
Pagi itu ada dua orang prajurit yang berdiri di depan pintu asrama laki-laki millita.
Meski tak melakukan apa-apa tapi kehadiran mereka membuat para siswa yang masih ada di asrama sangat panik.
Zeint yang baru saja keluar dari kamarnya langsung menemui kedua prajurit tersebut karena ia tau bahwa mereka adalah prajurit putri Elzza.
Seperti biasa Zeint keluar lewat jendela kamarnya dan berjalan memutar untul bisa menemui mereka tanpa menimbulkan kehebohan dari para siswa yang masih tinggal di asrama itu.
"Ada keperluan apa kalian kemari?"-Sapa Zeint saat tiba di samping mereka.
Kedua prajurit itu memalingkan wajah sembari menatap sosok seseorang berambut putih dengan memakai topeng itu dan langsung berjalan mendekatinya.
"Kami di perintahkan untuk segera membawa anda kepada tuan putri!"
"hemmz kalian terlalu repot aku bisa menemuinya sendiri!"-balas Zeint dengan nada tak nyaman.
"mohon maaf kami tak bisa melawan perintah tuan putri!"
"baiklah aku mengerti ayo kita segera pergi dari sini karena aku tak ingin ada keributan nantinya!"-Zeint langsung berjalan menjauh dari asrama Millita guna bergegas menemui tuan putri Ellza yang sudah menantinya di kediaman tuan Vamilon.
Tak lama kemudian Zeint dan kedua prajurit itu tiba di kediaman tuan Vamilon. Disana Zeint melihat ada 3 kereta kuda dan juga beberapa prajurit yang memakai armor yang sama seperti kedua prajurit barusan berdiri sigap membentuk barisan.
"wah begini ya kalau orang penting!"-Ucap Zeint pelan sembari melanjutkan langkahnya.
Di teras kediaman tuan Vamilon ada putri Ellza yang sedang berbincang-bincang dengan tuan Vamilon sambil di jaga oleh 2 orang kesatria berarmor yang salah satunya sudah di kenal Zeint yaitu Arthur.
"Kami sudah membawa tuan Zeint putri...!"-Kedua kesatria yang menjemput Zeint menunduk hormat.
"hey Zeint kenapa kamu membuatku menunggu!"-Ucap putri Ellza dengan nada kesal.
"Yah maaf tuan putri aku juga tidak tau kalau kita akan berangkat sepagi ini!"-Balas Zeint beralasan.
"huhh...!"
"sudahlah putri anda tak perlu marah seperti itu lagian itu salahmu tidak memberi tau waktunya kepada Zeint!"-Sela tuan Vamilon menengahi keributan kecil itu.
"hemmmz baiklah!"-Balas tuan putri Ellza dengan sedikit rasa cemberut di wajahnya.
Tak butuh waktu lama akhirnya Zeint dan putri Ellza meninggalkan kediaman tuan Vamilon untuk segera kembali ke ibu kota kerajaan Aquas.
Zeint duduk di salah satu kereta kuda bersama tuan putri Ellza dan seorang kesatria pendampingnya yaitu Bernald yang sempat di kenalkan oleh tuan putri Ellza kepadanya.
Bernald memiliki badan besar dengan otot-otot kekar yang menonjol keluar dari balik armor yang ia kenakan.
Kulitnya yang kecoklatan dan rambut hitam ikal pendek terlihat kontras dengan tatapan matanya yang tajam.
"Zeint kenapa kamu masih memakai topeng bukankah tidak sopan?"-Ucap tuan putri Ellza karena merasa terganggu dengan topeng yang di pakai oleh Zeint.
"mohon maaf tuan putri Ellza topeng ini sangat penting bagi saya jadi mohon maaf jika ini mengganggu anda!"-Balas Zeint dengan sopan.
__ADS_1
"Hemmzz baiklah kalau begitu....Bernald mana pakaian yang aku minta itu!"-Ucap tuan putri kepada bernald yang duduk di samping Zeint.
"baik tuan putri ini pakaian yang anda minta!"-Balas Bernald sambil menyerahkan beberapa helai kain kepada putri Ellza.
"Zeint pakailah ini aku tak mau kamu berpakaian seperti itu jika kita sudah tiba di ibu kota karena pakaianmu itu lebih terlihat seperti perampok ketimbang petualang!"-Ucap putri Ellza sambil menatap Zeint tak nyaman.
"eh.....baiklah jika itu yang anda inginkan tuan putri Ellza.!"-Balas Zeint menerima helaian kain tersebut.
Perjalanan ke ibu kota butuh waktu dua hari satu malam dengan kereta kuda karena harus melewati hutan lebat dan bukit jika tidak ada kendala cuaca. Ibu kota kerajaan Aquas di kenal dengan sebutan kota Danau karena di sana ada danau besar dengan air terjun lebar dan luas tepat berada di belakang kastil kerajaan tersebut.
"Baiklah tolong berhenti disini karena hari sudah mulai gelap!"-Ucap Bernald kepada kusir yang mengendarai kereta tersebut.
Saat kereta sudah terhenti Bernald keluar dari kereta itu untuk memberikan perintah istirahat kepada seluruh anggota rombongan yang mengawal tuan putri, agar mereka bisa melepas lelah sebab satu hari berjalan.
Zeint yang tetap duduk berdua di dalam kereta bersama tuan putri merasa gelisah dan akhirnya ia mencoba mengikuti Bernald di luar.
"mau kemana kamu Zeint!"-Cegat putri Ellza saat Zeint membuka pintu kereta tersebut.
"Aku ingin membantu tuan Bernald di luar!"-Jelas Zeint.
"Oh baiklah ini ganti pakaianmu sekalian karena besok siang kita sudah sampai di ibu kota!"-Putri Ellza menyodorkan kain yang di tinggalkan Zeint di dalam kereta.
Tanpa berniat menolak Zeint mengambilnya dan bergegas meninggalkan putri Ellza di kereta tersebut sambil menuju ke semak-semak untuk segera berganti pakaian.
"Wahh pakaian apa ini?"-Keluh Zeint sambil memperhatikan baju lengan panjang berwarna putih bergaris biru itu dengan tatapan ragu karena menurutnya sangat norak.
"Biarlah ketimbang masih di komentar lagi mending pakai saja sudah!"-Dengan berat hati Zeint mengganti pakaiannya dengan pakaian pemberian putri tersebut.
Selesai berganti pakaian Zeint menemui Bernald yang sibuk memberikan tugas kepada masing-masing pasukan untuk menyalakan perapian juga memasak makanan.
"Tuan Bernald adakah yang bisa saya bantu?"-Zeint mengajukan diri.
"Tak perlu tuan Zeint anda istirahat saja ini sudah biasa aku lakukan!"-Bernald menolak tawaran Zeint dengan sopan tanpa ada rasa marah ataupun srbagainya.
Zeint menatap tungku perapian dan juga panci di atasnya dengan seksama.
"Wah apakah enak cuma makan sup dengan bumbu garam saja?"-Ucap Zeint dalam hati.
Melihat kondisi itu Zeint masuk kedalam hutan dan mencari beberapa rempah-rempah seperti daun sengkubak dan lain-lain juga tak lupa mengambil jamur liar yang di temuinya.
Setelah menemukan beberapa Zeint kembali ketempat peristirahatan para prajurit dengan perasaan lega.
"Tuan Bernald bolehkah aku mencicipinya?"-Tanya Zeint saat berada di depan perapian.
"Ya boleh silahkan!"-Balas Bernald.
Zeint mengambil satu sendokan sup tersebut dan mencicipinya tanpa melepas topeng yang ia pakai.
"Wah memang tak enak!"-ucap Zeint sesaat setelah lidahnya mengecap rasa sup tersebut.
__ADS_1
"Tuan Bernald bolehkah saya menambahkan beberapa bahan tambahan?"-Zeint meminta izin lagi kepada Bernald yang terlihat agak ragu.
"Hemmz baiklah!"
Mendengar persetujuan itu Zeint mengambil bahan yang tadi di dapatnya dari balik jubahnya dan langsung memotong dan mengiris tipis bahan-bahan tersebut lalu memasukkannya kedalam panci.
Bernald dan para perajurit yang lain memperhatikan tindakan Zeint tersebut dengan wajah bingung namun tak berkomentar apa-apa.
Zeint mengaduk semua hingga rata kemudian mengambil satu sendok untuk dicicipinya kembali.
"Hemmmzz ini lumayan ...! tuan Bernald anda ingin mencobanya?"-Tanya Zeint dengan penih keyakinan.
"eh....hemmmzz... baiklah!"
Zeint menuangkan sup kewadah piring kayu lalu memberikannya kepada Bernald.
Bernald merasa sedikit ragu namun dengan tegas ia mencicipi satu sendok dari piring tersebut.
"wah ini enak!"-Ucap Bernald terkejut dengan apa yang baru saja ia makan.
"hahahahaha iya jelas!"-Balas Zeint dengan nada sedikit sombong.
Para perajurit yang lain saling berebut antrian agar bisa ikut merasakan masakan tersebut.
Zeint mengambil satu porsi lalu meninggalkan mereka semua agar bisa memberikan sup tersebut kepada putri Ellza.
"Ya ada apa Zeint?"-Sambut putri Ellza saat Zeint masuk dalam kereta tersebut.
"Tak ada apa-apa putri saya cuma kesini karena anda sepertinya sedang kesepian!"-Goda Zeint sambil duduk di hadapan putri Ellza.
"apa maksudmu?"-Raut wajah putri Ellza berubah curiga.
"hahaha maaf putri saya cuma bercanda....saya cuma ingin anda menikmati ini karena menurut saya anda mungkin sedang lapar!"-Balas Zeint sambil menyodorkan mangkuk penuh sup tersebut.
Dengan sedikit ragu memandangi sup tersebut putri Ellza mengambilnya dari Zeint.
"apa ini terlihat aneh!"-Tambah putri Ellza yang memainkan sendoknya di mangkuk itu.
"Coba saja putri pasti anda suka!"-Tegas Zeint yakin.
Putri Ellza mencium aromanya lalu dengan sendok kayu yang di peganngnya mulai menyendok sup tersebut.
"Hemmmzz ini enak tidak seperti biasanya!"-Ucap putri Ellza dengan nada takjub.
"Silahkan dimakan putri !"-tambah Zeint yang masih memperhatikan putri Ellza menikmati masakan tersebut.
Namun Tak lama kemudian ada suara teriakan dari kejauhan...
"akhhh.....!"
__ADS_1
"ada apa?"
Kericuhan di luar terdengar oleh Zeint yang membuat suasana menjadi tegang.