Reincarnationem : The War Kingdom

Reincarnationem : The War Kingdom
chapter 08 (Awal Perjalanan Zeint)


__ADS_3

Matahari kini tepat di atas kepala Zeint tak jauh dari sisinya ada sebuah gundukan tanah dengan batu di salah satu sisinya.


Zeint baru saja mengistirahatkan tubuh sang kakak Albert di belakang rumah yang sempat ia tempati dengannya.


Topeng bergaris kristal ungu masih tetap ia kenakan karena itu nyaman di rasakan olehnya, dan lagi itu adalah satu-satunya hadiah dari sang kakak yang kini telah tiada.


"Setelah ini apa yang harus aku lakukan kakak?"


Zeint menatap makam sang kakak sambil berfikir tentang langkah apa yang setelah ini harus ia lakukan mengingat tak ada satu petunjjukpun yang ia punya, satu-satunya hal yang di sampaikan Albert hanya mencari Laura adiknya, meskipun demikian itu dimana?.


cresk..


Secarik kertas muncul dari balik topeng yang ia kenakan, ia berfikir mungkin ini adalah surat peninggalan sang kakak dengan segera ia mengambilnya dan melebarkan kertas tersebut di depannya untuk segera membaca isi kertas itu.


"tulisan apa ini??"


Zeint kebingungan mendapati tulisan aneh yang sedang ia pegang itu tak dimengerti olehnya, ini sama saja memberi barang limited edition tapi tidak disertai dengan cara perakitan.


Ia melepas topeng itu dan memicingkan pandangannya ke arah kertas tersebut berharap ada dua atau tiga kata yang bisa ia mengerti. Namun tindakannya percuma saja karena tulisannya sangat berbeda dengan apa yang ia mengerti.


"mungkin ingatan Zeint ada tentang ini!"


Zeint memcoba memfokuskan fikirannya mencoba menerawang jauh kedalam sisa-sisa ingatan Zeint yang tertinggal dan ia berhaail mengingat sesuatu.


Dalam ingatannya tersebut terlihat Albert dan Laura menaruh sebuah buku di hadapannya sambil berkata .


Kerajaan SELLEBURK


Zeint mengangkat kembali kertas tersebut dan mencari tulisan yang mirip dengan apa yang ia lihat dalam ingatannya.


"ada!"- zeint berteriak senang karena usahanya terbayarkan.


Zeint menyimpulkan mungkin dirinya harus ke kerajaan Selleburk untuk memulai perjalanannya di Dunia baru yang kini menjadi tempat tinggal bagi kehidupannya kali ini. Meski ia tidak mengetahui apa keputusannya tersebut benar ataupun malah sebaliknya.


Dia menatap sebentar ke arah makam sang kakak sembari memantapkan keputusan yang telah ia ambil dan mulai melangkah.


Tak lama berjalan.


"Tungguuuuuu!"


Zeint berteriak lagi karena ia bingung mengingat dirinya sedang ada dimana dan dimana kerajaan Selleburk itu berada, pada akhirnya dia malah diam.

__ADS_1


"informasi....aku harus mencari informasi terlebih dahulu!"


Dengan itu Zeint berjalan menyusuri jalan setapak yang membentang luas menuju ke kedalaman hutan dan mencoba mencari seseorang yang bisa ia tanya.


Ia berfikir jika bertanya di desa sebelumnya malah akan bertemu dengan para prajurit yang mencarinya dan membuat kekacauan mengingat kebengisan para prajurit saat itu.


Pepohonan tinggi menjulang dengan sinar matahari menerobos sela-sela dedaunan membuat Zeint menatap takjub keselilingngnya.


Pemandangan yang masih asri tanpa ada sedikitpun polusi dapat ia rasakan menggelitik sekujur tubuhnya.


Zeint tak henti-henti menatap pemandangan itu sembari berlari-lari kecil.


Matahari kini mulai menghilang dari pandangannya berganti warna hitam kebiruan di langit dengan titik-titik putih berkilapan bertaburan.


Zeint menghentikan perjalanannya itu dan mencari tempat untuk dirinya beristirahat karena sangat percuma baginya untuk terus berjalan dalam gelap di tengah hutan yang belum pernah ia jamah.


Sebuah pohon tinggi dengan cabang yang lebar menjadi tempat pilihan Zeint untuk beristirahat.Ia memilih disana karena naluri tentara di kehidupannya yang dulu tetap teringat jelas dalam fikirannya.


Di saat ia hendak memejamkan mata suara teriakan yang di ikuti dengan aumam menakutkan mengagetkannya.


Zeint berdiri di atas pohon tersebut sembari mencari asal suara itu.


Dari kejauhan ada sekelbat cahaya yang terlihat dan teriakan seseorang meminta tolong semakin terdengar jelas.


Setibanya ia disana terlihat seorang laki-laki paruh baya di sudutkan oleh binatang besar berbentuk **** dengan beberapa tanduk dan taring yang menjulang.


"hewan apa itu?"


Zeint menghadang **** tersebut mencoba mengalihkan pandangannya yang mengincar lelaki tak berdaya di belakangnya.


**** tersebut tingginya dua meter tapi kalau di hitung dengan tanduknya kemungkinan sampai 3 meter, tingginya tiga kali lipat dari tubuh Zeint saat ini.


**** itu berlari ke arah Zeint sambil memamerkan tanduk ke arahnya, namun dengan sigap Zeint menghindar.


"ini lebih lambat dari pada banteng!"


Ucao Zeint sambil memasang senyum percaya diri.


**** itu kembali berlari dan lagi-lagi dapat di hindari oleh Zeint dengan mudahnya.


Zein kemudian berdiri di depan pohon besar sambil mengejek sang **** tersebut yang membuat **** tersebut mengeluarkan auman marah.

__ADS_1


"greeaaahh.."


Terpancing dengan ejekan Zeint **** itu menerjang dengan cepat ke arahnya dengan senyuman Zeint menghindar berguling kesamping dan pada akhirnya tanduk **** tersebut menancap dalam pohon yang membuat dirinya sendiri tak bisa bergerak.


Melihat kesempatan itu Zeint berlari ke arah lelaki yang tadi, sambil meminta pisau agar bisa membunuh **** tersebut.


Bukannya di beri pisau malah lelaki tersebut memberikan pedang kepada Zeint.


Pedang itu sangat tak nyaman di pegangnya namun tidak ada pilihan lain selain menggunakannya.


Dengan keadaan tak bisa bergerak Zeint menghunuskan pedangnya tepat di mata **** tersebut hingga menembus sisi yang satunya, dan sepontan **** itu mati.


"Huff.t.... gampang!"


Lelaki yang di selamatkannya kini berjalan mendekat dengan wajah takjub.


"Nona anda hebat sekali!"-Lelaki tersebut memberi pujian.


"Huh Nona?...... Saya laki-laki!"


balas Zeint sambil membuka topengnya.


Lelaki paruh baya tersebut menatap Zeint bingung karena bagaimanapun menurut Lelaki tersebut Zeint adalah seorang gadis perempuan, itu dapat disimpulkan dengan pakaian yang ia kenakan dan juga wajahnya yang manis itu.


"paman apa perlu aku menunjukkan ciri khas kejantananku?"-Ucap Zeint meyakinkan.


"eh tidak perlu....saya mohon maaf!"


Lelaki tersebut mengucapkan terima kasih kepada Zeint sambil memperkenalkan dirinya begitupun dengan Zeint.Ternyata lelaki paruh baya itu adalah seorang pedagang yang kebetulan di serang oleh **** yang dinamakan (monster **** malam). mereka aktif di malam hari dan bersembunyi saat matahari terbit.


Krukk....


Suara perut Zeint berbunyi nyaring sehingga membuatnya meeasa malu.


"kalau begitu kita pergi ke pendatiku disana ada beberapa makanan!"-usul sang pedagang itu.


"bolehkah?"


"tentu saja karena anda telah menyelamtkanku!"


mereka akhirnya pergi menembus kegelapan malam itu dengan obor yang masih menyala terang.

__ADS_1


Nb: pendati ialah sejenis kereta angkutan barang yang di tarik kuda biasanya di gunakan para pedagang untuk membawa barang dagangannya.


__ADS_2