Reincarnationem : The War Kingdom

Reincarnationem : The War Kingdom
chapter 48


__ADS_3

Tempat yang terlihat asing menyambut Zeint disaat dirinya kembali membuka mata.


Ruangan tersebut sekitar berukan 5X6 dengan dua buah kasur di dalamnya.


"ini dimana?"-Zeint mencoba bangkit dari sana.


Dengan wajah bingung Ia berjalan menyusuri sekeliling mencari petunjuk, namun ia hanya bisa melihat benda-benda antik saja tanpa adanya sebuah tanda yang dapat memberi tahu keberadaannya.


Tak ingin berada di ruangan tersebut Zeint menuju ambang pintu kamar mencoba keluar dan memastikan keberadaannya tersebut sebenarnya ada dimana sekarang ini.


Lorong gelap dengan hanya bercahayakan sebuah lobang kecil persegi di samping lorong nampak mencurigakan. Ia melanjutkan langkahnya menyusuri lorong tersebut dengan sesekali mencoba mengingat apa yang terjadi kepadanya hingga akhirnya berada di sini.


Lorong itu berakhir pada sebuah gerbang besar dengan ukiran mengelilinginya. Zeint membuka pintu tersebut dan cahaya silau terpancar begitu terang.


Zeint menutup mata dengan menggunakan telapak tangannya kemudian mulai melepaskan kembali di saat cahaya itu sudah mulai terasa biasa.


"ini kan..!"


Zeint akhirnya mengetahui keberadaannya sekarang. Ia berada di kediaman tuan Vamilon gerbang tersebut menunjukkan halaman luas depan kediaman tuan Vamilon dari sudut kanan. Zeint meyakini hal tersebut saat melihat dua buah patung di depan halaman yang di kenalinya itu


Kemudian Zeint melanjutkan langkahnya menemui tuan Vamilon yang mungkin berada di ruangannya sambil bertanya tentang apa yang terjadi kepadanya.


"Zeint kamu sudah sadar?"-Sapa seseorang dari persimpangan koridor.


Zeint menoleh dan di dapati Silviava berjalan ke arahnya dan langsung memeluknya erat.


"Mbak Silviava kenapa aku berada di sini?"-Tanya Zeintencoba melepas pelukan Silviava yang menurutnya agak tak mengenakkan batinnya.


"Itu nanti saja kita bahas untuk sekarang bagaimana kalau kita makan dulu karena aku yakin kamu pasti lapar!"-Balas Silviava yang langsung menarik pergelangan tangan Zeint dan menuntunnya agar ikut dengannya.


Zeint yang berfikir itu benar apa adanya berjalan mengikuti Silviava dari belakang tanpa berbicara sepatah kata pun karena bingung harus memulai bagaimana.

__ADS_1


Silviava membawa Zeint ke sebuah ruangan makan yang mana ia dapati disana ada tuan Vamilon dan juga Maya sedang duduk menikmati makanannya.


Maya yang melihat Zeint beranjak turun dari kursinya dan berlari memeluk Zeint.


"Papa sudah bangun!"


Dengan sedikit menurunkan pandangan Zeint mengelus kepala Maya dengan lembut seraya tersenyum dengan lega.


"Ya Maya maaf sudah membuatmu khawatir!"


"Zeint apa kamu memang ayah dari Maya?"-Tanya Silviava yang merasa bingung dengan panggilan Maya kepada Zeint tersebut.


"Itu tidak benar cuma saja saat melihat dirinya seperti ini aku tidak tau harus melarangnya atau mau gimana!"-Jelas Zeint singkat.


"Ehh...!"


Wajah kebingungan Maya terlihat saat Zeint mengatakan hal tersebut namun tetap diam sembari menarik pergelangan tangan Zeint ke kursi di sebelahnya tadi.


"Zeint bagaimana keadaanmu?"-Tuan Vamilon kini lanjut menyambut Zeint.


****


Selesai makan Zeint tetap berada di aula makan karena tuan Vamilon inging membahas sesuatu hal tentang apa yang menjadi kebingungan Zeint saat ini.


Sedangkan Maya tetap sibuk dengan beberapa puding di hadapannya.


"Baiklah kita akan memulai dari mana?"-Seru tuan Vamilon sembari menatap Zeint menunggu pendapat.


Meski tatapan itu mengatakan segera beritahu namun bagaimana Zeint harus berkata.


"Tuan Vamilon saya tidak terlalu ingat betul tentang kejadian tadi malam, seingat saya pas baru tiba di sini bersama Maya ,saya kelelahan dan jatuh pingsan "-Ucap Zeint yang berfikir lebih baik di mulai dari ingatan terakhirnya.

__ADS_1


Vamilon memejamkan mata sejenak seraya menopa dagu dengan kedua tangannya di atas meja makan.


"Hemmmzz perlu saya perbaiki....Zeint kamu sudah pingsan selama 3 hari disini, penyebabnya bukan karena lelah...!"-Tuan Vamilon terhenti berbicara sambil menatap ke arah Silviava yang duduk di depannya itu.


"Melainkan kamu setelah itu mengamuk dan dengan terpaksa kesatria angin selatan Silviava merapalkan sihir penenang saat baru tiba disini!"-Tambah tuan Vamilon dengan wajah serius.


Wajah Zeint mengernyit bingung tatapannya menandakan tak percaya.


"Ehhh udah 3 hari pingsan, dan aku mengamuk? masa sih?"-Sela batin Zeint.


"Di tambah lagi Maya sampai terluka saat mencoba menghentikanmu Zeint!"-Sela Silviava sambil melihat Maya yang berada di sebelah Zeint.


Zeint menatap ke arah Maya yang duduk di sebelah kirinya tersebut dengan tatapan mencari-cari luka yang di bicarakan mbak Silviava.


Di atas pinggul Maya terdapat sebuah gulungan kain berwarna putih melingkari badan Maya, bajunya yang berwarna hitam bergaris putih agak menutupi bekas lukanya sehingga Zeint hanya dapat melihat bercah darah seperti tumpahan saos saja.


Meski begitu perasaan beesalah tak dapat terpungkiri dari hati Zeint. Di tambah dengan tatapan tanpa ekspresi Maya membuat ia akan kehilangan separuh kekuatannya karena menyesal.


"Maya maaf sudah menyakitimu ....!"-Zeint berucap lihir sambil menurunkan pandangannya ke bawah.


Maya hanya mengangguk pelan saja sambil terus memakan puding yang sedari tadi di pegangnya seakan tidak ada apa-apa saja.


Zeint kembali bingung harus bagaimana meminta maaf yang benar kepada Maya, ya mau bagaimanapun jika saat meminta maaf dan melihat ekspresi Maya saat ini maka terlihat percuma saja. Tak ada rasa benci di raut wajahnya, tak ada rasa marah, yanga ada hanya tatapan datar seorang gadis kecil sambil mengunyah puding beserta sendoknya yang masih menggelantung di mulut.


"Zeint aku bisa menceritakan lebih detail lagi tentang apa yang terjadi, tapi setelah berunding dengan kesatria angin selatan Silviava lebih baik secara berkala saja kamu mengetahuinya, begitulah pendapatnya!"-Tuan Vamilon kembali berucap dengan serius.


Rasa penasaran memang masig menggantung di benaknya akan tetapi alangkah baiknya dia menururi ucapan tuan Vamilon yang mungkin memang berniat baik terhadapnya.


Zeint mengangguk setuju di ikuti oleh senyuman tuan Vamilon dan juga Silviava yang menandakan ke legaan di hati mereka.


Setelah itu Zeint beranjak pamit meninggalkan ruangan bersama Maya yang kini terasa lebih lengket dari pada biasanya.

__ADS_1


Zeint tak bisa menolak keinginan Maya karena ia berfikir bahwa Maya terluka olehnya.


Seharian itu Maya dan Zeint selalu bersama mulai dari berkeliling, bermain hingga istirahat.


__ADS_2