
Para pasukan Sekte Pedang Abadi sudah bersiap di posisi masing-masing.
Belasan ribu kultivator berdiri di atas benteng yang menjadi tembok pembatas yang melingkari Sekte Pedang Abadi.
Sekte Pedang Abadi saat ini hanya memiliki sekitar 300 ribu pasukan dari tingkat Nescent Soul keatas. Jika kultivator tingkat Gold Core di hitung maka jumlahnya tidak jauh berbeda dengan pasukan Sekte Pulau Awan.
Jika bukan karena sebelumnya terjadi pertempuran yang membuat 40% anggota Sekte Pedang Abadi terbunuh, sudah pasti kuantitas mereka bisa melebihi pasukan Sekte Pulau Awan.
Namun sekarang, selain kuantitas yang kalah, kualitas mereka juga jauh berada di bawah pasukan musuh.
Yun Nuwa masih menunggu 2 kultivator tingkat Mahayana yang masih berada di dalam sekte untuk keluar.
Meskipun Yun Nuwa mengetahui jelas lokasi dua kultivator tingkat Mahayana itu, namun dia memilih untuk menunggu mereka keluar menampakkan diri.
Yun Nuwa tidak berniat membantu pasukannya yang sebentar lagi akan berperang, karena dia yakin akan kekuatan dan kegigihan pasukannya.
"PEMANAH BERSIAP!!" Seorang Tetua yang berada ditingkat Nirwana tahap akhir berteriak.
Para pemanah yang berada di atas benteng segera menarik busur panah mereka. Seketika anak panah tercipta dari elemen masing-masing kultivator.
Meskipun Sekte Pedang Abadi lebih fokus dalam seni pedang, namun bukan berarti tidak ada kultivator pengguna senjata lainnya di sekte ini.
Hanya saja jumlahnya tidak terlalu banyak.
Tetua itu masih belum memerintahkan untuk menyerang, dia masih menunggu momen yang tepat.
"SERANG!!"
Ribuan anak panah langsung di tembakkan. Anak panah melesat bagaikan sinar laser, mengarah pada pasukan Sekte Pulau Awan.
Beberapa kultivator tingkat Nirwana yang memimpin masing-masing pasukan, berada di barisan paling depan, langsung membuat perisai energi.
*Booommm!!
*Booommm!!
*Booommm!!
Ledakan-ledakan mulai terdengar bersahutan saat anak panah pasukan Sekte Pedang Abadi membentur perisai pertahanan pihak lain.
Pasukan Sekte Pulau Awan terus terbang, sama sekali tidak terhentikan. Setelah mencapai jarak tertentu, lebih dari setengah masing-masing kelompok terbang terus lebih rendah, menatap pasukan lawan yang berada di daratan.
Mereka mengeluarkan senjata masing-masing setelah diberikan aba-aba tangan.
"SERANG!!"
Masing-masing pemimpin kelompok pasukan Sekte Pulau Awan secara bersamaan memerintahkan pasukan mereka.
Ribuan kultivator langsung mengeluarkan serangan jarak jauh secara bersamaan.
Pasukan Sekte Pedang Abadi pun melakukan hal yang sama hingga serangan mereka berbenturan satu sama lain, menyebabkan ledakan-ledakan kuat.
__ADS_1
Kedua belah pihak terus memberikan serangan jarak jauh.
Karena pasukan Sekte Pulau Awan memang berjumlah lebih banyak, terlebih formasi menyerang dan bertahan mereka sangat apik, hingga tidak pernah ada serangan jarak jauh musuh yang dapat melukai satupun pasukan mereka.
Berbeda dengan pasukan Sekte Pedang Abadi. Hampir setengah dari mereka masih belum pulih setelah pertarungan sebelumnya.
Jadi formasi menyerang dan bertahan mereka tidak kokoh, membuat beberapa kali di beberapa titik pertahanan mereka hancur, hingga beberapa ratus pasukan mereka tewas.
Pasukan Sekte Pulau Awan terus mendekat sambil melancarkan serangan, hingga akhirnya, kedua pasukan pun bentrok secara langsung.
***
Komandan Naga Hitam, Yan Mu saat ini duduk di kursi kebesaran Ketua Sekte Pedang Abadi, dia terlihat sangat santai dengan pipi kanan yang bertumpu pada tangan kanan.
Dia seolah tidak terganggu dengan suara pertarungan yang sampai membuat tanah Sekte Pedang Abadi terus berguncang hebat.
Wakil Komandan, Wan Fen terlihat berdiri di samping kanan Yan Mu.
Tiba-tiba pintu ruangan terbuka, seorang kultivator yang hanya berada ditingkat Gold Core berlari lalu berlutut sambil menangkupkan tangan didepan sang Komandan dan Wakil Komandan.
"Tuan! Pasukan kita jumlahnya lebih sedikit dari musuh! Jika terus seperti ini, saya takut pasukan kita tidak akan mampu terus bertahan!"
Yan Mu pun membuka matanya perlahan dengan tubuhnya yang kembali tegak.
"Hem! Dasar tidak berguna! Mengatasi serangan para semut itu saja kalian sampai harus meminta bantuan ku!"
Suara Yan Mu memberikan penekanan yang kuat pada kultivator itu, membuatnya gemetar ketakutan.
"Wan Fen, bantu mereka, aku sedang malas untuk bertarung!" Yan Mu kembali ke posisi sebenarnya.
"Baik Tuan!" Wan Fen menangkupkan tangannya lalu bergegas pergi diikuti oleh kultivator yang tadi melapor.
Namun baru beberapa saat Wan Fen keluar dari ruangan.
*BRAKKK!!
Sesosok tubuh tiba-tiba menerobos pintu Aula Utama hingga hancur.
Sosok itu tidak lain adalah Wan Fen. Dia dengan cepat bersalto belakang untuk mengatur posisinya kembali.
Yan Mu langsung mengerutkan keningnya melihat itu, dia segera berdiri karena berpikir orang yang bisa membuat Wan Fen terpental pastinya adalah kultivator tingkat Mahayana.
"Tuan Yan Mu, aku rasa kita mendapatkan masalah disini!" Wan Fen mengeluarkan pedangnya, memasang kuda-kuda, bersiap untuk bertarung.
Sesaat kemudian terdengar suara halus dan lembut seorang wanita dari arah pintu masuk Aula Utama.
"Aku sebelumnya ingin menunggu sampai kalian berdua keluar menampakkan diri, tapi kalian terlalu lama hingga membuat kesabaran ku hilang!"
*Booommm!!
Pintu masuk Aula Utama hancur berkeping-keping. Seorang wanita cantik pun terlihat melangkah memasuki Aula Utama, memperlihatkan sosoknya yang begitu anggun bagaikan dewi surgawi.
__ADS_1
Wanita itu tidak lain adalah Yun Nuwa.
"Kau!" Yan Mu juga menjadi waspada.
Dia tentu tidak mungkin meremehkan Yun Nuwa. Long Xiao pernah mengatakan jika hanya ada satu kultivator Benua Chenwu yang perlu di waspadai, yaitu Yun Nuwa.
"Jadi kalian adalah petinggi Kelompok Naga Hitam itu?" Yun Nuwa menghentikan langkahnya.
"Dewi Bulan Purnama! Tidak ku sangka ternyata kau juga ikut turun tangan!" Yan Mu berusaha tetap tenang
Dia melangkah maju hingga berada satu langkah didepan Wan Fen.
"Tidak perlu basa-basi, akan ku akhiri langsung di sini!" Yun Nuwa berkata dengan dingin.
"Domain Es!"
*Wooossshhh!!
Tiba-tiba suasana lingkungan sekitar berubah drastis, semua area di tutupi lapisan es, seolah sekarang mereka berada di dalam dunia es, namun nyatanya masih berada di ruangan yang sama.
Yan Mu dan Wan Fen langsung menggigil, suhu ruangan ini benar-benar menjadi sangat dingin, bahkan mereka berdua yang berada ditingkat Mahayana, bisa merasakan dingin sampai ke tulang mereka.
Selama ini seluruh Benua Chenwu mengetahui kalau Yun Nuwa adalah kultivator dengan atribut cahaya yang sangat langka.
Karena itulah dia di juluki Dewi Bulan Purnama. Tidak pernah terdengar sekalipun jika Yun Nuwa ternyata juga memiliki atribut es.
Selain itu, ada satu hal yang membuat Yan Mu dan Wan Fen lebih terkejut.
"Kau.. kultivasi mu.. sudah melampaui tingkat Mahayana!" Yan Mu sungguh terkejut mengetahui kenyataan ini.
"Aku sebenarnya tidak ingin menunjukkan kekuatan ku sebelum bertemu dengan pemimpin kalian! Tapi jika kalian mati di sini maka aku tidak perlu khawatir rahasia tentang kultivasi ku menyebar!"
Tiba-tiba keristal-kristal es tajam muncul mengelilingi mereka berdua.
Mereka bahkan belum sempat bereaksi karena kristal-kristal es itu seakan muncul di udara kosong.
Mereka sekarang tidak berani bergerak karena semua kristal es itu sudah menyentuh kulit mereka, hingga bagian kulit mereka itu membeku.
"Dewi Bulan.. Purnama," Yan Mu berniat memohon ampun.
"Jangan mengharapkan ampunan dari ku!"
Hanya dengan menggerakkan ujung jarinya, semua kristal es itu akhirnya menusuk Yan Mu dan Wan Fen hingga menembus tubuh mereka.
"AAARRRGGGHHH!!"
"AAARRRGGGHHH!!"
Yan Mu dan Wan Yun berteriak kesakitan, lalu tubuh mereka mulai membeku menjadi es dengan begitu cepat.
Salah satu Komandan dan Wakil Komandan Naga Hitam kini telah tewas di tangan Yun Nuwa.
__ADS_1