya yang memerah karena malu.


Mereka masuk di sebuah bangunan dengan beberapa plang bertuliskan huruf aneh yang tertera di samping bangunan tersebut dan di ikuti dengan dentingan bel sesaat setelah mereka membuka pintunya.


"selamat datang"


Suara seseorang menyambut kedatangan mereka.


Zeint memperhatikan segerombolan orang-orang yang berada disana dengan seksama.


Orang-orang itu terlihat sangar dengan berbagai senjata yang melintang di sekujur tubuh mereka semua. Ada juga orang yang berpenampilan biasa ikut serta dalam keramaian itu, seakan-akan mereka tak terganggu dengan orang lain yang berperawakan sangar tersebut.


"Tempat apa ini,😟?"-Zeint membuka pertanyaan kepada Lux yang kebetulan ada di depannya.


"oh disini kedai makanan kami biasa makan disini saat selesai melakukan tugas!"


"Mereka bukan perampokkan?"-Sela Zeint sambil menunjuk salah satu dari orang-orang yang ada disana.


"hahahahaha🤣🤣🤣 mereka adalah para petualang dan juga prajurit Zeint bukan para penjahat."


"eh....!"😯


Saat ia duduk di salah satu meja Zeint teringat akan sesuatu hal yang sangat penting melebihi apapun di dunia ini maupun di dunianya dulu.


Hal itu seperti sambaran petir yang langsung menyengat tubuhnya sampai-sampai membuat Zeint terpaku di tempat duduknya tanpa bergerak.

__ADS_1


[gawattt]


"ada apa Zeint?"-Tanya Nerfa yang berada di depan Zeint.🧐


"anu... ada sesuatu hal yang ingin aku sampaikan pada kalian.....sesuatu yang sangat penting menurutku."-ucap Zeint bernada serius.🧐


Mereka bertiga menatap Zeint dalam, Mereka merasakan keseriusan pembicaraan yang akan di lakukan oleh Zeint saat itu.


Dengan anggukan kecil mereka mingisyaratkan kepada Zeint untuk berbicara.


Zeint menggerakkan tangannya ke depan wajahnya seperti ingin melepaskan topeng yang ia kenakan itu demi melanjutkan pembicaraannya.


Wajah Zeint semakin terasa serius saat topeng tersebut sudah berada di atas meja makan.


Mereka bertiga tanpa sadar mulai agak mencondongkan wajah mereka ke arah zeint untuk mendengarkan apa yang akan ia bahas kali ini kepada mereka.


Zeint mengambil nafas panjang lalu berbicara.


"Sebenarnya....."


"katakanlah Zeint kami akan dengarkan....!"-Nerfa meyakinkan.


"Sebenarnya....."


Mereka bertiga terperanga mendengar ucapan itu dan dalam sekejap menjadi gelak tawa yang menggegerkan seluruh pelanggan yang ada di sana.


HAHAHAHAHAHA......


Mereka bertiga terus tertawa lalu berhenti dan meminta maaf kepada seluruh orang yang ada disana karena sudah mengganggu.


Zeint yang merasa di acuhkan kemudian mengeluarkan isi tas yang ia kenakan di atas meja.


"Lihatlah ini serius loh....!"


Terlihat isi tas Zeint hanya ada dua belah pisau dengan satu botol bambu yang berisikan air minum selebihnya hanya ada beberapa buah cery liar.


Mereka kembali ingin tertawa namun Nerfa menahannya sambil memegang perutnya yang mulai sakit karena tertawa.Sedang kan Zeint hanya terus menjelaskan keadaannya.

__ADS_1


"Sudah Zeint masalah uang biar kami yang bayar, jadi kamu santai saja ,ini juga sebagai ucapan terimakasih kami karena sudah menolong kami."-Jelas Nerfa.


Zeint yang mendengarkan itu akhirnya mulai merasa lega meskipun ia masih memikirkan masalah itu dalam pikirannya.


Salah seorang pelayan kedai itu memberikan minuman setelah agak lama sambil menanyakan pesanan kami semua. Menurut Zeint itu wajar saja melihat keramaian yang ada disini.


Agak lama menunggu akhirnya pelayan itu kembali lagi membawakan beberapa piring makanan kepada kami semua.


Menu yang di pesan ada banyak sekali mulai dari paha ayam, sup, nasi dan lain-lain. yang membuat Zeint sangat bernafsu untuk makan.


Selesai makan Mereka langsung berjalan keluar meninggalkan kedai tersebut untuk melanjutkan perjalanan ke Asrama Akademi Millita.


Di penghujung jalur perkotaan terdapat sebuah bangunan tinggi dan sangat mencolok. Lokasinya yang jauh dari keramaian membuat Zeint yakin kalau disana adalah tempat yang ia akan tempati yaitu Akademi Millita.


"Selamat datang di Akademi Millita Zeint mulai sekarang kamu akan belajar dan tinggal disini!"-ucap Nerfa sembari memberi senyuman.


Zeint menatap takjub akademi tersebut karena ini sangat luar biasa baginya.


Bangunan besar bernuansa kerajaan dengan warna putih di setiap bagiannya membuat keharmonisan tempat itu terlihat jelas.


Pilar-pilar penyanggah yang memapa langit-langit begitu menonjol sampai keluar, ditambah dengan dua patung dewi memegang pedag dan juga buku berada di depan.


"Baiklah Zeint kamu pergilah ke asrama sedangkan aku akan mengurus pendaftaranmu mewakili Tuan Vamilon!"-Ucap Nerfa yang langsung meninggalkannya.


"Ayo Zeint kita ke asrama!"-ajak Lux.


Asramanya berada di samping gedung Akademi Millita.


Ada 2 bangunan yang saling berhadapan dengam sebuah taman yang memisahkan bangunan itu.


Menurut Ardy sebelah kiri adalah asrama bagi laki-laki sedangkan yang kanan adalah asrama perempuan.


Kami memasuki Asrama yang terlihat kosong itu sambil membahas tentang beberapa peraturan. Asramanya begitu luas namun tak ada seorang pun terlihat disana, yang ada hanya seorang perempuan paruh baya duduk membaca buku di sudut ruangan.


Ardy meminta berkas yang di berikan Vamilon kepadnya dan menunjukkan kepada perempuan tersebut. Setelah membacanya ia memberikan sebuah kunci kamar kepada Ardy dan menyuruhnya untuk mengantarkan Zeint.


Kamar Zeint berada di lantai 2 di ujung lorong yang memiliki jendela menghadap lurus ke arah hutan.

__ADS_1


Ardy dan Lux pergi setelah itu karena kamar mereka berlawanan arah dengan kamar yang di tempati Zeint saat ini.


Zeint menatap ruangan kamarnya itu dengan wajah risau, Lantai yang kotor di penuhi debu dengan beberapa jaring laba-laba di setiap pojoknya membuat Zeint harus terlebih dahulu membereskannya sebelum beristirahat dengan nyaman.


__ADS_2