
"Hai Rinai.." sapa Ale dan Ridho berbarengan.
"Malam Nai" Miko ikut menyapa Rinai begitu pintu rumah terbuka.
" Kalian ?? Ayo masuk - masuk" Rinai mempersilahkan ketiganya untuk masuk.
Rei yang baru saja menuruni anak tangga terkejut melihat kedatangan ke tiga sahabatnya dengan tampilan yang lebih manusiawi tidak seperti biasanya yang urakan.
Ale yang selalu tampil urakan dengan celana jeans robek di bagian lutut dan sekitarnya kini terlihat lebih rapih . Jaket hitam , kaos putih bergambar Vespa serta celana jeans hitam yang mendadak tertutup tanpa robekan se inchipun .
Ridho tak kalah ekstrim dari Ale. Style rambut yang semula di biarkan acak - acakan kini tertata rapi, sweater merah , serta jam tangan mewah yang biasanya hanya menjadi pajangan kamar kini dia kenakan.
Hanya satu orang yang tidak mengikuti jejak keduanya yaitu Miko . Untungnya saja Miko tidak ikut melakukan hal ekstrim jga , tidak kebayang jika Miko sama gilanya seperti Ale dan Ridho saat ini mungkin Miko akan melakukan beberapa hal seperti tiba - tiba memakai behel gigi atau menindik bagian hidung atau hal yang paling mungkin seorang Miko lakukan adalah dengan mentato lengan kanannya dengan tulisan "I LOVE EMAK".
Rei berjalan menghampiri para sahabatnya.
" Ngapain Lo pada kemari?" Rei memicingkan mata menatap ke tiganya.
"Kita bertiga kangen sama Lo Rei" Ale mengedipkan sebelah matanya menatap Rinai. Hingga membuat Rinai terkikik mendengar ucapan Ale pada Rei .
"Kalian habis ke sambet di mana sampai - sampai Gue nggak bisa ngenalin Lo pada".
__ADS_1
"Noh ke sambet jampi - jampinya si Miko tadi pagi" ucap Ridho tertawa .
"Lah kok jadi Gue" yang punya nama merasa terkambing hitamkan.
"Oh iya sampai lupa kalian mau minum apa?" tanya Rinai memperlihatkan lesung pipinya.
"Kopi" jawab ketiganya berbarengan.
"Ok sebentar ya Gue bikinin dulu"
Rei hanya bisa berdecak melihat tingkah Ale , Ridho dan Miko . Kalau sebelumnya saat Rinai belum ada di rumah Rei , tiap kali Ale , ridho dan Miko datang ke rumah sudah pasti kamar Rei langsung menjadi tempat jajahan ke tiga sahabatnya itu. Namun berbeda halnya sekarang ini mereka bertiga tampak lebih jinak ,mereka lebih memilih untuk duduk di ruang tamu ketimbang langsung masuk ke kamar Rei untuk berkumpul dan mengobrol.
Rinai kembali dengan nampan di tangan, Rinai menyajikan 3 cangkir kopi diatas meja untuk Ale , Ridho , Miko dan secangkir teh untuk Rei .
"Silahkan diminum kopinya" Rinai tersenyum memperlihatkan lesung pipinya.
"Iya" jawab Ale , Ridho dan Miko yang kembali bersamaan .Rei hanya mampu berdecak melihat tingkah ke tiga sahabatnya.
"Nai, bukannya Lo tadi bilang mau selesaikan tugas kampus buat besok?" Rei memberi alasan agar Rinai segera menjauh dari jangkauan ke tiga sahabatnya sebelum suasana menjadi tidak kondusif.
"Oh iya sampai lupa untung Lo ingatkan" Rinai menepuk jidat pelan dan segera berdiri dari tempat duduknya. Rinai paham betul maksud perkataan Rei yang menginginkan dia untuk segera pergi dari jangkauan ke tiga sahabatnya yang mendadak menjadi sedikit berlebihan.
__ADS_1
"Loh mau kemana nai? tanya Ale melihat ke arahnya.
"Iya nih sudah di sini saja " bujuk Ridho.
Miko hanya mengangguk.
"Gue mau ke atas mau kerjain tugas kuliah buat besok masih banyak yang belum selesai" Rinai melirik jam dinding sudah menunjukan pukul. 20:15 . Rei tersenyum. Penuh kemenangan karena berhasil menjauhkan Rinai dari ke tiga sahabatnya yang mulai sedikit barbar. Rinai berlalu dari pandangan.
"Woi!!! biasa saja kali lihatnya" Rei membangunkan Ale dan Ridho dari lamunannya.
"Ahh Lo ganggu saja , Gue kan lagi .." Ale tidak melanjutkan kalimatnya.
"Melon Gue..." Ridho memandang punggung Rinai dari kejauhan .
"Sakit Lo pada" Rei menggelengkan kepalanya tak habis pikir seorang cewek yang selalu membuat Rei dalam terlibat masalah kini sanggup membuat kerja otak ke dua sahabatnya menjadi melamban sangat drastis.
__ADS_1