Reincarnationem : The War Kingdom

Reincarnationem : The War Kingdom
chapter 11 (Kesatria)


__ADS_3

Zeint terbangun saat matahari setinggi tombak di ufuk timur dengan keadaan masih setengah linglung karena pemakaian mana yang berlebihan.


"apa yang terjadi tadi malam?"


Ia mencoba mengingat-ingat aktifitas yang di lakukannya dari awal hingga akhirnya kepalanya tiba-tiba pusing,


Sekelebat ingatan tentang peringatan yang di ucapkan pedagang saat hendak berpisah ia ingat kembali.


{Belajar sihir tidak harus monoton Nak!. karena itu akan menghabiskan banyak energi dalam tubuhmu.. jadi berhati-hatilah}


"Paman bilang dong kalau akibatnya bakalan pingsan huf!"-Ucap Zeint jengkel sendiri ๐Ÿ˜‘


Ia mengemas barang-barang yang tergeletak di tanah ke dalam tasnya kemudian melanjutkan perjalanannya kembali.


Pemandangan kali ini sedikit berubah pepohonan yang tadinya tinggi menjulang kini sama halnya dengan pohon-pohon pada umumnya, dengan ada penampakan sungai yang mengalir di samping jalan setapak tersebut yang menandakan bahwa ia berada di rute seharusnya untuk menuju ke kerajaan Aquas.


Zeint berlari ke arah sungai tersebut. Air mengalir dengan beningnya hingga ikan yang sedang berenang cukup terlihat jelas oleh mata telanjang.


Ia membuka topengnya dan langsunh membasuh muka sembari meneguk beberapa kali air tersebut.


"bhahhh.....airnya mantap!"


Zeint mengeluarkan sebuah botol bambu guna menbah persediaan airnya agar tidak mengalamai kekurangan saat di perjalanan nanti. Meski jalurnya sudah tepat ia berfikir lebih baik begitu takut ada apa-apa nantinya.


Merasa sudah puas Ia kemudian mwlanjutkan kembali perjalanannya agar lebih cepat sampai sebelum petang.


Cuaca yang tadinya panas kini telah sedikit berubah disebabkan oleh awan gelap menutupi keberadaan matahari.


"Sepeetinya sekarang musim hujan disini....lebih baik aku mempercepat langkahku!,"-Ucap Zeint sembari berlari.


Awan gelap itu terus menyelimuti langit dengan sesekali memperlihatkan kilatan-kilatan cahaya petir di baliknya.


Zeint terus saja berlari hingga pada akhirnya terhenti karena mendengar suara pohon yang tumbang. Ia menerawang sekeliling dengan seksama, menajamkan pendengaran serta penglihatannya agar mengetahui apa yang terjadi.


Suara samar dentingan besi terdengar oleh Zeint, serentak membuat dia berlari menuju ke arah suara itu berasal.


Saat ia menerobos semak belukar ia menemukan pemandangan yang sangat mengejutkan.


Terlihat ada 2 orang laki-laki dengan 1 orang wanita seumuran dengannya sedang bertarung melawan monster laba-laba setinggi 2 meter.

__ADS_1


Monster laba-laba itu bukan hanya ukurannya saja yang besar namun setiap kakinya terlihat runcing berwarna hitam gelap dengan beberapa sudut yang menonjol mirip duri di setiap sudutnya.


Zeint memperhatikan mereka bertarung dari balik semak-semak karena menurutnya tidak baik ikut campur disaat mereka para Kesatria sedang bertarung dengan gagahnya.


"waw anak-anak disini benar-benar mantap.....mereka berani melawan monster itu dengan gagah..๐Ÿ˜ฎ beda banget sama duniaku yang dulu๐Ÿ˜…... fantasi memang mantap๐Ÿ‘."-gumam Zeint.


Mereka bertiga memasang formasi segitiga dimana Gadis itu berada di tengahnya sebagai pemimpin.


"Lux ...Ardy serang bagian kanan dan kiri kaki mereka jangan mencoba melawan cukup tahan saja dan sisanya akan aku bereskan!"-Ucap gadis tersebut di ikuti dengan anggukan mereka beedua.


Pedang mereka sudah siap di pegang dengan kuda-kuda yang terlihat kokoh menurut Zeint.


Kedua lelaki tersebut melompat dan langsung menerjang ke arah monster tersebut, dengan cepat laba-laba itu merespon dan mengangkat kedua kaki depannya bersiap menyerang juga.


Di saat kaki laba-laba itu mengarah ke mereka berdua dengan sigap mereka menghentikan serangannya dengan pedang mereka.


Melihat pergerakan monster itu terhenti gadis tersebut menarik pedangnya dan menaruh lurus ke atas sambil mengucapkan beberapa mantra.


Cahaya kuning kini menyelimuti gadis tersebut dengan pedangnya yang kini sangat bersinar.


Zeint terus memandangi gadis tersebut karena ini adalah sesuatu yang hebat menuritnya.


"Matilah kau monster.....!"


Gadis itu menerjang langsung ke bagian tengah monster tersebut dan memberikan satu sayatan telak ke bagian kepala monster tersebut dan hasilnya satu sayatan itu berhasil membelah monster laba-laba tersebut menjadi dua.


Zeint melongo takjub matanya seakan tak percaya dengan apa yang barusan ia saksikan.


"Mereka bertiga hebat!"


Melihat keadaan yang mulai aman Zeint hendak meninggalkan tempatnya itu tanpa meninggalkan jejak dan memilih melanjutkan perjalanannya.


Namun itu tak bisa ia lakukan dimana tiba-tiba ada goncangan besar di ikuti dengan pohon-pohon yang tumbang di dekat para kesatria tersebut.


Zeint kembali melihat ke arah mereka kembali.


Anging bercampur tanah dan debu kini menyelimuti daerah sekitar, Suasana yang mulai gerimis menambah ketegangang di kala itu.


Getaran dari tanah kini berhenti bersamaan dengan hilangnya debu-debu di sekitar mereka.

__ADS_1


Mata mereka melongoh lebar terdapat sebuah ketakutan di mata mereka bertiga. Salah satu dari mereka jatuh terduduk karena syok segaligus takut.


Pandangan Zeint sedikit terganggu oleh air hujan ia mencoba menerawang lebih jauh mengikuti pandangan para kesatria tersebut.


Zeint terkejut melihat seekor monster laba-laba yang jauh lebih besar 2 kali lipat dari yang tadi berdiri di hadapan para kesatria tersebut. Itu terlihat seperti Ratu laba-laba menurut Zeint.


Ratu laba-laba itu menyerang para kesatria tersebut dengan semburan putih dari mulutnya.


Cairan itu tak lain adalah benang lengket yang langsung mengekang mereka bertiga tanpa bisa melawan dan hanya menggeliat seperti ulat.


"woi...woi...woi....bukankah ini gawat?" ๐Ÿ˜ฑ


"Aku harus menolong mereka....meskipun mustahil bagiku melawan dia sih!"


Zeint berfikir dengan cepat mencari solusi dari keadaan yang kini menghampirinya.


Ia merasa mustahil mengahadapinya namun kalau hanya sebatas mengalihkan itu mungkin bisa ia lakukan.


Teleport!


Zeint melempar batu ke arah sihir teleport miliknya dan mengarahkan ke arah kepala sang ratu dan hasilnya itu tak di hiraukan oleh sang ratu.


Bagaimanapun itu ya percuma karena hanya batu kecil saja yang ia lempar sedangkan tubuh sang ratu besarnya minta ampun.


"mungkin jika pisau ini di alirkan listrik agar bisa meningkatkan kecepatannya mungkin bakalan sedikit melukai sang ratu... dan sisanya tinggal lari saja!"


Dorongan Listrik!


Zeint mengambil ancang-ancang di balik semak-semak mengalirkan listrik ke tangannya yang memegang pisau dengan sangat erat lalu melemparkannya.


Teleport!.


Pisau yang beralirkan listrik itu berhasil masuk ke ruang teleport milik Zein sisanya hanya tinggal mengarahkan kemunculan gerbang teleport tepat di kepala sang ratu laba-laba.


"Sihir gabungan..!"


Teleport Lightening Spiral!


Bersamaan dengan ucapan Zeint tersebut, pisau miliknya keluar dari lingkaran teleport tepat di atas kepala si Ratu Laba-laba dan langsung menembus kepala hingga tertancap di tanah.

__ADS_1


Ratu laba-laba tersebut perlahan mulai ambruk berkat serangan kejutan yang di berikan oleh Zeint.


Ketiga kesatria itu kaget mendapati Ratu tersebut tumbang dengan sekali serangan yang tak tau asalnya dari mana itu.


__ADS_2