Reincarnationem : The War Kingdom

Reincarnationem : The War Kingdom
chapter 21


__ADS_3

Lonceng kota berdenting dengan keras menandakan hari ini telah menjelang siang.


Zeint yang berada di tengah hutan tempat biasa dia latihan bergegas untuk kembali ke Asrama karena dirinya pasti dicari oleh Nerfa.


"huf sepertinya wujud putih ini segera ku akhiri saja dan segera kembali. Takutnya Nerfa dan yang lain mencariku!"-ucap Zeint sambil hendak mengambil topengnya dari dalam sihir estorage miliknya.


Namun tak disangka saat dirinya hendak mengambil topengnya dari dalam lingkaran sihir estorage ,terdengar derap langkah kaki seseorang yang sedang berlari ke arahnya.


Zeint mengurungkan niat mengambil topengnya dan memilih langsung melompat ke atas pohon guna mencari tau apa yang terjadi.


Dari balik dahan pepohonan ia melihat seorang gadis yang berlari karena di kejar oleh segerombolan monster king Apen (sejenis gorila namun memiliki tanduk di dahinya).


Gadis tersebut terus berlari namun sayangnya gaun yang ia kenakan malah tersangkut ranting sehingga membuat dirinya jatuh tersungkur.


"Waduh gawat!"-Ucap Zeint yang langsung melompat ke depan gadis tersebut.


[wahhh mirip seperti super hero yang ada di film-film pas menolong sang putri]-ucap Zeint dalam hatinya.


Para gerombolan King Apen yang berjumlah 6 ekor tersebut sempat terhenti ketika Zeint langsung menghadang mereka.Namun tak lama kemudian salah satu dari mereka meraung keras dan mulai menyerang Zeint.


Graaaarr..


Zeint menarik kedua belatinya bersiap menyambut serangan salah satu King Apen tersebut dengan kuda-kuda bertahan.


King Apen melancarkan pukulan ke arah Zeint ketika sudah dekat. Tangannya yang besar itu mungkin meremukkan tubuh seoseorang jika langsung mengenainya, tapi dengan spontan Zeint menyilangkan kedua pisaunya itu sehingga membentuk salib dan menghentikan pukulan dari sang monster.


"waw waw.... lumayan juga seranganmu gorila tapi maaf ini belum sebanding dengan apa yang aku harapkan!"-Tegas Zeint sambil memasang senyuman percaya diri yang membuat King Apen tersebut terlihat kesal.


graggGggr.


Monster tersebut menarik tangannya dan langsung menggepalkan kedua tangannya guna menyerang Zeint lagi.


"heh....Sudah lah kita akhiri saja!-Ucap Zeint dengan sombong.


Zeint mengambil kuda-kuda pisaunya kini berubah dari posisi bertahan ke posisi menyerang.


Lightning Knife di tambah Lightning Up


Pisaunya kini berubah diselubungi aliran listrik berwarna biru kehitaman yang membuat King Apen itu merasa ragu meneruskan serangannya.


Namun itu sudah terlambat karena Zeint sudah menebas King Apen tersebut beserta dengan yang lain dalam sekejap mata.


"hemm kamu tidak apa?"-Tanya Zeint sambil menyarungkan kembali kedua pisau miliknya tanpa menoleh ke arah gadis tersebut.


"Ya aku tidak apa-apa tapi para monster itu!"-Balas gadis tersebut yang masih belum sadar akan kemenangan Zeint.


"Mereka sudah mati jadi tenang saja!"-Tegas Zeint sambil berjalan menjauh.


"eh?"


Tubuh para monster tersebut tiba-tiba ambruk sesaat setelah Zeint bergegas pergi.


"Tunggu!"-Cegat gadis tersebut.

__ADS_1


Namun itu percuma karena Zeint sudah menghilang dari hadapannya.


Tak lama kemudian suara ramai terdengar dari seluruh penjuru tempat itu.


"Cepat cari tuan putri!"


"putri anda diman!"


"itu tuan Putri!"


Mereka adalah para tentara pengawal tuan putri yang kemungkinan terpisah saat di perjalanan sehingga membuat mereka harus mencari putri tersebut.


"anda baik-baik saja Putri Ellza?"-Tanya salah satu tentara yang sangat gagah perkasa sambil menundukkan badan.


"Ya saya baik-baik saja baru saja ada yang menyelamatkan saya!"-Balas gadis yang ternyata Tuan Putri Ellza.


"Maaf kan kami karena sudah lalai mengemban amanah ini putri...kami siap menerima hukuman!"


"Tenang saja Bernald itu bukan salahmu...itu salahku karena terlalu ceroboh!"


"Tapi...!"


"Lebih baik kita segera ke Kota D'lus agar bisa segera menghadiri acara yang diselenggarakan Tuan Vamilon mengerti Bernald.!"-Tegas putri Ellza yang di ikuti anggukan dari seluruh pengawalnya.


Disisi Lain.


Zeint sudah berada di dalam kamarnya dengan wajah merah di kedua sisi pipinya.


Tingkah Zeint yang ia lakukan saat menolong gadis itu dia tiru dari sebuah film yang sempat ia tonton di bioskop, meski ada beberapa yang ia rubah.


Dalam film tersebut seseorang pemuda menolong seorang gadis yang hampir dibunuh oleh penjahat tanpa menunjukkan wajahnya maupun namanya. Yang ia lakukan hanya membunuh penjahat tersebut lalu pergi begitu saja.


Karena terlihat keren jadinya Zeint meniru hal tersebut.


tok..tok..tokk.


"Zeint gimana keadaanmu!"


Sapa Lux dari luar pintu kamar Zeint.


Mendengar itu Zeint langsung menghentikan lamunannya dan menjawab suara Lux.


"Eh udah baikan kok!"


"kalau begitu ayo turun kita ke kedai seperti biasa!"-Ajak Lux.


"baiklah tunggu di bawah aku akan segera menyusul!"


"baiklah kalau gitu!".


Zeint memakai topengnya agar rambutnya kembali berwarna hitam sambil mengganti baju karena bau keringat sudah tercium dari sana.


****

__ADS_1


Lux,Nerfa dan Ardy sudah berada di gerbang asrama menunggu Zeint yang kini sudah keluar dari pintu asrama.


"ayo kita berangkat!"-Tegas Nerfa sesaat Zeint sudah berada di dekat mereka.


Dengan anggukan pelan merekapun langsung berjalan bersama untuk segera menuju ke Kedai langganan.


Di kedai setelah selesai makan mereka bersantai disana sembari berbincang-bincang.


"Lux, Ardy kalian ingat peserta pertama saat pertandingan dimulai gak?"-Tanya Nerfa.


"Iya dia hebat sekali bisa dengan mudah mengalahkan lawannya padahal dia masih seumuran kita ya!"-balas Lux.


"emangnya ada apa Nerfa?"-Tambah Ardy.


Nerfa agak mendekatkan wajahnya ketengah-tengah meja dengan memasang wajah serius.


Zeint hanya diam karena ini akan masuk pada topik yang penting pikirnya.


"Aku merasa dia adalah orang yang menyelamatkan kita waktu dulu ada di kerajaan Centaury!"-Ucap Nerfa sambil menatap tajam ke arah Ardy dan Lux.


Zeint tersentak mendengar hal itu karena seingat dia tak pernah bertemu mereka sebelumnya.


"yang bener kamu Nerfa!"-Sanggah Lux kaget.


"iya karena aku ingat Mana dan Aura yang dimilika sama seperti yang ada di kerajaan Centaury.!"


[Mana sama Aura? bukankah itu sama ya? lagian bukannya Mana itu sulit dilihat jika tidak di izinkan sang pemilik?]-ucap Zeint dalam hati.


"Mirip sepertiku kah?"-Tanya Zeint memastikan.


Mereka melihat Zeint lalu melirik ke arah Nerfa.


"hemmmzz Aura dan Manamu berbeda Zeint...meskipum iya sih agak mirip tapi tekanan saat aku melihat dirimu sangat berbeda dengan peserta tadi!"-ucap Nerfa.


"eh kok kamu bisa tau!"-tanya Zeint lagi.


"ah iya aku lupa memberi tahumu jika mataku ini berbeda dari orang-orang karena mata ini berkah tuhan atau yang disebut dengan Magistic Eye!"


"Magistic Eye apa itu?"


Mereka menjelaskan kepada Zeint bahwa Magistic Eye adalah mata yang memiliki kelebihan yang hanya dimiliki para orang tertentu. Dengan mata itu dia bisa melihat aura dan mana orang lain sesuka hati jadi ia tahu seberapa kuat orang tersebut.


"eh....!"


Zeint merasa ada yang aneh dengan pembicaraan tersebut karena ia tahu peserta pertama adalah dirinya. Sedangkan kata Nerfa dirinya saat itu mirip dengan seseorang yang menyelamatkannya di kerajaan Centaury tapi Zeint tidak ingat bahwa pernah bertemu dengan mereka.


"Sudahlah Nerfa kita pastikan terlebih dahulu jika memang benar kita temui saja dia nanti!"-Ucap Lux menyudahi pembicaraan tersebut.


"baiklah sepertinya kamu benar Lux!"-Balas Nerfa.


"Yasudah kita kembali menonton pertandingan saja kalau begitu karena kemungkinan acara akan segera dimulai!"-Usul Lux.


Setelah selesai membayar biaya makan merekapun akhirnya menuju ke gladiator bersama untuk melanjutkan menonton pertandingan.

__ADS_1


__ADS_2