
Malam kelam yang begitu pekat .Di dekat sungai Zeint menatap bayangan wajahnya yang kini mirip sekali dengan bayangan dirinya di kala ia masih seorang tentara Yu Sharelite.
"Hemmmzz aku kira aku tak akan lagi menghadapi situasi seperti ini ternyata aku terlalu naif dengan pikiranku sendiri"-Keluh Zeint.
Estorage.
Zeint mengambil pakaian biasanya dan segera berganti dengan pakaian miliknya. Sedangkan pakaian yang penuh dengan bercak darah ia bersihkan di aliran sungai tersebut.
"Baiklah lebih baik aku kembali saja!"-Ucapnya seraya berjalan kembali ke tempat tuan putri berada.
Di balik topengnya Zeint melihat para perajurit sedang mengobati teman mereka yang terluka, sebagian lagi mengumpulkan para tubuh tak bernyawa milik rekan maupun musuh di satu tempat.
Mereka melucuti semua pakaian beserta senjata para korban satu persatu.
Yah itu sudah wajar mengingat ini sebagai bentuk barang jarahan fikir Zeint yang masih terpaku memandangi mereka.
"Tuan Bernald luka anda bagaimana?"-Sapa Zeint yang kebetulan melihat Bernald lewat di depannya.
"oh ya Zeint aku baik-baik saja!"-Balas Bernald yang kemudian menundukkan pandangannya.
"Apa masih ada masalah tuan Bernald?"
"Hemmmzz ya tuan putri memaksakan diri menggunakan sihir yang membuat tubuhnya kini lemah!"
Mendengar hal itu Zeint langsung bergegas menghampiri tuan putri Ellza yang berada di tenda sementara sebelah kereta kuda yang kini hanya tersisa satu.
"Putri anda baik-baik saja?"-Tanya Zeint segera saat melihat putri Ellza terbaring di dalam tenda.
"Yah aku baik-baik saja hanya butuh istirahat srbentar!"-Balas putri Ellza dengan nada lemah.
Zeint memandangi wajah putri Ellza dengan seksama. kulit wajahnya kini terlihat pucat pasi, nafasnya terlihat berat namun tak ada tanda-tanda mengalami kekerasan.
"Apa yang terjadi dengan anda tuan putri?"-Tanya Zeint lagi.
Dengan wajah di paksakan tersenyum putri Ellza berusaha menenangkan ke khawatiran Zeint.
"Ini bukan masalah besar Zeint...yang lebih penting bagaimana pasukan kita?"
"Emmmzz ya....setengah pasukan kita aman seperempat lainnya hanya luka-luka dan sisanya ......!"
"ahh...ya aku mengerti!"-Balas putri Ellza sembari menutup matanya.
Zeint yang mengerti dengan apa yang di rasakan putri Ellza meminta izin menjaganya di luar tenda ,dengan niatan ingin membiarkan putri Ellza sendirian.
***"""
Malampun berlalu tak ada lagi tanda-tanda musuh sampai matahari kini menampakkan wujudnya.
Zeint membantu membuat sarapan untuk para pasukan seperti yang ia lakukan tadi malam.
__ADS_1
Para perajurit yang tersisa hanya tersisa 40 orang saja jika dihitung dengan para perajurit yang terluka.
Wajah mereka memang terlihat penuh senyuman namun Zeint paham jika di hati mereka berkata lain.
"Zeint tolong bawakan ini pada tuan putri!"-Bernald memberikan semangkuk makanan kepada Zeint yang ada di dekatnya.
Dengan anggukan kecil Zeint mengantarkan itu kepada majikannya tersebut yang kini masih tertidur di dalam tenda.
"Tuan putri anda sudah bangun?"-Tanya Zeint dengan sopan saat membuka tirai tenda.
Tak ada tanda-tanda jawaban dari tuan putri.
Dia hanya tetap tidur miring membelakangi Zeint.
"hahhh.....!"-Zeint membuang nafas.
"Putri anda sebaiknya sarapan dulu agar tubuh anda kembali membaik!"-Ucap Zeint sambil berdiri di dekat kasur kecil tempat putri Ellza tidur.
"Zeint....."-Ucap putri Ellza yang masih membelakangi Zeint.
"Ya tuan putri!"
"Zeint apa kamu tak merasa apa-apa setelah kejadian tadi malam!"-Tanya putri Ellza.
Mendengar itu ia sedikit tersentak namun dengan segera menenangkan diri.
"Tuan putri semua orang memiliki perasaan yang sama seperti anda rasakan namun mereka masih bisa tersenyum......!
Zeint kemudian memegang pundak putri Ellza dan langsung menghadapkannya kepada Zeint.
"Jadi putri anda harus kuat menghadapi ini karena bagaimanapun itu adalah kewajiban anda sebagai pemimpin!"-Tambah Zeint seraya mengusap air mata yang mengalir dari balik mata putri Ellza yang berwarna biru.
Putri Ellza kembali menutup mata lalu memberikan senyuman.
"Ya kamu benar Zeint..... tapi kamu gak merasa bahwa kamu sekarang melakukan hal yang kurang sopan kepada majikanmu!"-Ucap putri Ellza yang sudah merasa baikan.
"ehhhh maaf tuan putrii!"-Balas Zeint gelagapan.
"hihihihi.... ya untuk kali ini aku maafkan!"-Ucap putri Ellza seraya mengubah posisinya untuk duduk.
Zeint yang tadinya salah tingkah kini mulai tenang kembali karena senyuman majikannya tersebut.
"Zeint aku ingim melihat wajahmu lagi!"-Tambah putri Ellza.
Dengan santai Zeint membuka topengnya dan menunjukkan langsung kepada putri Ellza sembari memasang senyuaman.
"Sudah kuduga wajahmu manis sekali Zeint....!"-Goda putri Ellza.
"Jangan bercanda tuan putri... lebih baik anda segera sarapan saja!"-Balas Zeint yang bergegas meninggalkan majikannya itu.
__ADS_1
******
Saat matahari sudah sampai setinggi tombak Zeint beserta putri Ellza melanjutkan perjalanannya lagi untuk segera ke ibu kota.
Mereka berjalan ke arah timur laut dari kota D'lus yang sebentar lagi akan srgera sampai sebelum siang.
Zeint dan Bernald berjalan di samping kereta yang di tumpangi putri Ellza mengingat penyerangan tadi malam mengakibatkan kedua kereta yang lainnya tak lagi bisa di gunakan.
"Huuuaahhh capekk.....!"-Keluh Zeint di perjalanan.
"Hahahaha sebentar lagi kita sudah sampai tuan Zeint...jika sudah melewati bukit ini ibu kota sudah akan terlihat!"-Sela Bernald yang ada di sampingnya.
"Serius!"-Tanya Zeint yang sudah berjalan membungkuk.
"Ya....!"-Balas Bernald sambil mengacungi jempol.
Saat Zeint sudah melewati bukit terlihat disana sebuah kota yang sangat besar ,kota itu dua kali lipat lebih besar dari kota D'lus dengan danau dan juga gunung yang mengitari kota tersebut.
"Wawwww....!"-Ucap Zeint takjub dengan apa yang ia lihat.
"Seperrinya Zeint baru pertama kali kesini ya...!-Sela putri Ellza dari balik jendela kereta.
"Ya benar itu putri...ini pertama kalinya saya kesini!"-Balas Zeint dengan segera.
"jangan lupa Zeint kamu segera ganti pakaianmu sebelum tiba disana paham!"-Tambah putri Ellza.
"Baik putri!"
Jalan setapak yang sedikit menukik dengan pemandangan petak sawah yang nambak bergaris-garis menemani perjalan mereka.
Danau yang begitu besar dengan air tenjun yang nampak dari jauh begitu mempesona mata.
Air yang begitu bening hingga nampak berwarna biru dari jauh sangat indah, di tambah kilauan air yang terpapar sinar matahari membuat itu mirip seperti butiran berlian.
Di penghujung jalan terdapat sebuah jembatan batu terpapang sangat kokoh membentang hingga keseberang danau yang itu menghubungkan keduanya.
Tembok berwana putih kecoklatan senantiasa mengelilingi kota di tengah danau tersebut hingga tanpak tak ada celah disaat itu diserang oleh musuh.
Lalu lalang orang-orang yang keluar masuk dari gerbang di seberang jembatan terlihat ramai. Dengan beberapa perajurit berarmor berdiri berjejer.
Saat Rombongan tuan putri Ellza tiba gerombolan orang-orang tersebut dengan cepat menepi sehingga membuat jalan itu terpapang luas.
Tak ada yang menghalangi jalannya malahan mereka melambaikan tangan dan sesekali perajurit yang di lewati mereka memberi hormat.
"kita mau kemana?"-Tanya Zeint kepada Bernald.
"kita akan menemui yang mulia raja!"-Balas Bernald.
"Oh baiklah jadi tujuan kita kesana!"-Ucap Zeint sambil menunjuk ke sebuah kastil megah di ujung kota.
__ADS_1
"Ya....!"