Reincarnationem : The War Kingdom

Reincarnationem : The War Kingdom
chapter 41 (Zeint dan Putri Naga Merah Maya)


__ADS_3

Saat hari mulai sore Zeint keluar dari ruangan tempat raja Fartian dan pangeran Hars berada.


Memang masih banyak hal yang ingin di utarakan, namun mengingat kembali perjalanan sang paman yang begitu jauh dari kerajaan Selleburk ke kerajaan Aquas, Zeint berfikir alangkah baiknya jika mereka beristirahat terlebih dahulu untuk sekedar menghilangkan penat.


Penjagaan sekitar kerajaan begitu ketat; itu dapat di lihat dari setiap sudut tempat yang mana ada dua orang perajurit bersenjata lengkap sedang berjaga.


Konflik memang selalu ada di setiap kehidupan manusia jikalau manusia masih memiliki hasrat dan ego dalam diri mereka.


Zeint berjalan menuju kamarnya untuk segera memakan makanan yang masih tersisa di dalam sihir estorage miliknya.


Memang ia sempat di tawarkan agar di antarkan makanan ke tempat raja Fartian. namun Zeint tidak bisa menerima tawaran tersebut dengan beberapa alasan pribadi.


Saat Zeint membuka pintu kamarnya terlihat di atas kasurnya duduk bersila seorang gadis dengan rambut merah acak-acakan, yang tak lain adalah putri naga Maya yang kemungkinan baru saja terbangun.


Zeint menatap Maya dari balik topennya dengan tatapan bingung harus menanggapinya bagaimana. Dimana satu sisi Zeint tau jika Maya adalah pemimpin kesatria mata angin dan di sisi lainnya ia hanya terlihat seperti gadis kecil berusia 12 tahunan saja.


Tak tahu harus bagaimana Zeint menghampiri Maya dengan sepontan karena mata milik putri Maya terlihat masih sangat kantuk.


"Anu...ituu...eeeemm tuan putri kesatria jika anda berkenan silahkan istirahat kembali. sementara saya akan keluar dari sini!"-Ucap Zeint dengan sopan.


"Maya!"-Ucap Maya dengan nada datar.


"Ehh... Ada apa tuan putri kesatria?"-Balas Zeint tidak mengerti dengan maksud ucapannya.


"Ma...ya...!"-Ucap Maya kembali dengan pengucapan di eja.


Zeint yang masih belum paham dengan maksud maya hanya menggaruk kepala sambil terus berusaha memahami maksud dari ucapan Maya tersebut.


Tak lama kemudian sebuah kapak besar muncul secara tiba-tiba di samping maya.


"Woyyyy cowok aneh...dia menyuruhmu memanggil dia dengan namanya bodoh!"-Ucap kapak iblis milik Maya tanpa basa-basi.


"Uaaa Aappppaaaan ini?"-Teriak Zeint kaget sampai-sampai membuatnya mundur dengan cepat kebelakang beberapa langkah.


"Boses!"-Tambah Maya lagi.


Zeint segera mencoba tenang karena yang muncul adalah senjata iblis milik kesatria Angin Timur yang pernah diceritakan oleh Bernald kepadanya.


Zeint menempatkan tangannya di bawah dagu dan mulai mencerna maksud dari gadis di depannya tersebut.


"Maya itu adalah namanya ....terus Boses mungkin itu nama senjatanya.....Hemmmmzz mungkin dia ingin memperkenalkan diri paling!"-Fikir Zeint dalam hati.


"Baiklah....aku Ze...int Zeint!"-Ucap Zeint sambil menunjukkan jari telunjuk kepada dirinya sendiri.

__ADS_1


Maya menatap zeint masih tanpa ekspresi seperti biasa, lalu sedikit memiringkan kepalanya kekiri.


"Tidak.... kamu suamiku!"


"Suamimu Hahh? tidak tidak tidak jangan bercanda tuan putri kesatria! saya baru saja bertemu dengan anda mana mungkin saya suami anda!"-Zeint mencoba meluruskannya ,karena ia merasa Maya mempermainkannya.


Mimik wajah Maya masih tak menunjukkan ekspresi sedikitmu tatapannya masih lurus memandangi Zeint dengan seksama.


"Hehhh....."-sang kapak iblis berseru lelah. Dengan keadaanya yang masih melayang di udara sebelum kembali menghilang.


"sayang aku lapar!"-Ucap Maya tanpa memperdulikan penjelasan Zeint.


"Baiklah saya akan mengambilkan makanan untuk anda tapi dengan syarat anda jangan memanggilku seperti itu bagaimana?"-Zeint memanfaatkan kesempatan untuk lepas dari hal tersebut.


Maya memejamkan mata sejenak kemudian kembali menatap Zeint.


"Ya papa!"


"Haahh????? baiklah itu lebih baik dari pada pangilan yang tadi!"-Balas Zeint yang langsung mengeluarkan beberapa daging sisa dari balik jubahnya dan memberikannya kepada Maya.


"Hemmzz jika aku ada di duniaku yang dulu mungkin aku sudah di tangkap polisi karena tuduhan pelecehan anak di bawah umur!"-Ucap batin Zeint sambil memandangi Maya memakan dagingnya dengan cepat.


"Papa air!"-Maya mengadahkan tangannya kepada Zeint.


Zeint kembali memandangi Maya. Ia berfikir jika rasanya punya anak akan seperti ini.


"Setatus jomblo selama bertahun-tahun lalu mati saat hidup kembali sudah punya anak ya......Hadehhh tapi biarlah sebagai orang dewasa mana bisa meninggalkan anak yang terlihat kurang kasih sayang orang tua seperti dia ini....! Hemmmzz lagian dia sejak kapan menjadi kesatria disini? terus orang tuanya bagaimana?"


"Papa?"-Ucap Maya yang langsung menghentikan lamunan Zeint.


"Maaf-maaf tak apa kok!"-Balas Zeint dengan sedikit gelengan kepala.


"Biarlah itu bisa di tanyakan kepada tuan putri Ellza ! untuk sekarang lebih baik aku berpura-pura saja menjadi sesosok orang yang di inginkannya!"-Tambah batin Zeint sambil berjalan mendekati Maya.


Ia membersihkan sisa bumbu yang tertinggal di pipi Maya, lalu merapikan rambut dan juga pakaian maya agar terlihat lebih baik.


"Ya sudah kalau begitu saya permisi dulu tuan putri kesatria karena ada suatu urusan penting!"


"Maya!"-Ucap Maya sambil mengembungkan kedua sisi pipinya kesal.


Mendapati reaksi Maya yang seperti itu Zeint membuka topeng yang ia kenakan lalu memasang senyuman ramah.


"Tuan putri Maya kalau begitu saya permisi dulu!"-Ucap Zeint sopan.

__ADS_1


"Maya!"-Sela Maya lagi tak senang dengan ucapan Zeint.


"Baiklah saya mengerti......Maya!"-Balas Zeint agak menundukkan badan.


Maya tersenyum mendengar ucapan Zeint lalu melambaikan tangannya ke arah Zeint.


Karena Maya sudah senang Zeint bergegas keluar dari dalam kamarnya meninggalkan Maya disana.


Langit kini berwarna jingga denga beberapa awan yang ikut menghiasi pemandangan tersebut.


Zeint berjalan menuju ke dapur istana dimana ia ingin meminta makanan kepada bibi Jea seperti biasa yang ia lakukan setiap menjelang malam.


Bibi Jea berada di dekat tungku perapian dapur, dimana ia sedang memasak makanan bersama pelayan yang lainnya.


Zeint kemudian berjalan mendekat.


"Bibi Jea bisakah aku mengambil jatah makanaku sekarang?"-Ucap Zeint saat susah berada dekat dengan bibi Jea.


"Oh kamu Zeint....mau mengambil makanan ya....?"-Tanya bibi Jea memastikan.


"Iya !"-Balas Zeint singkat.


"Hemmmzz ....Zeint khusus hari ini kamu bisa mengambil apapun yang kamu inginkan di meja sebelah sana jadi jangan sungkan-sungkan!"-Bibi Jea tersenyum sambil menunjuk ke sudut dapur dimana disana terdapat Meja panjang dengan berbagai hidangan di atasnya.


"Wahhh yang benar bibi Jea?"-Tanya Zeint memastikan.


Bibi Jea mengangguk yang menandakan bahwa ucapannya itu benar.


Zeint segera pergi ke dekat meja tersebut lalu mulai memilih makanan yang ia inginkan.


Ia mengambil piring besar dan menaruh beberapa daging dan juga nasi.


Pilihan menu yang terlalu banyak tidak membuat Zeint kebingungan malahan ia mengambil setiap hidangan disana satu persatu.


"Zeint!"-Sapa bibi Jea yang berjalan mendekati Zeint.


"Iya ada aoa bibi Jea?"-Tanya Zeint yang menghentikan tangannya mengambil makanan.


"Kamu ada pesan dari pelayan yang baru saja dari ruangan penjamuan, katanya selesai penjamuan keluarga kerajaan Selleburk kamu disuruh menemui yang mulia raja Delltino di singgasana karena akan ada hal penting yang ingin di sampaikan!"-Jelas bibi Jea.


"Hemmmz baiklah aku paham bibi terima kasih!"-Balas Zeint.


Bibi Jea kemudian kembali ke depan tungku setelah selesai menyampaikan pesan barusan.

__ADS_1


Di kala Zeint masih sibuk dengan makanannya disisi lain para raja telah terjadi perbincangan serius tentang sebuah konflik yang terjadi saat ini dan juga yang akan datang. Dimana sosok Zeint yang akan menjadi kunci agar konflik tersebut dapat di cegah nantinya.


__ADS_2