Reincarnationem : The War Kingdom

Reincarnationem : The War Kingdom
chapter 25 (Yu Vs Gozen)


__ADS_3

Semi final telah menunggu di depan mata Zeint. Ia sedang kerepotan menata penampilannya di cermin guna menghadiri semi final hari ini.


"Duh kok mirip perampok ya...!"-Ucap Zeint yang sudah memakai pakaian yang ia beli kemarin menggunakan uang hasil taruhan buta.


Topeng pahatan kayu berbentuk iblis berwarna merah pekat di pakainya sebagai image sebagai Yu itu tak bisa di abaikan.


"Baiklah waktunya penghabisan!"-Seru Zeint yang langsung keluar dari kamarnya lewat jendela kamar.


Di perjalanan tatapan orang-orang teralihkan kepada Zeint yang begitu mencolok.


Rambut putih miliknya ditutup dengan tudung jubah agar bisa mengurangi penampilannya itu.


Suara bisik orang-orang saat berlalu terdengar samar olehnya sehingga membuat ia harus berlari menghindari keramaian tersebut dan sesegera mungkin sampai di gladiator arena Guild Turnament.


Suasana di sekitar gladiator begitu sesak dengan orang-orang yang ingin menonton pertandingan pada hari ini.


"Apa-apaan lautan orang-orang ini? bukankah lebih ramai dari pada kemaren...!"-Seru Zeint saat melihat keramain tersebut.


Zeint berjalan melewati kerumunan itu dan langsung menuju ketempat para peserta turnamen.


Tak lama kemudian pembukaan Turnamen oleh Degucaf di bacakannya.


Untuk pertandingan pertama seperti biasa ialah Zeint sendiri melawan Gozen.


"Baiklah pertandingan semi final pertama Yu melawan Gozen!"-sang pembawa acara memanggil para peserta.


Zeint memasuki arena bersamaan dengan Gozen si ahli pedang ganda dan di ikuti sorakan para penonton dari pinggir arena.


"wahh rame sekali!"-Ucap Zeint saat di tengah arena.


"hahahahaha kenapa nak kamu terlihat gugup!"-sapa Gozen dengan ketawanya yang lugas.


"ya begitulah paman ini pertama kalinya aku di posisi seperti ini!"-Balas Yu sambil membuka tudung kepalanya.


"Yah bagus mari kita bertanding secara adil nak Yu!"-Ucap Gozen sambil menyodorka tangan kanannya.


"baik!"-Sambut Zeint menerima tangan Gozen.


Mereka berdua mundur beberapa langkah kebelakang sambil menyiapkan senjata dan kuda-kuda mereka.


"Mulai!"-Ucap Degucaf memulai pertandingan antara Yu melawan Gozen.


"hyattt!"


Keduanya saling menerjang satu sama lain ke depan.


Cling....


Benturan belati dan pedang milik Gozen berdenting menyisakan percikan api dari tengah benturan itu.


Zeint kembali mengibaskan belati di tangan kirinya kearah Gozen tapi dengan cepat Gozen menghentikan serangan tersebut.


Dua pedang melawan dua belati ini akan menjadi pertandingan seru karena sama-sama mengandalkan dua senjata di tangan mereka.


Zeint mengeratkan pegangan belatinya dengan niatan ingin terus melawan namun kekuatan fisik milik Gozen jauh lebih unggul dari padanya yang mengharuskan Zeint mundur terlebih dahulu.


Sriiiing...


Zeint melompat ke belakang menghindari adu kekuatan fisik.


"woy woy kenapa mundur nak!"-Ucap Gozen memanas manasi Zeint.


"Hahah maaf paman fisikku jauh dibawahmu makanya aku akan mengalahkanmu dengan adu kecepatan!"-Tegas Zeint memutar kedua belatinya kearah depan.


"bagus ini yang namanya semangat anak muda !"-Balas Gozen sembari memantapkan kuda-kudanya.


Lightning Up


Kini kedua belati Zeint berselimut dengan Listrik hitam kebiruan miliknya dan langsung menerjang dengan kecepatan kilat.


Cring...

__ADS_1


Serangan pertama Zeint di gagalkan oleh Gozen dan terus berlanjut sampai tiga kali serangan bertubi-tubi.


"Nak seginikah kemampuanmu?"-Gozen menghentikam pergerakan cepat Zeint dengan kedua belah pedangnya.


"Maaf paman ini baru saja permulaan!"-Balas Zeint sambil menendang kearah perut Gozen meski dengan mudah di hindari.


"Aku akan menyerang lagi dengan kecepatan penuhku paman bersiaplah!"-Zeint memberi aba-aba kepada Gozen yang terus saja memasang senyuman.


Jurus kali ini sama seperti saat melawan king Apen yaitu Lightning Knife di tambah Lightning Up


srut srat...


"Pergerakan macam apa ini???"-Ucap Gozen yang terus menerus mengayunkan kedua pedangnya.


Cring...crangg..cring..


Pergerakan Zeint tak bisa di ikuti dengan kecepatan mata telanjang milik para penonton.


Zeint terlihat masih tetap di posisi, namun Gozen terlihat sangat kewalahan seakan menerima serangan milik Zeint kali ini.


Srass......Kedua pedang milik Gozen terhempas ke udara dengan sendirinya menurut pandangan para penonton.


Tapi menurut pandangan Gozen ia kalah saat beradu dengan kecepatan milik Zeint.


"hahahah Aku mengaku kalah nak!"-Ucap Gozen sambil mengangkat kedua tangannya.


"Huhhh... ini sangat menyenangkan paman!"-Balas Zeint menyarungkan kembali belatinya di belakang pinggul.


HuaaaaAaa.. Para penonton memberikan tepuk tangan yang meriah meskipun mereka tidak melihat apa yang barusan terjadi di antara mereka berdua.


"Pemenangnya Yu....dia akan lanjut ke final!"-Sela pembawa acara ke tengah arena.


Mereka bersalaman saat sudah di tentukan kemenangnya. Raut wajah Gozen masih sama seperti tadi senyuman selalu ia lontarkan.


"Lain kali kita bertanding lagi nak Yu!"-ucap Gozen.


"Baik paman Gozen!"


Tepat di ujung lorong yang di lalui Zeint terlihat Arthur sedang berdiri disana bersama para bawahannya dengan sigap.


"ada apa ini kok ada paman kestria disini?"-pikir Zeint dalam batin sambil mencoba menghiraukan keberadaan mereka.


"Tunggu Nak!"-Cegat Arthur saat Zeint melewatinya.


Dengan nada bias Zeint mencoba membalasnya.


"Iya maaf ada apa Tuan?"


"Tuan Vamilon menyuruh kami untuk menemui beliau!"-Balas Arthur menjelaskan maksud dari perbuatannya.


"Memang ada keperluan apa Tuan Vamilon memanggil saya?"-Tanya Zeint mencoba menjauhkannya dari pertemuan itu karena bakal merepotkan fikir Zeint.


"Ada hal penting yang ingin beliau bicarakan untuk detailnya bisa di bicarakan dengan beliau!"-Arthur menutup jalan pelarian Zeint sehingga membuat Zeint harus mengikuti kemauan dari Arthur tersebut tanpa bisa mengajukan pertanyaan lagi.


Zeint dibawa kesebuah tempat di dalam gladiator dengan lorong sempit yang hanya bisa di lalui dua orang saja.


Tak ada jendela ataupun pintu di setiap sisinya hanya rentetan lentera saja yang menyinari hingga penghujung lorong.


Keramaian mulai terdengar lagi saat Zeint menaiki beberapa anak tangga dan berhenti di sebuah pintu besi sebagi pintu keluarnya.


"Silahkan ikuti saya!"-Ucap Arthur setelah membuka pintu.


Zeint tak tau hal apa yang membuat dirinya harus menemui tuan Vamilon dikala itu, kemungkinan yang hanya di fikirkan oleh Zeint ialah mungkin dirinya tanpa sengaja melakukan kesalahan.


"Tuan Vamilon saya sudah membawanya!"-Ucap Arthur sambil menundukkan kepalanya dengan patuh.


"Terimakasih Arthur !"-Balas seseorang yang duduk di sebelah tuan Vamilon.


"suatu kehormatan tuan putri"-Jawab Arthur sambil menundukkan badan.


Zeint yang belum mengerti betul dengan tatakrama di dunia ini hanya berdiri mematung sambil memperhatikan keberadaan seseorang yang di panggil tuan putri oleh Arthur.

__ADS_1


"Arthur biarkan kami berbicara bertiga!"-Pinta tuan Vamilon yang diikuti anggukan oleh Arthur.


Zeint sekarang berada di sebuah tempat paling tinggi di dalam gladiator tersebut.


Arena pertarungan sangat terlihat jelas disana beserta seluruh penonton yang ada.


Ini adalah tempat khusus untuk tuan Vamilon dan para petinghi kerajaan yang pada saat itu hanya ada Tuan Vamilon beserta seorang tuan putri.


Tempat yang sangat elegan sama halnya dengan ruang VVIP di dunia sebelumnya di rasakan Zeint.


Wajahnya yang masih tertutup topeng terus saja menatap sekeliling.


"Waaawwww...indah sekali!"-Ucap Zeint spontan.


"Hahaha terimakasih petualang Yu atas pujiannya!"-Sambut Vamilon atas pujian sepontan Zeint.


"maafkan saya Tuan Vamilon jika lancang!"-Zeint mencoba meniru Arthur.


"Tak masalah !"


"Ada gerangan apa anda memanggil saya tuan?"-tanya Zeint sopan.


"Apakah anda petualang Yu?"-Sela seseorang gadis seumuran Zeint dari samping tuan Vamilon.


Zeint mendongak pelang memperhatikan sosok tersebut kemudian mengangguk pelan.


"Yu dia adalah putri mahkota kerajaan Aquas putri Ellza Derastos Aquas!"-Vamilon memeperkenalkannya.


"Ya saya putri mahkota kerajaan Aquas Ellza Derastos Aquas!"-Balas putri tersebut sembari berdiri dengan rok sedikit di angkat dengan anggun.


Zeint menatap tuan putri Ellza dengan seksama.


Ia memiliki postur tubuh yang langsing bermata biru seperti langit cerah, Rambut biru panjang dengan hiasan mahkota kecil putih menambah kontras dengan wajahnya yang putih.


Sungguh keharmonisan yang sangat sedap dipandang mata.


"Saya Yu tuan putri maaf bila saya sedikit lancang!"-Yu menundukkapln pandangannya.


"Jadi ada keperluan apa dengan hamba tuan putri?"-Tanya Zeint lagi.


"Saya hanya ingin berterimakasih kepadamu karena sudah menolong saya saat di kejar segerombolan King Apen"


"Sungguh kehormatan bagi saya tuan putri jika itu memang benar tapi kemungkinan anda salah orang!"-Balas Zeint mencoba menyembunyikan indentitas.


"Itu tak akan mungkin karena mataku tak akan salah dengan Mana dan Auramu itu petualang Yu!"-Putri Ellza mencoba menghentikan kepura-puraan Zeint.


"Magistic eye kah sialan!"-Hujat Zeint dalam hati.


"Ah mohon maaf tuan putri!"-Balas Zeint kalah.


Huaaaa.Aaaa sorakan terdengar meriah yang memberi taukan bahwa pertandingan kedua telah berakhir.


"Sebaiknya kita tunda dulu pembicaraan ini karena petualang Yu masih ada pertandingan Final!"-Sela tuan Vamilon di waktu bersamaan.


"Huhhh baiklah kalau begitu!"-putri Ellza menyetujui saran Vamilon.


"Tapi sebelum itu untuk apa kamu ikut turnamen ini oetualang Yu?"-Tambah putri Ellza.


Zeint yang mendengar pertanyaan itu kaget tapi ia juga tak ingin membohongi diri sendiri.


"Mohon maaf sebelumnya tuan putri saya ikut turnamen ini hanya karena hadiah uang tidak lebih!"


Tak ada teguran maupun hujatan saat Zeint memberi tahu niatnya tersebut yang ada hanya sebuah tatapan biasa dari mereka berdua.


"Baiklah jika kau bisa memenangkan ini saya akan menambah hadiahmu dua kali lipat gimana Yu?"-Putri Ellza memberi tawaran kepada Zeint.


"Duuuu...duuua kali lipat berarti 100 juta....!!waaawaww... rezeki nomplokkk!"- ucap batin Zeint.


"Baiklah tuan putri keinginan anda saya akan ikuti!"-Balas Zeint tanpa pikir panjang mengingat total hadiah yang akan ia dapat jika memang berhasil memenangkan pertandingan itu.


Dengan kegembiraan Zeint keluar dari ruangan tersebut. Matanya kini penuh dengan bayangan uang tanpa ia sadari bahwa ia sudah terjerat dalam permainan tuan putri Ellza selanjutnya.

__ADS_1


__ADS_2