
Zeint terbangun di dalam sebuah ruangan yang nampaknya tak asing di pandanginya.
"Oh aku dikamar!"-Seru Zeint pelan.
Dengan keadaan masih terbaring ia mencoba untuk bangkit dari sana, sambil memegang bagian belakang kepalanya karena sedikit terasa pusing.
Seberkas ingatan sebelum pingsan teringat kembali, dimana itu tentang ucapan seorang perajurit yang mengatakan bahwa kota D'lus telah di serang oleh pasukan bangsawan Grindale.
"Nerfa, Lux, Ardy,!"-Ucap Zeint yang langsung membanting selimut yang menutupinya agar bisa segera pergi.
Zeint melepas Jas yang sedang ia pakai dan mulai menarik jubah di atas meja dekat kasur sambil berjalan ke ambang pintu kamar.
Estorage!
Zeint mengambil topengnya segera ,sebelum keluar ruangan.
"Tuan Zeint anda mau kemana?"-Suara lelaki yang sangat di kenalinya terdengar tak jauh.
Spontan Zeint berpaling ke arah sumber suara itu dengan cepat.
"Bernald....Aku akan pergi ke kota D'lus sekarang!"-Tegas Zeint dengan penuh ke khawatiran.
"Tunggu bagaimana dengan pertunanganmu tuan Zeint?"-Bernald mencoba mengingatkan Zeint tentang hal lain yang sedang menjadi masalahnya.
"Tolong urus sisanya tuan Bernald karena kota D'lus sangat berarti bagiku!"-
"Tapi...-"-Bernald terhenti bicara saat Zeint mulai berlari dengan cepat ke arah gerbang utama kastil kerajaan.
"Ah... bagaimana aku harus mengurusnya tuan Zeint.... anda terlalu sembrono!"-Keluh Bernald tanpa bisa berbuat apa-apa ,selain memandangi punggung Zeint yang sudah tak terlihat lagi.
Dengan kecepatan penuh yang di padu dengan sihir Lightning Up miliknya ,Zeint sudah berada di hutan luar kota Aquas dalam waktu singkat.
"Tunggu aku sebentar lagi!"-Ucap Zeint yang mulai memasuki wilayah hutan di barat kota Aquas.
Tidak ada hal lain yang di fikirkan Zeint saat ini. Ia hanya fokus agar dirinya bisa segera sampai di kota D'lus dengan scepat.
Zeint tak menghentikan langkah kakinya itu walau kini hari sudah mulai petang. Matahari di depan Zeint berwarna orange di padu dengan warna jingga langit dan awan.
Paparan sinarnya semakin lama semakin pudar yang menandakan waktu telah berganti malam.
Kecepatan berlari milik Zeint mencapai 50 km/J ,jika di hitung dengan kecepatan di dunia sebelumnya.
Namun jika hanya sebuah langkah cepat Zeint bisa bergerak 120 m/s .Itu sama halnya dengan laju sebuah peluru senapan.
__ADS_1
Zeint tak memperdulikan pandangan sekitar yang mulai gelap, Ia masih terus saja berlari dan melompat menuju arah barat tanpa memperdulikan hal seperti itu.
Ia mungkin sudah berlari sekitar 3 jam lebih, dimana sekarang sudah mencapai pertengan jalan.
"Arghhhhhkk!"-Zeint berteriak keras saat tubuhnya mulai jatuh saat melompati dahan pohon di depannya.
"Sial!"-Ucap Zeint dengan nada kesal.
Zeint tidak bisa menggerakkan kakinya, nafasnya mulai tak beraturan, dan detak jantungnya kini sudah di ambang batas.
"Manaku masih banyak tapi kenapa fisik ini begitu lemah? apa aku kurang latihan?"-Tanya Zeint yang masih belum bangkit dari tempat ia terjerembab.
Warna langit kini sudah menjadi biru kehitaman, dengan bintik-bintik kecil berwarna putih di setiap sudutnya.
Suara para binatang malam mulai terdengar seperti lagu pengantar tidur bagi Zeint yang sudah kelelahan.
Saat Zeint tak bisa berbuat banyak sebuah auman bergema di sekitarnya.
Grroaarrr
"Suara apa itu? monster?"-Tanya Zeint sembari mencoba bangkit.
Otot-otot Zeint tak merespon keinginannya dan hanya berdenyut cepat di beberapa bagian.
"Sial!"
Groaarrrr.
Suara tersebut terdengar lagi tepat di atas Zeint berada saat ini.
Sebuah bayangan hitam besar melayang-layang disana ,dengan beberapa liukan kekanan dan kekiri memandangi Zeint dari atas.
"Gawat kenapa ada naga disini? apakah aku akan mati kembali dengan menjadi makanan seekor naga? tidak!"-Ucap batin Zeint saat ia tahu bahwa bayangan gelap itu adalah seekor naga.
Zeint menelan ludah dalam sambil memejamkan matanya dengan cepat. Ia berfikir sebisa mungkin agar terlepas dari situasi ini, namun fikirannya buntu karena kalah dengan rasa takut akan kematian yang tak di inginkannya.
Bruugggg...
Terdengar suara sebuah benda besar mendarat di tanah. Getaran yang tak begitu kuat itu dapat di tafsirkan bahwa naga di atasnya sedang mendarat untuk memakan Zeint yang tak bisa bergerak .
Detak jantung Zeint semakin cepat, ia ingin lari dari sana tapi apa bisa di kala kedua kakinya kini sudah terlalu letih. Di saat Zeint sudah yakin dirinya akan dimakan oleh naga itu tiba-tiba terdengar suara seseorang.
"Papa mau kemana?"-
__ADS_1
Panggilan yang tak asing itu membuat Zeint tersentak kaget. Ia segera memalingkan pandangan memandangi sekitar dan melihat disana ada Maya dengan kapak di tangan kanannya.
"Maya kenapa kamu disini?"-Tanya Zeint sembari berusaha duduk dengan memopa badan dengan kedua tangannya.
Maya membantu Zeint duduk karena terlihat masih kesulitan.
"Aku mencari papa!"-Balas Maya agak lama kemudian.
Zeint menghela nafas panjang sambil merosotkan bahunya pas tadinya menegang.
Zeint merasa sangat bodoh saat ingat akan dirinya yang ketakutan tadi. sedangkan Naga yang tadinya terbang di atasnya tak lain adalah Maya yang mencari dirinya.
"Maya bisakah kamu antarkan aku segera ke kota D'lus?"-Tanya Zeint dengan nada serius sambil menatap tajam Maya.
"Dasar lelaki tidak sopan!"-Suara itu bersamaa terdengar saat sebuah hantaman kecil mengarah tepat di kepala Zeint.
Zeint memalingkan pandangan ke suara yang memukulnya dimana ia lihat kapak iblis maya melayang di udara.
"Kenapa kamu memukulku woy!"-Ucap Zeint kesal sambil memegang benjelan di tengah kepalanya itu.
"Itu hukuman karena kamu sudah mengatakan hal yang tidak sopan kepada tuan putri Maya ...bodoh!"-Sang kapak iblis membalas ucapan Zeint.
"Baiklah!"-Ucap Maya yang seperti biasa tak menghiraukan hal lain.
"eh tuan putriku anda terlalu baik kepada dia!"-Sela kapak iblis itu tak senang.
"Boses!"-Balas Maya singkat.
Sang kapak tak membalas dan memilih diam dan menghilang begitu saja. Sedangkan Maya berjalan agak jauh dari tempat Zeint duduk.
Tiba-tiba cahaya silau terpancar dari tubuh Maya yang menyebabkan Zeint harus menutup lubang topengnya dengan tangannya.
Saat cahayanya mulai meredup, disana sudah ada Maya yang sudah berbentuk Naga berjalan menghampiri Zeint.
"Maya...!"-Ucap Zeint takjub.
Maya mengangkat tubuh Zeint dengan tangan naganya dan mulai mengepakkan sayapnya ke udara.
Hentakan kakinya di ikutkan bersama kepakan sayapnya sehingga memicu suatu dorongan cepat ke atas.
Zeint yang masih berada di genggaman Maya merasa sedikit pusing sebab hentakan tersebut mengakibatkan beberapa kali goncangan.
Maya melaju Cepat ke arah barat di atas hutan langit gelap itu bersama Zeint di tangannya.
__ADS_1
Sebuah kepulan asap dengan warna merah terlihat samar oleh Zeint dari tangan Maya.
"Apa aku masih sempat?"-Ucap Zeint denga nada khawatir.