
Hari telah berganti, hembusan angin sepoi-sepoi perlahan masuk kedalam mulut goa tempat dimana Zeint pingsan.
Zeint membuka mata karena hawa dingin tersebut menggelitik seluruh tubuhnya.
"Uhukkk,!"-Zeint terbatuk sambil mencoba bangkit dari tempat ia terkapar.
"Tempat apa ini?"-Ucap Zeint sambil menahan rasa nyeri di sekujur tubuh.
Tatapan matanya menerawang sekeliling mencoba mengingat kembali alasan kenapa ia berada disana.
Daratan yang menjadi hamparan kristal es dengan suara gemuruh air di bagian belakang mulai nampak tak asing lagi buat dirinya.
"Aku berada di goa ya...kepalaku pusing badanku panas mungkin tubuh ini mengalami gejala seperti waktu itu!"-Ucap Zeint sambil mengambil topeng dari sihir estorage.
"Sebaiknya aku kembali ke kamar untuk segera berganti pakaian dan istirahat...mungkin gara-gara aku pingsan dengan pakaian basah jadinya masuk angin!"-Tegas Zeint meninggalkan goa itu.
"Ternyata sudah pagi,"
Zeint melompat menitih bebatuan lalu mulai memanjat dinding belakang kastil istana.
Di dalam kamarnya Zeint langsung berganti pakaian dan langsung berbaring di atas kasur.
Suara ramai terdengar samar namun Zeint mencoba mengabaikan hal tersebut mengingat dirinya yang sekarang sedang tidak enak badan.
Di dalam kastil istana tempat singgasana sang raja berada; terdapat sebuah perkumpulan yang terdiri dari empat kesatria mata angin dan beberapa kesatria lainnya. Mereka bersungkuh di depan raja mendengarkan titah yang akan raja berikan.
"Silviava jemput tamu kita di perbatasan kota dan bawa juga beberapa pasukanmu juga!"
"Baiklah baginda!"
"Untuk putri Naga dan yang lain kalian berjaga di sekitar istana sebagai bentuk antisipasi jikalau bangsawan Grindale melakukan pergerakan,!"-Titah sang raja kepada yang lainnya.
"Baik yang mulia!"
Setelah menerima perintah mereka langsung meninggalkan ruangan untuk segera melakukan tugas mereka masing-masing.
"Putri Maya jika anda kurang enak badan sebaiknya anda kembali beristirahat dan biarkan kami yang mengurus penjagaan!"-Ucap Qier.
"Hah? yang benar saja kamu Qier apa kita berdua saja yang berjaga? jangan bercanda!"-Sela Romeo dengan nada kesal.
"Sudahlah Romeo kamu yang santai saja, benar kata Qier putri Maya sebaiknya beristirahat, toh kamu juga tidak mau jika kejadian seperti tadi malam terjadi lagi kan!"-Silviava memberikan pendapatnya.
Putri Naga hanya diam melihat reaksi mereka tanpa menyela ataupun ingin melerai pertengkaran kecil tersebut.
Tak lama kemudian dia berjalan pergi.
"Maya mau kemana kamu!"-Romeo memegang pundak putri naga sehingga langkahnya terhenti.
Putri Naga menoleh bersamaan dengan itu sebuah tebasan terlintas dari samping dan segera Romeo menarik tangannya kembali.
__ADS_1
Raut wajah tanpa ekspresi milik putri naga menatap tajam Romeo seolah mengintimidasi.
"Cih....!"-Seru Romeo kesal sambil menatap sebuah kapak besar melayang yang tiba-tiba muncul di samping putri naga.
Itu adalah kapak iblis milik Maya yang mana kapak tersebut memiliki jiwa sendiri.
"Jauhkan tanganmu laki-laki sialan!"-Sang kapak iblis mengeluarkan suara.
"Romeo hentikan itu!"-Ucap Silviava dengan nada tinggi.
Romeo merengut kesal namun tidak bisa membantahnya lagi. Hubungan antara putri naga dan Rome tidak begitu akur dan sering kali terjadi pertikaian namun seberapa hebat sihir Romeo miliki tak sekalipun ia berhasil mengalahkannya.
"Sikapnya yang seperti anak kecil itu bikin kesal saja!"-Ucap Remeo saat putri naga sudah berjalan menjauh.
"Yahhh.... Mau bagai mana lagi toh dia masih berusia 12 tahun.!"-Balas Silviava.
Mereka akhirnya pergi dari lorong itu dan berjalan ke tempat masing-masing guna melaksanakan perintah.
Sedangkan Putri Naga berjalan menyusuri lorong dan membuka pintu dimana disana adalah kamar Zeint berada.
Ia menatap Zeint yang tertidur dengan memakai topeng itu, dan tak lama kemudian putri naga naik ke samping kasur guna menemani Zeint tidur.
******
Saat matahari berada di tengah langit suara tiupan terompet terdengar dari arah gerbang kastil istana.
"Zeint...Zeiinntt bangun...apa maksudnya ini!" Suara yang tak asing itu membuat Zeint terbangun dari tidur dan langsung memastikan siapa disana.
"Oh tuan putri ada apa....woooAaaayyyy!"-Balas Zeint saat mengetahui itu adalah suara putri Ellza yang membangunkannya, dengan sedikit menguap.
"Zeint apa maksudnya ini?"-Ucap putri Ellza dengan nada kesal.
"Ehh ada apa?"-Zeint langsung bergegas bangkit dari kasur karena mendengar ucapan sang majikannya.
Namun lengan kirinya berasa berat seperti ada beban yang menganjal. Zeint menoleh ke arah lengan kirinya dan langsung kaget melihat ada seseorang tidur disampingnya sambil memeluk lengan kirinya tersebut.
"Wwooooyyyy apa ini??"-Ucap Zeint kaget.
"Seharusnya aku yang bilang seperti itu Zeint!"-Sela putri Ellza dengan raut wajah marah.
Zeint melepas pelukan putri naga dan langsung berdiri disamping kasur miliknya.
"Kenapa putri naga ada disini?"-Ucap Zeint bingung.
"Hufff.... kita abaikan saja dulu masalah dik Maya ada disini ..yang paling penting ayo segera ikut denganku karena tamu kerajaan sudah datang!"-Ucap putri Ellza dengan langsung menarik tangan Zeint.
"Tunggu tuan putri apa hubungannya tamu kerajaan dengan saya?"-Sela Zeint memastikan.
"Sudah ini perintah dariku kamu ikuti saja!"-Balas putri Ellza yang terus menarik tangan Zeint keluar ruangan, meninggalkan putri naga yang masih tertidur pulas.
__ADS_1
Zeint di bawa ke ruangan penjamuan istana dimana disana terlihat banyak orang-orang penting dan para kesatria berkumpul dan tak lupa juga sang raja.
"Kamu segera ikut dalam barisan belakang bersama Bernald!"-Perintah putri Ellza.
Zeint mengangguk kemudian berjalan ke samping Bernald. Sedangkan putri Ellza sendiri berjalan ke arah raja Deltino.
"Tuan Bernald kenapa kita semua ada disini?"-Bisik Zeint kepada Bernald.
"Tuan Zeint kita akan menjaga tamu penting kerajaan jadi wajar saja jika kita di kumpulkan semua!"-Jelas Bernald yang masih seperti biasa bersikap sangat tegas.
Krekkkk
Pintu ruangan terbuka dan disana terlihat beberapa orang memasuki ruangan.
Mata Zeint langsung tertuju kepada sesosok orang berbadan kekar yang berada paling depan.
Penampilan yang sangat karismatik walaupun sudah lumayan termakan usia. Berambut hitam dengan sedikit garis putih uban terlihat dari kejauhan.
"Paman Fartian"-Ucap batin Zeint kaget karena orang tersebut sangat tak asing baginya.
"Selamat datang raja Fartian Von Selleburk XII di kerajaan kami!"-Sambut raja Delltino sembari menghamoiri tamunya.
"Hahaha iya terimakasih atas sambutannya raja Delltino Derastos Aquas!"-Balas raja Selleburk sembari meraih jabat tangan.
"Baiklah silahkan duduk !"-Ucap Raja Delltino dengan sopan.
Keduanya kemudian duduk berhadapan di meja penjamuan. Disisi kanan raja Delltino terlihat sang ratu dan disampingnya lagi ada putri Ellza. Sedangkan di samping kanan raja Fartian ada anak muda yang tampak lebih tua dari putri Ellza duduk di sebelah kanannya. Ia memiliki rambut hitam legam berkulit putih kecoklatan dengan mata berwarna coklat kusam yang tak lain adalah calon tunangan putri Ellza ,putra mahkota Hars Von Selleburk.
Sebelah kirinya ada sesosok lelaki berbadan kekar berambut merah memakai Zirah berwarna putih yang menjadi pengawal sekaligus penasehat sang raja selleburk kesatria Leonmer.
"Mereka sangat terlihat cocok ya tuan Bernald!"-Bisik Zeint kembali.
Bernald mengangguk pelan dengan tatapan yang masih fokus mengawasi sekeliling.
Acara penjamuan terus berlanjut dengan khidmat, sedangkan disisi lain Zeint mulai merasa bahwa perutnya kini mulai bernyanyi pelan.
"Wah hidangannya toling sisakan buat saya....!"-Ucap Zeint pelan.
Bernald kemudian menyenggol bahu Zeint mengisyaratkan hentikan pikiranmu seperti itulah.
Selesai menyantap hidangan raja Delltino mengajak para tamunya menuju ke ruangan sebelah dimana ruangan itu adalah ruangan diskusi kerajaan.
Seluruh orang berjalan mengikuti mereka sedangkan Zeint berjalan ke arah meja penjamuan.
Zeint melihat beberapa daging dan roti masih tersisa di atas meja dengan segera ia mengambil beberapa potong dan langsung memasukkannya kedalam sihir estorage miliknya kemudian ikut berjalan memasuki ruangan berikutnya.
Di ruangan itu hanya di jaga oleh petinggi kesatria saja yaitu 3 anggota kesatria mata angin, Bernald, Zeint dan juga para pengawal raja Fartian.
Zeint berdiri di belakang Bernald agar bisa menikmati makanan jarahannya tanpa peduli dengan apa yang di bahas kedua sang raja tersebut.
__ADS_1