
Asap hitam tebal seperti awan itu kini hanya tinggal sisa-sisa. Api yang tadinya masih menari pelan kini sudah tak terlihat lagi.
Wajar saja desa ini terlalu terpelosok bagiku mengingat perbedaan yang sangat jauh di bandingkan dengan kehidupan modern di perkotaan.
Di sekeliling mereka hanya ada beberapa mayat yang bergelimpangan termasuk juga dengan warga sipil yang tinggal disini.
Apakah itu sudah semua warga?. Tidak mungkin walaupun hanya desa plosok tak kan mungkin penduduknya hanya segini.
Mayat para korban di pindahkan ketempat yang lebih layak oleh para bawahan kapten Yu. dia berfikir mungkin ini lebih baik ia lakukan sebagai tanda penyesalan atas keterlambatannya itu.
"kapten setelah ini kita apakan?!"
Pertanyaan yang di ajukan itu membuat Yu harus mengambil keputusan yang terbaik disaat ini. Menguburkan mereka adalah sesuatu yang baik namun di saat seperti ini tak mungkin bisa untuk di lakukannya.
"itu bisa di lakukan saat malam datang!....kita harus waspada untuk sekarang ini paham!"
Rasa Iba mungkin terasa di benaknya saat beberapa kali melirik tubuh yang sudah tak bernyawa itu dengan tatapan kosong.
Disaat mereka sedang bersiap tubuh Terry jatuh terkapar ke atas tanah, darah mulai perlahan keluar dari balik badannya.
"sniper!"
"Semua sembunyi!"
Kapten Yu dengan sigap memberi intruksi kepada bawahannya yang mulai panik.
Suara tembakan yang samar menambah kerisauan dari semua anggotanya termasuk ia sendiri.
Posisi musuh yang masih belum di temukan kini menjadi sesuatu yang menghantui.
Salah dalam bertindak maka nyawa akan melayang lagi.
syutt..
Suara tembakan yang menggunakan silencer (peredam pada senapan) kembali terdengar dan satu bawahannya kembali terkapar di atas tanah.
__ADS_1
"Siall!"
Bola mata mereka masing-masing membuat sudut tajam ke satu titik guna mencari musuh yang masih tak menampakkan diri.
syut..
Tembakan lagi-lagi menumbangkan bawahannya dan menyisakan dia seorang diri di sebuat semak belukar dengan pohon pinus sebagai tamengnya.
"sial...sial...siallll?"
"mereka dimana...dimana!!!"
mata kapten Yu bergerak cepat menyapu sekeliling pandangannya. meski ia tau jarak seorang seniper itu mengandalkan kejauhan namun ia terus berusaha mencari sebuah ke ajaiban!.
Tempat tinggi!
kata itu terbesit dalam batinnya dan langsung memfokuskan pandangan ke seluruh tempat yang terbilang tinggi.
Sekelebat cahaya silau terlihat dari atas sebuah pohon tinggi kira-kira berdiameter sampai dengan 20 Meter tingginya. itu terlihat seperti cermin yang terpantul oleh cahaya matahari.
Dengan tanpa berfikir panjang ia mulai melaju ke arah pohon tersebut sambil mengambil salah satu senjata milik bawahannya yang kini telah kehilangan nyawa.
Tembakan musuh terlihat jelas olehnya dengan sigap dia menyembunyikan badannya di balik pohon seraya terus melaju ke tempat sang seniper.
Tembakan kedua kembali di lancarkan tapi tetap tak berhasil mengenai Kapten Yu yang bergerak zigzag, seolah-olah akurasi sang seniper di permainkannya.
Jarak antar keduanya kini hanya tinggal atas dan bawah. Posisi sang sniper yang berada di atas terbilang tak menguntungkannya. Menyadari akan dirinya dalam bahaya sang sniper mengeluarkan tembakan yang justru memberi tau posisinya untuk saat itu.
Tak mau melewatkan kesempatan kapten Yu mendongakkan senapan ke arah tembakan yang di lontarkan sang seniper dan membalasnya dengan hujan peluru tanpa henti dari bawah.
krakk..kkresek.....bug...
Sesuatu terjatuh dari atas pohon itu...Ya...itu adalah tubuh sang seniper yang sudah tak berdaya.
"maaf semuanya lagi-lagi aku gagal melindungi kalian!"-ucap kapten Yu sambil melepaskan genggaman senapan yang tak mampu ia genggam lagi.
__ADS_1
Air mata tak bisa ia bendung lagi dan langsung menangis dalam diam.
kresekk....kresekkk....
Sesuatu yang jatuh terdengar lagi dari balik ranting-ranting pohon yang ada di atasnya.
Senapan sniper tipe AWM jatuh dari atas Kapten Yu melihatnya namun tatapan matanya melebar seketika saat mengetahui sebuah granat teikat dari salah satu sisi senapan tedsebut.
Tanpa bisa mengelak dari jebakan musuh itu akhirnya ia harus terkena ledakan fatal tepat di depannya.
Ledakan terdengar nyaring tubuh kapten Yu teepental begitu jauh dan menghantam sebuah pohon yang berada di belakangnya.
khukkk....
Yu membuka separuh matanya karena mendapati dirinya masih mempunyai sisa nyawa yang seharusnya telah tiada.
Mungkin itu karena armor anti peluru yang ia kenakan sehingga bisa mencegah badannya hancur saat terkena ledakan.
Tangan kanannya bercucuran darah dengan kondisi lengan yang kini hanya tinggal separuh.
"Ahhh....ini kah akhirnya??"-suara tak berdaya terdengar begitu pilu dari dirinya dan perlahan menutup mata, kondisi yang dialaminya kini membuat dirinya harus memilih menyerah akan dirinya sendiri yang tak akan mungkin bisa selamat untuk kedua kalinya.
maaf semuanya mungkin diriku akan segera menyusul kalian ke alam baka. Ini lebih baik dari pada hidup dalam penyesalan karena tak mampu melindungi kalian.
andai saja....
andaikan saja aku bisa menjadi orang yang lebih kuat mungkin kalian semua bisa selamat dari keadaan ini.
Tapi ya......
setidaknya aku bisa membalaskan dendam kalian meski tak seberapa.
Perang aku tak suka itu.....
jika nanti aku bertemu dengan perang aku harap bisa menghentikannya.....
__ADS_1
Kapten Yu Sharelit akhirnya tewas tak lama setelah itu. Perang masih berkecamuk tanpa ada tanda-tanda akan beehenti.
Keegoisan mungkin menjadi faktor dalam konflik kali ini namun tak bisa di elakkan lagi karena sudah terlanjur terjadi.