Reincarnationem : The War Kingdom

Reincarnationem : The War Kingdom
chapter 37


__ADS_3

Hujan masih berguyur deras memadamkan api di seluruh penjuru kota. Zeint menghindar dari orang-orang sebisa mungkin mengingat penampilan dirinya yang saat ini sangat berbeda.


Ia memutuskan kembali ke dalam goa untuk mengontrol perubahan dalam dirinya sebelum menemui putri Ellza sang majikan.


"Setelah ini apa yang harus aku lakukan?...penampilanku telah di ketahui tuan putri...Aku tidak bisa tinggal disni lagi!"


Zeint meratapi perbuatannya memang tidak ada sedikitpun kesalahan Zeint terhadap tindakannya kali ini namun ia tetap merasa bahwa kali ini ia salah mengambil tindakan.


Rasa sakit di sekujur tubuh mulai Zeint rasakan ia kehilangan pijakan dan langsung terkapar tak berdaya dengan rasa sakit yang semakin menguat. Tanah di sekeliling Zeint perlahan muncul butiran putih yang menyebar hingga kemulut goa saat bebebrapa lama kemudian sekitar Zeint terlapisi es, hampir sama pada saat itu namun cangkupannya tak begitu luas. akhirnya ia tak sadarkan diri di dalam mulut goa.


Disisi lain.


Keributan masih terjadi di area kastil istana dimana para mentri dan beberapa orang penting lainnya mengadakan rapat dadakan di tambah lagi besok akan ada tamu penting dari kerajaan sekutu, yaitu raja Selleburk beserta putra mahkotanya.


"Yang mulia apa tindakan anda tentang ini?...sudah jelas bangsawan Grindale menentang keras tentang pernikahan itu sampai-sampai ia berani menyakiti tuan putri Ellza!"-Salah satu mentrinya mulai menanyakan kebijakan sang raja.


"Tenang dulu tuan mentri Hallin yang mulia juga sudah mengerti tentang hal tersebut!"-Sela Silviava dari kesatria mata angin.


Sang raja berdiri dari singgasana sambil berjalan maju beberapa langkah.


"Ya aku mengerti dengan apa yang anda ucapkan mentri Hallin oleh sebab itu setelah acara penjamuan selesai aku akan mengirimkan pasukanku untuk menginvaksi daerah kekuasaan bangsawan Grindale karena dalam kasus kali ini ada sangkut pautnya dengan kerajaan Centaury!"


Semua orang tersentak kaget mendengar ucapan sang raja dimana ia mengatakan bahwasannya negara Centaury terlibat dalam kasus kali ini.


"Setelah itu apa yang anda akan lakukan yang mulia?"-Tanya Silviava dengan nada memastikan.


"Tentu saja akan aku hancurkan dan bersiap menyerang kerajaan Centaury. Makanya kita butuh bantuan kerajaan Selleburk sebagai sekutu kita agar menambah peluang menang!"


Ucapan sang raja membuat mereka semua terdiam, rasa marah dan benci kini menyatu kepada kerajaan Centaury dimana mereka telah melanggar perjanjian non agensi.


"Kalian semua cepat kembali untuk mengurus acara besok karena hal itu sangat di butuhkan mengerti!"-Tambah sang raja dengan tegas.


"Baik yang mulia!"


Seluruh mentri dan para petinggi lainnya meninggalkan ruangan tersebut menyisakan sang raja dengan 3 kesatria Mata Angin.

__ADS_1


"Baiklah kenapa putri Naga bisa sampai hilang kendali Silviava?"-Sang raja kembali ke singgasananya sambil meminta penjelasan.


Silviva menunduk hormat sembari mulai menjelaskan apa yang ia ketahui.


"Yang mulia saat kami berhasil menyudutkan pasukan musuh tiba-tiba mereka melakukan sihir pelepasan segel terhadap putri naga dengan cara mengorbankan kurang lebih 20 nyawa. Mereka sangat mengetahui kelemahan itu yang di negeri ini hanya kami para kesatria mata angin dan anda saja yang mengetahui hal tersebut. Saya mengira itu memang informasi dari luar yang tak mungkin di ketahui bangsawan Grindale!"


"Huffff dengan ini kerajaan Centaury jelas-jelas terlibat!"-Sang raja menhela nafas panjang.


"Lalu bagaimana keadaan putri naga sekarang?"-Tambah sang raja.


"Untuk saat ini putri naga baik-baik saja entah kenapa Mana yang membuat dirinya mengamuk langsung menghilang begitu saja"-Jawab Silviava.


"Apa kamu punya dugaan Silviava?"


"Belum sama sekali raja .... mungkin nanti saat putri Naga terbangun kita bisa mencari informasi lebih lanjut!"


"Segera beritahu kepadaku secepatnya!"


"Siap!"


Tak lama kemudian pintu ruangan terbuka lagi dan terlihat putri Ellza bersama Bernald berjalan memasuki ruangan sang raja.


"Ayahanda...!"-Sapa putri Ellza dari kejauhan.


"Ohhh putriku..... bagaimana keadaanmu aku mendapat kabar kalau penyakitmu kambuh kembali!"-Sang raja berjalan menghampiri putri Ellza dengan raut wajah lega.


"Saya baik-baik saja ayah....lihat ini!"-Balas putri Ellza sembari memperlihatkan tangannya yang di penuhi dengan gelembung air.


Raut wajah sang Raja langsung kaget sekaligus terbungkam melihat sang putri satu-satunya menggunakan sihir karena ia tau jikalau putrinya menggunakan sihir akan berdampak buruk.


"Putriku apa yang engkau lakukan?"


Putri Ellza tersenyum lebar matanya bersinar bahagia.


"Seperti yang ayahanda tau saya menggunakan sihir namun lihat tidak ada tanda-tanda Manaku mengamuk!"

__ADS_1


"Bababagaimana bisa putriku?"


"Saya tidak terlalu mengerti ayah namun dengan ini bisakah aku menolak pertunangan besok?"


Sang raja terdiam untuk sesaat memandangi putrinya yang terlihat begitu bahagia tersebut dengan tatapan bimbang.


"Ayahanda ingin melihatku bahagiakan? jika begitu tolong batalkan pertunanganku itu ayahanda..!"-Pinta putri Ellza dengan sangat.


Raja masih diam seribu bahasa mendengar permintaan sang putri yang sangat berat untuk di setujui tersebut di karenakan ini tidak semudah membalikkan telapak tangan.


"Putriku aku tidak bisa berbuat banyak .....jika memang kamu bersikeras dengan pilihan itu maka coba engkau katakan langsung kepada raja Fartian bagaimana?"-Sang raja memberikan pilihan terakhir kepada putri satu-satunya itu dengan berat hati.


"Ayahanda benarkah itu?"


"Ya ayah akan mendukung kebahagiaanmu itu... tapi ingat kamu sendiri yang harus mengatakannya kepada raja Fartian beserta alasannya mengerti ?"-Tambah sang raja sembari membuka kedua tangannya dengan lebar agar sang putri kesayanganya bisa memelukknya.


Putri Ellza menerima pelukan tersebut dengan dekapan hangat kasih sayang orang tua. Memang itu keputusan yang berat bagi sang raja karena akan menimbulkan konflik dan mungkin saja akan berdampak pada putusnya ikatan persahabatan mereka. Namun sang raja juga seorang ayah yang mana ia ingin melihat kebahagiaan sang anak bagaimanapun itu nantinya.


Di sebelah barat bangunan kastil kerajaan terlihat Silviava masuk ke salah satu pintu yang berada disana sambil membawa kotak berwarna coklat di tangan kirinya.


Ia masuk dan langsung menuju ke sebuah ranjang kasur berisikan seseorang yang sedang tidur.


"Maya apa aku membangunkanmu?"-Sapa Silviava kepada orang yang tidur tersebut.


"Ha Mbak Sil?"-Balas orang tersebut yang tak lain adalah putri naga merah Maya.


Putri naga Maya memiliki wajah bulat dengan tatapan mata seperti orang ngantuk di tambah lagi ia tidak pernah memasang mimik wajah seperti marah kesal atau sebagainya di dalam semua situasi. Karena sifatnya yang dingin itulah ia sangat di takuti oleh semua orang walaupun ia tak berniat untuk menakuti mereka.


"Maya kamu bisa tidur kembali aku cuma memeriksa keadaanmu saja "-Ucap Silviava dengan wajah ramah.


Putri naga mengangguk paham dan melanjutkan tidurnya lagi tanpa memperpanjang obrolan.


Kerusakan yang di timbulkan oleh pemberontakan itu hampir mencangkup setengah kastil kerajaan beserta seperempat bagian kota.


Setenga pasukan perajurit kerajaan terus membereskan kekacauan tersebut karena besok akan ada acara yang sangat penting. Meski tidak akan berhasil memperbaikinya tapi setidaknya layak untuk di pandangan.

__ADS_1


Sedangkan para korban dan juga warga sekitar yang terkena musibah di tangani oleh setengah pasukan lainnya.


__ADS_2